29 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghitung Penghasilan Bondres Rarekual | Pra Pandemi & Pas Pandemi

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 4, 2021
in Khas
Menghitung Penghasilan Bondres Rarekual | Pra Pandemi & Pas Pandemi

Bondres Rarekual [Foto: Ist]

Rarekual adalah grup lawak dari Buleleng yang biasa naik panggung dengan gaya bebondresan yang bebas tanpa pakem ketat. Nama grup ini sebenarnya Rarekual Topeng, tapi terkenal dengan nama singkat Bondres Rarekual.

Rarekual ini grup lawak papan atas di Bali. Pentolnya, eh, pentolannya empat seniman sebaya, seiman dan seirama, meski kadang tak seiya-sekata. Ketua bondresnya Ngurah Indra Wijaya yang di atas panggung berperan sebagai Ngurah Joni dengan topeng yang giginya amburadul. Lalu ada Kadek Agus Ria Arnawan sebagai Slowly yang lambannya minta ampun. Kemudian Made Artana sebagai Bojes dan Made Sukantara Arpin memainkan karakter perempuan binal bernama Ayuk. 

Sebelum pandemi Covid-19, grup ini naik panggung nyaris setiap hari, kadang siang, dan tentu lebih sering malam-malam. Jajahannya di seantero Bali, sesekali ke luar Bali, sesekali ke luar negeri. Dalam satu tahun, yakni tahun 2019, grup lawak ini pentas sampai 225 kali.

Syandan, merebaklah virus korona yang masuk ke Indonesia mulai Maret 2020. Pandemi pun ditetapkan. Dan sejak itu, para seniman Rarekual itu terpaksa dirumahkan alias merumahkan diri sendiri. Tahun 2020, mulai Januari dan Februari, grup ini naik panggung sebanyak 30 kali, atau rata-rata sekali dalam dua hari.

Nah, sejak Maret, sejak pandemi menyusup di Bali, hingga akhir Desember 2020, grup ini hanya pentas 10 kali. Artinya, dalam sebulan hanya sekali naik panggung.  

Penghasilan Rarekual pun terjun bebas. “Ah, sebet yen tuturan!” Begitu kata Ngurah Indra Wijaya saat ditanya melalui Whatshap, Selasa, 29 Desember 2020.

Bondres Rarekual [Foto Ist]

Mari iseng-iseng menghitung penghasilan/pendapatan/honor/gaji Bondres Rarekual sebelum pandemi atau pra pandemi. Tahun 2019, Rarekual pentas sebanyak 225 kali, ditambah bulan Januari dan Februari 2020 sebanyak 30 kali, maka terhitung 14 bulan sebelum pandemi Rarekual naik panggung sebanyak 255 kali.

Tarif resmi Rarekual sekali pentas Rp 4 juta hingga 5 juta. Itu pada saat hari-hari biasa. Pada saat hari agak luar biasa, misalnya pada acara perayaan menjelang akhir tahun atau acara menyambut Tahun Baru, tarifnya bisa menggelembung tiga kali lipat.

Mari kita rata-ratakan saja tarifnya sebesar Rp 4,5 juta untuk sekali pentas. Sehingga hitung-hitungan kasarnya, Rp 4,5 juta dikalikan jumlah pentas sebanyak 255 kali. Totalnya menjadi Rp 1.147.500.000.

Wow. Banyak juga ya. Ssssst, jangan keras-keras. Nanti didengar petugas pajak.

Bondres Rarekual bersama GGH [Foto: Ist]

Tapi, tunggu, tunggu dulu. Perolehan angka-angka itu masih hitungan kasar. Jumlah pengasilan sebesar itu harus dibersihkan dulu dengan menghitung juga potongan biaya transportasi, biaya konsumsi, biaya perbaikan topeng (misalnya jika ada gigi topeng yang kecong), biaya laundry kostum, servis wig alias rambut palsu, dan banyak lagi biaya tak terduga, semisal saat bepergian ke tempat pentas mereka tiba-tiba ingin minum GGH.

Taruhlah biaya lain-lain itu sampai setengah dari jumlah penghasilan kasar, maka penghasilan bersih mereka menjadi sebesar Rp 573.750.000. Setelah dibagi empat, maka masing-masing personel topeng itu mengantongi penghasilan Rp 143.437.500

Ingat, penghasilan itu dihitung selama 14 bulan sebelum pandemi. Dengan hitung-hitungan seperti itu, maka satu pelawak dalam grup Rarekual punya penghasilan sekitar Rp. 10.245.535 dalam sebulan. Hasil itu diperoleh dari Rp 143.437.500 dibagi 14 bulan.

