22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
July 23, 2020
in Esai
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Bali memiliki dua kalender tradisional. Pertama Kalender Saka berbasis sasih (bulan) dengan rotasi satu tahun. Kedua, Kalender Pawukon berbasis wuku (minggu) dengan rotasi saban semester (210 hari).

Kalender Saka yang berputar setiap tahun disusun oleh 12 atau 13 sasih (bulan). Sasih ke-13 akan muncul dalam beberapa tahun sekali. Konsepnya mirip tahun kabisat dalam penanggalan Masehi. Sistem sasih ke-13 hadir sebagai tuntutan revolusi bumi yang berjalan sekitar 365,24 hari dalam sekali putaran terhadap matahari. Jika tahun kabisat menghadirkan tambahan satu hari pada setiap empat tahun sekali sebagai akibat akumulasi 0,24 hari pada setiap tahunnya, maka sasih ke-13 ini muncul sebagai akumulasi dari beberapa hari dalam beberapa tahun yang telah mencapai 30 hari. Sebab, setiap sasih pada tahun Saka hanya dihuni antara 28-30 hari.

Dalam siklus 12 sasih yang normal, nama-nama sasih penanggalan Saka meliputi Kasa (Srawana), Karo (Bhadrawada), Katiga (Asuji), Kapat (Kartika), Kalima (Margasira), Kanem (Posya), Kapitu (Magha), Kaulu (Phalguna), Kasanga (Cetra), Kadasa (Wesaka), Jiestha, dan Sadha (Asadha). Sedangkan, jika masuk mode 13 sasih, Jiestha atau Sadha akan diulang menjadi Malajiestha atau Malasadha. Ada juga menyebutnya sasih Nampih Jiestha atau Nampih Sadha. Nampih artinya melipat. Pelipatan sasih ini terakhir terjadi pada Saka 1941 (2019), dimana muncul Sadha dan Malasadha (Nampih Sadha).

Di Batur—sebuah desa penjaga dan pendoa Gunung dan Danau Batur—setiap sasih adalah peringatan. Aci (persembahan) kepada pemilik nafas semesta digelar hampir saban purnama (bulan terang) maupun tilem (bulan mati) pada setiap sasih, kecuali pada purnama/tilem Malajiestha, Sadha, atau Malasadha. Pun demikian, puluhan tahun lalu Sasih Jiestha juga nihil peringatan. Belakangan, Jiestha yang dikenal sebagai Kadasa Wayah, dipilih sebagai aci kehadapan Ida Bhatara Ngurah Subandar, bhatara yang berstana di Konco Batur. Pujawali ini seringkali berhimpitan dengan Hari Tri Suci Waisak, hari kelahiran, pencerahan, dan kembalinya Sang Hyang Buddha ke nirwana. Sejak Isaka 1942, setelah Pura Pasar Agung Batur berhasil dibangun kembali Purnama Jiestha turut disepakati masyarakat sebagai momen persembahan kepada Hyang yang berstana di Pura Pasar Agung Batur.

Menurut konstruksi penanggalan yang dibangun leluhur kami, putaran ritus sepanjang tahun dibuka oleh ritus di Sasih Kasa. Sementara itu, puncak ritus tahunan tergelar pada Purnama Kadasa yang dikenal luas sebagai Ngusaba Kadasa. Selama bentang siklus ritus tersebut, Sasih Kasa ditempatkan dalam posisi yang penting. Jika ritus di Sasih Kasa tidak dapat dilakukan, maka dalam setahun penuh semua ritus di 10 sasih lainnya tak jua dapat digelar. Apabila kondisi seperti itu terjadi, maka sepanjang tahun akan menjadi tahun heneng. Oleh karenanya, Sasih Kasa ditasbihkan sebagai pamungkah atau pangruwak (pembuka) tahun Saka, sekaligus pembuka peringatan dan perayaan terhadap kemuliaan Hyang Esa.

Kisah Para Pendeta

Penghormatan Kasa sebagai pamungkah Saka berdasar pada peghormatan sosok bhatara yang dihormati masyarakat dengan gelar Bhatara Sakti Bhujangga Luwih. Beliau berstana di Pura Jati, sebuah situs simbol kesejatian hidup yang terletak pada pertemuan Gunung dan Danau Batur. Sosoknya diwujudkan sebagai orang tua berperawakan pendeta dengan busana serba putih, bergenitri, memakai ketu, serta memiliki pusaka pajenengan berupa danda (tongkat). Beliau diyakini sebagai purohito (pendeta; penasehat) Bhatari Sakti Dewi Danuh, sosok utama yang dipuja masyarakat Batur.

