6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu Dresta Bali Minus Aksara Bali?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 11, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 11 Oktober 2022

[][][]

Hindu Dresta Bali yang sedang ramai dibicarakan krama medsos mengundang pertanyaan dan renungan:

1. Jika agama Hindu di Bali disebut sebagai Agama Dresta Bali, apakah aksara Bali diangkat secara aklamasi sebagai aksara suci Hindu Dresta Bali?

Jika jawabannya adalah “ya”, muncul pertanyaan lanjutan.

2. Apakah bisa menjadi agamawan Hindu Dresta Bali jika yang bersangkutan buta aksara Bali?

Sebagai ilustrasi agama Islam aksara sucinya adalah aksara Arab.

Maka tidak ada satupun orang yang tidak fasih baca tulis huruf Arab berani mengaku Ustadz dan Ustadzah atau guru yang berada dalam lingkungan keumatan Islam. Kalau tidak paham baca tulis Arab bisa-bisa disebut Ustadz bodong. Apalagi Kyai Haji dan Tuan Guru, pasti memegang dan berpatokan pada keberaksaraan Arab.

Di masa lalu di Bali juga demikian situasinya. Karena itu Bali masih selamat dari gempuran siar atau pengaruh agama-agama yang berusaha masuk Bali.

Pemangku dan pemujaan agama Hindu Bali pasti fasih baca tulis aksara Bali dan ahli sastra dan terlahir dari tradisi Nyastra. Nyastra artinya bukan hanya bisa baca tulis, tapi paham tata bahasa dan kajian isinya, Mababasan dan nyurat aksara, serta kuat secara mendasar pemahaman Tatwa.

Benteng pertahanan Bali di masa lalu sehingga mampu tetap selamat dari gempuran luar adalah keteguhan para pemuka agama di Bali dalam memegang pedoman sastra dan tradisi suci, memegang teguh ajaran lontar-lontar suci yang kini masih diwarisi di berbagai keluarga di Bali itu.

Pemangku wajib baca tulis Bali

Lontar-lontar pedoman Kepemangkuan paragraf pertama sangat umum berisi pesan jelas seperti ini:

“Seseorang tidak bisa (dilarang) menjalankan tugas kepemangkuan jika tidak memahami DASA AKSARA”.

Biasanya kalimat seperti ini tercantum dalam lontar-lontar berjudul SANGKULPUTIH & KUSUMADEWA.

Siapapun yang mengaku pemangku atau sudah di-winten secara kepemangkuan formal di Bali wajib di masa lalu (tidak lagi di masa kini) mengimani atau mempedomani dua jenis lontar pilihan tersebut: Sangkulputih dan Kusuma Dewa.

Bentuk pesan lain dalam paragraf pertama salah satu lontar Kusuma Dewa menyebutkan seperti ini:

“Barangsiapa tidak paham Dasa Aksara tidak memenuhi syarat sebagai Pemangku”.

Apa piteket atau pesan tersurat dan tersiratnya?

1. Pemangku dianjurkan tidak buta aksara Bali.

Kalau buta aksara Bali, dipacu belajar dari nol.

Kenapa harus belajar akasara Bali pemangkunya?

Agar bisa membaca lontar-lontar Kepemangkuan pedoman Sastra Dresta dari seorang pemangku.

2. Pemangku wajib memahami Dasa Aksara yang terdiri dari Pañcabrahma dan Pañcākasara karena itulah pedoman umum puja kepemangkuan.

— Aksara suci dari Dewata Nawa Sanga penjurunya adalah Dasa Aksara.

— Semua Caru dan Ider-ider, serta Kajang dan seterusnya berisi Dasa Aksara.

Kalau tidak paham Dasa Aksara maka bisa dipastikan seorang Pemangku berpotensi kilang-kileng jika diberi mandat “muput upakara”. Minimal kepercayaannya tidak terlalu tebal.

Dari upakara kelahiran sampai kematian, hampir semua berisi Bija Aksara, dari Dasa Aksara ke Catur Dasa Aksara, yang disebutkan dalam mantra-mantranya, yang mengandung aksara suci tersebut. Ini ditulis dalam berbagai pedoman puja Kepemangkuan. Kesemuanya ditulis dalam aksara Bali.

Pemangku di Bali: Wajib paham baca tulis aksara Bali. Wajib paham prinsip-prinsip kesucian dan suara, serta aplikasi Dasa Aksara dalam konteks pemujaan dan Kedewataan.

Sekali lagi, demikian rangkuman pesan Lontar Sangkuputih dan Kusumadewa.

Demikian Kepemangkuan Agama Hindu manut kuna dresta dan sastra dresta.

Demikian kepemangkuan di Bali sebelum masyarakat Bali mengenal aksara Latin.

Demikian kepemangkuan di Bali sebelum dibentuk Parisada setelah era kemerdekaan.

Dresta Bali tanpa sastra dresta?

—Mungkinkah mengembangkan Agama Hindu Dresta Bali minus pembelajaran aksara Bali?

