24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Gede Suardana by Gede Suardana
March 26, 2020
in Esai
Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Disadari atau tidak, Industri pariwisata telah mengkonsumsi semua budaya dan alam Bali hingga mencapai titik nadir di saat Covid-19 mewabah dunia. Kini, tiba waktunya budaya dan alam Bali mencari keseimbangannya sendiri.

Dalam sekian kurun waktu, industri pariwisata Bali hanya bertindak sebagai pengguna (eksploitasi) budaya dan alamnya.

Budaya sakral dieksploitasi secara berlebihan. Tari-tarian sakral, sebagai tari wali, digunakan untuk memenuhi hasrat pariwisata. Misalnya, Tari Rejang yang seyogyanya dipentaskan untuk menyambut kehadiran dewa-dewi pada saat piodalan upakara yadnya justru dikomersialkan untuk menyambut wisatawan. Tari Sang Hyang Jaran, sebuah tari spiritual dair jaman pra-Hindu yang berfungsi sebagai penolak bala, digunakan sebagai sebuah tontonan. Semua tari sakral dikomodifikasi menjadi tari balih-balihan hanya untuk menghasilkan segemerincing dolar.

Tarian wali lainnya, seperti Tari Baris, Pendet, Sang Hyang Dedari, Barong yang dahulu selalu ditampilkan di areal suci, yaitu jeroan pura, kemudian dikomodifikasi, ditampilkan di areal komersial, seperti di panggung pertunjukan, hotel, restoran, kafe, hingga konferensi internasional.

Alam Bali pun tak luput dari keegoisan industri pariwisata Bali. Setiap jengkal tanah, air, dan udara Bali tercemar oleh aroma keserakahan  industri pariwisata. Tanah Bali yang subur, bukit-bukit yang indah, pegunungan yang eksotis, hutan yang perawan, jurang, tebing, sawah disesaki hotel berbintang, restoran dan kafe.

Pantai yang menyimpan terumbu karang, pasir pantai yang menjadi lahan spiritual seperti melasti, hingga udara tak lepas dari eksploitasi pelaku pariwisata.

Tak hanya budaya dan alam yang dieksploitasi, manusia Bali pun menjadi objek untuk memuluskan pemenuhan hasrat industri pariwisata. Sampai manusia Bali telah tercerabut dari budaya dan alam Bali. Jika melintasi jalan berliku di kawasan pedesaan, tak banyak melihat petani yang menggarap sawah. Manusia Bali telah meninggalkan kesuburan tanahnya dan segala budaya dan ritual beralih menjadi manusia pemuja pariwisata.

Manusia Bali tak banyak lagi yang dapat melahirkan tari eksotik dan sakral. Apakah kreativitas manusia Bali telah tumpul? tentu tidak. Genetik Manusia Bali modern tetap sama dengan genetik leluhur manusia Bali. Bedanya adalah, leluhur Manusia Bali mencipta sebuah tari untuk dipersembahkan kepada Tuhan-nya, dewa-dewi, batara-batari, dan leluhurnya. Sedangkan, manusia Bali modern mencipta semata-mata dipersembahkan kepada pariwisata, untuk mendapatkan kebahagian materi dari turis.

Kini, Manusia Bali tak lagi memiliki keinginan untuk menjaga, merawat, atau sekadar mempertahankan alam dan budaya. Jika merawat saja tidak berkenan apalagi mencipta. Jiwa manusia Bali telah hampa. Kosong. Semua dipersembahkan untuk pariwisata.

Manusia Bali pun kini tak lagi mendapatkan manfaat dari alam Bali yang telah lama ditinggalkannya. Manusia Bali tak lagi memetik daun kelapa dari pohonnya untuk sarana ritual, tak lagi memetik bunga dari kebunnya untuk dipersembahkan kepada leluhurnya, tak lagi mendapatkan padi dari sawahnya untuk memenuhi kebutuhan pokok dan ritual. Semuanya telah habis hanya untuk bisa secepatnya mendapatkan manfaat dari industri pariwisata yaitu dolar.

Semua upaya eksploitasi itu telah membuat Bali rapuh. Tak ada lagi pegangan dari budaya dan alam di saat manusia Bali diancam bencana alam atau penyakit. Gunung Agung batuk-batuk saja telah membuat manusia Bali resah membayangkan tidak akan mampu bertahan.

Hantaman virus corona (Covid-19) secara global telah membuat industri pariwisata Bali yang selama ini diagung-agungkan mati suri. Semua bidang di sektor pariwisata, seperti hotel, restoran, kafe, lokasi wisata, tersungkur. Ternyata, industri pariwisata tak bisa dihandalkan untuk menopang kehidupan manusia Bali.

Virus yang telah mewabah di sekitar 189 negara, membunuh ribuan nyawa manusia, akhirnya melumpukan seluruh sendi dan urat nadi manusia Bali.

Apakah wabah ini akan menyadarkan manusia Bali?

Semoga. Setidaknya, manusia Bali mulai termenung sejenak memikirkan nasibnya yang malang. Berkontemplasi untuk sekadar bertanya apakah nasib manusia Bali akan bertahan lama menghadapi ancaman global ini.

Semoga manusia Bali tersadar bahwa pariwisata tidak dapat menolongnya. Pariwisata hanya bisa dinikmati pada saat kehidupan alam ini normal.

Pariwisata tak dapat menopangnya. Begitu wisatawan satu per satu pergi meninggalkan Bali, terasa tak ada harapan. Begitu, setiap negara yang terkena wabah Covid-19 menutup negaranya (lockdown), manusia Bali merana. Tak ada turis, yang dipuja-puji yang beranjang sana lagi. Tak ada geliat industri pariwisata. Sepi.

Pantai Kuta sepi seakan sama seperti dahulu kala ketika turis belum mengenalnya. Nusa Penida terdiam. Manusia Bali di sana tersengat. Apakah kehidupan manusia di pulau eksotik itu akan kembali seperti sedia kala saat pulau itu masih perawan.

Pura seperti Tanah Lot, Ulu Watu, Ulun Danu Batur, Besakih sepi dari hiruk pikuk turis. Di satu sisi, semua pura yang menjadi destinasi wisata seakan bersih dari polusi manusia (turis).

Wabah Covid-19 membawa kembali Bali menuju keseimbangannya. Kembali menjadi Bali yang dulu. Bali yang eksotik. Pulau seribu pura yang memancarkan aura spiritual di salah satu titik bumi.

Kini saatnya, manusia Bali memahami perilaku alam Bali yang telah menuju keseimbangannya. Saatnya, untuk menjadi manusia Bali yang selalu menjaga alam dan budayanya. Manusia Bali yang tak enggan lagi menggarap tanahnya. Kembali menjadi manusia Bali yang selalu tulus mencipta untuk membahagiakan leluhurnya, batara-batari, dewa-dewi, dan Tuhan-nya. 

Menjadi manusia Bali yang tak lagi jumawa dengan pesona pariwisata.

Inilah waktunya tatkala Manusia Bali beristirahat dari ritual memuja pariwisata. Melakukan refleksi untuk mencari format baru pariwisata yang bisa mewariskan budaya dan alam bagi generasi berikutnya. Sebuah bentuk pariwisata baru yang mampu menjaga keseimbangan alam, budaya, dan manusianya. Semoga!. [T]

Tags: balicovid 19Pariwisata
Share58TweetSendShareSend
Previous Post

“Simulasi Lockdown” saat Nyepi dan Ngembak Geni – Pelajari Hal-hal yang Terjadi

Next Post

Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga - [Kontemplasi #dirumahaja]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co