6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mie Pangsit Merta Sari, Legenda Mie dari Kawasan Taman Lila Singaraja

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
November 12, 2021
in Khas
Mie Pangsit Merta Sari, Legenda Mie dari Kawasan Taman Lila Singaraja

Ko Tji Kang di depan Rumah Makan Merta Sari

Layaknya kota lain di Bali, Singaraja juga tak luput dari serangan kuliner pop. Hal ini bisa terlihat dari menjamurnya gerai makan kekinian yang tidak hanya fokus dalam menjual makanan, namun juga menjadikannya tempat nongkrong yang mengasyikan bagi selera kaum milenial. Lidah pelanggan tidak hanya dimanjakan dengan cita rasa, namun juga fasilitas perangkat wifi gratis untuk penambah alasan agar mereka betah tinggal berlama-lama dan memesan makanan lagi dan lagi.

Satu di antara olahanan makanan yang ditawarkan adalah mie. Bahkan di Singaraja sendiri ada banyak gerai makanan yang khusus menjual olahan mie kekinian. Untuk urusan selera dan rasa, kini hadir berbagai varian mie dengan keunikan selera pedas yang dibagi menjadi berlevel-level dan bahkan dengan nama-nama yang unik, mie setan misalnya.

Namun tunggu dulu, sebelum mie-mie kekinian ini bermunculan, ternyata di Singaraja terdapat olahan mie yang bisa dianggap legenda kuliner dan masih ada hingga hari ini. Tidak sedikit orang dari luar daerah datang khusus ke Bali Utara untuk menikmati kuliner yang satu ini.

Mau tahu mie apa itu? Jawabannya adalah mie pangsit di Warung atau Rumah Makan Merta Sari. Masakan yang masuk kategori chinese food ini menjadi legenda di Bali Utara. Pangsit sendiri dibuat dari adonan berbahan dasar tepung terigu yang dibentuk sedemikian rupa dengan cincangan daging babi di dalamnya.

***

Beberapa waktu yang lalu, saat jam istirahat kantor, saya memutuskan untuk pergi mencari makan siang. Sedari awal, saya tidak pernah berpikir kalau nantinya saya akan mampir di sebuah tempat makan yang terletak di kawasan Taman Lila itu. Namanya adalah Merta Sari, tepatnya di Jalan A. Yani No. 25 D Taman Lila, Singaraja Bali.

Derap kaki saya melangkah ke tempat makan yang terletak di paling pojok timur Kawasan Taman Lila. Dengan perut yang keroncongan, saya masuk diantara pintu tua yang berwarna biru menuju meja makan yang sangat bersih, mengkilat dan sudah berjejer rapi, lengkap dengan kursi tua. Kursi itu konon sudah ada sebelum sang pengelola lahir.

Tempat ini memang dibiarkan seperti sedia kala, tentu saja untuk merawat kenangan-kenangan lama, sembari berharap tempat ini akan berjaya kembali seperti saat sang kakek mulai merintisnya.

Ko Tji Kang, dialah pengelola tempat makanan ini, bersama adiknya Ko Tji Go. Mereka melanjutkan usaha ini dengan dedikasi yang sangat tinggi, merawat tempat sekaligus merawat resep warisan leluhur. Mereka mengambil alih usaha ini sejak tahun 2006, tepat saat ayah mereka yang bernama Tan Kok Pwee pergi untuk selamanya.

Mie pangsit di Rumah Makan Merta Sari

Ko Tji Kang, pria yang memiliki anak semata wayang ini sangat ramah, dia menghampiri saya untuk memberikan daftar menu mulai dari makanan hingga minuman. Saat itu saya memesan bakwan campur babi, isinya bakwan, mie dan pangsit tentunya dengan baluran kuah kaldu balung babi. Saya memesan dengan sepiring nasi putih ditemani teh hangat.

Saya sangat menikmatinya, secara perlahan saya mengambil kuahnya dengan sendok sembari menyeruputnya. Lalu saya tambahkan sedikit sambal, dan kecap manis Meliwis yang sudah tersedia di meja.

Saya nikmati bagian per bagian mulai dari mie, bakwan, hingga pangsitnya. Benar-benar nikmat dan lezat. Semua tercampur dengan sempurna, dan lidah terasa dimanjakan dengan kenikmatan tiada tara. Tak terasa hidangan telah habis, sementara saya menunggu beberapa saat membiarkan semua makanan tercerna dengan sempurna.

***

Terbersit kemudian keinginan untuk mengobrol lebih jauh dengan Ko Tji Kang, sembari mengulik lebih jauh cerita di balik tempat makan ini. Oleh Ko Tji Kang saya dipersilahkan untuk pindah tempat duduk dan dia membuatkan kopi Bali untuk bisa kami nikmati bersama.

