24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mie Pangsit Merta Sari, Legenda Mie dari Kawasan Taman Lila Singaraja

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
November 12, 2021
in Khas
Mie Pangsit Merta Sari, Legenda Mie dari Kawasan Taman Lila Singaraja

Ko Tji Kang di depan Rumah Makan Merta Sari

Layaknya kota lain di Bali, Singaraja juga tak luput dari serangan kuliner pop. Hal ini bisa terlihat dari menjamurnya gerai makan kekinian yang tidak hanya fokus dalam menjual makanan, namun juga menjadikannya tempat nongkrong yang mengasyikan bagi selera kaum milenial. Lidah pelanggan tidak hanya dimanjakan dengan cita rasa, namun juga fasilitas perangkat wifi gratis untuk penambah alasan agar mereka betah tinggal berlama-lama dan memesan makanan lagi dan lagi.

Satu di antara olahanan makanan yang ditawarkan adalah mie. Bahkan di Singaraja sendiri ada banyak gerai makanan yang khusus menjual olahan mie kekinian. Untuk urusan selera dan rasa, kini hadir berbagai varian mie dengan keunikan selera pedas yang dibagi menjadi berlevel-level dan bahkan dengan nama-nama yang unik, mie setan misalnya.

Namun tunggu dulu, sebelum mie-mie kekinian ini bermunculan, ternyata di Singaraja terdapat olahan mie yang bisa dianggap legenda kuliner dan masih ada hingga hari ini. Tidak sedikit orang dari luar daerah datang khusus ke Bali Utara untuk menikmati kuliner yang satu ini.

Mau tahu mie apa itu? Jawabannya adalah mie pangsit di Warung atau Rumah Makan Merta Sari. Masakan yang masuk kategori chinese food ini menjadi legenda di Bali Utara. Pangsit sendiri dibuat dari adonan berbahan dasar tepung terigu yang dibentuk sedemikian rupa dengan cincangan daging babi di dalamnya.

***

Beberapa waktu yang lalu, saat jam istirahat kantor, saya memutuskan untuk pergi mencari makan siang. Sedari awal, saya tidak pernah berpikir kalau nantinya saya akan mampir di sebuah tempat makan yang terletak di kawasan Taman Lila itu. Namanya adalah Merta Sari, tepatnya di Jalan A. Yani No. 25 D Taman Lila, Singaraja Bali.

Derap kaki saya melangkah ke tempat makan yang terletak di paling pojok timur Kawasan Taman Lila. Dengan perut yang keroncongan, saya masuk diantara pintu tua yang berwarna biru menuju meja makan yang sangat bersih, mengkilat dan sudah berjejer rapi, lengkap dengan kursi tua. Kursi itu konon sudah ada sebelum sang pengelola lahir.

Tempat ini memang dibiarkan seperti sedia kala, tentu saja untuk merawat kenangan-kenangan lama, sembari berharap tempat ini akan berjaya kembali seperti saat sang kakek mulai merintisnya.

Ko Tji Kang, dialah pengelola tempat makanan ini, bersama adiknya Ko Tji Go. Mereka melanjutkan usaha ini dengan dedikasi yang sangat tinggi, merawat tempat sekaligus merawat resep warisan leluhur. Mereka mengambil alih usaha ini sejak tahun 2006, tepat saat ayah mereka yang bernama Tan Kok Pwee pergi untuk selamanya.

Mie pangsit di Rumah Makan Merta Sari

Ko Tji Kang, pria yang memiliki anak semata wayang ini sangat ramah, dia menghampiri saya untuk memberikan daftar menu mulai dari makanan hingga minuman. Saat itu saya memesan bakwan campur babi, isinya bakwan, mie dan pangsit tentunya dengan baluran kuah kaldu balung babi. Saya memesan dengan sepiring nasi putih ditemani teh hangat.

Saya sangat menikmatinya, secara perlahan saya mengambil kuahnya dengan sendok sembari menyeruputnya. Lalu saya tambahkan sedikit sambal, dan kecap manis Meliwis yang sudah tersedia di meja.

Saya nikmati bagian per bagian mulai dari mie, bakwan, hingga pangsitnya. Benar-benar nikmat dan lezat. Semua tercampur dengan sempurna, dan lidah terasa dimanjakan dengan kenikmatan tiada tara. Tak terasa hidangan telah habis, sementara saya menunggu beberapa saat membiarkan semua makanan tercerna dengan sempurna.

***

Terbersit kemudian keinginan untuk mengobrol lebih jauh dengan Ko Tji Kang, sembari mengulik lebih jauh cerita di balik tempat makan ini. Oleh Ko Tji Kang saya dipersilahkan untuk pindah tempat duduk dan dia membuatkan kopi Bali untuk bisa kami nikmati bersama.

