23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demam Berdarah, Perang Lain yang Tak Pernah Usai

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
June 7, 2020
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Ketika kita semua sedang berperang melawan virus “penakluk duania” saat ini, corona tipe SARS-Cov-2 penyebab pandemi Covid-19, virus demam berdarah dengue (DBD), secara sporadis terus melancarkan serangan. Ini memang musuh lama kita, yang sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1968, terus menjadi masalah kesehatan serius masyarakat Indonesia.

Wajarlah saja dari 30 negara endemis DBD, Indonesia berada pada urutan ke-2. Secara nasional, saat ini ada sekitar 50 ribu jumlah kasus DBD, jauh lebih tinggi ketimbang kasus Covid-19 yang tercatat yaitu sebanyak 31 ribu terkonfirmasi. Syukurlah korban meninggal akibat DBD jauh lebih kecil, yaitu sebanyak 310 orang, seperenam korban tewas akibat Covid-19 yang sebanyak 1.851 orang. Yang mengagetkan lagi, jumlah kasus di Bali adalah kedua tertinggi di Indonesia setelah Jawa Barat, dengan jumlah kasus sebanyak 6 ribu lebih, dengan 13 korban meninggal dan bahkan kabupaten Buleleng, tercatat sebagai kabupaten dengan kasus terbanyak nasional, dengan 2.300 kasus dan 5 kematian.

Artinya, dari jumlah kasus maupun kematiannya, baik di propinsi Bali maupun di kabupaten Buleleng, DBD jauh lebih berat ketimbang Covid-19. Dalam hal Covid-19, propinsi Bali termasuk daerah yang tingkat kesembuhannya tertinggi, sekitar 59% (nasional 17%, global 32%) dan kematian terendah, sekitar 1% saat angka nasional sekitar 5.9%.

Situasi ini membuat Bali mendapatkan apresiasi dalam penanganan wabah Covid-19 dari pemerintah pusat dan bersama beberapa propinsi lain seperti DIY Yogyakarta dan Bangka Belitung telah dipertimbangkan untuk menjadi daerah pertama melakukan pelonggaran aktivitas sosial. Tentu saja tak dapat dilepaskan juga karena Bali merupakan aset andalan bidang pariwisata yang memiliki determinasi kuat secara ekonomi nasional. Lantas kenapa kita tetap lebih ngeri dengan Covid-19 dan seakan-akan DBD bukan apa-apa?

 Akan ada sejumlah alasan yang dapat dikemukakan. Sepertinya kita telah berdamai, atau tak sadar telah menyerah menghadapi DBD. Satu persoalan yang sudah sedemikian lama kita hadapi, pada suatu titik seakan-akan sampai juga pada satu keadaan teradaptasi atau lebih tepatnya sikap apatis. Tentu ini bukan hal yang baik. Sikap seperti ini jelas meniadakan greget otot-otot kita untuk tetap kencang melawannya. Keadaan ini mirip dengan bagaimana kita pun lelah dan lalu terbiasa menghadapi penyakit TBC yang setiap tahun di Indonesia diperkirakan membunuh sekurangnya sebanyak 67 ribu penderitanya.

Artinya, jika dirata-ratakan, setiap jam sedikitnya 8 orang Indonesia meregang nyawa dibantai kuman tuberkulosis itu. Sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan kematian akibat kecelakaan lalu lintas di negeri ini yang rata-rata setiap jama ada tiga orang meninggal di jalan raya. Dan ini pun sudah kita anggap biasa saja.

Alasan lain yang membuat kita lebih santai menghadapi DBD adalah, karena lain dengan Covid-19 yang ditularkan langsung dari manusia ke manusia, DBD hanya bisa ditularkan oleh nyamuk poleng Aides aegypti. DBD tetap membiarkan kita berpelukan hangat dengan sahabat atau keluarga, saat corona memisahkan kita yang tak suka sendirian, tercerai berai. Berada sendirian dalam ruangan isolasi jelas bukan pilihan orang-orang biasa seperti kita.

Walau memusnahkan nyamuk Aides mudah secara teoritis, faktanya hingga saat ini populasi tetap subur di sekitar kita. Kita pun selalu bersikap reaktif dan bertingkah menjadi pandir dengan berebut minta fogging (pengasapan) dan tak lupa menyalahkan pemerintah. Pengasapan, yang tampak heboh, sesungguhnya hanya prosedur yang memberi dampak paling sepele dalam program pengentasan nyamuk DBD. Sesuatu yang tampak heboh umumnya memang sedikit isinya dan kerap kali membuat kita menjadi abai dan terlalu santai.

Mestinya kita harus kembali pada hal-hal sederhana dan mudah yang sering kali punya kekuatan mengagumkan. Jika pengasapan butuh sedemikian banyak sarana, jadwal dan syarat jumlah tertentu kasus DBD di suatu lingkungan, maka tindakan-tindakan yang lebih efektif seperti menghilangkan genangan air sebagai habitat jentik si nyamuk poleng dapat kita lakukan setiap saat dan tak butuh sarana yang rumit-rumit. Apabila habitat bibit nyamuknya kita hilangkan, lalu bagaimana mungkin bisa tumbuh nyamuk dewasa sebagai vektor/penular?

Namun tentu, hal sederhana dan mudah ini tak cukup hanya dikerjakan oleh segelintir orang saja, namun harus secara serempak dikerjakan oleh semua orang dan terus-menerus. Harus ada kesadaran dan kepedulaian yang tak putus-putusnya. Jika bukan sebuah perang, sudah pasti ini strategi jitu melawan DBD. Satu rumah saja tak solid melakukannya, maka nyamuk dewasa yang tumbuh di situ dapat meneror orang lain dalam radius 100 meter. Maka berpelukan dalam komunitas  jangan cuma dalam pesta-pesta meriah, kepaduan pun menjadi keharusan dalam strategi pemberantasan DBD.

Fenomena yang terjadi dalam dunia medis dan penyakit memang sangat menarik. Sungguh mencengangkan sekaligus membingungkan, bagaimana mungkin virus SARS-Cov-2 yang hanya terdiri dari 30 ribu untai genom saat ini telah mengunci manusia yang super kaya dengan tiga milyar untai genom. Namun jangan buru-buru berkecil hati, tubuh kita sesungguhnya mampu menciptakan hingga 100 juta antibodi/kekebalan terhadap kuman yang berbeda.

Meskipun demikian, alam telah mengatur, dengan kekuatan maha dahsyat sebesar itu, manusia berpotensi menjadi mahluk diktaktor. Menganggap mahluk lain tak penting dan sah untuk dipinggirkan bahkan dimusnahkan. Dan kita telah berkali-kali diingatkan. Maka, super antibodi yang kita miliki harus selalu diikuti kerendahan hati dengan bersedia menguras genangan air sebagai strategi perang cerdas melibas DBD. [T]

Tags: demam berdarahkesehatanvirus corona
Share161TweetSendShareSend
Previous Post

Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’

Next Post

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co