11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
July 2, 2020
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Bagaimana panggung digital yang berkembang hari ini ditempatkan sebagai situs baru pertunjukan teater? Hal-hal apa saja yang hilang, hal-hal apa saja yang akan muncul kemudian, sebagai konsekuensi logis atas bergesernya orientasi kerja pertunjukan dari panggung nyata ke panggung digital? Saya buka tulisan terkait pertunjukan digital ini dengan komentar Gusbang Sada, seorang kawan seniman tari dan koreografer muda Indonesia yang kini aktif mengajar di ISI Denpasar.

“Halo sahabat Teater Kalangan, izinkan saya untuk memberikan sedikit komentar sekaligus masukan atas pertunjukan apik semalam. Yang menarik bagi saya dari pertunjukan virtual semalam, terutama karya Bro Suma ialah peran aktif penonton pada kolom komentar. Awalnya terus terang saja saya terganggu, namun beberapa saat kemudian saya mulai menyadari sesuatu sekaligus tertawa, setelah membayangkan hal serupa terjadi ketika menonton sebuah pertunjukan live. Dan sebenarnya peristiwa itu juga sering terjadi. Bagi saya, hal ini menunjukan betapa dekatnya sebuah karya dengan penontonnya, sehingga bisa direspon langsung on time pada saat pertunjukan sedang berlangsung.”

Kutipan percakapan itu disampaikan Gusbang setelah menonton pementasan ‘Waiting for Gering’ dalam acara Playing Kontraborasi Dini Ditu Teater Kalangan. Acara Dini Ditu Kalangan merupakan program tatap muka kami Teater Kalangan bersama publik via live instagram yang rencananya digelar dari bulan Juni sampai November. Saya bertugas menginisiasi sub-acara ‘Playing Kontraborsi’, sebuah pentas karya tumbuh dan diskusi bersama seniman lintas disiplin. ‘Playing Kontraborasi’ diniatkan untuk mengetahui lebih jauh bagaimana suatu tema direspon dalam panggung digital oleh dua seniman melalui kerangka kerja disiplin seninya masing-masing.

Pada acara yang digelar 10 Juni kemarin, saya ber-kontraborasi bersama Gusti Made Aryana dengan tema Lelintasan Gering pada Suatu Hari. Saya meresponnya melalui kacamata teater. Gusti meresponnya dalam bentuk wayang. Meski sama-sama berangkat dari satu tema, pada ruang digital sebagai situs pertunjukan, kedua pentas justru menyajikan penyikapan berbeda satu sama lain. Gusti menyikapi gering dengan mengangkat kisah kesaktian Prabu Salya menggunakan ajian candrabirawa dalam perang Barata Yudha. Ajian raksasa yang mampu membelah dirinya menjadi berlipat ganda ini, kemudian disejajarkan oleh Gusti dengan eksistensi virus corona.

Sementara dalam ‘Waiting for Gering’, saya meminjam teks-teks tentang gering yang berserak di media sosial sebagai modus penciptaan. Olahan teks-teks ini kemudian menjadi stimulus, dalam rangka memunculkan memori kolektif penonton akan situasi pandemi di tengah kehidupan masyarakat hari ini. Alhasil, tak ada aktor dalam pentas. Ada hanya gambar-gambar dan rangkaian video yang direspon oleh penonton mana suka. Jika ingin menyebut aktor, barangkali teks-teks yang dikirimkan oleh penonton itulah aktornya, sebagaimana yang kerap hadir pada aktivitas masyarakat dalam media sosial.

Agar tak terlalu masuk menjadi ulasan pentas, saya tak akan menguraikan lebih lanjut bagaimana proses dan eksekusi kedua pertunjukan ini berjalan. Yang ingin saya ulik kemudian adalah ketika penyikapan kedua pertunjukan ini ditautkan dengan komentar Gusbang, Bahwasanya, kehadiran tubuh aktor dalam panggung digital menjadi berbeda kualitasnya dengan yang biasa dihadirkan pada panggung nyata.

Meski telah diwarnai dengan ornamen audio visual yang memanjakan mata dan telinga, tampilan tubuh aktor dalam panggung digital tetap saja terkesan cacat. Berjarak dengan penonton. Tak ada aroma tubuh yang tercium, tak ada rasa, tak ada yang bisa dicecap. Lebih jauh lagi, energi tubuh para aktor seperti disekap dalam kotak layar kaca. Membuat penonton seperti kehilangan spirit pertunjukan.

