3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
July 23, 2020
in Esai
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Bali memiliki dua kalender tradisional. Pertama Kalender Saka berbasis sasih (bulan) dengan rotasi satu tahun. Kedua, Kalender Pawukon berbasis wuku (minggu) dengan rotasi saban semester (210 hari).

Kalender Saka yang berputar setiap tahun disusun oleh 12 atau 13 sasih (bulan). Sasih ke-13 akan muncul dalam beberapa tahun sekali. Konsepnya mirip tahun kabisat dalam penanggalan Masehi. Sistem sasih ke-13 hadir sebagai tuntutan revolusi bumi yang berjalan sekitar 365,24 hari dalam sekali putaran terhadap matahari. Jika tahun kabisat menghadirkan tambahan satu hari pada setiap empat tahun sekali sebagai akibat akumulasi 0,24 hari pada setiap tahunnya, maka sasih ke-13 ini muncul sebagai akumulasi dari beberapa hari dalam beberapa tahun yang telah mencapai 30 hari. Sebab, setiap sasih pada tahun Saka hanya dihuni antara 28-30 hari.

Dalam siklus 12 sasih yang normal, nama-nama sasih penanggalan Saka meliputi Kasa (Srawana), Karo (Bhadrawada), Katiga (Asuji), Kapat (Kartika), Kalima (Margasira), Kanem (Posya), Kapitu (Magha), Kaulu (Phalguna), Kasanga (Cetra), Kadasa (Wesaka), Jiestha, dan Sadha (Asadha). Sedangkan, jika masuk mode 13 sasih, Jiestha atau Sadha akan diulang menjadi Malajiestha atau Malasadha. Ada juga menyebutnya sasih Nampih Jiestha atau Nampih Sadha. Nampih artinya melipat. Pelipatan sasih ini terakhir terjadi pada Saka 1941 (2019), dimana muncul Sadha dan Malasadha (Nampih Sadha).

Di Batur—sebuah desa penjaga dan pendoa Gunung dan Danau Batur—setiap sasih adalah peringatan. Aci (persembahan) kepada pemilik nafas semesta digelar hampir saban purnama (bulan terang) maupun tilem (bulan mati) pada setiap sasih, kecuali pada purnama/tilem Malajiestha, Sadha, atau Malasadha. Pun demikian, puluhan tahun lalu Sasih Jiestha juga nihil peringatan. Belakangan, Jiestha yang dikenal sebagai Kadasa Wayah, dipilih sebagai aci kehadapan Ida Bhatara Ngurah Subandar, bhatara yang berstana di Konco Batur. Pujawali ini seringkali berhimpitan dengan Hari Tri Suci Waisak, hari kelahiran, pencerahan, dan kembalinya Sang Hyang Buddha ke nirwana. Sejak Isaka 1942, setelah Pura Pasar Agung Batur berhasil dibangun kembali Purnama Jiestha turut disepakati masyarakat sebagai momen persembahan kepada Hyang yang berstana di Pura Pasar Agung Batur.

Menurut konstruksi penanggalan yang dibangun leluhur kami, putaran ritus sepanjang tahun dibuka oleh ritus di Sasih Kasa. Sementara itu, puncak ritus tahunan tergelar pada Purnama Kadasa yang dikenal luas sebagai Ngusaba Kadasa. Selama bentang siklus ritus tersebut, Sasih Kasa ditempatkan dalam posisi yang penting. Jika ritus di Sasih Kasa tidak dapat dilakukan, maka dalam setahun penuh semua ritus di 10 sasih lainnya tak jua dapat digelar. Apabila kondisi seperti itu terjadi, maka sepanjang tahun akan menjadi tahun heneng. Oleh karenanya, Sasih Kasa ditasbihkan sebagai pamungkah atau pangruwak (pembuka) tahun Saka, sekaligus pembuka peringatan dan perayaan terhadap kemuliaan Hyang Esa.

Kisah Para Pendeta

Penghormatan Kasa sebagai pamungkah Saka berdasar pada peghormatan sosok bhatara yang dihormati masyarakat dengan gelar Bhatara Sakti Bhujangga Luwih. Beliau berstana di Pura Jati, sebuah situs simbol kesejatian hidup yang terletak pada pertemuan Gunung dan Danau Batur. Sosoknya diwujudkan sebagai orang tua berperawakan pendeta dengan busana serba putih, bergenitri, memakai ketu, serta memiliki pusaka pajenengan berupa danda (tongkat). Beliau diyakini sebagai purohito (pendeta; penasehat) Bhatari Sakti Dewi Danuh, sosok utama yang dipuja masyarakat Batur.