Bagi para pamangku yang dipilih melalui upacara nyanjan sedari belia, Bhatara Sakti Bhujangga Luwih, adalah nabe (mahaguru) niskala. Kepada beliaulah mereka memohon anugerah agar mampu ngastawa Weda dan menjalani sasana kapamangkuan. Ritus permohonan anugerah suci itu termaktub dalam pelaksanaan upacara mancang karma yangdilaksanaan beberapa saat setelah diksa (penasbihan) para pemangku dari anak-anak terpilih. Sering terbukti, setelah melakoni upacara mancang karma, anak-anak yang terpilih sebagai pamangku akan lebih mudah melakoni tugasnya. Kadang, beberapa bait mantra dapat terucap dengan lancar oleh seorang pamangku yang berusia baru 6 tahun, usia yang secara logika mustahil mengingat persoalan-persoalan yang serius dan filosofis.

Kedudukan Bhatara Sakti Bhujangga Luwih sebagai seorang mahamuni turut dijadikan simbol sistem perguruan di Batur. Ada kepercayaan, seseorang jika ingin pandai dan selamat dalam mengolah kualitas diri, hendaknya memulai praktik mengasah bakat ketika pujawali di Pura Jati. Dalam momentum itu, mereka akan meminta restu untuk mulai belajar menari, madharma gita, menabuh, menulis, bahkan mulai masuk sekolah formal. Kaul-kaul juga sering diucapkan kehadapan beliau yang dipercaya sangat murah anugerah. Akibatnya, setiap perayaan di pura itu, banyak masyarakat yang akan mempersembahkan atos—kurban pelunasan kaul.

Dalam kaitannya pada masa pra-Batur, Hauser-Schäublin (2011:22)1, memandang kompleks Pura Jati sebagai lingkungan sekolah rohani penekun agama Budha. Kedudukan Bhatara Sakti Bhujangga Luwih dari Tampurhyang yang begitu mulia diduga telah menjalin “kesepakatan” dengan Bhatara Sasuhunan Sakti dari Sinarata dalam hal pengawasan ritual air dan kesejahteraan masyarakat dunia.

Asumsi itu menjadi masuk akal, sebab dalam tatanan pemanfaatan air suci dalam rentang ritus di Batur, tirta (air suci) Pura Jati dipandang sebagai tirta mahasuddha. Kesucian tirta Pura Jati dapat menghilangkan segala mala (kotor). Ketika puja astawa, para pamangku menggunakannya sebagai tirta pamarisuda banten. Tirta ini juga ditunas (diminum) paling akhir, serta pantang dicampur dengan tirta wangsungpada bhatara yang lain. Dalam hal memohon tirta solas—tirta dari 11 sumber mata air di kawasan Kaldera Batur milik Sasuhunan Sakti Batur—yang dipusatkan di Patirtaan Pelisan, tirta Pura Jati ditempatkan pada bumbung (ruas bambu) yang lebih tinggi dibanding 10 bumbung lainnya. Praktik ini kembali menegaskan kemuliaan tirta tersebut dibandingkan yang lain.

Dalam khazanah babad, teks Babad Kayu Selem, menempatkan Pura Jati pada posisi yang sangat penting. Pura Jati dikaitkan dengan Bhatara Mpu Kamareka, leluhur wangsa Kayu Selem. Pura Jati dibangun oleh Bhatara Mpu Geni Jaya Mahireng sebagai titah dari Bhatara Mpu Kamareka. Oleh karena itulah, Pura Kayu Selem juga didirikan di samping Pura Jati. Lebih jauh, ada kemungkinan jika sosok Bhatara Mpu Kamareka merupakan sosok yang disebut-sebut masyarakat Batur sebagai Bhatara Sakti Bhujangga Luwih. Beliau yang ditasbihkan sebagai nabe manusia Batur—yang kental berdarah Bali mula—sejalan dengan predikat yang disandang Mpu Kamareka sebagai cendekiawan Bali mula pertama yang “diwisuda” langsung Mpu Semeru (lebih jauh baca Riana, 2011:38)2.

Kisah para pendeta dalam perayaan Sasih Kasa tidak hanya berhenti pada narasi Bhatara Sakti Bhujangga Luwih dan Pura Jati. Puncak ritus Pura Jati jatuh pada pananggal (paro terang; suklapaksa) ke-13 Sasih Kasa, sedangkan sehari setelahnya pada paro terang ke-14 Sasih Kasa, tergelar ritus di situs bernama Pura Batu Sila Rupit.

