2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyӗpi dan Api

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 9, 2020
in Esai
Nyӗpi dan Api

Ilustrasi Manik Sukadana [diolah dari sumber pixabay.com]

Rujukan Sastra

Enjangnya anyӗpi mati gӗni, tan wӗnang anambut gawe, salwirnya, agӗni-agӗni kunang saparani genahnya, kalinganya, sang wruh ing tatwa jñana Samadhi, glarakna yoga Samadhi [Sundarigama. 9].

[besoknya Anyepi mati api, tidak boleh melakukan kerja, di antaranya, berapi- api di segala tempatnya, demikian katanya, orang yang paham dalam hakikat pengetahuan pembebasan samadi, akan menggelar yoga samadi].

_____

Teks Sundarigama jelas menyebut Anyӗpi untuk mengistilahkan Nyӗpi. Kedua kata tersebut tidak berbeda artinya, yaitu melakukan sesuatu untuk mencapai sepi. Yang dilakukan adalah tidak boleh bekerja [tan wӗnang anambut gawe]. Bekerja dalam konteks ini diartikan sebagai ‘berapi di segala tempatnya’ [agӗni-agӗni kunang saparani genahnya]. Maksudnya, tidak boleh ada api dimana-mana. Api apakah yangdimaksud? Ada beberapa jenis-jenis api yang dicatat dalam berbagai pustaka. Jenis- jenis api itu sebagai berikut.

Teks Agastia Parwa menyebut tiga jenis api yaitu Suci, Pawamana dan Pawaka. Ketiganya adalah sumber api, disebut Sang Hyang Agni Rahasya. Suci adalah sumber api dari matahari. Pawamana, sumber api dalam air. Pawaka, sumber api dari tanah[2].

Teks       Sarasamuccaya            juga     menyebutkan   tiga      jenis     api            berdasarkan pemakaiannya: Ahawanya Agni, Grhaspati Agni dan Citta Agni. Ahawanya Agni adalah api  yang  digunakan untuk  memasak  makanan.  Grhaspati  Agni adalah api saksi dalam upacara perkawinan. Citta Agni adalah api saat pembakaran jenasah.[3] Selain  keenam  nama-nama  api  di  atas,  ada  lagi  beberapa  nama  api  yang disebutkan dalam teks Candrāgni. Nama-nama api itu adalah sebagai berikut.

Api di Pande Besi, Puwaka namanya. Api di Pande Mas, Siki namanya. Apinya Bhatara Brahma, Tanda namanya. Api dari Apuyengan, Adana namanya. Api dari Adang, Trinirama namanya. Api yang tiga, Bhujol namanya. Api dari Wanteran, Ana namanya. Api dari lampu rumah, Usti namanya. Api dari upacara homa, Jata namanya. Api dalam panggangan, Weda namanya. Ketika api dalam pembakaran korban, Uti namanya. Api dari pembakaran orang meninggal, Daha namanya. Api yang berada di Sanggar, dan api pada saat pembakaran padi, Lena namanya. Api di dalam tubuh, Puhika namanya. Api yang muncul dari daging, Iga namanya. Api dari orang yang menaiki bukit, Uningan namanya. Api dalam lampu wayang, di antaranya bernama, Sapwawa, Srengen.[4].

Api di dalam rumah, Wesa Nala namanya. Api di hutan, Jaga Setra namanya. Api perahu, Bada Nala namanya. Api dalam hati, rahitangsa, namanya. Api dalam Alaya, Bahni namanya. Api dalam Kamasan, dahana, namanya. Api dalam Palancungan, Anitangsa namanya. Api dalam Rendalindung, hredanala namanya. Api dalam nelayan, Sanda Nala namanya. Api dalam pembakaran, dan dalam kunda, Dusa Nala namanya. Api dalam Pangembutan Angguba Manjar Sirna, memanaskan air, Pakanala namanya. Api di tempat penjagalan, dan dapur, Kusya Danu namanya. Api pada Padupan, Kresna Atma namanya. Api dalam membuat senjata, Tanu Patwa namanya. Api dalam Paleman, Piraksana namanya. Api dalam lampu, Rekanda namanya. Api dalam lampu suar, Bhama Nala namanya. Api di Tumangan, Aywana namanya. Api dalam batu, Karnala namanya. Api saat membakar di rumah, Pawaka namanya. Api di dapur, [?], namanya. Api dari Surya Kanta, Rukma Nala namanya. Api di Dengen, Srikinala namanya. Api dari kesaktian, Brajaja Nala namanya. Sebabnya api dari kayu, diusahakan oleh manusia itulah disebut api, maka lenyap segala bentuk. Benar-benar disebut Praja Nala[5].

