2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ingin Selamanya Jadi “Kontraktor” alias Pengontrak Rumah Seumur Hidup

Edo Hary Purnawan by Edo Hary Purnawan
July 22, 2020
in Esai
Tak Ingin Selamanya Jadi “Kontraktor” alias Pengontrak Rumah Seumur Hidup

Ilustrasi dari penulis

Mendengar lagu “Siapa Suruh Datang Jakarta”, membuatku senyum-senyum sendiri. Nyanyian itu terasa satire di telingaku.  Ya, aku adalah perantau di Ibu Kota Jakarta. Kota yang menjanjikan segala kemewahan karena menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian Indonesia. Aku tak munafik, memang waktu aku masih di kampung halaman, selalu saja ingin bisa bekerja ke luar daerah.

Sebenarnya bukan hanya Jakarta. Aku memang ingin keluar kampung, karena menurutku dengan keluar dari zona nyaman di kampung sendiri akan membuatku lebih bekerja keras dan bisa hidup lebih baik. Niatku merantau terlaksana pada 2011. Saat itu, aku memutuskan keluar dari tempat kerjaku dan mengikuti panggilan wawancara di salah satu stasiun televisi swasta yang berlokasi di sekitaran jalan Tandean. Namun, panggilan itu hanya cukup untuk membawaku keluar dari kampung halaman saja. Aku tak lolos seleksi, dan terpaksa menganggur dalam waktu yang cukup lama. Tak betah karena selalu merasa merepotkan keluarga yang aku tumpangi, aku mencari cara agar bisa bekerja. Akhirnya ada seorang teman di Surabaya yang mengajakku mengurus media online yang baru ia bangun.

Perantauanku boleh terbilang nekad. Salah satu teman pernah berujar, kalau aku ini seorang traveling yang hanya bermodal ijazah. Aku tak punya tabungan. Aku selalu berpindah dari satu daerah ke daerah lain, hanya untuk memenuhi panggilan kerja. Di tempat baru aku selalu menumpang tidur. Jika mendapat kerja, baru aku memutuskan untuk mengontrak kamar. Aku berpindah-pindah dari Jakarta-Surabaya-Bali, dan akhirnya sekarang aku menetap di Jakarta dengan bekerja sebagai asisten produser di salah satu televisi swasta. Cita-citaku untuk bekerja di stasiun televisi swasta di Ibu Kota terwujud, tapi tetap menjadi ‘kontraktor’, sebutan iseng untuk orang yang selalu ngontrak karena susah memiliki rumah.

Hidup di Ibu Kota memang tak semudah yang dipikirkan. Kebutuhan hidup seperti tak ada habisnya. Uang tak pernah bisa aku tabung. Terlebih saat ini aku sudah berkeluarga, dan memiliki dua orang anak yang masih bayi dan balita. Gaji lumayan juga tak bisa memenuhi kebutuhan. Selalu ada lubang yang digali, dan ditambal, lalu kadang digali kembali. Impian memiliki rumah sekaan jauh dari angan.

Dalam sebuah acara yang bertajuk Indonesia Housing Forum yang digelar di  Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, rabu 19 Juni 2019, Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid sempat menyebut, diperkirakan ada sebanyak 81 juta milenial di Indonesia yang belum memiliki hunian atau tempat tinggal yang merupakan milik pribadi. Terlebih, harga rumah terus mengalami kenaikan. Sedangkan generasi milenial belum mampu untuk mendapatkan hunian tersebut. Aku termasuk dari puluhan juta orang tersebut yang sulit menggapai impian itu.

Saat melihat kedua anak dan istri tertidur, ada rasa tak tega menghampiri pikiranku. Aku tak ingin mereka selamanya tinggal di rumah kontrakan yang hanya disekat dua dinding ini. Aku juga ingin melihat keluargaku ceria, karena bebas bergerak di rumah yang memiliki kamar, dan ruangan bersantai yang luas. Tak harus mewah, tapi semua tempat memiliki fungsi yang selayaknya. Tak seperti saat ini; memasak di dapur, bersantai menonton televisi, dan tidur di kasur seperti tak berjarak. Tak jarang seisi rumah batuk-batuk jika istri sudah mulai memasak di dapur.

Pemerintah melanjutkan Program Satu Juta Rumah pada 2020

Program Satu Juta Rumah. Mendengarnya, seperti merasakan angin sepoi-sepoi di tengah teriknya panas matahari di siang bolong. Program tersebut merupakan salah satu program strategis nasional Kabinet Kerja pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo. Tujuannya, ingin mewujudkan rumah yang layak huni bagi seluruh Warga Negara Indonesia.

