23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ingin Selamanya Jadi “Kontraktor” alias Pengontrak Rumah Seumur Hidup

Edo Hary Purnawan by Edo Hary Purnawan
July 22, 2020
in Esai
Tak Ingin Selamanya Jadi “Kontraktor” alias Pengontrak Rumah Seumur Hidup

Ilustrasi dari penulis

Mendengar lagu “Siapa Suruh Datang Jakarta”, membuatku senyum-senyum sendiri. Nyanyian itu terasa satire di telingaku.  Ya, aku adalah perantau di Ibu Kota Jakarta. Kota yang menjanjikan segala kemewahan karena menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian Indonesia. Aku tak munafik, memang waktu aku masih di kampung halaman, selalu saja ingin bisa bekerja ke luar daerah.

Sebenarnya bukan hanya Jakarta. Aku memang ingin keluar kampung, karena menurutku dengan keluar dari zona nyaman di kampung sendiri akan membuatku lebih bekerja keras dan bisa hidup lebih baik. Niatku merantau terlaksana pada 2011. Saat itu, aku memutuskan keluar dari tempat kerjaku dan mengikuti panggilan wawancara di salah satu stasiun televisi swasta yang berlokasi di sekitaran jalan Tandean. Namun, panggilan itu hanya cukup untuk membawaku keluar dari kampung halaman saja. Aku tak lolos seleksi, dan terpaksa menganggur dalam waktu yang cukup lama. Tak betah karena selalu merasa merepotkan keluarga yang aku tumpangi, aku mencari cara agar bisa bekerja. Akhirnya ada seorang teman di Surabaya yang mengajakku mengurus media online yang baru ia bangun.

Perantauanku boleh terbilang nekad. Salah satu teman pernah berujar, kalau aku ini seorang traveling yang hanya bermodal ijazah. Aku tak punya tabungan. Aku selalu berpindah dari satu daerah ke daerah lain, hanya untuk memenuhi panggilan kerja. Di tempat baru aku selalu menumpang tidur. Jika mendapat kerja, baru aku memutuskan untuk mengontrak kamar. Aku berpindah-pindah dari Jakarta-Surabaya-Bali, dan akhirnya sekarang aku menetap di Jakarta dengan bekerja sebagai asisten produser di salah satu televisi swasta. Cita-citaku untuk bekerja di stasiun televisi swasta di Ibu Kota terwujud, tapi tetap menjadi ‘kontraktor’, sebutan iseng untuk orang yang selalu ngontrak karena susah memiliki rumah.

Hidup di Ibu Kota memang tak semudah yang dipikirkan. Kebutuhan hidup seperti tak ada habisnya. Uang tak pernah bisa aku tabung. Terlebih saat ini aku sudah berkeluarga, dan memiliki dua orang anak yang masih bayi dan balita. Gaji lumayan juga tak bisa memenuhi kebutuhan. Selalu ada lubang yang digali, dan ditambal, lalu kadang digali kembali. Impian memiliki rumah sekaan jauh dari angan.

Dalam sebuah acara yang bertajuk Indonesia Housing Forum yang digelar di  Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, rabu 19 Juni 2019, Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid sempat menyebut, diperkirakan ada sebanyak 81 juta milenial di Indonesia yang belum memiliki hunian atau tempat tinggal yang merupakan milik pribadi. Terlebih, harga rumah terus mengalami kenaikan. Sedangkan generasi milenial belum mampu untuk mendapatkan hunian tersebut. Aku termasuk dari puluhan juta orang tersebut yang sulit menggapai impian itu.

Saat melihat kedua anak dan istri tertidur, ada rasa tak tega menghampiri pikiranku. Aku tak ingin mereka selamanya tinggal di rumah kontrakan yang hanya disekat dua dinding ini. Aku juga ingin melihat keluargaku ceria, karena bebas bergerak di rumah yang memiliki kamar, dan ruangan bersantai yang luas. Tak harus mewah, tapi semua tempat memiliki fungsi yang selayaknya. Tak seperti saat ini; memasak di dapur, bersantai menonton televisi, dan tidur di kasur seperti tak berjarak. Tak jarang seisi rumah batuk-batuk jika istri sudah mulai memasak di dapur.

Pemerintah melanjutkan Program Satu Juta Rumah pada 2020

Program Satu Juta Rumah. Mendengarnya, seperti merasakan angin sepoi-sepoi di tengah teriknya panas matahari di siang bolong. Program tersebut merupakan salah satu program strategis nasional Kabinet Kerja pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo. Tujuannya, ingin mewujudkan rumah yang layak huni bagi seluruh Warga Negara Indonesia.

