27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nomor Urut 1 dan 2 Selalu Keok – Mitos Polos Pilkada Buleleng

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Sumber foto: http://kpu-bulelengkab.go.id/

PASANGAN calon kepala daerah dalam event Pilkada boleh ngomong apa saja ketika mendapatkan nomor urut tertentu saat pengundian nomor urut di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Yang dapat nomor urut 1 bilang itu nomor juara, nomor kemenangan. Apa pun yang nomor satu pasti terbaik. Yang dapat nomor urut 2 tak mau kalah. Nomor 2 itu, jika disimbolkan dengan acung dua jari (telunjuk dan jari tengah) artinya victory (kemenangan).

Lha, nomor 1 artinya menang. Victory artinya menang. Yang kalah siapa?

Politikus – apalagi politikus yang sedang berpolitik untuk jadi calon bupati atau gubernur, memang harus bicara sesuatu jika mendapatkan sesuatu. Memang harus begitu. Jika hanya diam, tak bicara, tak ngomong, tak beretorika, bukan sedang berpolitik namanya, tapi sedang memancing.

Di Pilkada Buleleng, saat pengundian nomor urut, Senin 12 Desember 2016, yang digelar KPU di Gedung Laksmi Graha Singaraja, pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Dewa Nyoman Sukrawan/Dharma Wijaya (SURYA) mendapat nomor urut 1. Sementara pasangan incumbent Putu Agus Suradnyana/Nyoman Sutjidra (PASS) dianugerahi nomor urut 2. Dua pasangan itu juga beretorika mengupas simbol angka agar maknanya bisa mengarah pada kemenangan.

Dewa Nyoman Sukrawan menyatakan nomor urut satu yang ia peroleh adalah nomor kebanggan, sekaligus nomor kemenangan. “Kenapa seperti itu? Karena pasangan  Surya baru pertama kali jadi calon, dan tentu pasangan Surya akan merebut Buleleng Satu. Itu salah satu yang menjadi keyakinan kami, sehingga Buleleng Satu bisa kami rebut,” tegas Surya.

Sementara itu Calon Wakil Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan mendapatkan nomor urut dua adalah sebuah anugerah. “Sepertinya ada tanda dari alam, kami diminta melanjutkan periode yang kedua. Dari kemarin banyak sekali yang mendoakan biar kami dapat nomor urut dua. Ini artinya astungkara kami bisa melanjutkan ke periode kedua,” ujar Sutjidra.

Manusia Simbol

Manusia memang tak bisa dilepaskan dari simbol-simbol. Manusia adalah pengguna simbol untuk menyatakan sesuatu, termasuk untuk mengekspresikan diri di dunia politik.

Dan angka bukan hanya untuk menghitung kekayaan, namun adalah juga simbol yang punya arti dan makna lebih dalam dan luas. Bahkan di Bali, angka-angka tertentu punya makna, punya nilai sakral dan magis. Angka 3 misalnya bisa dikaitkan dengan Tri Murti, Tri Sakti, Tri Hita Karana dan tri-tri yang lain. Angka 9 dianggap luhung, angka tertinggi, yang biasa juga dikaitkan dengan Dewa Nawa Sanga.

Bahkan di Jakarta, di ibukota yang sangat modern, orang masih terbiasa berkutat dengan simbol dan makna angka-angka yang kadang berbau magis dan mistis yang kemudian bisa melahirkan mitos. Dalam Pilkada DKI misalnya, “mitos calon nomor urut 1 selalu kalah” kerap jadi pembicaraan.

Pada Pilkada DKI 2007, ada dua pasangan calon yang bertarung, yakni Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Prijanto dan Adang Daradjatun/Dani Anwar. Saat itu, Fauzi/Prijanto memegang nomor urut 2 dan menang. Pasangan nomor urut 1, Adang Daradjatun/Dani Anwar kalah.