Ada banyak jenis api jika merujuk pada tiga teks yang telah disebutkan yaitu Agastia Parwa, Sarasamuccaya dan Candrāgni. Jika teks Sundarigama mengatakan bahwa tidak boleh ada api, bisa dikatakan semua jenis api yang disebutkan oleh tiga teks tadi adalah api yang dimaksud. Tapi bagaimana caranya meniadakan api Suci yang bersumber dari matahari? Atau bagaimana meniadakan api Pawamana yang bersumber dari Air? Begitu pula Pawaka yang bersumber dari tanah?

Ketiga sumber api ini tidak mungkin ditiadakan begitu saja sebab ketiganya tidak dikendalikan oleh manusia tapi hukum alam [Rta]. Tetapi tiga jenis api sesuai pemanfaatannya bisa ditiadakan. Ahawa Agni bisa ditiadakan dengan cara tidak memasak. Grhaspati Agni dengan tidak melakukan upacara perkawinan. Sedangkan Citta Agni ditiadakan dengan tidak melakukan upacara pembakaran jenasah.

Sampai pada titik itu, ada jenis-jenis api yang bisa dikendalikan oleh manusia dan ada yang tidak. Tentang pengendalian api, pada suatu bagian dari teks Yama Purwa Tattwa ada cerita tentang Ida Pedanda Sakti Ender yang mampu mengendalikan matahari. Kemampuan seperti itu, bisa disebut sebagai kemampuan mengendalikan api. Jadi Anyӗpi dimaksudkan untuk mengendalikan api. Mati Gӗni berarti meniadakan api yang dalam batas tertentu bisa dikendalikan oleh manusia. Dengan demikian, jelaslah mengapa sehari setelah Nyӗpi disebut Ngӗmbak Gӗni. Ngӗmbak berasal dari kata ӗmbak yang berarti buka. Ngӗmbak adalah bentukan kata kerja yang berarti membuka. Ngӗmbak Gӗni berarti membuka api atau membuka lebar-lebar jalannya api.

Perhitungan Wariga

Tahun ini [2020], Nyӗpi dilakukan pada tanggal 25 Maret. Penetapan ini didasarkan atas perhitungan Purnama-Tilӗm. Umumnya, Nyӗpi dilakukan sehari setelah Tilӗm pada bulan Caitra [IX]. Dengan demikian, Nyӗpi didapat dengan menghitung peredaran bulan mengelilingi bumi. Perhitungan yang didasarkan pada peredaran dan posisi bulan disebut Candra Pramana.

Agastia[6] [2005: 36] menyebut bahwa tahun baru Saka ditetapkan pertama kali pada tanggal 22 Maret 79 oleh raja Kaniska. Penetapan ini dilakukan karena sehari sebelumnya terjadi gerhana matahari total[7]. Gerhana matahari terjadi karena Matahari, Bumi dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Perhitungan yang dilakukan dengan mengamati posisi matahari disebut Surya Pramana. Agastia juga menjelaskan, gerhana matahari terjadi pada saat Tilӗm. Sedangkan gerhana Bulan terjadi saat Purnama.

Berdasarkan data dari laman langitselatan.com[8], beberapa perkiraan tanggal gerhana bulan dan matahari dapat dilihat. Ada beberapa kali gerhana bulan dan matahari yang akan terjadi di tahun 2020 ini. Perkiraan tanggal dan jenis gerhananya adalah 11 Januari [Bulan Penumbra], 6 Juni [Bulan Penumbra], 21 Juni [Matahari Cincin], 5 Juli [Bulan Penumbra], 30 November [Bulan Penumbra], 14 Desember [Matahari Total]. Dari data tersebut, bisa dibandingkan dengan kalender yang umum digunakan di Bali sebagai berikut.

