25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Remah Cahaya di Langit-Langit | Pentas Sunar Puppet Theatre di Festival Seni Bali Jani

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
October 30, 2021
in Ulasan
Remah Cahaya di Langit-Langit | Pentas Sunar Puppet Theatre di Festival Seni Bali Jani

Pementasan Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre dari Kabupaten Karangasem, Kamis (27/10/2021) dalam ajang Festiva Seni Bali jani III/2021 [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Dua boneka besar itu bercahaya dari dalam tubuhnya, mereka terbang  di panggung Natya Mandala ISI Denpasar. Tangannya saling berpegangan sebagai poros putaran. Pendar cahaya saling berkejaran di langit-langit mengikuti arah gerakan boneka, kemudian secara perlahan boneka mendekap satu sama lain lalu menghadap ke penonton. Diam…..

Di sambut tepuk tangan. (pementasan usai)

Itu bagian akhir dari pementasan Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre dari Kabupaten Karangasem, Kamis (27/10/2021) dalam ajang Festiva Seni Bali jani III/2021.

Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre menggiring ingatan penonton menuju nostalgia cinta ideal pada masa remaja. Berkisah tentang Raden Una yang jatuh cinta kepada  Diah Winangsia, namun rasa kasih itu tidak sampai seperti yang diinginkan Raden Una. Pertunjukan berdurasi 45 menit itu disajikan dalam bentuk drama musikal, di dominasi oleh lagu, tembang, pupuh, serta iringan musik sebagai penegas suasananya

Sutradara Guspang Sua menjelaskan kisah Raden Una bersumber dari Lontar Monyeh  – Lombok, ditangannya naskah ini berkembang menjadi sejumlah bahasa, yakni bahasa Bali, Jawa, Lombok dan Indonesia. Terus terang saja, saya sebagai penonton tidak begitu mengerti apa yang diucapkan oleh aktor, narator, serta pemain cakepung.

Namun itu tidak menjadi soal, sebab pementasan dapat dinikmati dari bunyi, jalinan ekspresi, peristiwa gerak, simbol warna lampu, serta pengadeganan yang mapan. Seluruh kejadian panggung dikembangkan ke tangkapan indera, kemudian merajut logika-logika menjadi satu peristiwa.

“Memang itu yang saya inginkan, setiap orang memiliki kepekaannya sendiri dalam mengintrepetasikan  karya ini” ujar Guspang usai pementasan.

Selain itu, Sutradara muda ini juga memberikan kejutan-kejutan kecil yang menawan namun tak berlebihan. Misalnya adegan kunang-kunang yang dimainkan oleh sejumlah penari laki-laki. Kunang-kunang itu sebenarnya lampu kuning yang dipasang ditelapak tangan, lalu digenggam kemudian dibuka mengikuti irama pertunjukan. Percis seperti TV Show Jepang Masquered , yang pernah ditayangkan di Indonesia sekitar tahun 90an.

Pementasan Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre dari Kabupaten Karangasem, Kamis (27/10/2021) dalam ajang Festiva Seni Bali jani III/2021 [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Kehadiran boneka bersinar sebagai maskot pementasan juga memiliki daya tarik tersendiri, siapa yang menyangka boneka seperti ogo-ogoh itu dapat dimainkan di atas panggung. Ogoh-ogoh yang kita kenal selalu statis atau bergerak monoton itu, dikembangkan  mengikuti morfologi dan fisiologi sendi manusia.

Serta adegan terakhir yang membuat saya tertawa kecil malu-malu, saat Raden Una melempar bunga mawar merah ke Diah Winangsia. Entah bagaimana cara kerja panggungnya bunga itu jatuh seperti hujan helai mawar ke tubuh Diah Winangsia. Aiiih sungguh cinta merah padam pertunjukan tersebut.

“Bise gen mule timpale besik nto”

Boneka Bersinar dan Watak

Begini, saya harus menjelaskan sedikit ekspektasi saya ketika hendak menonton Sunar Puppet Theatre. Dalam bayangan di kepala, boneka besar yang bersinar itulah  menjadi tokoh utama pertunjukan. Ia mungkin saja dihadirkan dengan narasi yang dibacakan seperti drama kolosal, atau tanpa bahasa – hanya mengandalkan kekuatan gerak. Ialah Subjek pementasan, ialah sumber dari segala inti perhatian pertunjukan.

