23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Esensi Bahasa Indonesia di Tengah Jargon Profil Pelajar Pancasila | Seri Peringatan Bulan Bahasa

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
October 15, 2022
in Opini
Esensi Bahasa Indonesia di Tengah Jargon Profil Pelajar Pancasila | Seri Peringatan Bulan Bahasa

“Pergunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar”, demikian imbauan yang sering disampaikan oleh para pembina bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis.

Imbauan semacam itu bukan tanpa alasan. Banyak kenyataan dalam kegiatan berbahasa dapat dikemukakan sebagai contoh guna memperkuat alasan tersebut. Salah satunya adalah sikap arogan dari mereka yang senantiasa menjadi figur publik atau anutan yang masih bersifat paternalistik.

Terhadap masyarakat yang bersifat paternalistik, sikap atau gaya bahasa tokoh (anutan) berdampak psikologis. Artinya menganggap bahwa bahasa yang digunakan si tokoh anutan tersebut sudah benar. Akibatnya, masyarakat akan menirukan begitu saja, tanpa koreksi, atau tanpa menelusuri kebenarannya.

Di samping itu, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah cukup mampu berbahasa Indonesia. Terlebih jaman digital masa kini, sejak mulai berbicara sudah menggunakan Bahasa Indonesia. Sehingga Bahasa Indonesia dianggap remeh, dianggap pelengkap dalam pembelajaran, atau asal-asalan saja. Hal ini menjadikan Bahasa Indonesia begitu latah oleh penggunanya yang abai dan tidak dapat dimungkiri bahwa masih banyak warga masyarakat seperti “enggan” mempelajari bahasa Indonesia sebagai esensi penting dalam kehidupan, juga sebagai warga negara Indonesia sejati.

”Buat apa belajar bahasa Indonesia, toh sudah bisa berbahasa Indonesia. Lebih baik belajar bahasa lain, bisa jadi gaid, mendatangkan uang, atau bisa bekerja di belahan bumi lain”. Begitu biasanya asumsi generasi milenial ketika belajar bahasa Indonesia.

Kenyataanya, benar saja, tidak ada papan-papan reklame yang di pampang di pinggir jalan yang menawarkan les privat bahasa Indonesia. Yang ada, ajakan/tawaran untuk les bahasa lain. Karena oleh sebagian masyarakat, juga generasi milenial,  masalah bahasa Indonesia  dipandang hanya sebagai masalah para pakar dan pembina bahasa Indonesia (termasuk guru-guru yang mengajarkan di sekolah).

Bahkan, mereka yang sudah intelek atau berpendidikan pun seperti “tidak hirau lagi” terhadap bahasa Indonesia. Mungkin karena dalam pergaulan sehari-hari, mereka merasa tidak mengalami kesulitan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Begitulah, jika bahasa Indonesia dipandang sebagai alat komunikasi semata-mata, setelah seseorang merasa mampu menggunakannya, merasa mampu menyatakan pikiran, dan perasaan dalam bahasa Indonesia, serta orang lain mampu memahaminya, dianggap selesailah tugas mempelajari bahasa Indonesia itu.

Namun seyogianya perlu disadari, bahasa Indonesia bukan semata-mata alat komunikasi dalam berinteraksi ataupun dalam hubungan interaksi belajar di sekolah. Bagi bangsa Indonesia yang ingin tampil sebagai bangsa yang beridentitas, beradab, berkepribadian, dan punya jati diri, bahasa Indonesia merupakan salah satu sarana pengungkapan diri. Hal itu berarti bahwa melalui pengajaran dan penggunaan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia menyatakan peradaban, identitas, kepribadian, dan jati dirinya. Seperti pepatah mengatakan “Bahasa menunjukkan Bangsa”, atau “Bahasa Pemersatu Bangsa”, itulah!

Begitu pula esensi penting bahasa Indonesia di tengah jargon “Profil Pelajar Pancasila. Esensi bahasa Indonesia dalam hal ini sebagai media untuk sarana dalam menjalin gotong royong, sebagai media pemersatu kebhinekaan global, sebagai media untuk menyampaikan pikiran yang kritis dengan benar, untuk menunjukkan bahwa setiap individu memiliki jati diri ke-Indonesiaan yang sejati dengan mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan untuk menunjukkan bangsa Indonesia memiliki kepribadian yang kuat melalui bahasa, sebagai sarana untuk menyampaikan segala daya kreatif dengan berbahasa yang benar, serta yang paling penting sebagai wujud rasa bakti kepada Tuhan yang telah mengaruniai satu bahasa yang adiluhung untuk pemersatu segala perbedaan yaitu, bahasa Indonesia.

Jadi, Bahasa Indonesia betul-betul memegang peranan penting dalam hal ini, yakni sebagai media dalam mengakomodir nilai-nilai yang ingin dicapai dalam mewujudkan “Profil Pelajar Pancasila”. Bukan malah merusak penggunaan bahasa, latah berbahasa, melazimkan yang tidak benar, dan salah kaprah dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Namun dalam kenyataannya, bahasa Indonesia nampaknya makin terdesak oleh suplai bahasa-bahasa lain di tengah pesatnya dunia informasi dan digital. Tak bisa dipungkiri, insan-insan Indonesia lebih elegan dan percaya diri belajar bahasa yang dianggap lebih bombastis. Untuk apa?

Tujuan urgennya adalah ekonomi. Sekarang belajar bahasa tak lagi urusan identitas, tak lagi urusan pemersatu komunitas, pemersatu antar daerah, dan tak sekadar untuk nilai profil Pancasila. Tetapi belajar bahasa adalah agar bisa memproduksi uang, kaya, dan hidup yang lebih hedonis Jadi, belajar bahasa dewasa ini identik dengan materialistik.

