23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Nusa Penida, Ada Gadis Menikah dengan Halilintar

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
March 1, 2021
in Esai
Di Nusa Penida, Ada Gadis Menikah dengan Halilintar

Ilustrasi tatkala.co | Vincent Chandra

Di Nusa Penida, ada gadis menikah dengan halilintar. Ah, Anda pasti geleng-geleng kepala dan mengatakan “imposibel”! Itu tidak mungkin! Namun, cerita ini merebak di sebuah tempat bernama Banjar Waru, Desa Klumpu, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Seorang gadis asal Banjar Waru dinikahi oleh halilintar (bukan Atta Halilintar, ya).

Cerita bermula dari keluarga Nang Wayan. Istrinya bernama Men Wayan. Mereka dikaruniai 2 anak gadis yang cantik yaitu Ni Wayan dan Ni Made. Keluarga Nang Wayan tergolong keluarga terkaya (berada) di  Waru.

Meskipun hidup bergelimang harta tetapi keluarga Nang Wayan tidak bahagia. Pasalnya, mereka belum memiliki anak laki-laki. Karena itu, ketika istrinya hamil ketiga, harapannya lahir anak laki-laki. Namun, kenyataannya lahir seorang perempuan—walaupun sudah sujud, bakti dan berkaul di Pura Puncak Mundi.

Nang Wayan kecewa berat. Anak ketiga, Ni Komang, ditelantarkan. Nenek Ni Komang menjadi prihatin. Ia mengambil Ni Komang dan mengasuhnya pada sebuah gubuk di sebuah tegalan.

Di bawah asuhan sang nenek, Ni Komang tumbuh menjadi anak yang cerdas, ulet, rajin dan mandiri. Ia terbiasa bertani dan cekatan dalam urusan domestik yakni memasak, mencuci, dan membersihkan rumah.

Namun, satu hal yang membebani sang nenek adalah rambut panjangnya Ni Komang hingga menyentuh tanah. Jika keramas, tidak cukup satu kelapa. Suatu hari ayahnya menyuruh sang nenek memotong rambut Ni Komang, tetapi ajaibnya rambutnya tidak bisa dipotong.  

Untuk tetap bisa merawat rambut cucunya, sang nenek mengunyah hasil parutan kelapa dengan air liurnya. Ternyata, cara ini mampu membasahi rambut Ni Komang selama musim kemarau hingga memasuki sasih Kelima (musim penghujan). Sasih yang dinanti-nanti oleh masyarakat NP untuk masalud (menampung air hujan dengan wadah tertentu), termasuk Ni Komang.

Pada tengah malam, ketika hujan turun dengan lebat, petir menyambar, dan diikuti oleh suara guntur menggelegar—Ni Komang keluar untuk menampung air hujan yang jatuh dari cucuran atap rumah sang nenek, kemudian menuangkan ke dalam gentong dan penampungan lainnya.

Setelah semua penampungan air penuh, tiba-tiba terdengar suara gemuruh sangat kencang disertai petir menyambar. Sang Nenek bergegas keluar sambil memanggil Ni Komang. Akan tetapi, Ni Komang tidak menjawab. Dengan bantuan obor, sang nenek berusaha mencari Ni Komang di sekeliling rumah hingga kandang ternaknya, tetapi Ni Komang tidak ada.

Keesokan paginya ia mendatangi rumah Nang Wayan. Ia menanyakan prihal lenyapnya Ni Komang. Namun, keluarga Nang Wayan juga tidak mengetahui keberadaan Ni Komang. Sang Nenek tampak bersedih sekali, termasuk keluarga Nang Wayan.

Nenek dan keluarga Nang Wayan sedang menahan isak tangis ketika tiba-tiba petir menyambar halaman rumah Nang Wayan. Dalam kedipan mata, petir lenyap digantikan dengan kehadiran sebuah bakul lengkap berisi sesajen peminangan. Keluarga Nang Wayan kaget.

Rasa kaget mereka kian bertambah ketika muncul seorang pria tua berpakaian adat lengkap, yang mengaku dari Desa Atas Langit. Lelaki yang mengaku utusan itu menyampaikan bahwa Ni Komang telah diambil dan dinikahkan dengan I Wayan Kilap (Halilintar). Pria ini juga menjelaskan bahwa pertunangan Ni Komang dan I Wayan Kilap sudah berlangsung lama, tetapi keluarga Nang Wayan tidak bisa melihat karena berupa petir.

