3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
July 2, 2020
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Bagaimana panggung digital yang berkembang hari ini ditempatkan sebagai situs baru pertunjukan teater? Hal-hal apa saja yang hilang, hal-hal apa saja yang akan muncul kemudian, sebagai konsekuensi logis atas bergesernya orientasi kerja pertunjukan dari panggung nyata ke panggung digital? Saya buka tulisan terkait pertunjukan digital ini dengan komentar Gusbang Sada, seorang kawan seniman tari dan koreografer muda Indonesia yang kini aktif mengajar di ISI Denpasar.

“Halo sahabat Teater Kalangan, izinkan saya untuk memberikan sedikit komentar sekaligus masukan atas pertunjukan apik semalam. Yang menarik bagi saya dari pertunjukan virtual semalam, terutama karya Bro Suma ialah peran aktif penonton pada kolom komentar. Awalnya terus terang saja saya terganggu, namun beberapa saat kemudian saya mulai menyadari sesuatu sekaligus tertawa, setelah membayangkan hal serupa terjadi ketika menonton sebuah pertunjukan live. Dan sebenarnya peristiwa itu juga sering terjadi. Bagi saya, hal ini menunjukan betapa dekatnya sebuah karya dengan penontonnya, sehingga bisa direspon langsung on time pada saat pertunjukan sedang berlangsung.”

Kutipan percakapan itu disampaikan Gusbang setelah menonton pementasan ‘Waiting for Gering’ dalam acara Playing Kontraborasi Dini Ditu Teater Kalangan. Acara Dini Ditu Kalangan merupakan program tatap muka kami Teater Kalangan bersama publik via live instagram yang rencananya digelar dari bulan Juni sampai November. Saya bertugas menginisiasi sub-acara ‘Playing Kontraborsi’, sebuah pentas karya tumbuh dan diskusi bersama seniman lintas disiplin. ‘Playing Kontraborasi’ diniatkan untuk mengetahui lebih jauh bagaimana suatu tema direspon dalam panggung digital oleh dua seniman melalui kerangka kerja disiplin seninya masing-masing.

Pada acara yang digelar 10 Juni kemarin, saya ber-kontraborasi bersama Gusti Made Aryana dengan tema Lelintasan Gering pada Suatu Hari. Saya meresponnya melalui kacamata teater. Gusti meresponnya dalam bentuk wayang. Meski sama-sama berangkat dari satu tema, pada ruang digital sebagai situs pertunjukan, kedua pentas justru menyajikan penyikapan berbeda satu sama lain. Gusti menyikapi gering dengan mengangkat kisah kesaktian Prabu Salya menggunakan ajian candrabirawa dalam perang Barata Yudha. Ajian raksasa yang mampu membelah dirinya menjadi berlipat ganda ini, kemudian disejajarkan oleh Gusti dengan eksistensi virus corona.

Sementara dalam ‘Waiting for Gering’, saya meminjam teks-teks tentang gering yang berserak di media sosial sebagai modus penciptaan. Olahan teks-teks ini kemudian menjadi stimulus, dalam rangka memunculkan memori kolektif penonton akan situasi pandemi di tengah kehidupan masyarakat hari ini. Alhasil, tak ada aktor dalam pentas. Ada hanya gambar-gambar dan rangkaian video yang direspon oleh penonton mana suka. Jika ingin menyebut aktor, barangkali teks-teks yang dikirimkan oleh penonton itulah aktornya, sebagaimana yang kerap hadir pada aktivitas masyarakat dalam media sosial.

Agar tak terlalu masuk menjadi ulasan pentas, saya tak akan menguraikan lebih lanjut bagaimana proses dan eksekusi kedua pertunjukan ini berjalan. Yang ingin saya ulik kemudian adalah ketika penyikapan kedua pertunjukan ini ditautkan dengan komentar Gusbang, Bahwasanya, kehadiran tubuh aktor dalam panggung digital menjadi berbeda kualitasnya dengan yang biasa dihadirkan pada panggung nyata.

Meski telah diwarnai dengan ornamen audio visual yang memanjakan mata dan telinga, tampilan tubuh aktor dalam panggung digital tetap saja terkesan cacat. Berjarak dengan penonton. Tak ada aroma tubuh yang tercium, tak ada rasa, tak ada yang bisa dicecap. Lebih jauh lagi, energi tubuh para aktor seperti disekap dalam kotak layar kaca. Membuat penonton seperti kehilangan spirit pertunjukan.

