25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Wayan Martino by Wayan Martino
April 1, 2020
in Cerpen
Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua -- Cerpen/Foto Wayan Martino

Cerpen Wayan Martino


Di sebuah desa kecil di balik Gunung A, tinggalah seorang pemuda tanggung, belia dalam usia, dewasa dalam sikap hidup. Ia seorang pengumpul kayu bakar, saban hari masuk – keluar hutan, pergi saat pagi dan pulang menjelang malam. Di antara orang-orang desa, dia dikenal dengan kepolosannya. Hampir semua orang mengenal dirinya, entah karena keramahannya atau karena selalu terlihat tersenyum. Namun ia punya satu rahasia, yang tak sembarang orang tahu dan memahaminya, Ia bisa berbicara dengan pohon. Juga baginya pohon seperti seorang ayah, sekaligus ibunya. Sejak lahir ia tak mengenal orang tua, Ia tumbuh dan besar bersama sang nenek.

Suatu hari sebelum matahari terbenam, saat jingga mewarnai langit, usai mengumpulkan dua ikat kayu bakar, Ia duduk seorang diri di sudut desa. Di sebuah tanah lapang yang serupa bukit kecil, tempat yang dikelilingi oleh pertemuan dua sungai. Tempat dimana ia bisa melihat desanya secara menyeluruh dari ketinggian.

Di hadapannya berdiri satu pohon besar, kokoh dan berdaun lebat, menurut orang-orang usianya lebih dari seratus tahun. Di bawah tarian ranting yang dihembuskan angin, dalam pikiran tenang yang tak pernah terusik oleh lelah fisik, Ia menundukkan kepala pada Sang Pohon.

“Ayah, Kau begitu mulia, tenang dan sempurna. Seandainya saja aku bisa membalas kebaikan-Mu, belasan tahun telah menjadi teman berkeluh kesah, menjadi sandaran bagi tubuh yang rentan ini. Bolehkah aku sekali ini menginap, tidur dalam pelukanmu, Ayah? Menemani kesendirianmu saat bulan mati, menatapmu bersama pijar-pijar bintang di malam terakhir Sasih Kesana,” gumamnya pada pohon.

“Anakku, tidak ada yang harus kamu balas. Tak pernah kuharapkan hal seperti itu, padamu atau pada siapapun. Aku tak mengenal kebaikan begitu juga keburukan dalam bahasa mu. Karena aku tercipta sebagai pohon, maka sudah semestinya menjalankan kehidupan sebagai pohon. Pohon tua ini atau pohon lainnya yang berjejer di atas bukit sana mungkin telah menyaring udara kotor dan membuat kamu teduh, namun bisa saja suatu saat kami tumbang disapu angin dan digerus air hujan, tak mampu lagi menyangga tanah sehingga terperosok sampai ke desa dan melukai orang-orang. Apakah di saat seperti itu kau akan menyebut kami buruk?

Demikian kaummu telah mengajarkan pikiran dan tubuh menilai hal baik dan buruk, tapi ketahuilah jiwa yang bersembunyi di dalamnya, telah melampaui keduanya. Belajarlah pada yang di dalam.

Anakku, lihatlah langit, gelap segera tiba. Seperti yang kau tahu saat matahari terbenam, aku tak lagi baik untuk napasmu. Kau akan jatuh dan lemas jika bermalam di dekatku.”

Pemuda tanggung itu menegakkan punggungnya, berdiri menatap salah satu ranting yang paling besar dan tua, Ia kembali mengungkapkan isi pikirannya.

“Hidup manusia begitu pendek dan rapuh, rentan akan sakit dan tak luput dimakan usia. Kematian tak mampu diduga, bisa saja besok, lusa, tiga hari lagi, atau selesai percakapan ini kematian datang pada anak mu ini. Aku khawatir hari esok tak ada lagi, dan niatku untuk membalas kemuliaan mu tak pernah tersampaikan.”

Ia diam sejenak, memikirkan kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya pada Sang Pohon. “Esok adalah hari pergantian tahun, aku berharap bisa menyambutnya terjaga seperti dirimu, tenang tanpa keluhan dan sempurna tanpa cela. Bisakah engkau ajarkan cara menjadi seperti dirimu, Ayah, Pohon Tua yang tiada henti memberi dan menjaga bumi?”

“Kamu tidak perlu belajar menjadi Aku dalam fisik pohon seperti ini, bukankah sejak beratus-ratus tahun yang lampau leluhur mu telah menuturkan secara terus menerus bahwa sesungguhnya Kamu adalah Aku dalam fisik manusia.”

Pemuda tanggung mendekati Sang Pohon, menyentuh akar yang paling besar dengan tangannya yang kasar dan hangat. Sentuhan lembut dari telapak tangan yang bergambarkan guratan-guratan pengalaman, bekas goresan tanggung jawab, yang menemaninya berkembang sampai saat ini.

“Ayah, aku tidak paham dengan maksudmu.”

Sejenak hening, udara sudah mulai berubah dan menipis. Hembusan dingin angin gunung perlahan menyentuh kulit Si Pemuda Tanggung.