Jika konsep ini terjadi pada eksistensi bahasa Indonesia, apakah bahasa Indonesia akan menjadi pelengkap budaya Indonesia saja? Bahasa Indonesia akan “terbunuh”. Bahasa Indonesia akan ditinggalkan. Walaupun digunakan atau dipelajari itu hanya semata-mata untuk kepentingan akademis saja. Untuk kepentingan kurikulum pendidikan. “Yang penting apa yang diucapkan oleh pembicara dan lawan bicara komunikatif, bisa diterima, dan dimengerti, itu cukup” begitu anggapan warga Indonesia terhadap kondisi bahasa Indonesia.  

Nah, kondisi ini tentu ironis bagi bahasa Indonesia. Mengutip pendapat Prof Sumarsono (alm), yang pernah menjadi guru besar Jurdik Bahasa Indonesia, Undiksha, Singaraja, Bali, dalam buku Linguistiknya dinyatakan bahwa bahasa apapun, termasuk bahasa Indonesia, tak bisa “mati”. Yang ada adalah para penggunanya yang berkurang, atau tak acuh terhadap penggunaannya.

Merujuk pendapat itu, apakah bahasa Indonesia akan makin tak dipedulikan, karena generasi Indonesia merasa tak ada untungnya belajar dan memakai bahasa Indonesia bila ditakar secara ekonomi materialistik? Peduli saja kurang, apalagi mempelajari dengan intens tentang kebakuan bahasa, tentang kaidahnya, diksinya, kalimatnya, dan wacananya. Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan penggunaan bahasa Indonesia sekarang yang kacau dan asal ucap.

Kasus-kasus yang bisa disikapi secara bijak dalam hal ini, misalnya penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari, baik oleh masyarakat penutur maupun bahasa yang digunakan di media. Dalam konteks inilah dihadapankan dengan persoalan gramatika bahasa, makna di satu pihak dan kreativitas, serta inovasi dalam penggunaan bahasa Indonesia. Kalau dibiarkan setiap orang memakai bahasa Indonesia menurut enaknya, berarti harus diterima juga makin banyak ucapan-ucapan/kalimat aneh yang menyatukan bangsa ini. 

Fenomena yang bisa diketengahkan dalam keanehan berbahasa Indonesia dan ini sangat latah diucapkan dengan intensitas yang sangat memprihatinkan, misalnya,“I Ketut Sawer belajar dengan giat untuk mengejar ketertinggalan”. Yang dikejar dalam konteks ini adalah ketinggalan, bukan prestasi. Pantas saja I Ketut Sawer terus mengalami kemunduran. Seharusnya “I Ketut Sawer belajar dengan giat untuk mengejar prestasi”. Atau “I Ketut Sawer belajar dengan giat untuk mengatasi kebodohan”.

Atau yang lebih latah lagi,“Tim Nasional Indonesia berusaha keras untuk mengejar ketertinggalan”. Tidak hanya sesekali, tetapi ucapan seperti ini dilakukan acap kali ada live pandangan mata di layer tv atau di sosial media. Memang secara struktur kalimat itu tanpa cacat, tetapi aneh.Sebab, jika dianalisa secara makna, kalimat itu sangat ironis. Karena yang dikejar adalah ketinggalan, bukan kemenangan. Pantas saja TIMNAS kalah terus. Seharusnya ”Tim Nasional Indonesia berusaha keras untuk mengatasi ketertinggalan atau untuk meraih kemenangan”.

Kekacauan kalimat seperti itu bahkan sudah membudaya di kalangan masyarakat, apalagi bagi reporter di tv, host, atau ucapan pengamat sepak bola. Apakah kondisi seperti ini akan dibiarkan? Mentang-mentang merasa percaya diri berbahasa Indonesia, namun salah kaprah. Merasa nasionalis dengan memakai bahasa Indonesia, namun kita jadikan bahasa Indonesia menderita.

Kita tak lagi bisa mencontoh model bangsa Amerika, bahwa di mana pun warganya berada, bahasa apapun yang dipelajari, tetapi warga Amerika tak pernah lupa apalagi merusak penggunaan bahasanya yang menjadi karakter peradabannya. Persoalannya sekarang ialah apakah boleh mengatakan “silakan memakai bahasa Indonesia sebagaimana enaknya di tengah parasaan yang mengaku nasionalis, di tengah perubahan yang pesat, dan di tengah jargon mengejar pencapainan nilai-nilai filosofi Profil Pelajar Pancasila?”

Perihal penting sekarang yang perlu dipahami, bahwa tuntutan terhadap kebebasan menggunakan bahasa Indonesia ada batasnya. Persoalan bahasa rupanya tak banyak berbeda dengan persoalan politik. Pembakuan (pelaziman) bahasa adalah cermin otoritas, sedangkan kreativitas pemakai bahasa adalah cermin kebebasan setiap warga. Yang selalu menjadi perkara ialah bagaimana kita mengakui diri nasionalis sejati, mengaku memakai bahasa Indonesia, tapi realitanya bahasa Indonesia dalam penggunaanya dirusak.[T]

Model Revitalisasi Bahasa Daerah
Sastra Indonesia di Hadapan Budaya Bahasa
Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru
Tags: BahasaBahasa IndonesiaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Turnamen Bola Voli Lokal Desa di Tamblang: Sensasi dan Kemeriahan ala Desa Perkebunan

Next Post

OṀ & OṄĠ di BALI & INDIA

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

OṀ & OṄĠ di BALI & INDIA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co