—Mungkinkah mengaku pemuka agama Hindu Dresta Bali jika masih buta aksara Bali dan tidak bersentuhan dengan sumber-sumber ajaran suci tertulis yang dipegang dalam tradisi Sastra Dresta?

—Mungkinkah upakara Hindu dresta Bali tanpa keterlibatan pengetahuan mendalam terhadap Aji Krakah Modre dan Aksara ring Kajang, Sawa/Layon, dan seterusnya?

Dresta Bali mencakup empat aspek Dresta yang kita kenal dengan istilah Catur Dresta.

Konsekuensi dari menyebut Agama Hindu Dresta Bali artinya menampung Catur Dresta yang menjadi pedoman dresta di Bali.

  1. Sastra Dresta
  2. Kuna Dresta atau Purwa Dresta
  3. Desa Dresta
  4. Loka Dresta

Semua aspek ini menjadi empat pilar yang menyangga peradaban panjang Hindu di Bali. Rumah peradaban Bali berpilar empat tiang kokoh ini.

Sangat berpotensi menjadi isapan jempol belaka jika kita mengibarkan bendera dresta di Bali kalau kita diam-diam berdiam diri ketika kehilangan tradisi Sastra Dresta yang bersandar pada kefasihan kita memegang aksara Bali untuk memasuki khazanah ajaran suci yang terkandung dalam ratusan lontar-lontar yang diwarisi di Bali.

Tanpa Sastra Dresta maka rumah peradaban Bali hanya bertiang 3 yang ganjil dan timpang. Jika Bali lepas dari tradisi aksara dan Sastra Dresta: Bisa dibayangkan bagaimana runyamnya nasib peradaban Bali?

Tanpa memahami secara sungguh-sungguh warisan kesusasteraan suci dan tradisi aksara suci yang merekam mantra dan berbagai catatan acara dan upacara, yang sebagian besar masih dalam bentuk lontar-lontar, bisakah kehidupan beragama di Bali menjadi tetap jernih dan tidak ngacuh?

Dalam tradisi tatwa dikenal istilah Sastratah. Ini merupakan salah satu pilar wajib pembelajaran Tatwa (yang mengandung banyak muatan kefilsafatan ruhaniah transendental).

Lengkapnya pedoman pembelajaran itu berbunyi: Gurutah, Śastratah, Svatah.

Tanpa ketiga pokok metode pembelajaran ini seorang dijamin akan ngacuh dan berputar-putar dalam imajinasinya sendiri dalam membahas agama yang diwarisi di Bali. Berpotensi seenak udelnya membahas mantra dan tradisi suci.

Dalam pedoman Gurutah, Śastratah, Svatah, pertama-tama seorang pembelajar harus mencerna dengan asas keteguhan hati dan keterbukaan pikiran “Pengetahuan Suci” yang diterima lewat wahyu oleh para Rsi terdahulu.

Dalam pembelajaran spiritual Bali:

— Kita bukan siapa-siapa jika tidak pernah menerima wahyu secara langsung.

— Kita bukan siapa-siapa jika tidak memiliki kualitas kejernihan tingkat para Rsi dan kita wajib menjadi pembelajar dari ajaran suci yang wahyukan atau dirumuskan oleh para Suci.

— Kita wajib belajar dari sumber sastra yang terpercaya dan punya otoritas dalam garis tradisi suci yang jelas.

Pengetahuan yang diwahyukan para rsi suci baru menjadi pengetahuan siswa itu sendiri lewat proses pembelajaran yang tidak grasa-grusu, bukan instan atau tebak-tebakan. Bukan halusinasi dan kesurupan, seolah-olah paham, padahal baru saja mendapatkan informasi yang belum dicek sumber rujukannya. Seorang pembelajar dalam tradisi suci Nyatra di Bali tidak memakan mentah-mentah informasi yang berseliweran di luar sana. Ia harus merujuk atau menanyakan pada Guru yang punya kapasitas terpercaya.

Untuk mengatasi ketidaktahuan teoretis dari ajaran suci dan ketidaktahuan eksperimental yang berpokok pada persentuhan pengalaman personal dengan “Realitas Sunia”, menurut lontar Wrhaspati Tattwa, di situlah ajaran “Gurutah, Śastratah, Svatah” wajib dipegang. Tahapannya sebagai berikut:

— Pertama, mendengarkan Guru suci (Gurutah).

— Kedua, mempelajari dan merenungkan tulisan atau ajaran suci yang tertulis warisan para Guru suci (Śastratah).

— Ketiga, mempraktikkannya dan menjadikannya sebagai pengalaman batin sendiri secara internal (Svatah).

Ratusan lontar-lontar berisi dresta

Dresta Bali tidak jatuh dari langit.

Pencatatan prinsip dan isi Catur Dresta sudah dilakukan dari era kerajaan Bali Kuno dan bersambung ke Kerajaan Gelgel.

