3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Dewi Yudiarmika by Dewi Yudiarmika
April 5, 2022
in Esai
Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

Pentas teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja

“Kemuliaan Ibu Nyoman Rai Srimben” adalah naskah pertama yang saya sutradarai. Berat? Sangat. Selain nilai budaya yang kental didalamnya, juga terdapat nilai-nilai sejarah yang harus diketahui dan tak boleh dilupakan. Kalau saya, tidak akan pernah melupakannya. Alasannya mungkin nanti akan saya jelaskan kalau ingat.

Dulu, waktu zaman suka wara-wiri pentas dengan beberapa komunitas di Buleleng, Komunitas Mahima  pernah memberikan saya kesempatan untuk turut andil dalam pementasan perempuan bersejarah ini, Ibu Nyoman Rai Srimben. Meskipun bukan sebagai pemeran utama, tetapi bukankah tukang angkat properti saja sudah sangat memiliki peran penting dalam sebuah pementasan?

Jadi tak perlu disesali sebab yang saya dapatkan saat itu bisa membawa saya ke titik ini, mencoba menyutradarai siswa SMP Negeri 4 Singaraja, tempat saya mengais rezeki dalam ajang lomba teater sebuleleng dengan naskah Kemuliaan Ibu Nyoman Rai Srimben karya Kadek Sonia Piscayanti serangkaian peresmian RTH Bung Karno sekaligus perayaan HUT Kota Singaraja ke 418

Sebagai sutradara pemula, detak jantung sudah mulai berdebar saat pertemuan pertama dengan panitia dilaksanakan. Di dalam hati selalu bertanya, “Bisa tidak ya? Yakin nih?” juga pertanyaan lainnya. Bermodal pengalaman dan dukungan dari kepala sekolah, guru-guru lain juga MGMP Bahasa Indonesia, jadilah pelatuk korek api ini bergerak untuk menyalakan api hingga membakar segala ruang yang hampa.

Pementasan teater SMPN 4 Singaraja di RTH Bung Karno Singaraja

Setiap hari merasa kurang tenang selama konsep belum bisa terselesaikan. Membaca, menonton, dan berkoordinasi dilakukan bergantian. Jangan lupa dengan mengingat pengalaman terdahulu ketika beberapa kali ikut pementasan. Paling tidak sedikit teori sudah dipegang, tinggal teori lainnya yang harus digali dari berbagai sumber.

Hari pertama pencarian aktor sangat gampang. Banyak siswa yang semangat ketika saya mengakatan, “Sekolah kita, untuk pertama kalinya ingin ikut lomba teater. Apakah di antara kalian juga ingin? Sebab jika tidak, mungkin kesempatan sekolah menjadi penyabet prestasi di segala bidang akan mundur satu langkah.”

Teater Pakeliran : Konsep Populer Dalam Garap Karya Pewayangan

Di luar dugaan, untuk sekelas siswa yang belum pernah berakting di atas panggung menyatakan INGIN. Mereka SEMANGAT. Mengapa saya sebut di luar dugaan, karena generasi terus berganti sejak Sanggar Poleng didirikan tahun 2016 dan belum pernah mencoba hal ini kecuali lomba puisi dan mendongeng. Sempat juga beberapa kali mengisi acara di luar sekolah dengan membawakan teaterikal puisi dan musikalisasi puisi. Itu pun sekitar tahun 2016 atau 2017.

Adegan Raden Soekemi dan Nyoman Rai Srimben

Kita kembali ke topik awal. Mulai saat itu juga perekrutan pun dimulai, mungkin bisa disebut casting (tetapi jika salah, mohon dimaafkan. Maklum sutradara pemula :D). Karena peserta terlalu banyak, pertemuan pertama, saya hanya membagikan naskah dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk membaca keseluruhan naskah sambil memilih tokoh yang diinginkan. Pertemuan kedua lanjut dengan acting sesuai dengan karakter tokoh yang telah mereka pilih. Kegiatan tersebut berlangsung beberapa kali sampai akhirnya keseluruhan aktor saya pilih dan mengajak mereka untuk latihan pingpong membaca naskah. Perlu diketahui bahwa 14 sekolah mementaskan naskah ini. Naskah yang sama.

Selama latihan, saya tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan siswa terkait pementasan ini; “ Apa boleh mengubah dan menambahkan dialog? “Bagaimana dengan durasinya? Dan lain sebagainya.

Nah, inilah yang haus saya luruskan ke siswa sesuai dengan yang saya ketahui. Jika pentas sebagai pengisi acara, mungkin boleh jika diperlukan, tetapi jika dilombakan kita harus berusaha mengikuti aturannya. Seperti yang disampaikan oleh salah satu juri sekaligus penulis naskah, Kadek Sonia Piscayanti. Beliau menyatakan bahwa naskah ini sudah diperhitungkan dari berbagai segi. Baik itu dari segi nilai sejarah dan durasinya.

Teater SMPN 4 Singaraja di RTH Bung Karno

Kalau sampai kita sebagai peserta dari berbagai sekolah terlalu mengembangkan naskah (yang tak semestinya dikembangkan) sampai durasinya melebihi batas (lebih satu atau dua menit mungkin tidak akan jadi masalah), bagaimana dengan peserta lain yang antri menunggu giliran? Bisa jadi bedak dan jenggot (-jenggotan) si Pekak Mangku luntur seiring semangat pemain lainnya.

Jadi, inilah tantangan-tantangan yang saya rasakan. Bagaimana membuat konsep yang berbeda karena naskah sama, mengemas gagasan dengan apik agar tidak melunturkan nilai-nilai yang ada didalamnya, dan menjadikan siswa-siswi juga mengenal sosok yang dilakoni selain harus paham dengan alur ceritanya.