Dibanding Pura Jati, keberadaan situs ini memang masih berkabut. Narasi-narasi yang melatarinya ada dalam sejumlah versi. Meski demikian, situs ini dipandang memiliki fungsi yang begitu esensial. Setiap upacara yang harus dilakukan oleh masyarakat desa, hendaknya memohon izin kehadapan Hyang yang berstana di sana, agar pelaksanana  ritual selamat dan berhasil.

Kabut yang mendekap entitas situs itu sama tebalnya dengan nama yang disandang. Hari ini, Pura Batu Sila Rupit diartikan kalangan masyarakat desa sebagai ‘situs batu tempat bersila yang berdekatan’. Namun, jika ditelisik agak teliti, kata batu dan sila sejatinya merujuk pada makna yang sama, yakni ‘batu’. Memang, kata sila juga merujuk makna lain, seperti ‘tingkah laku’ dan ‘cara duduk’, namun nama kawasan parahyangan itu adalah Batu Sepit, bukan Batu Sila Sepit, sehingga ada kemungkinan terjadi pengulangan antara kata batu dan sila.

Sementara itu, kata rupit dapat diartikan sebagai ‘berdekatan’. Sehingga, melihat kata-kata penyusun nama situs itu, dapat diformulasikan tiga arti, yakni ‘situs batu berdekatan yang merujuk tingkah laku’; ‘situs batu tempat [duduk] bersila berdekatan’; atau ‘situs batu yang berdekatan’. Tidak mungkin mencari rumusan paling benar, sebab tiada kebenaaran yang absolut. Untungnya, dari ketiga rumusan nama tersebut, semuanya tidak membiaskan makna yang terlampau jauh. Deretan arti ketiganya masih dapat ditarik merunut makna yang disajikan narasi-narasi lisan yang diwarisi para tetua tentang situs tersebut—dalam berbagai versi yang berkembang.

Setidaknya ada empat versi narasi lisan yang ditemui untuk menjejak rumusan tentang Pura Batu Sila Rupit. Versi pertama, memandang Pura Batu Sila Rupit sebagai situs pradana (unsur feminim). Batuan sempit yang membangunnya mirip dengan yoni, lambang kesuburan. Situs itu konon tempat Bhatari Sakti Batur melakoni tapa yoga untuk melahirkan semesta. Maka dari itu, banten yang dipersembahkan kehadapan Hyang yang berstana di sana adalah ayam panggang bukakak, simbol pradana.

Versi kedua menyebut situs itu sebagai titik awal pembentukan Desa Batur oleh Dalem Waturenggong. Menurut versi ini, raja Bali tersohor itu menemukan pawisik (pesan gaib) di tempat ini untuk menyatukan desa-desa di kaki Gunung Batur—Tampurhyang, Sinarata, Cempaga—menjadi komunitas baru setelah sempat “terkotak-kotak” dan menentang kekuasaannya Gelgel sebagai penguasa Bali yang sah. Menurut narasi ini, para tetua desa-desa kuno itu dikumpulkan di situs tersebut, melakukan rapat, dan menyepakati penyatuan desa-desa kecil ini menjadi desa yang lebih besar. Sebagai tanda kemufakatan antar peserta yang hadir, setiap akan melaksanakan upacara tertentu di sesa, masyarakat harus memohon izin di tempat tersebut.

Versi ketiga terkait dengan keberadaan pusaka selonding kuno yang dimiliki Desa Batur. Konon, ketika terjadi huru-hara di Desa Batur berabad-abad silam, pusaka selonding—dan mungkin pusaka lainnya—disembunyikan di goa kecil yang berada di bawah situs tersebut. Setelah keadaan kondusif, selonding itu kembali diambil dari goa kecil yang masih ada hingga kini. Oleh karenanya, setiap pujawali di situs itu, pusaka selonding wajib ditabuh mengiringi upacara.

Terakhir, ada tuturan yang menyebut situs Pura Batu Rupit sebagai tempat yoga semadi seorang pertapa terpelajar. Konon, beliau yang kemudian bergelar Bhatara Dalem Batu Rupit, bersaudara dengan Bhatara Sakti Bhujangga Luwih—bisa saudara dalam arti geneologis maupun ideologis. Hanya saja, beliau tidak menjalani lokapalasraya, melainkan hanya menjalani wiku ngeraga (pendalaman rohani untuk diri sendiri). Oleh karena jnana yang luar biasa tinggi, serta jasa yang begitu besar sebagai guru desa, masyarakat menghormatinya hampir sepadan dengan penghormatan kepada Bhatara Bhujangga. Maka, sebagai adik, Bhatara Dalem Batu Rupit dimuliakan sehari setelah pujawali di Pura Jati.