Lima tahun kemudian, pada Pilkada DKI 2012, giliran Fauzi Bowo  yang saat itu berpasangan dengan Nachrowi Ramli (Nara) memegang nomor urut satu. Dan pasangan itu kalah. Kita tahu, pemenangnya adalah pasangan Joko Widodo (Jokowi)/Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pada putaran pertama Jokowi/Ahok mendapat nomor urut 3, lalu pada putaran kedua pasangan itu pegang nomor 2.

Pada ajang Pilkada Gubernur (Pilgub Bali) juga muncul mitos nomor urut 1 tak pernah menang sejak era pilkada langsung. Pilgub tahun 2008, pemenangnya adalah nomor urut 3, yakni pasangan Mangku Pastika/Puspayoga. Pasangan nomor urut 1, Gede Winasa/Alit Putra, kalah. Lima tahun berikutnya, pasangan Puspayoga/Dewa Sukrawan (PAS) mendapat nomor urut 1. Pasangan itu kalah tipis melawan Mangku Pastika/Sudikerta (Pastikerta) yang bernomor urut 2.

Angka memang selalu dikaitkan dengan keberuntungan dan nasib sial. Dalam judi togel, angka bisa disebut jalan menuju kaya. Maka, paito yang berisi angka-angka yang pernah keluar dicoret-coret lagi, dirumuskan kembali. Angka yang pernah keluar pada togel putaran ke-50 misalnya, diyakini tak akan keluar lagi di urutan ke-60. Angka ganjil yang jadi “ekor” pada putaran ke-100 misalnya, diyakini tak akan jadi “kepala” pada putaran berikutnya.

Begitu juga orang meyakini angka-angka dalam politik. Bukankah politik terkadang juga dianggap “perjudian nasib” yang kadang ketemu sial dan kadang dapat berkah?

Mitos di Pilkada Buleleng

Pilkada Buleleng juga memunculkan mitos. Sejak era pemilihan langsung, bukan hanya pasangan nomor urut 1 yang selalu keok, namun juga nomor urut 2. Yang menarik, pemenangnya selalu nomor urut 3.

Coba periksa catatan masa lalu. Pilkada Buleleng 2008, dimeriahkan oleh empat kontestan. Nomor urut 1, pasangan Sugawa Korry/Luh Kertianing. Di nomor 2, Nyoman Ray Yusha/Putu Febry Antari. Nomor 3, Putu Bagiada/Arga Pynatih. Dan nomor 4, Made Westra/Ketut Englan. Pemenangnya nomor 3, Putu Bagiada/Arga Pynatih. Nomor 1 dan 2 keok.

Pilkada Buleleng 2012 juga diramaikan empat pasangan calon. Nomor urut 1, Gede Ariadi/Wayan Arta. Nomor 2, Tutik Kusuma Wardhani/Nova Sewi Putra. Nomor 3, Putu Agus Suradnyana/Nyoman Sutjidra. Dan nomor 4, Wayan Gede Wenten Suparlan/Ida Bagus Djodhi. Seperti kita tahu, nomor urut 1 dan 2 kaon. Pemenangnya juga nomor urut 3, Putu Agus Suradnyana/Nyoman Sutjidra.

Tampaknya mitos “nomor urut 3 selalu menang” akan gugur dalam Pilkada 2017 ini. Gara-garanya hanya ada dua pasangan calon. Sehingga tidak mungkin pemenangnya nomor urut 3.

Tapi setidaknya Pilkada 2017 tetap akan mempertahankan satu mitos. Jika Sukrawan/Dharma Wijaya menang, maka mitos yang bertahan adalah “calon nomor urut 2 selalu keok”. Jika Agus Suradnyana/Sutjidra unggul, mitos yang bertahan adalah “calon nomor urut 1 selalu kalah”.

Nah, Anda, pemilih di Buleleng, mau mempertahankan mitos yang mana? (T)

 

 

Tags: angkabulelengmitosPilkada
Share73TweetSendShareSend
Previous Post

Dikritik Dulu, Dipuji Kapan-Kapan

Next Post

Semangat Timnas Ditransfer tanpa “Bluetooth” ke Hati dan Jiwa Warga NKRI

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post

Semangat Timnas Ditransfer tanpa “Bluetooth” ke Hati dan Jiwa Warga NKRI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co