Sejak dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 29 April 2015 di Kabupaten Ungaran, Provinsi Jawa Tengah, Program Satu Juta Rumah yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini juga dianggap dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Selain capaian pembangunan rumah yang terus meningkat, Program Satu Juta Rumah juga turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat serta membawa investasi bagi daerah.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid mengungkap, melalui pelaksanaan Program Satu Juta Rumah pemerintah ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa pemerintah benar-benar fokus pada penyediaan perumahan bagi masyarakat. Dalam hatiku, “apa aku bisa seberuntung itu, mendapatkan rumah yang dimaksud oleh pemerintah?”.

Program satu juta rumah ini sedianya tidak gratis. Untuk mendapatkan rumah, nyatanya aku tetap harus menabung agar bisa membayar dengan mengikuti kebijakan yang telah dibuat. Syarat utama untuk mengikuti program ini adalah berpenghasilan maksimal Rp 7 juta per bulan. Aku memiliki uang gaji di bawah itu, berarti sudah memenuhi syarat. Hanya saja, aku masih sulit untuk menyisihkan uang. Padahal, selain mengandalkan gaji kami juga berjualan apa saja yang dibutuhkan orang agar bisa menambah penghasilan. Mungkin karena modal kecil, akhirnya perputaran uangnya juga tak sebesar usahanya. Tapi keinginanku untuk tak ingin mengontrak selamanya sudah bulat. Aku yakin usaha kerasku dapat mencukupi untuk membayar uang muka, yang kabarnya cukup 1 persen dari harga rumah secara keseluruhan. Dengan menambah semangat usaha, aku yakin mampu membayar uang angsuran yang dimulai dengan Rp 600 ribu per bulan itu.

Kuatkan Tekad Untuk Memiliki Rumah Pribadi

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sempat berujar, “Pemerintah bersama para stakeholder perumahan harus bekerjasama dan berlari ke depan lebih kencang lagi khususnya untuk pelaksanaan Program Satu Juta Rumah di lapangan.” Dia juga mengimbau pemerintah daerah turut aktif dalam pelaksanaan program Satu Juta Rumah. Pemda bisa berpartisipasi dengan memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Perumahan maupun alokasi pembangunan perumahan melalui dana APBD. Dengan begitu, target Satu Juta Rumah bisa cepat tercapai.

Kementerian PUPR pernah menargetkan pembangunan 1,25 juta unit rumah untuk masyarakat pada tahun 2019 lalu. Jumlah tersebut untuk mengejar target pembangunan lima juta unit rumah sejak 2015 lalu. Akhir 2019, masih ada kekurangan sekitar 200 ribu unit rumah. Untuk itu di 2020, Pemerintah berusaha mengejar target dengan berbagai upaya. Salah satunya dengan melaksanakan Pembangunan Perumahan Berbasis Komunitas (P2BK). Program ini disebut-sebut dapat mendorong masyarakat yang tergabung dalam komunitas agar memiliki rumah laik huni. Program P2BK adalah gerakan bersama untuk pembangunan rumah bagi masyarakat dengan tidak hanya mengandalkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Apapun konsepnya. Harapanku semoga Program Satu Juta Rumah berjalan lancar, dan tidak ada yang diselewengkan. Program ini sejatinya harus bisa memenuhi hajat hidup orang-orang yang sungguh-sungguh sangat membutuhkan. Dalam kata lain, tepat sasaran. Semangatku, juga harus sekencang usaha pemerintah untuk mewujudkan mimpi para Kepala Keluarga yang belum memiliki tempat tinggal milik pribadi. Semoga niat ini juga memotivasi orang-orang yang senasib denganku. Tak harus berkemewahan, asalkan Sandang-Pangan-Papan terpenuhi. Tak lagi menjadi ‘Kontraktor’, dan bisa tinggal di rumah sendiri.[T]

Tags: JakartaRumah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dear “Overthinker”, Beri Jarak pada Pikiranmu

Next Post

“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Edo Hary Purnawan

Edo Hary Purnawan

Lahir di Pontianak, sempat merantau ke Jakarta, Surabaya, Bali, dan kini terdampar kembali di Jakarta. Menjadi video jurnalis di sebuah stasiun TV nasional sembari giat belajar menulis

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co