23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam AA Gde Raka Payadnya: Pendiri Drama Gong, Tokoh Puri yang Rendah Hati

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
September 29, 2022
in Feature, Pilihan Editor
In Memoriam AA Gde Raka Payadnya: Pendiri Drama Gong, Tokoh Puri yang Rendah Hati

AA Gde Raka Payadnya |

Kita kehilangan seorang tokoh seniman yang punya peran penting pada terciptanya drama gong di Bali. Drama gong adalah bentuk seni pertunjukan yang sempat menjadi primadona di Pulau Dewata hingga ke Pulau Lombok.

Tokoh itu, Anak Agung Gde Raka Payadnya dari Puri Abianbase, Banjar Kaja Kauh, Abianbase Gianyar, Bali. Ia berpulang menuju sunialoka, Kamis, 22 September 2022, pukul 11.45 Wta akibat infeksi paru-paru yang dideritanya.

Anak Agung Sri Gamatri—putri ketiga Raka Payadnya—mengatakan, bapaknya yang kelahiran 14 Agustus 1944 itu sempat dirawat selama 13 hari di Rumah Sakit Sanjiwani Gianyar.Sebelumnya, kata Anak Agung Sri Gamatri , seniman besar itu menderita sakit parkinson yang rutin melakukan check up.

Jenazah Raka Payadnya diupacarai dalam upacara mekingsan di geni, Jumat 23 September ini.

Polos dan Tidak Feodal

Tentu banyak yang kehilangan setelah kepergian Raka Payadnya, terutama para penggemar drama gong di Bali. Salah seorang yang merasa sangat kehilangan adalah I Wayan Sugita, pelaku drama gong yang kini menjadi dosen Universitas Hindu Negeri (UHN) IGB Sugriwa Denpasar.

Sugita adalah pemeran Patih Agung dan sejumlah drama gong yang terkenal di Bali. Saat menjadi dosen ia banyak melakukan penelitian tentang drama gong untuk keperluan akademik maupun untuk penyebaran pengetahuan kepada masyarakat umum.

“Terakhir, setahun lalu saya bertemu beliau (Raka Payadnya) untuk keperluan kepenulisan tentang perkembangan drama gong,” kata Sugita, Kamis malam.

Sugita mengaku punya kesan yang sangat mendalam kepada Anak Agung gde Raka Payadnya. “Saya sangat merasa kehilangan. Beliau tokoh betul-betul tokoh yang mumpuni di bidang drama gong dan menjadi teladan bagi pemain-pemain drama gong di Bali,” kata Sugita.

Selain pencetus lahirnya seni drama khas Bali yang kemudian disebut sebagai drama gong, Raka Payadnya adalah pelaku drama gong. Pada era tahun 1970-an Raka Payadnya terkenal sebagai pemeran raja muda, salah satu peran yang menjadi daya tarik drama gong.

“Sehingga, di mana pun drama gong Abianbase yang anak mudanya Raka Payadnya selalu dicari penonton,” ujar Sugita.

Apa yang bisa diteladani dari Anak Agung Gde Raka Payadnya?

“Yang patut diteladani dari beliau adalah ketatnya beliau menerapkan sor singgih basa dalam drama gong,” kata Sugita.

Mungkin karena Raka Payadnya lahir di lingkungan puri, kata Sugita, sehingga betul-betul punya komitmen mempertahankan keberadaan Bahasa Bali.

“Yang penting juga diteladani adalah kepolosan beliau,” ujar Sugita.

Menurut Sugita, di mata seniman drama, Raka Payadnya adalah sosok yang polos dan selalu merendah, rendah hati dan tidak feodal.

“Banyak nama-nama besar, mekeber sebengne. Tapi beliau tidak feodal, meski berasal dari puri,” tegas Sugita.

Pendiri Drama Gong

Anak Agung Gede Raka Payadnya memang dikenal sebagai pendiri seni pertunjukan drama gong di Bali.

Kisah terciptanya drama gong itu agak unik. Tahun 1965 Raka Payadnya menamatkan penidikan di Konservatori Kerawitan (Kokar) Denpasar. Sempat kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Seni Rupa Unud. Usai ikut Mapram (semacam Opspek)ia  pulang.

Ia diminta oleh Sekaa Gong Wijaya Kusuma untuk membuat pentas sendratari. Namun, sendratari itu harus sudah kelar dalam waktu delapan hari agar bisa dipentaskan pada hari yang sudah ditentukan. Penari-penarinya waktu itu adalah penari legong seperti penari Oleg, Tenun, Tani, Margapati dan lain-lain.

Melihat kondisi penari dan waktu yang mendesak, ia tak terlalu yakin bisa menyelesaikan sebuah garapan sendratari. Terjadilah kompromi. Muncul ide untuk membuat pertunjukan seperti drama klasik, tapi adegannya seperti sendratari. Perbedaannya, pemain tidak menari.