Perbandingan Tanggal Gerhana dan Purnama-Tilӗm Th. 2020

Dilihat dari perbandingan di atas, memang benar tiap-tiap gerhana bulan tepat atau mendekati Purnama, sedangkan gerhana matahari tepat atau mendekati Tilӗm.

Berdasarkan pada Candra dan Surya Pramana itulah bisa ditentukan hari Nyӗpi sebagaimana dilakukan oleh raja Kaniska.

Permasalahan terjadi pada tahun 2020 ini, sebab hari Nyӗpi tidak secara tepat dilakukan pada Pananggal 1 bulan Caitra. Menurut perhitungan wariga, Nyepi kali ini jatuh pada pananggal ping 2 bulan Caitra. Hal itu disebabkan oleh pangunya ratri yang jatuh pada Buda Kliwon Pahang. Peristiwa ngunya ratri tersebut dalam perhitungan wariga juga diistilahkan sebagai Pangalantaka Pangalihan. Pangalihan pada Buda Kliwon Pahang ini disebut Panca Pahang[11]. Akibat pengalihan ini, maka Tilem 15 menjadi Pananggal 1, disebut Sasih Anglaywan. Perhitungan seterusnya pun dipengaruhi, yakni pananggal ping 10 menjadi ping 11, sedangkan panglong ping 5 menjadi ping 6.

Pangalantaka Pangalihan sesungguhnya pernah dilakukan Eka Sungsang ke Paing yang dipakai sejak Pasalin Rah Saka 1921. Pangalihan tersebut dibahas di Pura Besakih pada tanggal 25 Juli 1998 oleh para sulinggih. Pangalihan ini ditetapkan sampai pada Baligya Marebu Bumi pada tilem Caitra tahun Saka 2000 [2079 Masehi][12]. Perhitungan ini memang rumit untuk dipelajari, namun bukan berarti bisa dikesampingkan          begitu  saja.     Terutama         perihal Pangalantaka   Pangalihan sebagaimana ditunjukkan dalam kasus di atas. Perhitungan wariga inilah yang juga mesti didalami oleh para penempuh studi agama di jalur formal akademis maupun jalur formal spiritualis. [T]

Keterangan:

[1] Ditulis untuk kalangan Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia, Bangli. Diskusi diadakan tanggal 7 Maret 2020, di Sekretariat PC KMHDI Bangli.

[2] lih. IBM Dharma Palguna [2008:44], Leksikon Hindu

[3] idem

[4] lih. I Gde Agus Darma Putra [https://www.academia.edu/41186268/Candr%C8%83gni]

[5] idem

[6] IBG Agastia, [2005] Nyepi, Surya dan Sunya

[7] bandingkan dengan Pendit [1984]. Menurut Pendit, Kanishka menobatkan era “Saka-kala” sebagai tangal dan tahun penanggalan resmi kerajaannya, sejak pertama kali ia naik tahta mahkota kerajaan dinasti Kushana. Hal itu dilakukan demi menyatakan rasa hormat dan simpatinya pada rakyat taklukannya yang sebagian besar mayoritas suku bangsa Saka.

[8] https://langitselatan.com/2020/01/02/sekilas-peristiwa-langit-tahun-2020/

[9] Panglong adalah paruh terang, dimulai sehari setelah purnama

[10] Pananggal adalah paruh gelap, dimulai sehari setelah tilӗm

[11] lihat Wariga Dewasa Praktis oleh Ida Bagus Putu Bangli [2012]

[12] Agastia [2008], Panca Bali Krama, Padma Mandala dan Sad Kahyangan.

Tags: Hari Raya Nyepi
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Puja Astawa: Jangan Terpaku Ingin jadi PNS, Youtuber itu Peluang Besar

Next Post

32 Fakta I Gede Winasa yang Perlu Anda Ketahui

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
32 Fakta I Gede Winasa yang Perlu Anda Ketahui

32 Fakta I Gede Winasa yang Perlu Anda Ketahui

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co