Jika dibandingkan dengan pekerjaan lain, seperti pekerjaan jadi menteri misalnya, jumlah itu pastilah jauh lebih kecil. Bahkan mungkin lebih kecil dari gaji pejabat daerah di kabupaten yang kecil. Namun sebagai seniman, apalagi seniman di kabupaten kecil, penghasilan itu bolehlah disebut besar. Ya, cukuplah untuk menghidupi keluarga yang sehari-hari ditinggal ngebondres ke mana-mana.

Salah satu video youtube Rarekual Official

Tapi, tunggu, tunggu. Bagaimana penghasilan mereka pas pandemi atau pada saat pandemi?

Tentu saja anjlok, terjun bebas, sampai meguyang. Mulai Maret hingga Desember 2020, mereka hanya pentas di atas panggung rata-rata sekali dalam sebulan. Jika dhitung tarif per pentas Rp 4,5 juta, mereka hanya mengantongi Rp 45 juta dalam waktu 10 bulan. Jika dibagi rata untuk empat pemain, dalam sebulan masing-masing dapat jatah Rp 1.125.000.

Itu masih hitungan kasar, lho. Tarif Rp 4,5 juta sekali pentas itu tarif normal. Itu tarif sebelum pandemi menyerang. Pada saat pandemi, tarifnya mungkin saja tak sebesar itu. Bisa jadi, harga sekali pentas Rp 3 juta, atau bahkan Rp 1 juta pun diembat juga. Dengan begitu, pendapatan Rp 45 juta dalam sebulan itu bisa dikoreksi lagi. Mungkin hanya Rp 30 juta, atau bisa-bisa hanya Rp 20 juta.

Belum lagi dipotong biaya transportasi, biaya konsumsi, biaya perbaikan topeng (misalnya jika ada pipi topeng yang catnya terkelupas), biaya laundry kostum, servis wig alias rambut palsu, dan banyak lagi biaya tak terduga, semisal saat mereka tiba-tiba ingin pesan paket KFC lewat Gojek untuk disantap bersama istri dan anak-anak di teras rumah.

Memang sebet yen tuturang. Dengan hitung-hitungan seperti itu bisa saja masing-masing pebondres, baik Ngurah, Bojes, Slowly, maupun Arpin alias Ayuk, hanya dapat jatah Rp 300 ribu sebulan. Atau bisa jadi hanya Rp 100 ribu. Ha ha, itu setara empat porsi nasi babi guling tanpa es teh.

Dengan hasil sekecil itu, Rarekual tidaklah bangkrut. Paling-paling minum harus dikurangi. Pandemi tak membuatnya hilang akal, dan hilang harapan.

“Pentas” di media sosial, seperti di facebook, IG dan youtube yang dilakukan secara iseng-iseng sejak beberapa tahun lalu, pada masa pandemi ini diseriusi. Mereka serius menggarap berbagai konten dengan proses yang juga serius.

Di IG mereka membuat film-film pendek, tentu saja film komedi, yang tentu saja lucu. Kalau tak lucu, mana mungkin mereka bisa pentas sampai 200 kali setahun pada hari-hari normal.

Nah, dari film-film pendek di IG itu mereka mendapat endorse dari perusahaan rumah makan atau perusahaan minuman. Tarif untuk endorse beda-beda dan lebih banyak “harga timpal”, alias harga pertemenan, bahkan bisa gratis.

Tarif untuk endorse makanan dari Rp 300 hingga Rp 1 jutaan. Besar kecil tarif tergantung susah-ringan permintaan. Jika misalnya permintaannya harus ngajak banyak orang, atau dengan menggunakan kameramen professional dengan hasil video yang mulus, tentu tarifnya lebih besar.

Eh, berapa penghasilan Rarekual dari video-video di media sosial itu? Ssssst, kita hitung nanti-nanti saja ya. [T]

Kontak Rarekual Topeng

  • IG: @Rarekual-Topeng
  • FB: Bondres Rarekual
  • ☎️telepon 081933027172
  • 📱(WA) 081933027172

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Literasi Hadap Masalah

Next Post

Vaksin Tiba Dinihari

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails
Next Post
Vaksin Tiba Dinihari

Vaksin Tiba Dinihari

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co