24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Obituari Pandemi | Sudut Pandang Kegembiraan

Akhmad Faozi Sundoyo by Akhmad Faozi Sundoyo
March 23, 2021
in Ulasan
Obituari Pandemi | Sudut Pandang Kegembiraan
  • Judul     : Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia
  • Penulis : Prie GS
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2009
  • ISBN      : 978-979-22-4693-3
  • Tebal     : 440 halaman

Pandemi sekarang ini adalah momen istimewa. Kenapa? Pertama, di pandemi ini, tidak banyak yang menduga kalau durasinya akan sebegini lama—tak reda-reda. Kedua, tidak ada satu rujukan keilmuan yang pasti: pandemi dan eksesnya—diakui atau tidak—berada di luar jangkauan ilmu terkini. Ketiga, dan seterusnya, saya kira bisa dilanjutkan sendiri. Karena sangat mungkin digit penomoran itu akan menolak dihentikan. Pandemi menjadi istimewa, dalam kerangka baca ini: ia selalu bisa mengelak dan menolak segala rumus pasti. Ia penuh tafsir, penuh kesan, penuh “macam-macam”.

Kelihaian pandemi untuk berkelit saat berhadapan dengan prediksi dan preskripsi ilmiah, membuat kita harus puas sebagai defender. Apalagi sebagai warga yang awam secara medis, malah harus mundur lagi ke belakang sebagai goal keeper.

Mencermati perkembangan yang terjadi—mulai kisah PSBB, vaksinasi, sampai ancaman mutasi virus B117 yang (konon) kebal vaksin—serbuan ekses pandemi terasa agresif, liar, bahkan kamuflatif. Bila dibandingkan misalnya dengan angkernya “tiki-taka” Barcelona di era puncak keemasannya, pandemi masih lebih ofensif. Di era sedemikian ini, maju ke tengah sebagai mildfilder, atau merangsek ke depan sebagai striker, malah akan membikin musnah diri sendiri. Pandemi ini adalah titah alam, titah Tuhan. Maka menghadapinya sama sekali tidakboleh jemawa. Bukankah kita hanya makhluk fana biasa?

Sedikit-banyak Darwin ada benarnya. Menghadapi alam yang sedang bergolak menjela-jela sedemikian pemurka, manusia kedah pandai beradaptasi untuk dapat bertahan hidup. Ubur-ubur saja bisa melewati saringan evolusi, masa kita, manusia tidak?!

Kembali ke Buku

Manusia mempunyai semua potensi yang dibutuhkan untuk beradaptasi. Menghadapi pandemi, banyak cara bisa dilakukan. Salah satu jenis moda adaptasi paling rasional, beradab, konstruktif, dan elegan adalah ‘membaca buku’. Bersibuk dengan buku memang tidak bisa memantrai pandemi supaya lingsir segera, tetapi melalui berbuku kita bisa menjeda pikiran, membawanya lebih ‘waras’ dan jernih. Pikiran adalah kunci, di saat media (sosial dan massa) banyak memberitakan warta sampah—tentu tidak semua—kita butuh merawat pikiran. Buku bisa menjadi semacam tolak balak atas “sampah informasi” yang berseliweran di sekitar kita.

Tentu saja tidak semua buku memiliki energi perjernihan seperti termaksud di atas. Satu di antara banyak buku yang berenergi bersih dan membersihkan adalah Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia warisan Prie GS.

Mulanya, saya mengenal Prie GS dari seorang teman. Saat itu, walau belum pernah bertemu, baik secara fisik maupun fiksi—saya menyebut tulisan dan karya sebagai fiksi—nama ini sudah terasa dekat. Pertama, nama “Prie” persis sama dengan nama saudara misan saya. Kedua, “GS” cukup familiar sebagai nama merk sebuah accu—baca “aki”, ya—yaitu GS Astra. Maaf sebut merk. Ketika kedua kata itu digabungkan, seketika terasa “dekat”.

Bagi saya, ini sebuah kebetulan. Kendati secara psikologis dan ilmu firasat, akan ada yang menolak istilah “kebetulan”, karena bagi kedua fakultas itu, “tidak ada yang kebetulan di dunia ini”. Semua punya penjelasan ilmiahnya. Walau begitu saya nyaman dengan kata itu: ini tetaplah sebuah kebetulan, yang marja’ dasarnya dari kata “betul”.

Diksi Kegembiraan

Buku ini adalah pertemuan pertama saya secara fiktif dengan penulis itu. Buku ini sudah terasa jernih, sejak di lembar motto pembuka. Sebagai gerbang resepsionis, Prie GS—dia sendiri lebih suka diakrabi dengan sebutan Pak Dhe—membuka sapaan dengan serdawa: “sejak rajin bergembira, hidup saya berubah. Bergembiralah, karena gembira itu mudah!”. Padang dan jernih, bukan? Kegembiraan, atau minimalnya kehendak bergembira adalah topik utama buku ini.