Bagi para pamangku yang dipilih melalui upacara nyanjan sedari belia, Bhatara Sakti Bhujangga Luwih, adalah nabe (mahaguru) niskala. Kepada beliaulah mereka memohon anugerah agar mampu ngastawa Weda dan menjalani sasana kapamangkuan. Ritus permohonan anugerah suci itu termaktub dalam pelaksanaan upacara mancang karma yangdilaksanaan beberapa saat setelah diksa (penasbihan) para pemangku dari anak-anak terpilih. Sering terbukti, setelah melakoni upacara mancang karma, anak-anak yang terpilih sebagai pamangku akan lebih mudah melakoni tugasnya. Kadang, beberapa bait mantra dapat terucap dengan lancar oleh seorang pamangku yang berusia baru 6 tahun, usia yang secara logika mustahil mengingat persoalan-persoalan yang serius dan filosofis.

Kedudukan Bhatara Sakti Bhujangga Luwih sebagai seorang mahamuni turut dijadikan simbol sistem perguruan di Batur. Ada kepercayaan, seseorang jika ingin pandai dan selamat dalam mengolah kualitas diri, hendaknya memulai praktik mengasah bakat ketika pujawali di Pura Jati. Dalam momentum itu, mereka akan meminta restu untuk mulai belajar menari, madharma gita, menabuh, menulis, bahkan mulai masuk sekolah formal. Kaul-kaul juga sering diucapkan kehadapan beliau yang dipercaya sangat murah anugerah. Akibatnya, setiap perayaan di pura itu, banyak masyarakat yang akan mempersembahkan atos—kurban pelunasan kaul.

Dalam kaitannya pada masa pra-Batur, Hauser-Schäublin (2011:22)1, memandang kompleks Pura Jati sebagai lingkungan sekolah rohani penekun agama Budha. Kedudukan Bhatara Sakti Bhujangga Luwih dari Tampurhyang yang begitu mulia diduga telah menjalin “kesepakatan” dengan Bhatara Sasuhunan Sakti dari Sinarata dalam hal pengawasan ritual air dan kesejahteraan masyarakat dunia.

Asumsi itu menjadi masuk akal, sebab dalam tatanan pemanfaatan air suci dalam rentang ritus di Batur, tirta (air suci) Pura Jati dipandang sebagai tirta mahasuddha. Kesucian tirta Pura Jati dapat menghilangkan segala mala (kotor). Ketika puja astawa, para pamangku menggunakannya sebagai tirta pamarisuda banten. Tirta ini juga ditunas (diminum) paling akhir, serta pantang dicampur dengan tirta wangsungpada bhatara yang lain. Dalam hal memohon tirta solas—tirta dari 11 sumber mata air di kawasan Kaldera Batur milik Sasuhunan Sakti Batur—yang dipusatkan di Patirtaan Pelisan, tirta Pura Jati ditempatkan pada bumbung (ruas bambu) yang lebih tinggi dibanding 10 bumbung lainnya. Praktik ini kembali menegaskan kemuliaan tirta tersebut dibandingkan yang lain.

Dalam khazanah babad, teks Babad Kayu Selem, menempatkan Pura Jati pada posisi yang sangat penting. Pura Jati dikaitkan dengan Bhatara Mpu Kamareka, leluhur wangsa Kayu Selem. Pura Jati dibangun oleh Bhatara Mpu Geni Jaya Mahireng sebagai titah dari Bhatara Mpu Kamareka. Oleh karena itulah, Pura Kayu Selem juga didirikan di samping Pura Jati. Lebih jauh, ada kemungkinan jika sosok Bhatara Mpu Kamareka merupakan sosok yang disebut-sebut masyarakat Batur sebagai Bhatara Sakti Bhujangga Luwih. Beliau yang ditasbihkan sebagai nabe manusia Batur—yang kental berdarah Bali mula—sejalan dengan predikat yang disandang Mpu Kamareka sebagai cendekiawan Bali mula pertama yang “diwisuda” langsung Mpu Semeru (lebih jauh baca Riana, 2011:38)2.

Kisah para pendeta dalam perayaan Sasih Kasa tidak hanya berhenti pada narasi Bhatara Sakti Bhujangga Luwih dan Pura Jati. Puncak ritus Pura Jati jatuh pada pananggal (paro terang; suklapaksa) ke-13 Sasih Kasa, sedangkan sehari setelahnya pada paro terang ke-14 Sasih Kasa, tergelar ritus di situs bernama Pura Batu Sila Rupit.