Namun senyatanya, Boneka yang terbuat dari ulatan bambu, rotan,  serta rangkaian listrik di dalam tubuhnya itu, menjadi cerminan diri dari tokoh utama. Raden Una memiliki boneka di belakangnya, Diah Winangsia juga demikian. Jika kawan-kawan pernah menonton anime Jepang – Shaman King, garapan seri manga oleh Hiroyuki Takei.  nah kira-kira begitu visualnya.

Guspang Sua lebih lanjut menjelaskan kedua boneka besar itu merupakan jiwa bagi Raden Una, dan Hati bagi Diah Winangsia. Dapat dikatakan sebagai pecahan diri yang halus. Keduanya dapat saling berkomunikasi satu sama lain, semacam kontemplasi diri saat kita mengobrol dengan diri sendiri.

Dalam pertunjukannya ia tengah memberitahu para penonton bahwa tubuh ini tidak berdiri sendiri, ia memiliki layer-layer yang perlu di kontrol satu sama lain, untuk menciptakan suatu keseimbangan. Beberapa yang ia hadirkan ialah hawa nafsu, kesenangan, kepedihan dan kekecewaan.

Boneka besar  dimainkan oleh 5 orang, dengan pembagian gerak di setiap tubuh  boneka. Ia menghadirkan teks panggung yang cukup menarik perhatian, boneka dan para penggeraknya ialah peristiwa yang sama sekali berbeda, bisa  menjadi daya tawar dan estetika tersendiri bagi pertunjukan.

Sebut saja saat boneka bergerak melayang, para penggerak  dengan gerak tari  mengangkat boneka, lalu berlairan ke sana kemari, tubuh mereka membias cahaya boneka. Mereka semacam kesadaran-kesadaran di alam bawah sadar kita, yang sering kali mengontrol dan menguasai laku kita sebagai manusia.

Pementasan Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre dari Kabupaten Karangasem, Kamis (27/10/2021) dalam ajang Festiva Seni Bali jani III/2021 [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Sebagai catatan pribadi, watak dalam Love Of Light ini mungkin perlu perhitungan serta pertimbangan kematangan yang lebih dalam. Baik dari logika peristiwa pertemuan, serta premis pribadi yang semestinya diemban teguh oleh masing-masing tokoh. Misalnya adegan saat Raden Una pingsan setelah melihat  kecantikan  Diah Winangsia  lewat lukisan.

Padahal baru pertama kali ia bertemu perempuan, pun lewat lukisan, logika semacam apa yang membuatnya pingsan. Lantas Raden Una jatuh cinta sepenuhnya terhadap Diah Winangsia.  Waduh berbahaya ini Raden Una, layak penyair Chairil yang selalu jatuh cinta pada setiap perempuan yang ia temui.

Sebab watak tokoh ialah kumpulan dari kejadian, konflik serta  pengalaman sepanjang hidupnya. Ini mungkin tidak diceritakan secara utuh di panggung, namun cukup riskan jika penonton tidak mengetahui logika-logikanya. Di sanalah kerja nalar logika pertunjukan berlangsung. sebenarnya logika itu dapat di pecah pada sejumlah adegan, sehingga di akhir menjadi satu kesatuan informasi.

Namun lebih daripada itu, pementasan ini menghadirkan visual yang memanjakan mata, penuh pesona dan cantik. Ia layaknya oase kecil ditengah kehiruk pikukan dunia realitas hari ini.

Pementasannya masih ada di kanal youtube Disbud Prov Bali, silahkan ditonton. [T]

Tags: Festival Seni Bali Janiseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lewat “Heterogenitas Sastra di Bali”, Darma Putra Raih Penghargaan Sastra Kemendikbudristek

Next Post

Kupa, Seekor Kupu-kupu Pemarah

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kupa, Seekor Kupu-kupu Pemarah

Kupa, Seekor Kupu-kupu Pemarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co