Pernikahan Ni Komang membuat sang nenek menjadi sangat kehilangan. Sang nenek harus bekerja sendiri. Ia mengungkapkan perasaannya kepada pria dari Atas Langit itu. Lalu, pria yang mengaku keponakan Wayan Kilap ini meminta sang nenek menaruh cangkul dan benih jagung di atas ladangnya. Sebentar kemudian, petir datang menyambar ladang sang nenek. Ladang sang nenek tiba-tiba bersih dan benih jagung sudah tertanam. Begitu juga ketika petir menyambar gubuk sang nenek, mendadak berubah menjadi rumah permanen yang indah.

Keajaiban juga melanda balai Banjar Waru. Warga hendak merenovasinya. Semua warga dikenai urunan, tetapi keluarga Nang Wayan yang kaya justru tidak mau membayarnya. Nang Wayan dicemooh dan informasinya sampai ke telinga Ni Komang. Tiba-tiba petir dan suara gemuruh melanda balai banjar Waru. Balai Banjar Waru mendadak menjadi baru, selesai direnovasi. Begitu juga dengan bangunan bale Sanghyang di timur laut balai banjar yang sudah rusak. Ketika disambar petir, mendadak menjadi baru. Semuanya dibangun dalam sekejap mata. Mereka percaya, semua berkat tangan I Wayan Kilap. Sejak kejadian itu, warga Waru percaya memiliki warga dari Desa Atas Langit.

Itulah cerita rakyat dari Nusa Penida (NP), yang berjudul Manusia Menikah dengan Petir (MMDP), disusun oleh I Made Subandia. Cerita yang mungkin saja dianggap sebagai pelipur lara. Namun, masyarakat Waru percaya dan meyakini mitos ini. Apalagi bagi keluarga I Made Karat. Salah satu warga asli Waru ini sangat meyakini eksistensi cerita tersebut. Bahkan, ia menyatakan bahwa tokoh yang dinikahi oleh halilitar dalam cerita rakyat tersebut (I Wayan Kilap) adalah keturunan leluhurnya.

Keyakinan I Made Karat bukan tanpa alasan. Sekitar tahun 90-an, pernah salah satu keluarga besarnya (sepupu) sempat lenyap tanpa bekas. Saat itu, sepupunya (seorang gadis) bersama teman-temannya sedang mencari “kleted” (sejenis serangga) sekitar pukul 19.00 wita. Tiba-tiba sepupunya menghilang. Warga Waru menjadi panik. Mereka mencari beramai-ramai sambil memukul gong.

Kurang lebih 5 jam, sepupu Made Karat ditemukan terbaring di dalam kamarnya. Ketika sadar, ia menceritakan pengalaman terbang bersama seorang lelaki ganteng di langit. Keluarga paibon Made Karat percaya bahwa sepupunya hendak dipinang oleh sang halilintar. Hingga sekarang, keluarga Made Karat masih cemas jika memiliki anak gadis. Mereka cemas jika sewaktu-waktu dipinang oleh sang halilintar.

Kecemasan keluarga I Made Karat seolah-olah menjadi representasi bahwa betapa mitos seringkali sangat dekat dengan psikologis masyarakat yang melahirkannya. Seolah-olah tak ada jarak antara fakta dan fiksi. Keduanya seakan-akan lebur dan menyatu dalam perspektif keyakinan kolektif. Padahal, keyakinan ini kadangkala kurang rasional.

Halilintar, Kedudukan, Power dan Purusha

Begitu juga dengan cerita MMDP. Cerita ini masih hidup, dihormati dan disegani oleh masyarakat hingga sekarang. Konon, Bale Banjar Waru karya sang halilintar tidak boleh dihuni (diduduki) oleh perempuan. Entah, pesan moral apa yang hendak disembunyikan dari larangan yang terkesan deskriminatif ini.

Akan tetapi, perempuan di banjar Waru tetap tunduk dan patuh. Mungkin mereka takut jika sewaktu-waktu dinikahi oleh bangsa halilintar. Atau bisa jadi, larangan tersebut sebagai motivasi bagi warga Waru agar memiliki keturunan laki-laki. Ya, karena hanya kaum laki-laki yang boleh bebas beraktivitas di balai banjar tersebut. Jadi, balai banjar Waru menjadi tonggak zaman betapa keturunan laki-laki dipandang sangat bernilai.

Walau tidak (maaf) sesadis cerita Tuung Kuning, tetapi cerita MMDP ini juga kental dengan muatan gender. Laki-laki digambarkan sebagai kaum superior, sedangkan perempuan sebagai kaum inferior. Tokoh Ni Komang merupakan representasi bahwa perempuan Nusa (Bali) adalah insan yang lemah, patuh, tunduk dan bahkan (seolah-olah) boleh ditelantarkan.

