3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Dewi Yudiarmika by Dewi Yudiarmika
April 5, 2022
in Esai
Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Pentas teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

“Kemuliaan Ibu Nyoman Rai Srimben” adalah naskah pertama yang saya sutradarai. Berat? Sangat. Selain nilai budaya yang kental didalamnya, juga terdapat nilai-nilai sejarah yang harus diketahui dan tak boleh dilupakan. Kalau saya, tidak akan pernah melupakannya. Alasannya mungkin nanti akan saya jelaskan kalau ingat.

Dulu, waktu zaman suka wara-wiri pentas dengan beberapa komunitas di Buleleng, Komunitas Mahima  pernah memberikan saya kesempatan untuk turut andil dalam pementasan perempuan bersejarah ini, Ibu Nyoman Rai Srimben. Meskipun bukan sebagai pemeran utama, tetapi bukankah tukang angkat properti saja sudah sangat memiliki peran penting dalam sebuah pementasan?

Jadi tak perlu disesali sebab yang saya dapatkan saat itu bisa membawa saya ke titik ini, mencoba menyutradarai siswa SMP Negeri 4 Singaraja, tempat saya mengais rezeki dalam ajang lomba teater sebuleleng dengan naskah Kemuliaan Ibu Nyoman Rai Srimben karya Kadek Sonia Piscayanti serangkaian peresmian RTH Bung Karno sekaligus perayaan HUT Kota Singaraja ke 418

Sebagai sutradara pemula, detak jantung sudah mulai berdebar saat pertemuan pertama dengan panitia dilaksanakan. Di dalam hati selalu bertanya, “Bisa tidak ya? Yakin nih?” juga pertanyaan lainnya. Bermodal pengalaman dan dukungan dari kepala sekolah, guru-guru lain juga MGMP Bahasa Indonesia, jadilah pelatuk korek api ini bergerak untuk menyalakan api hingga membakar segala ruang yang hampa.

Pementasan teater SMPN 4 Singaraja di RTH Bung Karno Singaraja

Setiap hari merasa kurang tenang selama konsep belum bisa terselesaikan. Membaca, menonton, dan berkoordinasi dilakukan bergantian. Jangan lupa dengan mengingat pengalaman terdahulu ketika beberapa kali ikut pementasan. Paling tidak sedikit teori sudah dipegang, tinggal teori lainnya yang harus digali dari berbagai sumber.

Hari pertama pencarian aktor sangat gampang. Banyak siswa yang semangat ketika saya mengakatan, “Sekolah kita, untuk pertama kalinya ingin ikut lomba teater. Apakah di antara kalian juga ingin? Sebab jika tidak, mungkin kesempatan sekolah menjadi penyabet prestasi di segala bidang akan mundur satu langkah.”

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

Di luar dugaan, untuk sekelas siswa yang belum pernah berakting di atas panggung menyatakan INGIN. Mereka SEMANGAT. Mengapa saya sebut di luar dugaan, karena generasi terus berganti sejak Sanggar Poleng didirikan tahun 2016 dan belum pernah mencoba hal ini kecuali lomba puisi dan mendongeng. Sempat juga beberapa kali mengisi acara di luar sekolah dengan membawakan teaterikal puisi dan musikalisasi puisi. Itu pun sekitar tahun 2016 atau 2017.

Adegan Raden Soekemi dan Nyoman Rai Srimben

Kita kembali ke topik awal. Mulai saat itu juga perekrutan pun dimulai, mungkin bisa disebut casting (tetapi jika salah, mohon dimaafkan. Maklum sutradara pemula :D). Karena peserta terlalu banyak, pertemuan pertama, saya hanya membagikan naskah dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk membaca keseluruhan naskah sambil memilih tokoh yang diinginkan. Pertemuan kedua lanjut dengan acting sesuai dengan karakter tokoh yang telah mereka pilih. Kegiatan tersebut berlangsung beberapa kali sampai akhirnya keseluruhan aktor saya pilih dan mengajak mereka untuk latihan pingpong membaca naskah. Perlu diketahui bahwa 14 sekolah mementaskan naskah ini. Naskah yang sama.

Selama latihan, saya tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan siswa terkait pementasan ini; “ Apa boleh mengubah dan menambahkan dialog? “Bagaimana dengan durasinya? Dan lain sebagainya.

Nah, inilah yang haus saya luruskan ke siswa sesuai dengan yang saya ketahui. Jika pentas sebagai pengisi acara, mungkin boleh jika diperlukan, tetapi jika dilombakan kita harus berusaha mengikuti aturannya. Seperti yang disampaikan oleh salah satu juri sekaligus penulis naskah, Kadek Sonia Piscayanti. Beliau menyatakan bahwa naskah ini sudah diperhitungkan dari berbagai segi. Baik itu dari segi nilai sejarah dan durasinya.

Teater SMPN 4 Singaraja di RTH Bung Karno

Kalau sampai kita sebagai peserta dari berbagai sekolah terlalu mengembangkan naskah (yang tak semestinya dikembangkan) sampai durasinya melebihi batas (lebih satu atau dua menit mungkin tidak akan jadi masalah), bagaimana dengan peserta lain yang antri menunggu giliran? Bisa jadi bedak dan jenggot (-jenggotan) si Pekak Mangku luntur seiring semangat pemain lainnya.

Jadi, inilah tantangan-tantangan yang saya rasakan. Bagaimana membuat konsep yang berbeda karena naskah sama, mengemas gagasan dengan apik agar tidak melunturkan nilai-nilai yang ada didalamnya, dan menjadikan siswa-siswi juga mengenal sosok yang dilakoni selain harus paham dengan alur ceritanya.