Menurut versi keempat, sosok pendeta yang senang melakoni yoga samadi dan senang menyepi di hutan inilah yang menciptakan pusaka selonding lengkap dengan tabuhnya. Pusaka selonding itu merupakan ekspresi tata rohani yang dilakukan, tiga tabuh utamanya terinspirasi dari kondisi hutan, yakni kincang-kincung, nenjo katak, dan lutung punyah. Ketiga tabuh itu hingga kini menjadi tabuh-tabuh yang menunjang pelaksanaan ritus-ritus sakral di Batur.

Menjaring Pesan

Narasi terakhir tentang Pura Batu Sila Rupit agak mengganggu saya. Di kepala saya menjelajah ingatan tentang narasi-narasi Universitas Rohani Bukit Cintamani Mmal di Perbukitan Kintamani berabad-abad silam, sebagaimana tersurat dalam Prasasti Sukawana A-I. Adakah lingkungan situs Pura Batu Sila Rupit merupakan bagian dari lingkungan universitas rohani masa Bali Kuno? Hal ini bisa jadi berelasi, mengingat tempatnya yang berada di kaki Bukit Kintamani sebelah barat.

Hipotesa lain, apa mungkin kedua sosok Bhatara Sakti Bhujangga dan Bhatara Dalem Sila Rupit merupakan representasi guru rohani yang mendalami ajaran Siwa pada satu sisi dan Buddha pada sisi lain? Sebab, jejak-jejak ajaran keduanya tampak masih tersisa di Batur, meski kemudian semakin membias ditelan zaman.

Tentang asumsi-asumsi itu, agaknya masih sangat dini untuk disimpulkan. Perlu penyelaman dan “konflik” lebih kompleks untuk mendapat kesejatian aksara di tengah kabut itu.

Namun, refleksi yang lebih penting untuk dibawa ke permukaan dari kearifan Sasih Kasa, sasih pamungkah Saka, di era postmodern ini adalah menyoal logika berpikir leluhur di masa silam. Agaknya, konsep ilmu pengetahuan—dan kesucian—senantiasa ditempatkan pada tingkat primer dalam setiap laku spiritual masyarakat Bali lampau. Artinya, merawat nalar untuk kelangsungan ritus menjadi penting untuk menakar kepatutan di atas kemampuan terhadap segala praktik spiritual yang dijalani. Berbagai kemampuan memahami, memaknai, dan melakoni entitas hidup adalah baik, namun akan semakin baik jika dilakoni berlandaskan kepatutan menurut tempat, waktu, dan kesepakatan bersama. Memberikan ruang logika di atas rasa, akan menghindari egoisme beragama yang seringkali muncul di era postmodern. Akibatnya, timbul saling hujat antarajaran, sebab merasa pegangannya paling benar.

Pesan lainnya terkait dengan pentingnya catatan. Ilmu pengetahuan—dan kesucian—tidak jatuh jauh-jauh dari catatan. Catatan hendaknya dibaca-baca dan dipahami, bukan sekadar dipuja sebagai entitas sakral. Bahkan, catatan masa lampau juga sering “dikriminalisasi” sebagai penyebab penyakit gila, yang akan menyerang mereka yang berupaya ingin tahu. Jauh berabad-abad silam, sejumlah prasasti Bali Kuno memulai catatannya dengan frase yumu paka tahu sarwa, yang berarti ‘hendaknya ketahuilah oleh kalian semua’. Maka, mengapa manusia yang mengaku lebih modern justru malas membaca, lebih suka copy dan paste? [JPDB]

_____

1Hauser-Schäublin, Brigitta. 2011.Pura Ulun Danu Batur dari Segi Historis: Sumbangan Tanah dan Karunia Air. Göttingen, Germany

2Riana, I Ketut. 2011. Lalintih Sang Catur Sanak Bali: Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, Kaywan Balingkang, lan Warga Bali Aga.Gianyar: Yayasan Tan Mukti Palapa

Tags: alamBatursastrasejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ingin Selamanya Jadi “Kontraktor” alias Pengontrak Rumah Seumur Hidup

Next Post

Pendidikan Anak Terbaik di Masa Pandemi

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Pendidikan Anak Terbaik di Masa Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co