22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
March 28, 2020
in Esai
Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Tahun 2020 ini, adalah tahun yang penuh dengan cobaan. Cobaan ini membuat masyarakat kalang kabut. Saat kondisi normal, beban hidup yang dirasakan masyarakat terutama yang tinggal di kota sudah berat. Beban berupa bayar angsuran bank, bayar kontrakan, cicilan motor, cicilan mobil, cicilan kartu kredit dan sejenisnya. Pembayaran biaya-biaya tersebut bersumber dari upah/gaji bulan saat itu.

Saat tanggal 25 atau tanggal 1 menerima gaji, maka sesaat setelah itu sudah langsung digunakan membayar cicilan. Bahkan ada jenis kredit yang mewajibkan dibayar lebih dahulu, yakni kredit dengan sistem potong gaji. Saat menerima gaji akan didahulukan dipakai membayar angsuran kredit. Sisa gaji baru akan masuk ke rekening tabungan yang kemudian digunakan untuk konsumsi rumah tangga.

Semua orang berusaha mendapatkan pekerjaan dengan tujuan memperoleh pendapatan. Pendapatan identik dengan kepemilikan uang.

Menurut Keynes (ahli ekonomi), sebenarnya ada tiga alasan masyarakat memiliki uang; 1) untuk keperluan transaksi (konsumsi), 2) untuk tujuan berjaga-jaga (tabungan) dan 3) untuk tujuan spekulasi (investasi). Ketiga tujuan ini diurutkan sesuai dengan tingkat kepentingannya. Tujuan spekulasi bisa dilakukan jika tujuan transaksi dan tujuan berjaga-berjaga sudah bisa dilakukan. Tidak mungkin melakukan spekulasi jika tidak memiliki tabungan.

Begitu pula, masyarakat tidak akan bisa menabung jika uang yang dimiliki habis digunakan untuk konsumsi kebutuhan sehari-hari. Tujuan spekulasi lebih banyak untuk menghasilkan uang. Artinya spekulasi ini lebih dekat dengan kegiatan investasi. Pengeluaran yang dilakukan hari ini dengan jumlah tertentu, diharapkan di kemudian hari kembali dengan jumlah yang lebih besar. Jika hal itu terjadi maka itulah yang dinamakan dengan keuntungan.

Sahabat yang pernah belajar ekonomi pasti mengenal teori konsumsi. Teori tersebut menjelaskan bahwa pendapatan digunakan untuk konsumsi dan tabungan. Jika diformulakan maka Y = C + S. Formula tersebut mengatakan bahwa, pendapatan (Y) wajib dialokasikan untuk konsumsi (C) dan untuk tabungan (S). Berapapun pendapatan yang diterima wajib mengikuti formula tersebut.

Yang membedakan masing-masing orang adalah komposisi jumlah antara konsumsi dan tabungan. Ada yang menentukan jumlah untuk konsumsi lebih tinggi atau sebaliknya. Dan umumnya, jumlah konsumsi jauh lebih besar daripada jumlah untuk tabungan. Jika melihat formula tersebut, harusnya semua orang yang bekerja memiliki tabungan. Karena setiap yang bekerja memiliki pendapatan. Pendapatan dialokasikan salah satunya untuk tabungan.

Konsumsi adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tujuan konsumsi adalah untuk memaksimumkan utiliti (kepuasan). Pada dasarnya, faktor utama yang memengaruhi tingkat konsumsi adalah pendapatan. Hubungan kedua variabel tersebut adalah berkorelasi positif. Artinya semakin tinggi tingkat pendapatan maka konsumsinya juga makin tinggi. Atau bisa juga dijelaskan bahwa kepuasan konsumen berbanding lurus dengan alokasi pendapatan. Artinya, jika ingin mendapatkan kepuasan yang lebih/meningkat maka alokasi pendapatan untuk konsumsi juga meningkat.

Salah satu sifat abadi konsumen adalah ingin merasakan kepuasan yang maksimal (kepuasan tak terbatas). Sifat konsumen tersebut membuat teori ini relatif susah dilaksanakan. Dalam kehidupan masyarakat, teori konsumsi di modifikasi menjadi Y = C. Semua pendapatan dialokasikan untuk konsumsi saja. Ini modifikasi yang pertama, modifikasi kedua adalah Y = Utang + Konsumsi.

