23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ingin Selamanya Jadi “Kontraktor” alias Pengontrak Rumah Seumur Hidup

Edo Hary Purnawan by Edo Hary Purnawan
July 22, 2020
in Esai
Tak Ingin Selamanya Jadi “Kontraktor” alias Pengontrak Rumah Seumur Hidup

Ilustrasi dari penulis

Mendengar lagu “Siapa Suruh Datang Jakarta”, membuatku senyum-senyum sendiri. Nyanyian itu terasa satire di telingaku.  Ya, aku adalah perantau di Ibu Kota Jakarta. Kota yang menjanjikan segala kemewahan karena menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian Indonesia. Aku tak munafik, memang waktu aku masih di kampung halaman, selalu saja ingin bisa bekerja ke luar daerah.

Sebenarnya bukan hanya Jakarta. Aku memang ingin keluar kampung, karena menurutku dengan keluar dari zona nyaman di kampung sendiri akan membuatku lebih bekerja keras dan bisa hidup lebih baik. Niatku merantau terlaksana pada 2011. Saat itu, aku memutuskan keluar dari tempat kerjaku dan mengikuti panggilan wawancara di salah satu stasiun televisi swasta yang berlokasi di sekitaran jalan Tandean. Namun, panggilan itu hanya cukup untuk membawaku keluar dari kampung halaman saja. Aku tak lolos seleksi, dan terpaksa menganggur dalam waktu yang cukup lama. Tak betah karena selalu merasa merepotkan keluarga yang aku tumpangi, aku mencari cara agar bisa bekerja. Akhirnya ada seorang teman di Surabaya yang mengajakku mengurus media online yang baru ia bangun.

Perantauanku boleh terbilang nekad. Salah satu teman pernah berujar, kalau aku ini seorang traveling yang hanya bermodal ijazah. Aku tak punya tabungan. Aku selalu berpindah dari satu daerah ke daerah lain, hanya untuk memenuhi panggilan kerja. Di tempat baru aku selalu menumpang tidur. Jika mendapat kerja, baru aku memutuskan untuk mengontrak kamar. Aku berpindah-pindah dari Jakarta-Surabaya-Bali, dan akhirnya sekarang aku menetap di Jakarta dengan bekerja sebagai asisten produser di salah satu televisi swasta. Cita-citaku untuk bekerja di stasiun televisi swasta di Ibu Kota terwujud, tapi tetap menjadi ‘kontraktor’, sebutan iseng untuk orang yang selalu ngontrak karena susah memiliki rumah.

Hidup di Ibu Kota memang tak semudah yang dipikirkan. Kebutuhan hidup seperti tak ada habisnya. Uang tak pernah bisa aku tabung. Terlebih saat ini aku sudah berkeluarga, dan memiliki dua orang anak yang masih bayi dan balita. Gaji lumayan juga tak bisa memenuhi kebutuhan. Selalu ada lubang yang digali, dan ditambal, lalu kadang digali kembali. Impian memiliki rumah sekaan jauh dari angan.

Dalam sebuah acara yang bertajuk Indonesia Housing Forum yang digelar di  Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, rabu 19 Juni 2019, Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid sempat menyebut, diperkirakan ada sebanyak 81 juta milenial di Indonesia yang belum memiliki hunian atau tempat tinggal yang merupakan milik pribadi. Terlebih, harga rumah terus mengalami kenaikan. Sedangkan generasi milenial belum mampu untuk mendapatkan hunian tersebut. Aku termasuk dari puluhan juta orang tersebut yang sulit menggapai impian itu.

Saat melihat kedua anak dan istri tertidur, ada rasa tak tega menghampiri pikiranku. Aku tak ingin mereka selamanya tinggal di rumah kontrakan yang hanya disekat dua dinding ini. Aku juga ingin melihat keluargaku ceria, karena bebas bergerak di rumah yang memiliki kamar, dan ruangan bersantai yang luas. Tak harus mewah, tapi semua tempat memiliki fungsi yang selayaknya. Tak seperti saat ini; memasak di dapur, bersantai menonton televisi, dan tidur di kasur seperti tak berjarak. Tak jarang seisi rumah batuk-batuk jika istri sudah mulai memasak di dapur.

Pemerintah melanjutkan Program Satu Juta Rumah pada 2020

Program Satu Juta Rumah. Mendengarnya, seperti merasakan angin sepoi-sepoi di tengah teriknya panas matahari di siang bolong. Program tersebut merupakan salah satu program strategis nasional Kabinet Kerja pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo. Tujuannya, ingin mewujudkan rumah yang layak huni bagi seluruh Warga Negara Indonesia.

