28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dikritik Dulu, Dipuji Kapan-Kapan

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Opini

Foto: koleksi penulis

DIKRITIK atau dipuji? Pilih mana? Tentu ada yang pilih dikritik atau pilih dipuji. Sudah pasti di antara kita ada yang suka dikritik saja atau dipuji saja. Ada juga yang suka keduanya atau tidak suka kedua-duanya.

Ada yang suka dikritik duluan, baru kemudian dipuji. Namun, ada yang suka dipuji saja, tapi jika kemudian dibanting alias dikritik dengan amat sarkas, eh, marah besar.

Sebenarnya tak ada beda kritik dan puja-puji. Seperti kata orang bijak: “Kosong adalah berisi, berisi adalah kosong”. Kritik dan pujian sama saja. Tapi tergantung bagaimana pandangan seseorang terhadap kritik dan pujian itu. Amitaba… Sancai… Sancai…

Tak Ada Sempurna 100%

Ada yang memandang kritik sebagai sebuah bencana yang menghancurkan hidup seseorang lahir dan batin. Atau ada yang memandang puja-puji seperti sebuah anugerah dan penghargaan paling indah. Ada yang melihat kritik justru sebagai sanjungan, dan ada yang menganggap pujian sebagai bencana yang menghacurkan diri.

Tapi, jika diperiksa-periksa, sebagian besar orang paling senang dipuji. Namun manusia bukan makhluk sempurna. Tidak ada manusia perfect 100%, apalagi lebih dari 100%. Tidak ada, Bro! Jadi, tak ada jaminan seseorang bebas dari kritik, di mana dan kapan pun.

Namun kritik menjadi hal paling ditakuti dan dihindari. Kritik selalu terasa pedas dan menyakitkan ketika didengar. Orang biasanya sakit hati ketika diberi sebuah kritik. Entah caranya yang salah atau kritiknya yang terlalu benar adanya.

Halle Berry, seorang artis Hollywood yang meraih Razzie Award di ajang Oscar paling bergengsi, pernah berkata seperti ini: “Anda tidak berhak dipuji jika tidak bisa menerima kritikan”.

Razzie Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada mereka yang dinilai aktingnya buruk. Ia adalah orang yang pertama kali langsung datang ke tempat pemberian penghargaan tersebut. Tidak ada aktor dan artis lain sebelumnya yang sanggup datang dan hanya menyampaikan pesannya melalui video.

Pidatonya luar biasa: “Saya menerima penghargaan ini dengan tulus. Saya menganggap ini sebagai kritik bagi saya untuk tampil lebih baik di film-film saya berikutnya. Saya masih ingat pesan ibu saya bahwa,  “Kamu tidak berhak dipuji kalau kamu tidak bisa menerima kritikan’.”

Namun dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, di kampus, di kantor, di komunitas, sebisa mungkin orang mengharap dapat pujian, bukan kritik. Padahal ada manfaat positif yang bisa didapatkan seseorang dari sebuah kritik. Padahal, seperti  kata Halle Berry, “Anda tidak berhak dipuji jika tidak bisa menerima kritikan”.

Kritik Dianggap Pujian

Jadi, dikritik atau dipuji? Seseorang yang bergelut di bidang karya-seni dan dunia kreatif, seperti penulis buku, pelukis, pemusik, pemain drama dan lain-lain, sudah pasti seseorang itu akan senang jika diberikan keduanya.

Tandanya karya mereka diperhatikan, direspon dan diapresiasi sehingga mereka mendapat timbal balik atau masukan yang dapat membuat mereka berkarya lebih baik lagi.

Lalu, bagaimana dengan yang lain? Mungkin ada juga yang girang dan senang saat dipuji dan mungkin ada juga yang langsung terpuruk saat menerima sebuah kritik, seolah-olah dunianya runtuh tanpa sisa. Tanpa asa.

Sebuah kritik bisa memperluas wawasan seseorang. Kritik bisa membangun karakter yang kuat dan tangguh untuk menghadapi persoalan. Meski pahit, kritik membuat seseorang mengerti kelemahan dan kekurangan-kekurangannya sehingga ia bisa menjadi lebih baik lagi.

Kritik menjadi acuan seseorang untuk mengoreksi diri. Berbeda dengan pujian yang hanya membuat seseorang berada di zona nyaman dan berpotensi membuat seseorang lupa diri, statis, tidak mau berkembang. Terlebih lagi jika pujian yang diberikan hanya untuk basa-basi. Atau basi saja. Lebih merugikan lagi.

Sekali lagi, tidak ada jaminan bahwa seseorang akan terbebas dari kritik. Kritik selalu akan terasa pahit. Meskipun kritik disampaikan dengan cara halus atau dengan straight to the point tanpa basa-basi, Pahitnya akan terasa sama.

Orang yang berpendidikan sekalipun bisa memberikan kritik dengan sangat pedas, tajam dan menohok. Maka dari itu, mulai sekarang marilah kita ubah sudut pandang kita terhadap sebuah kritik. Kritik bisa menjadi paradigma baru, wawasan dan persepsi dalam menetukan tujuan selanjutnya.

Cobalah menganggap kritik sebagai sebuah pujian.  Tanggapi dengan bijak. Tidak perlu dimasukan ke dalam hati. Toh berpendapat adalah hak semua orang. Iya, kan? Akhirnya, kita hanya akan pantas dipuji jika sudah bisa menerima kritik. Meski tidak mudah. Jadi, jangan takut untuk dikritik duluan, meski pujiannya bisa datang kapan-kapan.

Ada lho, orang yang memuji duluan karya kita, lalu “membanting” kemudian dengan kritikan yang kejam. Ada juga yang memuji-muji di depan kita, lalu mengkritik pedas di belakang kita. Menyakitkan bukan? Maka lebih baiklah kritiknya kita dengar, pujiannya bolehlah disimpan di lemari.

Namun, bagaimana jika kritik yang diberikan hanya untuk mencari kesalahan-kesalahan seseorang? Kritik memang mencari kesalahan dan kekurangan seseorang. Karena yang perlu dikoreksi adalah kekurangan dan kesalahan. Kelebihan justru harus dipertahankan, jika bisa ditingkatkan lagi, lagi dan lagi.

Lihat Latar Si Pengkritik

Jadi sebelum men-judge apakah si pengkritik tersebut memang ingin mengkritik atau sedang mencari bahan gossip, sebaiknya menimbang lagi detil-detil kritik yang disampaikan. Bisa saja kritik yang diberikan benar adanya. Jika belum cukup, latar belakang si pengkritik bisa dicari tahu.

Apakah si pengkritik adalah pihak yang berpengalaman dalam bidangnya atau malah sebaliknya. Jika si pengkritik memang kompeten, maka kritik yang diberikan bisa menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagi seseorang. Bisa saja juga jadi bekal bagi orang lain, jika kritik disampaikan pada acara diskusi.

Pertanyaannya, apakah semua orang bisa menerima kritik seperti Halle Berry? Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang, kalau belum goyang mungkin harus diiringi lagu dangdut terlebih dahulu. Ha ha (T)

Tags: gaya hidupkritikSeni
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Ajeg Rukun “Semeton Bali” dan “Nyama Selam” di Kampung Singaraja

Next Post

Nomor Urut 1 dan 2 Selalu Keok – Mitos Polos Pilkada Buleleng

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post

Nomor Urut 1 dan 2 Selalu Keok – Mitos Polos Pilkada Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co