23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Ini Sekumpulan Sedih

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
July 17, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Ngaku saja kalau ada perasaan yang selalu kita sembunyikan rapat-rapat. Kebanyakan dari kita sering tidak jujur. Bukan hanya kepada orang lain, juga kepada diri. Tapi tidak mungkin berbohong pada “diri”, sebab ia melihat segalanya. Karena ia melihat segalanya, ia disebut sebagai salah satu saksi di antara tiga belas jenis saksi.

Kesedihan adalah kenyataan yang sering kita tepis dengan segala macam jurus. Mulai dari mencari obatnya di luar, sampai mengoreknya di dalam. Di luar dicarinya pada gunung, laut, danau, langit, bulan, bintang, buku-buku, dan seterusnya. Pencarian itu dijadikannya obat sedih, meski bukan yang paling mujarab.

Di dalam dikorek-koreklah batinnya yang bergejolak kuat seperti ombak laut. Kebanyakan orang mengorek hal yang sama, yang ingin dipahaminya adalah masa lalu yang konon jadi penyebab kesedihannya di masa sekarang. Setelah tahu lalu apa? Tindak selanjutnya adalah penyikapan. Beda orang, beda penyikapan. Tiap penyikapan diikuti resiko yang berbeda pula. Tiap resiko selalu berkembang dan menjadi suka-duka yang baru. Ini sudah seperti lingkaran yang tiada henti.

Jika orang sudah terlanjur terjebak ke dalam lorong suka-duka, ilmu pengetahuan dan agama sudah tidak lagi berguna. Suka-duka itu sumber dari segala kebingungan. Karena bingung, tidak satu pun sastra bisa dipahami dengan benar. Meskipun paham, orang bingung cepat melupakannya. Kurang sedih apa lagi kita ini?

Belum cukup hanya level kesedihan segitu, kesedihan itu dilanjutkan lagi. Kelanjutannya adalah, kita tidak tahu cara menghilangkannya. Apa sebenarnya obat sedih yang tak terperikan itu? Nirartha Prakreta menganalogikan kesedihan seperti langit malam yang hitam pekat. Di dalamnya juga disebutkan jawaban tentang bagaimana cara menghilangkan kesedihan. Caranya adalah dengan angiket lambang. Artinya membuat karya sastra.

Barangkali memang demikian, tiap-tiap penyair mengekspresikan kesedihan lewat kata-kata yang tertulis. Kesedihan itu bukan lagi hanya pada tataran kedukaan karena kehilangan, tapi lebih luas. Kesedihan bisa menjangkiti karena banyak sekali sebab. Singkatnya, karena segala yang dicari tidak ketemu. Yang ditemukan, bukan yang dicari. Segala yang dinanti tidak datang. Yang datang bukan yang dinanti. Yang dipelajari tidak dipahami. Segala yang dipahami hilang begitu saja seperti embun pagi. Tidak jelas hilangnya, antara jatuh atau menguap bersama udara.

Kita ini diibaratkan seperti katak yang hidup di telaga yang ditumbuhi teratai. Seberapa cerdasnya katak, tidak mungkin paham sari-sari teratai. Kesedihan yang dialami pun begitu. Kita yang hidup bersama dengan kesedihan, gagal paham tentang kesedihan yang dialami sendiri. Kesedihan jadi berlipat-lipat. Karena sedih adalah perasaan, jadi kita ini tidak paham pada perasaan sendiri.

Untuk menyiasatinya, carilah orang lain untuk berkeluh kesah. Sebab orang lain itu, seperti kumbang yang datang dari jauh dan paham bagaimana cara menghisap madu teratai. Sambil menghisap madu, ia akan berdenging seperti nasihat orang-orang bijaksana. Suaranya indah dan menyediakan banyak hal untuk direnungkan. Meskipun belum tentu juga, kumbang itu paham apa yang sedang dilakukannya. Tapi katak seperti kita, cukuplah menjadi lega karenanya.

Para ikan yang saya hormati dan saya banggakan. Maka dari itu, hanya kepada orang bijaksanalah semestinya kita ini memohonkan petunjuk. Orang bijaksana yang pikirannya sudah tenang hening itulah patut dijadikan teman. Orang yang demikian diibaratkan seperti surga yang menawarkan keindahan. Jangan sering marah-marah, selain kita jadi cepat tua, kemarahan membuat kita terjerumus pada kebingungan.

