6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 30, 2026
in Esai
Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

ilustrasi tatkala.co

Melampaui Narasi Hitam-Putih

Dalam percakapan global, konflik Israel–Palestina sering direduksi menjadi pertarungan agama: Islam versus Yahudi. Narasi ini sederhana, emosional, dan mudah diterima—tetapi justru karena itu, ia sering menyesatkan. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menawarkan perspektif yang berbeda: konflik ini bukan konflik agama, melainkan konflik politik, sejarah, dan kemanusiaan. Pandangan ini tidak hanya relevan untuk memahami Timur Tengah, tetapi juga penting sebagai cermin bagi Indonesia, bangsa yang majemuk dan rentan terhadap simplifikasi serupa.

Realitas Sosial: Ketika Manusia Tetap Bisa Hidup Bersama

Salah satu argumen kuat Gus Dur berangkat dari fakta sederhana: banyak warga Palestina bekerja di Israel. Mereka berinteraksi setiap hari—di tempat kerja, pasar, dan ruang publik—tanpa selalu berada dalam ketegangan. Relasi ini menunjukkan bahwa pada tingkat manusiawi, hubungan tidak selalu diwarnai kebencian.

Di sini kita melihat perbedaan antara “realitas sosial” dan “realitas politik.” Rakyat biasa, baik Palestina maupun Israel, pada dasarnya ingin hidup layak: bekerja, membesarkan keluarga, dan hidup aman. Konflik besar yang kita lihat di layar televisi seringkali bukan refleksi dari hubungan antarindividu, melainkan hasil konstruksi politik yang lebih luas.

Pelajaran penting bagi Indonesia adalah bahwa harmoni sosial seringkali lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Namun, ia bisa retak ketika ditarik ke dalam narasi politik yang sempit.

Fragmentasi Internal: Palestina Tidak Tunggal

Pandangan Gus Dur semakin kuat ketika kita melihat fakta bahwa Palestina sendiri tidak monolitik. Terdapat berbagai faksi dengan ideologi dan strategi yang berbeda, seperti Fatah dan Hamas, serta kelompok lain seperti Palestinian Islamic Jihad.

Perbedaan ini mencakup:

  • pendekatan terhadap Israel (negosiasi vs perlawanan bersenjata)
  • orientasi ideologi (nasionalis sekuler vs Islam politik)
  • kepentingan kekuasaan internal

Jika konflik ini murni agama, seharusnya tidak ada perpecahan internal yang signifikan. Namun kenyataannya, konflik internal justru menjadi bagian penting dari dinamika Palestina. Ini memperkuat argumen bahwa konflik tersebut adalah konflik politik yang kompleks, bukan sekadar pertarungan teologis.

Kekerasan dan Jalan Buntu Politik

Gus Dur secara konsisten menolak kekerasan, baik yang dilakukan oleh Israel maupun kelompok Palestina. Ia melihat kekerasan sebagai jalan buntu yang hanya memperpanjang penderitaan. Ketimpangan kekuatan militer membuat korban terbesar hampir selalu jatuh di pihak sipil, terutama rakyat Palestina.

Namun, kritik Gus Dur tidak berhenti pada satu pihak. Ia juga mengingatkan bahwa strategi kekerasan dari kelompok tertentu di Palestina tidak membantu perjuangan mereka dalam jangka panjang. Kekerasan, dalam perspektif ini, bukan solusi, melainkan lingkaran setan.

Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat penting: konflik yang dibiarkan berkembang dalam logika kekerasan akan sulit diselesaikan tanpa keberanian untuk keluar dari siklus tersebut.

Dialog sebagai Jalan Tengah

Salah satu gagasan yang sering dianggap kontroversial dari Gus Dur adalah pentingnya dialog, bahkan dengan pihak yang dianggap “lawan.” Ia pernah mengusulkan agar Indonesia membuka hubungan dengan Israel, bukan sebagai bentuk dukungan, tetapi sebagai strategi untuk berperan dalam perdamaian.