Tak diketahui pasti oleh Ko Tji Kang, kapan rumah makan Merta Sari didirikan oleh almarhum sang kakek, Tan Thian Tjhoei. Hanya saja dia memperkirakan kalau rumah makan ini sudah ada sebelum ayahnya, alm. Tan Kok Pwee, lahir di tahun 1946. Jadi, bisa dikira-kira bahwa usia dari rumah makan ini sudah sekitar 75 tahun lebih.

Saya baru tahu ternyata menu makanan yang menjadi andalan di tempat ini adalah mie pangsit. Sayang sekali saya mengetahuinya setelah saya menikmati bakwan campur babinya. Tapi saya berjanji, beberapa hari lagi saya akan datang lagi kesana untuk mencicipi mie pangsit pavorit di tempat ini bersama keluarga sambil merayakan hari ulang tahun istri.

Jangan diragukan lagi, soal resep, hingga saat ini Ko Tji Kang dan adiknya sangat serius, detail dan teliti soal rasa, kualitas bahan dan cara pengerjaan. Mereka memastikan bahan yang digunakan dalam kualitas yang sangat segar, tidak boleh ada bahan makanan yang basi dan semua dibuat seperlunya.

Bagi mereka, kualitas adalah segalanya, dan itu yang menjadi keyakinan mereka untuk menjaga kesetiaan dari pelanggan yang sudah berpuluh-puluh tahun mempercayakan seleranya pada tempat makan ini. Kulit pangsit, mie dan juga bakwan mereka buat sendiri, bahkan Ko Tji Kang menyampaikan pada saya bahwa alat yang digunakan untuk membuat bahan makanan ini masih menggunakan alat tradisonal warisan kakeknya.

Ko Tji Kang menambahkan bahwa kegemarannya terhadap keterampilan memasak sudah terpatri sejak dia masih kecil, dia sangat senang membantu ayahnya dalam menyiapkan menu yang dipesan oleh pelanggan mereka kala itu.

Bagi Ko Tji Kang, memasak itu adalah seni menikmati proses, tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan instan dan semua itu mesti harus disajikan dengan mengikuti kata hati, romantis dan spiritual sekali bukan?

***

Beberapa hari setelah kunjungan pertama, akhirnya tepat saat perayaan hari ulang tahun istri, tanggal 07 Nopember 2021 saya menepati janji untuk mampir kembali menikmati makan malam di tempat ini. Saya dijamu oleh Ko Tji Go. Saya memutuskan untuk memesan mie pangsit, sementara istri memesan kolobak bersama nasi putih.

Saya menyampaikan kepada istri perihal sejarah perjalanan rumah makan ini, istri sangat terheran-heran karena sudah puluhan tahun lamanya usaha ini bisa terus bertahan walau ditengah himpitan selera pasar yang kian berkembang. Mereka tetap konsisten dengan nilai-nilai yang mereka peroleh dari leluhurnya, dan menolak menyerah untuk urusan kualitas.

Setelah beberapa lama, Ko Tji Go datang dengan menu yang sudah kami pesan. Kami menikmati hidangan yang ada, istri menikmati kolobak dengan nasinya, sementara saya menikmati mie pangsit dengan menyeruput kuah mie pangsitnya telebih dahulu. Rasa kuahnya tidak terlalu sepek seperti masakan Bali pada umumnya. Rasanya sangat lembut.

Tetapi soal rasa tetap diserahkan kepada penikmat. Kalau mau pedas, tinggal tambah sambal, kalau mau manis tambah kecap manis, begitu juga dengan asin. Kemerdekaan rasa diserahkan kepada kita. Semangkuk mie pangsit ini dijual dengan harga Rp. 18.000.

Lantas saya menikmati mienya secara pelahan, rasanya sangat datar, akan lebih berasa jika dinikmati bersama dengan kuahnya. Rasa pangsit juga seperti itu, lembut dan teksturnya sangat halus, kecuali kita mengigit bagian dari daging isi dari pangsitnya, sangat gurih.

Ada hal yang menarik yang mesti saya ceritakan, bahwa masakan di tempat ini menggunakan perasa alami yang langsung dibuat dari olahan sari tebu, jadi sangat aman bagi kesehatan. Sekadar informasi tambahan, tempat ini buka setiap hari, mulai jam 9 pagi hingga 9 malam (kecuali hari raya Chinese). [T]

Tags: bulelengkulinerkuliner legendarisSingarajaTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Run To Care” Bersama 900 Pelari, Tempuh 150 KM, Bangkitkan Semangat Ribuan Anak SOS Children’s Villages Indonesia

Next Post

Puisi-puisi I Made Suantha | Silaturrahmi Kupukupu

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi I Made Suantha | Silaturrahmi Kupukupu

Puisi-puisi I Made Suantha | Silaturrahmi Kupukupu

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co