Artinya, pendapatan yang diperoleh didahulukan untuk membayar utang, sisanya baru digunakan untuk konsumsi. Terkait kompisisi juga berbeda-beda untuk setiap individu. Idelanya adalah pendapatan lebih banyak dialokasikan untuk konsumsi daripada dialokasikan untuk bayar utang. Tetapi tidak sedikit ditemui di lapangan, bahwa kondisinya terbalik. Jumlah yang digunakan untuk membayar utang jauh lebih banyak daripada digunakan untuk konsumsi rumah tangga. Inilah titik awal ketidakseimbangan dalam rumah tangga.

Menengok formula tadi, selain untuk konsumsi, pendapatan harusnya dialokasikan untuk tabungan. Tabungan adalah aktivitas untuk menunda kesenangan atau menunda konsumsi. Tabungan berfungsi sebagai alat untuk menghadapi kesusahan yang mungkin timbul di masa yang akan datang. Kesusahan seperti sakit, kecelakaan, atau  adanya Covid-19. Saat ini, banyak masyarakat yang galau bahkan stres menghadapi virus ini.

Himbauan pemerintah sangat jelas dan simpel yakni diam di rumah. Kalimatnya sangat simpel. Diam di rumah juga sebenarnya hal yang sangat gampang dilakukan. Sekali lagi sangat gampang dilakukan jika masyarakat memiliki pendapatan. Lebih gampang lagi dilakukan jika pendapatan masyarakat cukup untuk konsumsi dan memiliki tabungan. Jika demikian kondisinya, maka diam di rumah bisa digunakan untuk istirahat, digunakan untuk berkumpul dengan anak dan istri, digunakan untuk menonton tv dan sejenisnya.

Tetapi, jika masyarakat tidak memiliki tabungan bahkan tidak memiliki pekerjaan maka himbauan yang simpel menjadi masalah yang berat. Pekerja harian, pekerja jalanan paling merasakan beratnya himbauan pemerintah. Mereka mengalami dilema yang sangat mendalam, seperti buah simalakama. Jika bekerja di jalanan bisa terkena virus corona. Jika tidak bekerja maka anak dan istri di rumah akan kelaparan. Karyawan swasta atau pekerja yang bekerja di sektor pariwisata juga mengalami nasib yang sama. Bahkan lebih tragis. Mereka diam di rumah sambil gelisah karena diam di rumah membuat aliran gaji juga terdiam karena dirumahkan oleh tempatnya bekerja. Diam di rumah adalah hal yang dihindari dan cenderung mengerikan.

Dalam konteks ini, penting untuk merenungkan kembali makna dari teori konsumsi. Bahwa berapapun pendapatan yang diterima harus dialokasikan untuk konsumsi dan untuk tabungan. Pendapatan yang diterima tidak hanya digunakan untuk kepuasan hidup. Lebih bijak jika ada dialokasikan sebagai tabungan. Memiliki tabungan adalah salah satu cara untuk mempertahankan hidup dalam kondisi saat ini.

Tabungan membuat pikiran dan nafas makin panjang serta mampu menghadirkan senyum anak istri. Saatnya belajar financial management yaitu kemampuan untuk mengatur keuangan terutama mengatur alokasi uang. Saatnya kembali mengingat pelajaran ekonomi saat masih SMP, bahwa keinginan manusia tidak terbatas sedangkan alat pemuasnya terbatas. Ngiring lebih bijak dalam mengidentifikasi antara kebutuhan dengan keinginan.

Mari belajar lagi menghitung dengan cermat, berapa pendapatan untuk konsumsi dan berapa untuk tabungan. Di masa sulit mungkin sulit juga menghitungnya, tapi tetap harus diperhitungkan. Apalagi di saat adanya virus corona. [T]

Tags: ekonomikrisis ekonomitabungan
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Rumah, Sumur dan Mata Air

Next Post

Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co