Dari piagam raja-raja Bali Kuno yang dikenal sebagai tambra prasasti atau prasasti tembaga, sampai Pararem dan ratusan Awig-Awig desa-desa pemekaran masa pemerintahan Gelgel di dalam berbagai lontar peninggalan, masih bisa kita jadikan rujukan dresta.

Masing-masing kerajaan di Bali yang merupakan pecahan Kerajaan Gelgel menjadi kerajaan kecil, yang kini jejaknya kita terima sebagai 9 wilayah Kabupaten/Kota di Bali, dahulunya memegang Paswara sebagai pedoman pemerintahan kerajaan. Semua dicatat dalam aksara Bali dan disurat di atas lontar-lontar. Semua ini adalah jejak Catur Dresta yang dinamikanya sangat fluid dan penuh pertimbangan konteks eranya, terutama dalam aspek penataan pemerintah antar dinasti yang terus bertumbuh.

Ini baru satu aspek, yaitu tata pemerintahan Bali kuno dan digantikan era Majapahit dan Gelgel. Dresta yang dipakai ada yang bersifat dinamis dan banyak terjadi transformasi tata cara pengaturan masyarakat di berbagai bidang, termasuk keagamaan yang paling kental yang tidak terpisahkan dari tata negara kerajaan Bali. Ada pula nilai-nilai dresta yang memang tidak bisa ditawar-tawar.

Dalam urusan upakara, dari Dresta Bali pegunungan dan Dresta Bali dataran tidak semua sepakat dengan isi lontar-lontar Plutuk atau dikenal juga sebagai lontar Mpu Lutuk. Bahkan diskusi soal dresta penguburan mayat dan beralih ke pembakaran atau pelebon, bisa kita baca secara jelas bagaimana itu dituliskan pengaturannya dalam lontar-lontar bertema Sawa Prateka. Variasi tata cara Palayon dan Atiwa-tiwa saja sangat beragam dalam kancah dresta. Beragam variasi dan serba-serbi ritual ini baru dipahami secara lapang dan tidak kita pertentangkan kalau paham dengan prinsip-prinsip Catur Dresta, yang salah satu prinsip anutannya adalah DESA MAWACARA, atau DESA-KALA-PATRA.

Demikianlah adanya, Catur Dresta menjadi wajib hukumnya jika mahayu-hayu peradaban Bali. Wajib dipahami.

Aksara Bali harga mati

Kembali ke unduk dan indik Aksara Bali: Aksara Bali adalah harga mati. Harus dipertahankan dan digeluti sebelum terjebak ngacuh membahas dan menyiarkan ajaran-ajaran suci yang terwariskan di Bali.

Jika ingin masa depan krama Bali tidak direcah cacah oleh oknum-oknum ngacuh yang berkoar-koar dulu dan tidak juga mau belajar setelah viral: Warisan tradisi sastra dresta wajib dijadikan pilar rujukan.

Ada ungkapan sangat kasar dalam bahasa Bali seperti ini:

Memunyi sekonden melajah. Sing nyak melajah sesuba munyi ngacuh.

Di sinilah prinsip “Gurutah, Śastratah, Svatah” yang diacu dalam tradisi Nyastra di Bali dijungkil balik.

Sebagai krama Bali yang menyimak berbagai Drama Wacana yang dibawakan oleh oknum yang ditokoh-tokohan di medsos, baik oknum yang kebetulan menyandang jabatan Bupati yang membahas bablas sastra dengan pongah, ataupun orang-orang membahas Bija/Wija Aksara Bali dan mantra-mantra padahal buta aksara Bali, saya merasa was-was dan menarik napas panjang: Bagaimana nasib Agama Hindu Bali dua atau tiga dekade ke depan?

Bali yang berlimpah ajaran sastra dresta dan berbagai rekam jejak peradaban dalam lontar-lontar, ketika kini masyarakat sebagian besar tidak lagi memahami rujukan Sastra Dresta yang ditulis dalam aksara Bali, terlihat menggap-menggap dan terlunta-lunta. Situasi ini semakin hitam-putek dengan ditimpuhi oleh bermunculannya berbagai Drama Wacana di medsos yang diisi oleh berbagai wacana halusinasi.

Situasi ini mirip dengan nasib sekelompok warga terkatung-katung hanyut di tengah lautan karena tidak satupun tahu cara membaca kompas dan tidak tahu cara membentang layar yang telah tersedia lengkap di atas perahu mereka yang tangguh.[T]

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

Tags: agamaDresta BalihinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putu Fajar Arcana dan Dibal Ranuh, Berdua Sutradarai Monolog “Drupadi” di Festival Seni Bali Jani 2022

Next Post

“The Water Soul“ dari Dekgeh Dance Art Community: Kisah Air Mengalir dalam Tubuh Penari

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
“The Water Soul“ dari Dekgeh Dance Art Community: Kisah Air Mengalir dalam Tubuh Penari

“The Water Soul“ dari Dekgeh Dance Art Community: Kisah Air Mengalir dalam Tubuh Penari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co