Sang Pohon kembali melanjutkan. “Anakku, sejenak kamu bayangkan isi dapur di rumah mu, lihatlah satu demi satu perkakas yang terbuat dari tanah liat, meski semua dibentuk dari tanah namun setiap perkakas memiliki fisik, warna dan fungsi yang berbeda. Kala tak lagi terpakai, usang dan rusak, mereka kan kembali, melebur pada asalnya. Kita semua, sampai saat ini dengan berbagai macam kesadaran telah terbentuk dari entitas yang sama, suatu saat cepat atau lambat kan kembali pada asalnya, tanah, Ibu kita semua.”

Nampak Si Pemuda tanggung mencoba mencermati yang disampaikan pohon. Lalu ia masuk celah di antara dua akar besar, duduk menyandarkan kepala dan punggungnya.

Sang Pohon melanjutkan. “Besok, saat matahari terbit kamu bisa mulai mencoba sesuatu yang sederhana.”

Jagalah udara di sekitar mu agar ia berhembus apa adanya, tanpa asap, tanpa nyala api. Sehingga paru-parumu dapat menghirup napas semesta yang murni, hidungmu belajar memahami aroma hidup yang mengaliri pohon-pohon, binatang, serangga dan benda mati di sekitarmu. Saat malam tiba, bintang-bintang kan terlihat jelas, mereka tidak dikaburkan oleh pijar lampu di sekitarmu. Biarlah mata belajar dari dalam, melihat dalam kegelapan.

Cahaya dan mata membantumu untuk membedakan segala sesuatunya, tapi mata yang rapuh membuat mu jatuh pada gemerlapa, keindahan yang sementara. Kupu-kupu yang bertengger di atas bunga mawar kau puji dengan kata-kata indah, tapi pada hari sebelumnya saat ulat menempel di salah satu daun kau malah menghindar. Bukankah ulat dan kupu-kupu adalah sentitas yang sama, hanya karena periode waktu yang sementara itu kamu melihatnya dengan cara yang berbeda.

Berhenti sejenak dari rutinitas, biarlah tubuh beristirahat. Seluruh bagian tubuh dan semua organ bergerak tanpa tekanan. Pahami setiap aliran darah pada nadi, rasakan bagaimana jantung berdetak dan usaha paru-paru membuat mu tetap bisa bernapas sampai saat ini.

Lakukan segala sesuatunya tanpa harus bersuara. Ijinkan kedua telinga mendengar apa yang seharusnya mereka dengar, bukan apa yang pikiran inginkan. Kau tahu, segala sesuatu di dunia ini, baik yang hidup dan yang mati, semuanya menghasilkan suara dan tanda. Mereka selalu berkomunikasi satu sama lain. Hanya saja telinga manusia tak mampu menjangkau semua bahasa dan semua tanda.

Terakhir, menyepilah untuk menjadi diri sendiri, untuk tubuh dan pikiran, meski tak bisa kau hindari dalam keramaian. Ku tahu ini sulit, namun hal itu satu cara untuk bisa menjadi Aku, seperti yang kau niatkan. Dan saat udara telah murni, kau kan mencium aroma mahluk hidup, tidak hanya aroma tubuhnya tapu juga aroma di luar dari tubuhnya. Melihat wujud dalam gelap dan membedakan segala sesuatunya tanpa cahaya. Mendengar segala hal kemudian memahami tandanya, meski dirimu dan mereka tak saling berdekatan serta bersentuhan.

Menjadi pengendali penuh atas diri, seperti pohon-pohon tua yang selama ini kau datangi dan kau sentuh dengan tangan mu itu. Tiada bahagia yang meluap dari mereka, tiada kesedihan yang pernah mengendap. Saat angin datang, mereka membiarkan ranting-ranting menari mengikuti arahnya, lalu benih beterbangan, menumbuhkan tunas baru di tanah seberang. Ketika musim kemarau, daun-daun lama dan kering berguguran, menyiapkan daun-daun kecil tumbuh hijau, berkembang di musim berikutnya.”

Si Pemuda tanggung membuka matanya, seolah ia baru terbangun dari mimpinya yang panjang. Di antara udara dingin Ia merasakan kehangatan, dipeluk oleh ayahnya.

Langit jingga telah menghilang, pemandangan mulai terlihat samar. Binar-binar lampu di jalanan dan rumah-rumah telah menyala. Orang-orang bersiap menyambut malam pergantian tahun. Sang Pemuda bangkit dari duduknya, memasang kayu diantara ikatan dua kayu bakar, kemudian menaruhnya pada bahu. Ia memandang kejauhan, wajahnya berseri usai mengusap pipinya yang dibasahi kebahagiaan. Ia berpamitan pada Sang Pohon, menerobos kabut, menuju desa.

__

Lima puluh tahun setelah percakapan itu, tepatnya dua belas tahun yang lalu, saya bertemu dengan Si Pemuda Tanggung. Dalam tubuh yang tak lagi semuda kisahnya di atas, Ia menyeduhkan saya kopi dan menawari pisang dari kebunnya. Suasana Nyepi ini selalu mengingatkan saya pada raut wajah dan senyumnya, yang bercerita lebih banyak dari apa yang ia sampaikan. [T]

Badung, 25 Maret 2020

Tags: Cerpen
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Tak Hanya Berfungsi Sosial

Next Post

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Wayan Martino

Wayan Martino

Fotografer

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co