Pandangan Gusbang boleh jadi juga mewakili apa yang dirasakan oleh penonton lain dalam menyaksikan pertunjukan digital yang marak digelar belakangan ini. Tak hanya mengisolasi panggung nyata pertunjukan, pembatasan fisik yang dialami masyarakat di tengah pandemi corona ini rupanya juga merangsek hingga ke panggung-panggung digital. Dalam konteks ini, panggung digital yang diniatkan sebagai ruang alternatif pertunjukan, justru kian meneguhkan pentingnya interaksi fisik yang mesti terjalin antara aktor dengan penontonnya, seperti yang senantiasa kita saksikan dalam panggung nyata pertunjukan.

Melihat eksekusi kebanyakan pertunjukan digital tergelar, paling tidak ada dua siasat yang umum digunakan. Yang pertama adalah melalui pengambilan gambar dengan kacamata kamera seperti kerja perfilman. Yang kedua adalah merekam pertunjukan yang sedang berlangsung secara utuh dengan satu sudut pengambilan gambar secara menyeluruh.

Pada siasat pertama, saat pertunjukan direkam menggunakan cara pandang kamera, pentas cenderung terjebak menjadi karya film. Meski sama-sama menampilkan tokoh, menyuguhkan tubuh para aktor, kerja teater dan film sesungguhnya mempunyai perbedaan yang cukup siginifikan. Film lebih banyak bekerja dalam proses pengambilan gambar cut to cut. Seni film adalah seni memotong gambar. Intensi akting tertuju pada mata kamera. Disertai kerja memilih gambar yang terbaik, menggabungkan lalu mengedit menjadikannya bentuk utuh.

Hal ini juga yang membuat film dikategorikan sebagai sebuah karya reproduktif, yang bisa diproduksi masal, dinikmati di manapun, dalam waktu kapanpun dengan kualitas yang sama. Berbanding terbalik dengan teater sebagai seni peristiwa yang harus terjadi kini, di sini, antara pemain dan penonton. Tak seperti film yang bisa memilih potongan gambar terbaik, kerja teater justru terbuka dengan kemungkinan improvisasi pemain atas situasi panggung dan penonton yang menyertai.

Sementara pada siasat kedua, meski digelar secara live pada media sosial, interaksi antara pemain dengan penonton juga sulit dialami satu sama lain. Alih-alih menjadikan pertunjukan teater sebagai peristiwa bersama, penyajian pentas dengan satu sudut gambar secara menyuluruh menjadikan kualitasnya mirip seperti menonton dokumentasi video usai pentas. Sebab yang paling penting dalam pertunjukan teater, dalam segala keterbatasan produksi dan distribusinya ialah mesti mampu membangkitkan hasrat purba manusia sebagai makhluk sosial. Menjalin aksi-reaksi yang terjadi dan dialami secara kolektif antara pemain, penonton, tim produksi, serta semua yang hadir dalam pentas disaat yang sama, pada ruang yang itu juga.

Adakah kemudian kualitas teater sebagai seni peristiwa mampu dihadirkan dalam panggung digital? Bagaimana agar pertunjukan tak dibaca sebagai usaha memindahkan panggung nyata ke panggung digital begitu saja? Bagaimana agar teater tak terperosok menjadi karya film atau tak hanya menjadi dokumentasi pentas semata? Atau jangan-jangan, pada panggung digital inilah kita jadi kian diyakinkan bahwa sudah tidak penting lagi membahas sekat-sekat antar seni teater, film, atau seni lainnya?

Jika diumpamakan, panggung digital serupa belantara liar yang begitu menantang untuk dijamah. Di sisi lain, boleh jadi suatu entitas yang mesti dikoreksi kehadirannya. Sejauh manakah kemungkinan panggung digital bisa dimanfaatkan dan dikembangkan kemudian? Terutama jika wabah pandemi berhasil diatasi atau sebaliknya, kita benar-benar harus bernegosiasi dengan kehadiran wabah selamanya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi penting untuk digulirkan lebih lanjut dalam rangka menemukan siasat kerja ketiga. Mengembangkan modus, format, dan visi penciptaan pertunjukan digital agar sama nilainya dengan yang dihadirkan pada panggung nyata. Agar panggung digital tak sekadar jadi ruang evakuasi, semacam media pelarian bagi pentas teater yang kehilangan eksistensinya di panggung nyata. [T]

Denpasar, 2020

Tags: digitalpanggungpentas virtualTeaterTeater Kalanganvirtual
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

“Paspampres” Jualan Nasi Jinggo? Tak Apa, Siapa Tau Pembelinya Paspampres Beneran

Next Post

Tujuan Pulang Kampung yang Tidak Terduga

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Tujuan Pulang Kampung yang Tidak Terduga

Tujuan Pulang Kampung yang Tidak Terduga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co