Dibanding Pura Jati, keberadaan situs ini memang masih berkabut. Narasi-narasi yang melatarinya ada dalam sejumlah versi. Meski demikian, situs ini dipandang memiliki fungsi yang begitu esensial. Setiap upacara yang harus dilakukan oleh masyarakat desa, hendaknya memohon izin kehadapan Hyang yang berstana di sana, agar pelaksanana  ritual selamat dan berhasil.

Kabut yang mendekap entitas situs itu sama tebalnya dengan nama yang disandang. Hari ini, Pura Batu Sila Rupit diartikan kalangan masyarakat desa sebagai ‘situs batu tempat bersila yang berdekatan’. Namun, jika ditelisik agak teliti, kata batu dan sila sejatinya merujuk pada makna yang sama, yakni ‘batu’. Memang, kata sila juga merujuk makna lain, seperti ‘tingkah laku’ dan ‘cara duduk’, namun nama kawasan parahyangan itu adalah Batu Sepit, bukan Batu Sila Sepit, sehingga ada kemungkinan terjadi pengulangan antara kata batu dan sila.

Sementara itu, kata rupit dapat diartikan sebagai ‘berdekatan’. Sehingga, melihat kata-kata penyusun nama situs itu, dapat diformulasikan tiga arti, yakni ‘situs batu berdekatan yang merujuk tingkah laku’; ‘situs batu tempat [duduk] bersila berdekatan’; atau ‘situs batu yang berdekatan’. Tidak mungkin mencari rumusan paling benar, sebab tiada kebenaaran yang absolut. Untungnya, dari ketiga rumusan nama tersebut, semuanya tidak membiaskan makna yang terlampau jauh. Deretan arti ketiganya masih dapat ditarik merunut makna yang disajikan narasi-narasi lisan yang diwarisi para tetua tentang situs tersebut—dalam berbagai versi yang berkembang.

Setidaknya ada empat versi narasi lisan yang ditemui untuk menjejak rumusan tentang Pura Batu Sila Rupit. Versi pertama, memandang Pura Batu Sila Rupit sebagai situs pradana (unsur feminim). Batuan sempit yang membangunnya mirip dengan yoni, lambang kesuburan. Situs itu konon tempat Bhatari Sakti Batur melakoni tapa yoga untuk melahirkan semesta. Maka dari itu, banten yang dipersembahkan kehadapan Hyang yang berstana di sana adalah ayam panggang bukakak, simbol pradana.

Versi kedua menyebut situs itu sebagai titik awal pembentukan Desa Batur oleh Dalem Waturenggong. Menurut versi ini, raja Bali tersohor itu menemukan pawisik (pesan gaib) di tempat ini untuk menyatukan desa-desa di kaki Gunung Batur—Tampurhyang, Sinarata, Cempaga—menjadi komunitas baru setelah sempat “terkotak-kotak” dan menentang kekuasaannya Gelgel sebagai penguasa Bali yang sah. Menurut narasi ini, para tetua desa-desa kuno itu dikumpulkan di situs tersebut, melakukan rapat, dan menyepakati penyatuan desa-desa kecil ini menjadi desa yang lebih besar. Sebagai tanda kemufakatan antar peserta yang hadir, setiap akan melaksanakan upacara tertentu di sesa, masyarakat harus memohon izin di tempat tersebut.

Versi ketiga terkait dengan keberadaan pusaka selonding kuno yang dimiliki Desa Batur. Konon, ketika terjadi huru-hara di Desa Batur berabad-abad silam, pusaka selonding—dan mungkin pusaka lainnya—disembunyikan di goa kecil yang berada di bawah situs tersebut. Setelah keadaan kondusif, selonding itu kembali diambil dari goa kecil yang masih ada hingga kini. Oleh karenanya, setiap pujawali di situs itu, pusaka selonding wajib ditabuh mengiringi upacara.

Terakhir, ada tuturan yang menyebut situs Pura Batu Rupit sebagai tempat yoga semadi seorang pertapa terpelajar. Konon, beliau yang kemudian bergelar Bhatara Dalem Batu Rupit, bersaudara dengan Bhatara Sakti Bhujangga Luwih—bisa saudara dalam arti geneologis maupun ideologis. Hanya saja, beliau tidak menjalani lokapalasraya, melainkan hanya menjalani wiku ngeraga (pendalaman rohani untuk diri sendiri). Oleh karena jnana yang luar biasa tinggi, serta jasa yang begitu besar sebagai guru desa, masyarakat menghormatinya hampir sepadan dengan penghormatan kepada Bhatara Bhujangga. Maka, sebagai adik, Bhatara Dalem Batu Rupit dimuliakan sehari setelah pujawali di Pura Jati.