Mengenai konsep, saya terinspirasi dengan pertunjukan Wayang Lemah. Kenapa memilih konsep Wayang Lemah? Tentu untuk mengefisienkan waktu ketika pergantian babak dan membuat batasan panggung karena panggung TBK (Taman Bung Karno) sangat luas. Selain itu ada kayon yang dapat membantu peralihan adegan tanpa harus menambahkan dialog atau mematikan dan menghidupkan lampu.

Sisi lain juga saya ingin mengolaborasikan kegiatan ekstra di sekolah, diantaranya gong, musik keyboard, dan tari. Karena mengambil konsep wayang, maka segala musik yang dipilih pun harus bernuansa tradisional meskipun menggunakan alat musik keyboard. Misal saat adegan romantis Nyoman dan Raden. Yang tidak menggunakan musik tradisonal adalah ketika mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Selebihnya gong dan suling menjadi andalan di beberapa adegan.

Selain tentang konsep atau printilan-printilan naskah, latihan tidak selalu berjalan dengan mulus. Apalagi kita bergerak saat pandemi covid-19 masih ada, bahkan sampai sekarang. Baru sempat latihan beberapa kali, ada himbauan bahwa kegiatan sekolah ditiadakan karena covid di buleleng meningkat bahkan beberapa hari sebelumnya beberapa sekolah sudah ditutup karena guru dan siswanya terpapar. Jadilah saya mengambil jalan agar siswa menghafal naskah di rumah dan berjaga seandainya sudah diperbolehkan sekolah kembali.

Tepat awal bulan Maret panitia memberikan pengumuman bahwa lomba jadi dilaksanakan dan berlangsung selama empat hari di akhir bulan Maret ini. Bagaimana, kaget? Tentu. Tapi karena keinginan begitu besar maka kami siap.

Pak Koster, Teater dan Pendidikan Karakter di RTH Taman Bung Karno

Kendala tidak hanya itu. Ada dua aktor yang harus saya ganti karena alasan yang tidak bisa saya jelaskan di sini. Beruntung segala kendala selalu ada jalannya. Saya mencari dan meminta siswa lain untuk segera bergabung dan menghafal naskah sampai akhirnya latihan kembali berjalan normal. Selama latihan saya selalu menegaskan bahwa saat ini aturan juga harus diutamakan. Kita berusaha meminimalisir kekurangan. Jadi, yang kami tahu, kami ganti.

Salah satunya durasi. Mungkin sekali dua kali melakukan improvisasi saat mendapati diri gugup tidak masalah demi kelancaran adegan selanjutnya. Yang penting tidak mengubah alur atau makna yang disampaikan di setiap dialog tokoh. Sebelumnya saya selalu menekankan kepada siswa, waktu pentas mereka akan berubah sesuai dengan durasi ketika adegan Nyoman mepamit; Nyoman dan Raden memadu kasih; Nyoman, Raden, dan Soekarno bermain. Sebab selain dialog, durasi pergantian babak yang dibantu kayon telah saya perhitungkan sampai beberapa kali mengubah tabuh dan gerakan.

Hari terus berganti, pertunjukkan segera dimulai. Minggu, 27 Maret 2022 Pk. 18.45 WITA adalah jadwal kami pentas. Tidak ada harapan lain selain kelancaran pentas dan menyakini nomor undi 9 (sembilan) membawa keberuntungan bagi pertunjukkan kami. Tidak disangka pukul 15.00 WITA datang  gerimis berangsur hujan lebat. Panik, takut, dan apalah lagi namanya itu, sudah bergabung jadi satu. Namun, jika Yang Kuasa telah memberi restu, tak ada yang mampu menghalau. Kami berangkat pukul 17.00 WITA hingga kami bersiap mempertunjukkan proses kami selama satu setengah bulan ini.

Adegan Bung Karno membaca naskah Proklamasi

Ketika itu, saya melihat kursi-kursi penonton ramai. Entah apa yang dipikirkan, saya hanya bisa melihat mereka diam memerhatikan hingga akhirnya tepuk tangan riuh berkumandang ketika gebyar terakhir dari pementasan kami. Alhasil gebyar itu mengantarkan kami menjadi juara I. Tidak ada yang bisa saya sampaikan selain terima kasih dan selamat untuk kami.

Rasa bangga masih membekas karena perjuangan dan kemampuan siswa-siswi saya dalam berproses, dukungan dari seluruh keluarga besar SMP Negeri 4 Singaraja juga orang tua siswa. Saya berharap kesempatan selanjutnya bisa menampilkan yang lebih baik lagi meskipun generasi tak lagi sama. Ini awal sanggar kami kembali bangkit. Bangkit dengan upaya pertunjukkan seni lebih diperluas lagi. Tidak hanya dibidang puisi dan mendongeng, tetapi juga teater. Mungkin akan ada sesi menulis karya yang nantinya bisa dipertunjukkan. Semoga semesta selalu memberi restu. [T]

Tags: Bung KarnoLomba Teater Kisah Ibunda Bung KarnoRai SrimbenSMPN 4 SingarajaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Sanghyang Dedari dari Banjar Prapat, Nusa Penida, “Mesolah” di Rumah Warga

Next Post

“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

Dewi Yudiarmika

Dewi Yudiarmika

Pernah bergiat di Komunitas Mahima dan kini menjadi guru di SMPN 4 Singaraja sekaligus sebagai sutradara teater sekolah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

"Community-Based Tourism" Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co