Agar lebih aman, jangan berteman dengan mereka yang licik dan culas. Karena kita hanya akan diberikannya kesedihan. Ada banyak kemudian janji-janji yang tidak ditepati. Tentu saja tidak ditepatinya janji karena itu tidak menguntungkan baginya. Seperti angsa yang berkawan dengan goak. Semua keluarga angsa habis dimakannya. Makanya haruslah hati-hati dan pelan-pelan.

Kita bisa berguru kepada kumbang tentang kesabaran dan pelan-pelan. Ia menghisap madu selalu pelan. Lihat juga rembulan, dari tilem menuju purnama, ia benderang pelan-pelan. Kesabaran selalu berbuah yang indah. Lihat saja pohon beringin yang besar itu. Yang kita beri saput poleng dan meneduhkan. Ia berasal dari biji yang sangat kecil. Ia tumbuh pelan-pelan.

Jadi ada banyak hal yang mesti kita lakukan dengan pelan-pelan. Belajar salah satunya. Orang tidak boleh belajar grasa-grusu. Apalagi kemaruk. Belajar satu persatu, agar satu pelajaran benar-benar dipahami. Einstein tidak mudah menyimpulkan segala pengetahuannya, ia pastilah belajar pelan-pelan. Sama seperti orang naik gunung. Haruslah pelan-pelan dan hati-hati. Meski waktu berjalan sangat cepat, dan dunia global maju pesat, kita tetap berjalan pada satu jalan dengan kehati-hatian dan pelan-pelan. Intinya adalah kemajuan, bukan kemunduran. Apalagi kemunduran cara berpikir. Biarkan saja rambut yang semakin mundur karena berpikir, bukan hasil pemikiran.

Pelan-pelan dan hati-hati juga penting dilakukan ketika melayani pemimpin. Tidak mudah melayani pemimpin, apalagi pemimpin yang banyak maunya. Kadang ia A, kadang ia Z. Hanya satu kata untuk menghadapinya: sabar. Orang sabar adalah orang sadar. Ada satu rumus lagi untuk kaum laki-laki. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Ini cukup jadi rahasia di antara kita saja. Konon, merawat hati wanita pun haruslah sabar. Hati mereka seperti biji pohon beringin tadi. Rawatlah dan lindungi. Mereka bukan makhluk lemah, tapi perlindungan tetap harus kita berikan. Jika akarnya sudah kuat dan besar, ia yang akan melindungimu dari segala cuaca. Ya kan?

Rumus itu tidak hanya berlaku untuk perlakuan laki-laki pada wanita. Ia bisa diaplikasikan pada tiap orang. Rawatlah hati orang-orang yang kita temui. Sirami akarnya dengan kejujuran. Pupuk ia dengan kesetiaan. Apalagi yang lebih menyehatkan dari itu semua? Pada gilirannya nanti, kita ini akan saling memerlukan. Entah itu dikatakan atau tidak. Tiap perbuatan orang pada kita adalah hutang. Tiap perlakuan kita pada orang lain adalah ikhlas. Biarkan alam semesta bekerja dengan caranya.

Itulah yang saya pelajari selama pengembaraan saya bertemu dengan berbagai jenis burung Cangkak di sepanjang garis waktu ini. Tentu saja ada banyak Cangak di dunia ini. Tapi kebanyakan dari mereka sangat lihai menyamar. Bahkan ia lebih lihai dari seekor musang yang meminjam bulu domba. Saking lihainya, ia pintar menyulap kambing putih jadi hitam. Orang tidak akan mampu membedakan mana Cangak mana bukan. Ia tidak perlu meminjam bulu pada siapa saja. Ia cukup membawa dirinya sebagaimana adanya, lalu banyak ikan akan percaya.

Hati-hati memberikan kepercayaan. Apalagi kepercayaan bisa mengubah kita jadi babi yang buta. Kalau sudah jadi babi buta, kita tidak lagi paham, mana sari mana tai. Kalau sudah di jalan yang salah, apalagi yang bisa terjadi kalau bukan penyesalan. Apalah penyesalan kalau bukan kesedihan. Sekali lagi, kita ini memang sekumpulan kesedihan [T]

Tags: cangakdukacitaPengetahuanrenungansastrasukacita
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

BPS-ku Sayang, BPS-ku Malang

Next Post

Terima Kasih, Singaraja…

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Terima Kasih, Singaraja...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co