28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pilkada Tak Cuma Jakarta, Bung! – Jangan-jangan Kita Tak Tahu Calon Bupati Sendiri…

Gusti Ayu Ratna Sari by Gusti Ayu Ratna Sari
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi diolah dari sejumlah sumber di google

JUMAT, 13 Januari 2017, menjadi hari yang cukup istimewa bagi negeri ini. Tapi ini bukan hari nasional, bukan juga hari demo besar-besaran seperti 4/11, 25/11 atau 2/12. Dan tentunya bukan hari libur yang biasanya menggembirakan bagi semua orang.

Hari itu adalah hari dilaksanakannya debat resmi pertama antarpasangan calon Gubernur DKI Jakarta. Kalian pasti sudah nonton.

Hari itu, sejak hari-hari sebelumnya, dinanti-nantikan seperti menantikan satu tontonan besar yang tak akan pernah ada lagi di dunia ini. Hari itu adalah panggung adu visi-misi dan argumentasi pasangan calon Gubernur DKI Jakarta yang akan mempengaruhi tingkat elektabilitas, dukungan, dan juga mempengaruhi serta menarik dukungan para swing voters.

Hari itu juga dinanti-nanti bukan hanya oleh warga ber-KTP Jakarta tapi oleh hampir seluruh warga Indonesia. Karena hari itu seakan-akan warga melihat satu episode dari drama bersambung Pilkada DKI Jakarta yang “diputar” sejak beberapa bulan lalu, dan entah kapan akan berakhir.

Drama itu menjadi perhatian warga melalui berbagai media karena tentu kita tidak lupa bahwa di penghujung tahun 2016 lalu, Indonesia digemparkan dengan kasus penistaan agama oleh salah satu calon gubernur DKI Jakarta. Lalu ada demo, ada tokoh ditangkap karena kasus makar.

Ditambah dinamika lain, maka lengkaplah drama bersambung Pilkada DKI jadi tontonan warga Indonesia. Salah satu episode adalah debat pasangan calon Gubernur yang disiarkan TV nasional.

Tapi di balik perhatian yang begitu besar terhadap proses demokrasi di Jakarta dari seluruh rakyat Indonesia, saya merasakan ada yang terlupakan. Kita dan saya khususnya lupa bahwa Pilkada 15 Februari 2017 itu bukan cuma di Jakarta. Saat semua orang membicarakan Pilkada DKI, saya bertanya-tanya apakah kita sudah mendapatkan informasi yang cukup kalau daerah kita juga akan ada pesta demokrasi yang sama?

Di saat warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke ikut berkomentar tentang visi dan misi pasangan calon dalam debat itu, sudahkah kita ingat menguji visi-misi calon Gubernur, Bupati, atau Walikota kita sendiri? Jangan-jangan kita, kalian atau kamu, tak tahu ada Pilkada di daerahmu? Atau jika pun tahu, jangan-jangan tak tahu siapa calon bupati atau calon gubernur di daerahmu?

Tahun 2017 ini ada 7 provinsi, 76 kabupaten, 18 kota, dan totalnya 101 daerah di Indonesia akan melaksanakan Pilkada secara serentak tanggal 15 Februari ini. Termasuk Buleleng (daerah kelahiran saya) yang merupakan satu-satunya kabupaten di Bali yang melaksanakan Pilkada bersamaan dengan Pilkada DKI.

Tapi orang, termasuk media sosial dan media massa, sepertinya hanya membicarakan Pilkada DKI. Begitu menarik ketika saya melihat di media sosial, orang luar Jakarta juga berkomentar tentang visi misi calon gubernur DKI bahkan dengan sengit dan marah.

Bayangkan saja, orang Buleleng berdebat dengan temannya yang juga tinggal di Buleleng tentang keunggulan calon gubernur DKI setelah menonton debat, bahkan menyatakan diri sebagai pendukung salah satunya. Apakah ini salah? Tentu saja tidak jika kita mendukung ide atau gagasan tokoh-tokoh itu, toh mereka sudah menjadi idola nasional.

Tapi akan menjadi kurang pas, ketika kita ribut membicarakan nasib daerah di provinsi sebelah yang jaraknya lebih dari 1.100 km itu. Padahal di hari yang sama kita akan sama-sama ke TPS untuk memilih kepala daerah kita masing-masing.