Sejak dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 29 April 2015 di Kabupaten Ungaran, Provinsi Jawa Tengah, Program Satu Juta Rumah yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini juga dianggap dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Selain capaian pembangunan rumah yang terus meningkat, Program Satu Juta Rumah juga turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat serta membawa investasi bagi daerah.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid mengungkap, melalui pelaksanaan Program Satu Juta Rumah pemerintah ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa pemerintah benar-benar fokus pada penyediaan perumahan bagi masyarakat. Dalam hatiku, “apa aku bisa seberuntung itu, mendapatkan rumah yang dimaksud oleh pemerintah?”.

Program satu juta rumah ini sedianya tidak gratis. Untuk mendapatkan rumah, nyatanya aku tetap harus menabung agar bisa membayar dengan mengikuti kebijakan yang telah dibuat. Syarat utama untuk mengikuti program ini adalah berpenghasilan maksimal Rp 7 juta per bulan. Aku memiliki uang gaji di bawah itu, berarti sudah memenuhi syarat. Hanya saja, aku masih sulit untuk menyisihkan uang. Padahal, selain mengandalkan gaji kami juga berjualan apa saja yang dibutuhkan orang agar bisa menambah penghasilan. Mungkin karena modal kecil, akhirnya perputaran uangnya juga tak sebesar usahanya. Tapi keinginanku untuk tak ingin mengontrak selamanya sudah bulat. Aku yakin usaha kerasku dapat mencukupi untuk membayar uang muka, yang kabarnya cukup 1 persen dari harga rumah secara keseluruhan. Dengan menambah semangat usaha, aku yakin mampu membayar uang angsuran yang dimulai dengan Rp 600 ribu per bulan itu.

Kuatkan Tekad Untuk Memiliki Rumah Pribadi

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sempat berujar, “Pemerintah bersama para stakeholder perumahan harus bekerjasama dan berlari ke depan lebih kencang lagi khususnya untuk pelaksanaan Program Satu Juta Rumah di lapangan.” Dia juga mengimbau pemerintah daerah turut aktif dalam pelaksanaan program Satu Juta Rumah. Pemda bisa berpartisipasi dengan memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Perumahan maupun alokasi pembangunan perumahan melalui dana APBD. Dengan begitu, target Satu Juta Rumah bisa cepat tercapai.

Kementerian PUPR pernah menargetkan pembangunan 1,25 juta unit rumah untuk masyarakat pada tahun 2019 lalu. Jumlah tersebut untuk mengejar target pembangunan lima juta unit rumah sejak 2015 lalu. Akhir 2019, masih ada kekurangan sekitar 200 ribu unit rumah. Untuk itu di 2020, Pemerintah berusaha mengejar target dengan berbagai upaya. Salah satunya dengan melaksanakan Pembangunan Perumahan Berbasis Komunitas (P2BK). Program ini disebut-sebut dapat mendorong masyarakat yang tergabung dalam komunitas agar memiliki rumah laik huni. Program P2BK adalah gerakan bersama untuk pembangunan rumah bagi masyarakat dengan tidak hanya mengandalkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Apapun konsepnya. Harapanku semoga Program Satu Juta Rumah berjalan lancar, dan tidak ada yang diselewengkan. Program ini sejatinya harus bisa memenuhi hajat hidup orang-orang yang sungguh-sungguh sangat membutuhkan. Dalam kata lain, tepat sasaran. Semangatku, juga harus sekencang usaha pemerintah untuk mewujudkan mimpi para Kepala Keluarga yang belum memiliki tempat tinggal milik pribadi. Semoga niat ini juga memotivasi orang-orang yang senasib denganku. Tak harus berkemewahan, asalkan Sandang-Pangan-Papan terpenuhi. Tak lagi menjadi ‘Kontraktor’, dan bisa tinggal di rumah sendiri.[T]

Tags: JakartaRumah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dear “Overthinker”, Beri Jarak pada Pikiranmu

Next Post

“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Edo Hary Purnawan

Edo Hary Purnawan

Lahir di Pontianak, sempat merantau ke Jakarta, Surabaya, Bali, dan kini terdampar kembali di Jakarta. Menjadi video jurnalis di sebuah stasiun TV nasional sembari giat belajar menulis

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co