Sejak dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 29 April 2015 di Kabupaten Ungaran, Provinsi Jawa Tengah, Program Satu Juta Rumah yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini juga dianggap dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Selain capaian pembangunan rumah yang terus meningkat, Program Satu Juta Rumah juga turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat serta membawa investasi bagi daerah.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid mengungkap, melalui pelaksanaan Program Satu Juta Rumah pemerintah ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa pemerintah benar-benar fokus pada penyediaan perumahan bagi masyarakat. Dalam hatiku, “apa aku bisa seberuntung itu, mendapatkan rumah yang dimaksud oleh pemerintah?”.

Program satu juta rumah ini sedianya tidak gratis. Untuk mendapatkan rumah, nyatanya aku tetap harus menabung agar bisa membayar dengan mengikuti kebijakan yang telah dibuat. Syarat utama untuk mengikuti program ini adalah berpenghasilan maksimal Rp 7 juta per bulan. Aku memiliki uang gaji di bawah itu, berarti sudah memenuhi syarat. Hanya saja, aku masih sulit untuk menyisihkan uang. Padahal, selain mengandalkan gaji kami juga berjualan apa saja yang dibutuhkan orang agar bisa menambah penghasilan. Mungkin karena modal kecil, akhirnya perputaran uangnya juga tak sebesar usahanya. Tapi keinginanku untuk tak ingin mengontrak selamanya sudah bulat. Aku yakin usaha kerasku dapat mencukupi untuk membayar uang muka, yang kabarnya cukup 1 persen dari harga rumah secara keseluruhan. Dengan menambah semangat usaha, aku yakin mampu membayar uang angsuran yang dimulai dengan Rp 600 ribu per bulan itu.

Kuatkan Tekad Untuk Memiliki Rumah Pribadi

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sempat berujar, “Pemerintah bersama para stakeholder perumahan harus bekerjasama dan berlari ke depan lebih kencang lagi khususnya untuk pelaksanaan Program Satu Juta Rumah di lapangan.” Dia juga mengimbau pemerintah daerah turut aktif dalam pelaksanaan program Satu Juta Rumah. Pemda bisa berpartisipasi dengan memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Perumahan maupun alokasi pembangunan perumahan melalui dana APBD. Dengan begitu, target Satu Juta Rumah bisa cepat tercapai.

Kementerian PUPR pernah menargetkan pembangunan 1,25 juta unit rumah untuk masyarakat pada tahun 2019 lalu. Jumlah tersebut untuk mengejar target pembangunan lima juta unit rumah sejak 2015 lalu. Akhir 2019, masih ada kekurangan sekitar 200 ribu unit rumah. Untuk itu di 2020, Pemerintah berusaha mengejar target dengan berbagai upaya. Salah satunya dengan melaksanakan Pembangunan Perumahan Berbasis Komunitas (P2BK). Program ini disebut-sebut dapat mendorong masyarakat yang tergabung dalam komunitas agar memiliki rumah laik huni. Program P2BK adalah gerakan bersama untuk pembangunan rumah bagi masyarakat dengan tidak hanya mengandalkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Apapun konsepnya. Harapanku semoga Program Satu Juta Rumah berjalan lancar, dan tidak ada yang diselewengkan. Program ini sejatinya harus bisa memenuhi hajat hidup orang-orang yang sungguh-sungguh sangat membutuhkan. Dalam kata lain, tepat sasaran. Semangatku, juga harus sekencang usaha pemerintah untuk mewujudkan mimpi para Kepala Keluarga yang belum memiliki tempat tinggal milik pribadi. Semoga niat ini juga memotivasi orang-orang yang senasib denganku. Tak harus berkemewahan, asalkan Sandang-Pangan-Papan terpenuhi. Tak lagi menjadi ‘Kontraktor’, dan bisa tinggal di rumah sendiri.[T]

Tags: JakartaRumah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dear “Overthinker”, Beri Jarak pada Pikiranmu

Next Post

“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Edo Hary Purnawan

Edo Hary Purnawan

Lahir di Pontianak, sempat merantau ke Jakarta, Surabaya, Bali, dan kini terdampar kembali di Jakarta. Menjadi video jurnalis di sebuah stasiun TV nasional sembari giat belajar menulis

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co