Eh, bicara soal Pilkada Buleleng, jangan-jangan kita tak tahu siapa saja calon bupatinya. Kalau pun sudah tahu, sudahkah kita berdebat tentang visi-misi calon kepala daerah kita masing-masing? Jujur, kalau saya, belum.

Maaf kalau saya menggunakan diri saya sendiri sebagai parameter. Sebagai mahasiswa, saya memiliki waktu terbatas untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat, misalnya simakrama atau kampanye pasangan calon untuk mendengar visi-misinya.

Sebagian besar informasi saya dapatkan dari media. Sehingga ketika saya ingin tahu apa program dan visi misi calon bupati saya, saya berharap bisa menemukannya di media massa atau media sosial. Tetapi saat saya search di mesin pencari, cukup sulit ternyata menemukan konten itu hingga detik ini. Entah karena aturan Pilkada ataukah memang tidak dibuat oleh para calon, saya pun tidak mengerti. Tapi setidaknya saya sudah berusaha mencari tahu.

Mendapatkan informasi dari masyarakat sekitar pun bukan tanpa kelemahan, karena kadang sayup-sayup pembicaraan tentang para calon sangat sedikit yang berbicara program yang bisa saya mengerti sebagai orang yang belum terjun aktif dalam masyarakat. Istilahnya, saya belum tahu lapangan sehingga akan canggung untuk berkomentar di tengah pembicaraan sesepuh desa apalagi menyangkut paut bagaimana nasib perkembangan  desa atau lingkungan saya di tangan para calon nantinya. Penggambaran yang diberikan sudah tidak netral lagi sehingga tidak ada ruang bagi kita untuk menilai dan menentukan pilihan sendiri.

Tentunya ini tidak aneh, karena esensi pemilihan adalah memberikan dukungan kepada satu calon dan tidak mendukung calon yang lain dengan berbagai pertimbangan kita masing-masing. Hal itu sah-sah saja dalam sebuah pesta demokrasi asalkan tanpa tekanan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pada akhirnya, Pilkada DKI Jakarta akan tetap menyedot perhatian publik seluruh Indonesia dan dapat dipastikan lembaga survey akan berlomba-lomba mengadakan proses hitung cepat yang akan ditayangkan tidak sedikit stasiun televisi. Pilkada DKI juga akan terus diperbincangkan di media sosial bahkan bisa sampai pada tahap ‘perang media’ dan hasilnya mungkin akan jadi trending topic.

Warga Indonesia yang tidak ber-KTP Jakarta pun mungkin akan ikut meramaikan dan berkomentar tentang perkembangan ibukota dengan pesta demokrasinya. Tapi, semoga kita tidak lupa bahwa di hari yang sama 100 daerah di Indonesia yang menjadi peserta Pilkada serentak juga berhak mendapat perhatian Indonesia, salah satunya bisa jadi daerah anda.

Semoga kita tidak hanya sibuk berkomentar tentang pemimpin dan nasib daerah yang nun jauh di sana, tapi lupa memperhatikan nasib dan calon pemimpin di rumah sendiri. Kita berharap yang terbaik untuk ibukota, tetapi jangan sampai setelah 15 Februari 2017, rakyat Jakarta tertawa dan bahagia bersama pemimpin barunya, sedangkan kita sendiri mendongkol dengan pemimpin sendiri karena kelalaian kita saat pemilihan.

Bertanyalah sekali lagi, sudahkah kita kenal calon pemimpin daerah kita masing-masing? Jika belum, mulailah pikirkan daerah masing-masing, walau tak ada yang melarang untuk melirik nasib Jakarta. Jakarta memang ibukota Indonesia, tapi Indonesia bukan hanya tentang Jakarta. (T)

Tags: bulelengDKI JakartaPilkada
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Tumbuh Bersama Puisi – Ulasan (Lagi) Buku Puisi Andy Sri Wahyudi

Next Post

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

Gusti Ayu Ratna Sari

Gusti Ayu Ratna Sari

Lahir di Kaliasem, 16 Desember 1994. Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha. Senang belajar sejarah, bicara politik dan beroganisasi.

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co