Lembar-lembar berikutnya semakin memikat. Di kata pengantar, Prie GS mengkategorikan bukunya ini sebagai catatan “sudut pandang”. Sudut pandang dirinya yang melihat dunia, melihat keseharian senyatanya dengan mata kegembiraan. Sampai di sini terlihat wilayah olah dari buku ini, memang tak jauh-jauh dari momen-momen keseharian yang biasa, nyata, lekat, sebagai ruang singgah segala ekspresi kegembiraan.

Dengan gaya tulisnya yang luwes dan ringan, Prie GS bicara dan bercerita tentang banyak hal—sangat banyak hal. Membaca “Catatan Harian” Pak Dhe Prie ini, seakan ada teman datang, duduk ramah di teras rumah. Dia tiba-tiba akrab tanpa bermanis-manis kata. Dia ngomong ngalor-ngidul karu-karuan. Misalnya, dia bercerita bagaimana dilematisnya perasaan seseorang yang sedang kesusahan—anak sakit, dompet menipis—malah ada teman datang mau meminjam uang. Di sini, etik kedermawanan diuji, “kebaikan” bersitegang dengan empan papan. Tapi Pak Dhe berhasil melewatinya dengan elegan. Justru di saat seperti itulah, kedermawanan termurnikan, menjadi apa adanya tanpa kepentingan ingin disebut “baik” (hlm: 180).

Di bilik lain, ada kisah tentang kegeraman seorang pembeli makanan yang direcoki pengamen, pengemis, berikut serapah halus mereka saat tidak dikasih ‘receh’. Namun geram semacam itu ternyata bisa berbalik. Justru pembeli makanan lah yang keliru tempat. Di saat zaman repot dan sulit, bisa-bisanya mereka anteng makan-makan. Begitulah, Jika Hidup Cuma Mau Enak (hlm: 121).

“Catatan Harian” ini, bagi saya termasuk kategori ‘buku penting’. Khusus pada masa-masa pandemi seperti ini, buku ini naik level menjadi ‘sangat penting’. Di kondisi biasa, pada kesibukan biasa, buku ini sudah berposisi penting dalam kemampuannya untuk menjernihkandan mendetoksifikasi ‘sudut pandang’. Alih-alih saat pandemi yang menyebabkan banyak pikiran menjadi salang-tunjang, pating besasik tak keruan, refleksi semanak Pak Dhe ini terasa berlipat-lipat urgensinya.

Bagi saya, buku ini memberi gravitasi akan fitrah kemanusiaan, yaitu kefitrahan untuk berbahagia di segala sit-kon apapun. Kita, banyak yang telah lupa rumah, terlalu menjauh dari fitrah: apa-apa digelisahkan. Tentang rasa makanan tidak cocok, gelisah. Tentang pacar yang tidak perhatian, gelisah. Tentang pendapat yang tak didengar, gelisah. Ada undang-undang baru, gelisah. Ada isu viral, tanggapannya gelisah dan marah-marah. Nah, “Catatan Prie Gs” ini justru berlaku sebaliknya, ia selalu punya strategi buat menjadi ‘manusia bahagia’—satu kondisi psikologis yang oleh Abraham Maslow disebut sebagai bermental sehat.

Dari awal, buku ini sudah menggembirakan saya. Untuk buku sepenting ini, saya justru mendapatkannya dengan harga sangat mirah: kaleh doso ewu rupiah (Rp 20.000). Waktu itu saya melihatnya terselip pada rak yang nylempit, saat Gramedia sedang obral besar. Iya, bukan di toko bukunya yang besar gagah itu, tetapi di gudangnya, saat Gramedia sedang “cuci gudang”. Mungkin inilah yang disebut jodoh buku pada pembacanya, atau sebaliknya, pembaca yang berjodoh dengan bukunya. Betapa gembiranya saya saat itu.  

Sekarang, buku ini adalah kegembiraan saya di masa pandemi ini. Dengan ketebalan 400 halaman lebih, kegembiraan ini cukup awet. Kita tidak perlu membacanya cukup serius. Kita tidak butuh menautkan antar topik dan judul di dalamnya. Karena ini hanyalah ‘catatan’ yang di setiap cerita terpisah dengan cerita lainnya. Kendati demikian, setiap cerita membawa kita masuk dalam ruang nyaman. Kenyamanan yang lahir dari perut ‘kegembiraan’. Dan kegembiraan inilah, yang membawa pandemi tenggelam: mati, terkubur di kedalaman kesadaran jiwa yang gembira.

Walau penulisnya sudah meninggalkan kita pada 12.02.2021, kegembiraan yang ditinggalkannya abadi. Saya merelakan kepergiannya, karena kata Pak Dhe sendiri (hlm: 180): “Mau rela atau terpaksa kita toh mati juga. Perasaan rela membuat saya nyaman”.  Selamat jalan, Pak Dhe. Saya rela dan gembira pernah mengenal anda. [T]

Tags: Bukupandemiresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Air Tawar sebagai Nyawa Masyarakat

Next Post

Magbangal | Dongeng dari Filipina

Akhmad Faozi Sundoyo

Akhmad Faozi Sundoyo

Penulis adalah pembelajar Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. S1 Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Momong anak lanang dan penikmat literasi. Domisili di Pundong, Bantul, Yogyakarta.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Magbangal | Dongeng dari Filipina

Magbangal | Dongeng dari Filipina

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co