Mengenai konsep, saya terinspirasi dengan pertunjukan Wayang Lemah. Kenapa memilih konsep Wayang Lemah? Tentu untuk mengefisienkan waktu ketika pergantian babak dan membuat batasan panggung karena panggung TBK (Taman Bung Karno) sangat luas. Selain itu ada kayon yang dapat membantu peralihan adegan tanpa harus menambahkan dialog atau mematikan dan menghidupkan lampu.

Sisi lain juga saya ingin mengolaborasikan kegiatan ekstra di sekolah, diantaranya gong, musik keyboard, dan tari. Karena mengambil konsep wayang, maka segala musik yang dipilih pun harus bernuansa tradisional meskipun menggunakan alat musik keyboard. Misal saat adegan romantis Nyoman dan Raden. Yang tidak menggunakan musik tradisonal adalah ketika mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Selebihnya gong dan suling menjadi andalan di beberapa adegan.

Selain tentang konsep atau printilan-printilan naskah, latihan tidak selalu berjalan dengan mulus. Apalagi kita bergerak saat pandemi covid-19 masih ada, bahkan sampai sekarang. Baru sempat latihan beberapa kali, ada himbauan bahwa kegiatan sekolah ditiadakan karena covid di buleleng meningkat bahkan beberapa hari sebelumnya beberapa sekolah sudah ditutup karena guru dan siswanya terpapar. Jadilah saya mengambil jalan agar siswa menghafal naskah di rumah dan berjaga seandainya sudah diperbolehkan sekolah kembali.

Tepat awal bulan Maret panitia memberikan pengumuman bahwa lomba jadi dilaksanakan dan berlangsung selama empat hari di akhir bulan Maret ini. Bagaimana, kaget? Tentu. Tapi karena keinginan begitu besar maka kami siap.

Pak Koster, Teater dan Pendidikan Karakter di RTH Taman Bung Karno

Kendala tidak hanya itu. Ada dua aktor yang harus saya ganti karena alasan yang tidak bisa saya jelaskan di sini. Beruntung segala kendala selalu ada jalannya. Saya mencari dan meminta siswa lain untuk segera bergabung dan menghafal naskah sampai akhirnya latihan kembali berjalan normal. Selama latihan saya selalu menegaskan bahwa saat ini aturan juga harus diutamakan. Kita berusaha meminimalisir kekurangan. Jadi, yang kami tahu, kami ganti.

Salah satunya durasi. Mungkin sekali dua kali melakukan improvisasi saat mendapati diri gugup tidak masalah demi kelancaran adegan selanjutnya. Yang penting tidak mengubah alur atau makna yang disampaikan di setiap dialog tokoh. Sebelumnya saya selalu menekankan kepada siswa, waktu pentas mereka akan berubah sesuai dengan durasi ketika adegan Nyoman mepamit; Nyoman dan Raden memadu kasih; Nyoman, Raden, dan Soekarno bermain. Sebab selain dialog, durasi pergantian babak yang dibantu kayon telah saya perhitungkan sampai beberapa kali mengubah tabuh dan gerakan.

Hari terus berganti, pertunjukkan segera dimulai. Minggu, 27 Maret 2022 Pk. 18.45 WITA adalah jadwal kami pentas. Tidak ada harapan lain selain kelancaran pentas dan menyakini nomor undi 9 (sembilan) membawa keberuntungan bagi pertunjukkan kami. Tidak disangka pukul 15.00 WITA datang  gerimis berangsur hujan lebat. Panik, takut, dan apalah lagi namanya itu, sudah bergabung jadi satu. Namun, jika Yang Kuasa telah memberi restu, tak ada yang mampu menghalau. Kami berangkat pukul 17.00 WITA hingga kami bersiap mempertunjukkan proses kami selama satu setengah bulan ini.

Adegan Bung Karno membaca naskah Proklamasi

Ketika itu, saya melihat kursi-kursi penonton ramai. Entah apa yang dipikirkan, saya hanya bisa melihat mereka diam memerhatikan hingga akhirnya tepuk tangan riuh berkumandang ketika gebyar terakhir dari pementasan kami. Alhasil gebyar itu mengantarkan kami menjadi juara I. Tidak ada yang bisa saya sampaikan selain terima kasih dan selamat untuk kami.

Rasa bangga masih membekas karena perjuangan dan kemampuan siswa-siswi saya dalam berproses, dukungan dari seluruh keluarga besar SMP Negeri 4 Singaraja juga orang tua siswa. Saya berharap kesempatan selanjutnya bisa menampilkan yang lebih baik lagi meskipun generasi tak lagi sama. Ini awal sanggar kami kembali bangkit. Bangkit dengan upaya pertunjukkan seni lebih diperluas lagi. Tidak hanya dibidang puisi dan mendongeng, tetapi juga teater. Mungkin akan ada sesi menulis karya yang nantinya bisa dipertunjukkan. Semoga semesta selalu memberi restu. [T]

Tags: Bung KarnoLomba Teater Kisah Ibunda Bung KarnoRai SrimbenSMPN 4 SingarajaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Sanghyang Dedari dari Banjar Prapat, Nusa Penida, “Mesolah” di Rumah Warga

Next Post

“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

Dewi Yudiarmika

Dewi Yudiarmika

Pernah bergiat di Komunitas Mahima dan kini menjadi guru di SMPN 4 Singaraja sekaligus sebagai sutradara teater sekolah

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

"Community-Based Tourism" Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co