Pemeiannya adalah guru-guru, muda-mudi, dan tokoh masyarakat Abianase. Pada zaman Gestapu sebelum tahun 1970-an sempat ngetren pertunjukan drama janger, sehingga pertunjukan yang dibuat Raka Payadnya itu diberikan nama dengan kata drama. Yakni drama klasik. Ceritanya adalah Jayaprana.

Drama klasik itu pentas pada 24 Februari 1966 bertepatan dengan pujawali di Pura Puseh Desa Abianbase. Sambutan penonton ramai. Banyak yang suka.

Raka Payadnya bangga karena penonton menyambut pementasan itu dengan sukacita. Mungkin saja pada zaman itu masyarakat sedang haus tontonan. Mungkin juga karena pertunjukan itu termasuk jenis seni pertunjukan baru.

Saat pentas pertama kali itu, para pemain menggunakan campuran antara Bahasa Indonesia dengan Bali. Jika pemeran muda bercakap dengan tokoh tua digunakan bahasa Bali, sementara tokoh muda dengan tokoh muda bercakap menggunakan Bahasa Indonesia.

Kenapa berubah menjadi drama gong?

Ketika mereka pentas di Banjar Babakan, Sukawati, banyak mantan guru-guru Raka Payadnya di Kokar yang ikut menonton. Salah satunya adalah IGB Nyoman Pandji,  Usai pentas, Raka Payadnya ditemui di belakang panggung, dan IGB Nyoman Panji menyarankan agar pertunjukan itu diberi nama “drama gong” karena menggunakan iringan gamelan gong kebyar. Maka, sejak itu, pertunjukan drama klasik mereka berganti nama jadi drama gong.

Drama gong Abianbase ini terkenal di seluruh Bali, sehingga muncul kemudian kelompok-kelompok drama gong di sejumlah daerah yang beberapa di antaranya juga terkenal dan larih manis pentas dari panggung ke panggung. Bahasa yang digunakan pun berubah menjadi bahasa Bali secara penuh, bahkan lengkap dengan sor singgih-nya.

Raka Payadnya memiliki 111 koleksi judul drama gong, antara lain Semara Nala”, “Dukuh Seladri”, “Mudita”, dan “Cilinaya”.

Atas pengabdian dan dedikasinya itu, Raka Payadnya dianugerahi Dharma Kusuma tahun 2004 oleh Pemda Propinsi Bali.

Tokoh Pramuka

Tidak banyak yang tahu, Anak Agung Raka Payàdnya juga merupakan tokoh kepanduan (pramuka) di Bali, khususnya Gianyar.

Kenyataan itu ditulis oleh Nyoman Mahardika, seorang dosen, pegiat lingkungan dan tokoh Pramuka di Bali. Nyoman Mahadika menulis di akuan facebook-nya sebagai ungkapan dukacita atas kepergian Raka Payadnya.  

Mahardika menulis, Anak Agung Raka Payàdnya juga merupakan tokoh kepanduan di Bali, khususnya Gianyar. Kecintaan dan dedikasinya dalam kepramukaan sejak usia muda juga sangat besar.

Mahardika kemudian memperlihatkan foto-foto bersejarah, koleksi ayahnya, Almarhum I Nyoman Bebas. Raka Payadnya dan Nyoman Bebas adalah sahabat seperjuangan dalam memajukan Gerakan Pramuka di Bali.

“Kedekatan mereka akhirnya diperkuat juga oleh hobi yang sama yaitu sama-sama menggemari burung perkutut,” tulis Mahardika.

Mahardika bercerita, di hari terakhir ayahnya, tanggal 15 Januari 2007, Raka Payadnya datang membesuk ayahnya di RS Sanjiwani Gianyar dan berkelakar seperti biasanya.

“Tiba-tiba Ayah kami kondisinya drop, semua panic,  dan akhirnya meninggal, berpegangan tangan dengan sahabatnya. Saya tidak dapat menahan haru menyaksikan Sang Legenda menitikkan air mata melepas kepergian sahabatnya,” tulis Mahardika.

Apa yang ditulis Nyoman Mahardika, dan apa yang diceritakan Wayan Sugita, adalah bukti betapa Raka Payadnya adalah seniman yang rendah hati. Selain mencintai keluarganya, ia juga menghargai sesama seniman, sahabat-sahabatnya.  

Bali berhutang pada dia. Selamat jalan maestro drama gong. [T]

Wayan Sujana ”Jedur”: Legenda Drama Gong Puspa Anom dari Banyuning
Niat Total Lestarikan Drama Gong dan Pencak Silat – “Raja Buduh” Yudana dalam Kenangan
In Memoriam Wayan Tarma: Mati Drama Gong, Hidup Dolar
Tags: Desa Abianbasedrama gongGianyarKokar Baliseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Budaya Perlakuan Plasenta, Kearifan Lokal Sarat Makna

Next Post

Puisi-puisi Agoes Andika, Ask. | Pagi Hari Menghadap Matahari

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Agoes Andika, Ask. | Pagi Hari Menghadap Matahari

Puisi-puisi Agoes Andika, Ask. | Pagi Hari Menghadap Matahari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co