Logika di balik gagasan ini sederhana tetapi mendalam: tidak mungkin menjadi mediator jika tidak memiliki akses ke kedua pihak. Dialog bukan berarti menyerah, melainkan membuka kemungkinan solusi yang lebih manusiawi.

Pendekatan ini menunjukkan keberanian intelektual dan moral. Dalam konteks Indonesia, ini relevan ketika kita menghadapi konflik internal: apakah kita memilih menutup diri atau membuka ruang dialog?

Rakyat versus Elite: Dua Lapisan Realitas

Gus Dur sering membedakan antara rakyat biasa dan elite politik. Rakyat cenderung menginginkan stabilitas dan kehidupan yang damai, sementara elite sering terjebak dalam kepentingan kekuasaan, ideologi, atau legitimasi politik.

Dalam konflik Israel–Palestina, perbedaan ini sangat jelas. Sementara banyak warga dapat hidup berdampingan dalam keseharian, keputusan-keputusan politik di tingkat atas justru memperuncing konflik.

Indonesia pun tidak kebal terhadap fenomena ini. Konflik horizontal seringkali dipicu atau diperbesar oleh narasi elite, sementara masyarakat di tingkat akar rumput sebenarnya memiliki kapasitas untuk hidup rukun.

Perspektif Kemanusiaan: Inti dari Pemikiran Gus Dur

Pada akhirnya, pendekatan Gus Dur berakar pada kemanusiaan. Ia melihat manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya mampu hidup berdampingan. Agama, dalam pandangannya, seharusnya menjadi sumber kedamaian, bukan alat konflik.

Pendekatan ini menolak reduksi identitas. Seseorang tidak hanya Muslim, Yahudi, atau Kristen; ia juga seorang pekerja, ayah, ibu, tetangga—manusia dengan kebutuhan dan harapan yang sama.

Dengan perspektif ini, konflik tidak dilihat sebagai pertarungan identitas, melainkan sebagai kegagalan sistem politik dalam mengelola perbedaan.

Pelajaran bagi Indonesia: Mengelola Keberagaman

Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang luar biasa: agama, suku, budaya, dan bahasa. Dalam konteks ini, pelajaran dari konflik Israel–Palestina menjadi sangat relevan.

Pertama, kita harus waspada terhadap narasi yang menyederhanakan konflik menjadi “kita versus mereka.” Narasi semacam ini mudah memicu polarisasi.

Kedua, penting untuk membedakan antara konflik politik dan konflik sosial. Tidak semua ketegangan di masyarakat berasal dari perbedaan identitas; seringkali ada kepentingan lain di baliknya.

Ketiga, dialog harus menjadi pilihan utama. Dalam masyarakat plural, menutup ruang komunikasi hanya akan memperbesar kesalahpahaman.

Keempat, peran elite sangat menentukan. Elite politik dan intelektual memiliki tanggung jawab untuk meredakan, bukan memperkeruh situasi.

Dari Timur Tengah ke Nusantara

Pandangan Gus Dur tentang konflik Israel–Palestina mengajarkan kita untuk berpikir lebih dalam, melampaui emosi dan simplifikasi. Ia mengajak kita melihat manusia di balik konflik, serta memahami kompleksitas politik yang menyertainya.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar pelajaran tentang konflik di negeri jauh, tetapi cermin bagi diri sendiri. Apakah kita mampu menjaga keberagaman sebagai kekuatan, atau justru terjebak dalam polarisasi?

Gus Dur memberikan arah yang jelas: kemanusiaan di atas segalanya, dialog sebagai jalan, dan keberanian untuk melihat kebenaran di luar narasi yang nyaman. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, pandangan ini bukan hanya relevan, tetapi juga mendesak. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gus DurisraelPalestinaperangPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Tuhan adalah AI —Sebuah Refleksi tentang Iman, Gender, dan Keheningan Semesta

Next Post

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails
Next Post
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi ---Catatan Pementasan 'Aduh" Teater Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co