Tak diketahui pasti oleh Ko Tji Kang, kapan rumah makan Merta Sari didirikan oleh almarhum sang kakek, Tan Thian Tjhoei. Hanya saja dia memperkirakan kalau rumah makan ini sudah ada sebelum ayahnya, alm. Tan Kok Pwee, lahir di tahun 1946. Jadi, bisa dikira-kira bahwa usia dari rumah makan ini sudah sekitar 75 tahun lebih.

Saya baru tahu ternyata menu makanan yang menjadi andalan di tempat ini adalah mie pangsit. Sayang sekali saya mengetahuinya setelah saya menikmati bakwan campur babinya. Tapi saya berjanji, beberapa hari lagi saya akan datang lagi kesana untuk mencicipi mie pangsit pavorit di tempat ini bersama keluarga sambil merayakan hari ulang tahun istri.

Jangan diragukan lagi, soal resep, hingga saat ini Ko Tji Kang dan adiknya sangat serius, detail dan teliti soal rasa, kualitas bahan dan cara pengerjaan. Mereka memastikan bahan yang digunakan dalam kualitas yang sangat segar, tidak boleh ada bahan makanan yang basi dan semua dibuat seperlunya.

Bagi mereka, kualitas adalah segalanya, dan itu yang menjadi keyakinan mereka untuk menjaga kesetiaan dari pelanggan yang sudah berpuluh-puluh tahun mempercayakan seleranya pada tempat makan ini. Kulit pangsit, mie dan juga bakwan mereka buat sendiri, bahkan Ko Tji Kang menyampaikan pada saya bahwa alat yang digunakan untuk membuat bahan makanan ini masih menggunakan alat tradisonal warisan kakeknya.

Ko Tji Kang menambahkan bahwa kegemarannya terhadap keterampilan memasak sudah terpatri sejak dia masih kecil, dia sangat senang membantu ayahnya dalam menyiapkan menu yang dipesan oleh pelanggan mereka kala itu.

Bagi Ko Tji Kang, memasak itu adalah seni menikmati proses, tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan instan dan semua itu mesti harus disajikan dengan mengikuti kata hati, romantis dan spiritual sekali bukan?

***

Beberapa hari setelah kunjungan pertama, akhirnya tepat saat perayaan hari ulang tahun istri, tanggal 07 Nopember 2021 saya menepati janji untuk mampir kembali menikmati makan malam di tempat ini. Saya dijamu oleh Ko Tji Go. Saya memutuskan untuk memesan mie pangsit, sementara istri memesan kolobak bersama nasi putih.

Saya menyampaikan kepada istri perihal sejarah perjalanan rumah makan ini, istri sangat terheran-heran karena sudah puluhan tahun lamanya usaha ini bisa terus bertahan walau ditengah himpitan selera pasar yang kian berkembang. Mereka tetap konsisten dengan nilai-nilai yang mereka peroleh dari leluhurnya, dan menolak menyerah untuk urusan kualitas.

Setelah beberapa lama, Ko Tji Go datang dengan menu yang sudah kami pesan. Kami menikmati hidangan yang ada, istri menikmati kolobak dengan nasinya, sementara saya menikmati mie pangsit dengan menyeruput kuah mie pangsitnya telebih dahulu. Rasa kuahnya tidak terlalu sepek seperti masakan Bali pada umumnya. Rasanya sangat lembut.

Tetapi soal rasa tetap diserahkan kepada penikmat. Kalau mau pedas, tinggal tambah sambal, kalau mau manis tambah kecap manis, begitu juga dengan asin. Kemerdekaan rasa diserahkan kepada kita. Semangkuk mie pangsit ini dijual dengan harga Rp. 18.000.

Lantas saya menikmati mienya secara pelahan, rasanya sangat datar, akan lebih berasa jika dinikmati bersama dengan kuahnya. Rasa pangsit juga seperti itu, lembut dan teksturnya sangat halus, kecuali kita mengigit bagian dari daging isi dari pangsitnya, sangat gurih.

Ada hal yang menarik yang mesti saya ceritakan, bahwa masakan di tempat ini menggunakan perasa alami yang langsung dibuat dari olahan sari tebu, jadi sangat aman bagi kesehatan. Sekadar informasi tambahan, tempat ini buka setiap hari, mulai jam 9 pagi hingga 9 malam (kecuali hari raya Chinese). [T]

Tags: bulelengkulinerkuliner legendarisSingarajaTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Run To Care” Bersama 900 Pelari, Tempuh 150 KM, Bangkitkan Semangat Ribuan Anak SOS Children’s Villages Indonesia

Next Post

Puisi-puisi I Made Suantha | Silaturrahmi Kupukupu

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi I Made Suantha | Silaturrahmi Kupukupu

Puisi-puisi I Made Suantha | Silaturrahmi Kupukupu

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co