Sebaliknya, laki-laki Bali dipandang sebagai sosok yang superior. Superioritas ini tercermin kuat dalam cerita MMDP, terutama pada tokoh I Wayan Kilap. I Wayan Kilap (bangsa halilintar) merupakan cermin betapa kaum laki-laki ditempatkan sangat tinggi (Desa Atas Langit). Halilintar datang dari atas (langit), sebagai simbol purusha.

Kemudian, superior laki-laki semakin tajam terlihat ketika I Wayan Kilap dapat menyulap ladang nenek yang kosong dengan tanaman jagung, menyulap gubug nenek menjadi rumah permanen yang indah, dan menyulap balai banjar warga menjadi baru. Peristiwa ini ingin menonjolkan bahwa I Wayan Kilap (simbol kaum laki-laki) sangat diandalkan kekuatannya di intern keluarga hingga ke tingkat masyarakat luas.

Pemilihan entitas halilintar dalam cerita MMDP di NP barangkali sangat tepat jika dikaitkan dengan konteks menguatkan kedudukan, power, dan purusha. Halilintar ketika saya kecil (tahun 80-an), memang terasa istimewa di kampung saya (NP). Dulu, kakek saya sering menceritakan tentang “siat petengan”. “Siat petengan” ialah perang tanding yang dilakukan oleh orang-orang Sakti (misalnya balian, pemangku, penguasa ilmu leak) di NP, tetapi tidak terlihat oleh orang awam.

Konon, “siat petengan” ini (secara kasat mata) dapat dilihat dari medium petir. Jika sandikala (petang), ada petir menyambar-nyambar di langit, pertanda ada adu kekuatan kaum elit (orang sakti). Apabila beberapa hari ke depan, ada orang sakti mendadak sakit hingga meninggal di NP—maka masyarakat di kampung saya meyakini bahwa orang tersebut kalah (kaon) dalam “siat petengan”.

Selain itu, ada pula yang mengaitkan petir dengan power lain yaitu “gigin kilap” (sejenis batu akik). Masyarakat di kampung saya percaya bahwa “gigin kilap” merupakan giginya sang petir, yang dipercaya memberikan kekuatan bagi yang memakainya. Entah kekuatan seperti apa.

Dengan kata lain, penggunaan tokoh petir/ halilintar dalam cerita MMDP terkesan sangat kuat untuk menonjolkan power dan kedudukan kaum laki-laki di NP terutama zaman dulu. Kaum laki-laki memiliki power dan kedudukan yang lebih tinggi daripada wanita. Ini merupakan perspektif budaya orang NP (Bali pada umumnya).

Deskriminasi (perbedaan) gender tersebut berlangsung turun-temurun hingga sekarang, termasuk di NP. Perspektif budaya ini masih kuat meskipun Bali digerus oleh modernisasi. Paling sederhana mungkin dapat dilihat dari pengkultusan purusa (laki-laki) dalam sanggah merajan misalnya. Hanya keturunan laki-laki yang dapat mengkultuskan diri dalam dinasti mrejan dan berhak atas warisan aset leluhur.

Karena itu, tanpa keturunan laki-laki, maka “estafet keluarga” dianggap buntung (putus). Hal inilah yang sering menjadi beban pskilogis, beban sosial dan budaya bagi orang-orang (Bali) yang membangun rumah tangga. Dalam konteks sekarang,  keharusan memiliki keturunan laki-laki tentu menjadi beban yang sangat berat di tengah kompleksitas kebutuhan keluarga yang kian rumit. Namun, inilah kenyataan perspektif budaya yang masih kuat pendukungnya hingga sekarang di Bali. [T]

____

BACA ARTIKEL TENTANG NUSA PENIDA DARI PENULIS I KETUT SERAWAN

Celebrity, Salah Satu Perahu bermotor (jukung) Khusus Penumpang. Sumber foto: objekwisatanusapenida.blogspot.com
Tags: ceritacerita rakyatNusa PenidaPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Literasi Kritis | Kisah dari Sokola Institute

Next Post

Mobilnya Sih 5 Jutaan, SIM-nya yang 30 Jutaan… | Kabar dari Jepang

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Mobilnya Sih 5 Jutaan, SIM-nya yang 30 Jutaan… | Kabar dari Jepang

Mobilnya Sih 5 Jutaan, SIM-nya yang 30 Jutaan… | Kabar dari Jepang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co