Menurut versi keempat, sosok pendeta yang senang melakoni yoga samadi dan senang menyepi di hutan inilah yang menciptakan pusaka selonding lengkap dengan tabuhnya. Pusaka selonding itu merupakan ekspresi tata rohani yang dilakukan, tiga tabuh utamanya terinspirasi dari kondisi hutan, yakni kincang-kincung, nenjo katak, dan lutung punyah. Ketiga tabuh itu hingga kini menjadi tabuh-tabuh yang menunjang pelaksanaan ritus-ritus sakral di Batur.

Menjaring Pesan

Narasi terakhir tentang Pura Batu Sila Rupit agak mengganggu saya. Di kepala saya menjelajah ingatan tentang narasi-narasi Universitas Rohani Bukit Cintamani Mmal di Perbukitan Kintamani berabad-abad silam, sebagaimana tersurat dalam Prasasti Sukawana A-I. Adakah lingkungan situs Pura Batu Sila Rupit merupakan bagian dari lingkungan universitas rohani masa Bali Kuno? Hal ini bisa jadi berelasi, mengingat tempatnya yang berada di kaki Bukit Kintamani sebelah barat.

Hipotesa lain, apa mungkin kedua sosok Bhatara Sakti Bhujangga dan Bhatara Dalem Sila Rupit merupakan representasi guru rohani yang mendalami ajaran Siwa pada satu sisi dan Buddha pada sisi lain? Sebab, jejak-jejak ajaran keduanya tampak masih tersisa di Batur, meski kemudian semakin membias ditelan zaman.

Tentang asumsi-asumsi itu, agaknya masih sangat dini untuk disimpulkan. Perlu penyelaman dan “konflik” lebih kompleks untuk mendapat kesejatian aksara di tengah kabut itu.

Namun, refleksi yang lebih penting untuk dibawa ke permukaan dari kearifan Sasih Kasa, sasih pamungkah Saka, di era postmodern ini adalah menyoal logika berpikir leluhur di masa silam. Agaknya, konsep ilmu pengetahuan—dan kesucian—senantiasa ditempatkan pada tingkat primer dalam setiap laku spiritual masyarakat Bali lampau. Artinya, merawat nalar untuk kelangsungan ritus menjadi penting untuk menakar kepatutan di atas kemampuan terhadap segala praktik spiritual yang dijalani. Berbagai kemampuan memahami, memaknai, dan melakoni entitas hidup adalah baik, namun akan semakin baik jika dilakoni berlandaskan kepatutan menurut tempat, waktu, dan kesepakatan bersama. Memberikan ruang logika di atas rasa, akan menghindari egoisme beragama yang seringkali muncul di era postmodern. Akibatnya, timbul saling hujat antarajaran, sebab merasa pegangannya paling benar.

Pesan lainnya terkait dengan pentingnya catatan. Ilmu pengetahuan—dan kesucian—tidak jatuh jauh-jauh dari catatan. Catatan hendaknya dibaca-baca dan dipahami, bukan sekadar dipuja sebagai entitas sakral. Bahkan, catatan masa lampau juga sering “dikriminalisasi” sebagai penyebab penyakit gila, yang akan menyerang mereka yang berupaya ingin tahu. Jauh berabad-abad silam, sejumlah prasasti Bali Kuno memulai catatannya dengan frase yumu paka tahu sarwa, yang berarti ‘hendaknya ketahuilah oleh kalian semua’. Maka, mengapa manusia yang mengaku lebih modern justru malas membaca, lebih suka copy dan paste? [JPDB]

_____

1Hauser-Schäublin, Brigitta. 2011.Pura Ulun Danu Batur dari Segi Historis: Sumbangan Tanah dan Karunia Air. Göttingen, Germany

2Riana, I Ketut. 2011. Lalintih Sang Catur Sanak Bali: Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, Kaywan Balingkang, lan Warga Bali Aga.Gianyar: Yayasan Tan Mukti Palapa

Tags: alamBatursastrasejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ingin Selamanya Jadi “Kontraktor” alias Pengontrak Rumah Seumur Hidup

Next Post

Pendidikan Anak Terbaik di Masa Pandemi

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Pendidikan Anak Terbaik di Masa Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co