Pandangan Gusbang boleh jadi juga mewakili apa yang dirasakan oleh penonton lain dalam menyaksikan pertunjukan digital yang marak digelar belakangan ini. Tak hanya mengisolasi panggung nyata pertunjukan, pembatasan fisik yang dialami masyarakat di tengah pandemi corona ini rupanya juga merangsek hingga ke panggung-panggung digital. Dalam konteks ini, panggung digital yang diniatkan sebagai ruang alternatif pertunjukan, justru kian meneguhkan pentingnya interaksi fisik yang mesti terjalin antara aktor dengan penontonnya, seperti yang senantiasa kita saksikan dalam panggung nyata pertunjukan.

Melihat eksekusi kebanyakan pertunjukan digital tergelar, paling tidak ada dua siasat yang umum digunakan. Yang pertama adalah melalui pengambilan gambar dengan kacamata kamera seperti kerja perfilman. Yang kedua adalah merekam pertunjukan yang sedang berlangsung secara utuh dengan satu sudut pengambilan gambar secara menyeluruh.

Pada siasat pertama, saat pertunjukan direkam menggunakan cara pandang kamera, pentas cenderung terjebak menjadi karya film. Meski sama-sama menampilkan tokoh, menyuguhkan tubuh para aktor, kerja teater dan film sesungguhnya mempunyai perbedaan yang cukup siginifikan. Film lebih banyak bekerja dalam proses pengambilan gambar cut to cut. Seni film adalah seni memotong gambar. Intensi akting tertuju pada mata kamera. Disertai kerja memilih gambar yang terbaik, menggabungkan lalu mengedit menjadikannya bentuk utuh.

Hal ini juga yang membuat film dikategorikan sebagai sebuah karya reproduktif, yang bisa diproduksi masal, dinikmati di manapun, dalam waktu kapanpun dengan kualitas yang sama. Berbanding terbalik dengan teater sebagai seni peristiwa yang harus terjadi kini, di sini, antara pemain dan penonton. Tak seperti film yang bisa memilih potongan gambar terbaik, kerja teater justru terbuka dengan kemungkinan improvisasi pemain atas situasi panggung dan penonton yang menyertai.

Sementara pada siasat kedua, meski digelar secara live pada media sosial, interaksi antara pemain dengan penonton juga sulit dialami satu sama lain. Alih-alih menjadikan pertunjukan teater sebagai peristiwa bersama, penyajian pentas dengan satu sudut gambar secara menyuluruh menjadikan kualitasnya mirip seperti menonton dokumentasi video usai pentas. Sebab yang paling penting dalam pertunjukan teater, dalam segala keterbatasan produksi dan distribusinya ialah mesti mampu membangkitkan hasrat purba manusia sebagai makhluk sosial. Menjalin aksi-reaksi yang terjadi dan dialami secara kolektif antara pemain, penonton, tim produksi, serta semua yang hadir dalam pentas disaat yang sama, pada ruang yang itu juga.

Adakah kemudian kualitas teater sebagai seni peristiwa mampu dihadirkan dalam panggung digital? Bagaimana agar pertunjukan tak dibaca sebagai usaha memindahkan panggung nyata ke panggung digital begitu saja? Bagaimana agar teater tak terperosok menjadi karya film atau tak hanya menjadi dokumentasi pentas semata? Atau jangan-jangan, pada panggung digital inilah kita jadi kian diyakinkan bahwa sudah tidak penting lagi membahas sekat-sekat antar seni teater, film, atau seni lainnya?

Jika diumpamakan, panggung digital serupa belantara liar yang begitu menantang untuk dijamah. Di sisi lain, boleh jadi suatu entitas yang mesti dikoreksi kehadirannya. Sejauh manakah kemungkinan panggung digital bisa dimanfaatkan dan dikembangkan kemudian? Terutama jika wabah pandemi berhasil diatasi atau sebaliknya, kita benar-benar harus bernegosiasi dengan kehadiran wabah selamanya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi penting untuk digulirkan lebih lanjut dalam rangka menemukan siasat kerja ketiga. Mengembangkan modus, format, dan visi penciptaan pertunjukan digital agar sama nilainya dengan yang dihadirkan pada panggung nyata. Agar panggung digital tak sekadar jadi ruang evakuasi, semacam media pelarian bagi pentas teater yang kehilangan eksistensinya di panggung nyata. [T]

Denpasar, 2020

Tags: digitalpanggungpentas virtualTeaterTeater Kalanganvirtual
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

“Paspampres” Jualan Nasi Jinggo? Tak Apa, Siapa Tau Pembelinya Paspampres Beneran

Next Post

Tujuan Pulang Kampung yang Tidak Terduga

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Tujuan Pulang Kampung yang Tidak Terduga

Tujuan Pulang Kampung yang Tidak Terduga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co