7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 30, 2026
in Esai
Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

ilustrasi tatkala.co

Melampaui Narasi Hitam-Putih

Dalam percakapan global, konflik Israel–Palestina sering direduksi menjadi pertarungan agama: Islam versus Yahudi. Narasi ini sederhana, emosional, dan mudah diterima—tetapi justru karena itu, ia sering menyesatkan. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menawarkan perspektif yang berbeda: konflik ini bukan konflik agama, melainkan konflik politik, sejarah, dan kemanusiaan. Pandangan ini tidak hanya relevan untuk memahami Timur Tengah, tetapi juga penting sebagai cermin bagi Indonesia, bangsa yang majemuk dan rentan terhadap simplifikasi serupa.

Realitas Sosial: Ketika Manusia Tetap Bisa Hidup Bersama

Salah satu argumen kuat Gus Dur berangkat dari fakta sederhana: banyak warga Palestina bekerja di Israel. Mereka berinteraksi setiap hari—di tempat kerja, pasar, dan ruang publik—tanpa selalu berada dalam ketegangan. Relasi ini menunjukkan bahwa pada tingkat manusiawi, hubungan tidak selalu diwarnai kebencian.

Di sini kita melihat perbedaan antara “realitas sosial” dan “realitas politik.” Rakyat biasa, baik Palestina maupun Israel, pada dasarnya ingin hidup layak: bekerja, membesarkan keluarga, dan hidup aman. Konflik besar yang kita lihat di layar televisi seringkali bukan refleksi dari hubungan antarindividu, melainkan hasil konstruksi politik yang lebih luas.

Pelajaran penting bagi Indonesia adalah bahwa harmoni sosial seringkali lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Namun, ia bisa retak ketika ditarik ke dalam narasi politik yang sempit.

Fragmentasi Internal: Palestina Tidak Tunggal

Pandangan Gus Dur semakin kuat ketika kita melihat fakta bahwa Palestina sendiri tidak monolitik. Terdapat berbagai faksi dengan ideologi dan strategi yang berbeda, seperti Fatah dan Hamas, serta kelompok lain seperti Palestinian Islamic Jihad.

Perbedaan ini mencakup:

  • pendekatan terhadap Israel (negosiasi vs perlawanan bersenjata)
  • orientasi ideologi (nasionalis sekuler vs Islam politik)
  • kepentingan kekuasaan internal

Jika konflik ini murni agama, seharusnya tidak ada perpecahan internal yang signifikan. Namun kenyataannya, konflik internal justru menjadi bagian penting dari dinamika Palestina. Ini memperkuat argumen bahwa konflik tersebut adalah konflik politik yang kompleks, bukan sekadar pertarungan teologis.

Kekerasan dan Jalan Buntu Politik

Gus Dur secara konsisten menolak kekerasan, baik yang dilakukan oleh Israel maupun kelompok Palestina. Ia melihat kekerasan sebagai jalan buntu yang hanya memperpanjang penderitaan. Ketimpangan kekuatan militer membuat korban terbesar hampir selalu jatuh di pihak sipil, terutama rakyat Palestina.

Namun, kritik Gus Dur tidak berhenti pada satu pihak. Ia juga mengingatkan bahwa strategi kekerasan dari kelompok tertentu di Palestina tidak membantu perjuangan mereka dalam jangka panjang. Kekerasan, dalam perspektif ini, bukan solusi, melainkan lingkaran setan.

Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat penting: konflik yang dibiarkan berkembang dalam logika kekerasan akan sulit diselesaikan tanpa keberanian untuk keluar dari siklus tersebut.

Dialog sebagai Jalan Tengah

Salah satu gagasan yang sering dianggap kontroversial dari Gus Dur adalah pentingnya dialog, bahkan dengan pihak yang dianggap “lawan.” Ia pernah mengusulkan agar Indonesia membuka hubungan dengan Israel, bukan sebagai bentuk dukungan, tetapi sebagai strategi untuk berperan dalam perdamaian.

Logika di balik gagasan ini sederhana tetapi mendalam: tidak mungkin menjadi mediator jika tidak memiliki akses ke kedua pihak. Dialog bukan berarti menyerah, melainkan membuka kemungkinan solusi yang lebih manusiawi.

Pendekatan ini menunjukkan keberanian intelektual dan moral. Dalam konteks Indonesia, ini relevan ketika kita menghadapi konflik internal: apakah kita memilih menutup diri atau membuka ruang dialog?

Rakyat versus Elite: Dua Lapisan Realitas

Gus Dur sering membedakan antara rakyat biasa dan elite politik. Rakyat cenderung menginginkan stabilitas dan kehidupan yang damai, sementara elite sering terjebak dalam kepentingan kekuasaan, ideologi, atau legitimasi politik.

Dalam konflik Israel–Palestina, perbedaan ini sangat jelas. Sementara banyak warga dapat hidup berdampingan dalam keseharian, keputusan-keputusan politik di tingkat atas justru memperuncing konflik.

Indonesia pun tidak kebal terhadap fenomena ini. Konflik horizontal seringkali dipicu atau diperbesar oleh narasi elite, sementara masyarakat di tingkat akar rumput sebenarnya memiliki kapasitas untuk hidup rukun.

Perspektif Kemanusiaan: Inti dari Pemikiran Gus Dur

Pada akhirnya, pendekatan Gus Dur berakar pada kemanusiaan. Ia melihat manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya mampu hidup berdampingan. Agama, dalam pandangannya, seharusnya menjadi sumber kedamaian, bukan alat konflik.

Pendekatan ini menolak reduksi identitas. Seseorang tidak hanya Muslim, Yahudi, atau Kristen; ia juga seorang pekerja, ayah, ibu, tetangga—manusia dengan kebutuhan dan harapan yang sama.

Dengan perspektif ini, konflik tidak dilihat sebagai pertarungan identitas, melainkan sebagai kegagalan sistem politik dalam mengelola perbedaan.

Pelajaran bagi Indonesia: Mengelola Keberagaman

Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang luar biasa: agama, suku, budaya, dan bahasa. Dalam konteks ini, pelajaran dari konflik Israel–Palestina menjadi sangat relevan.

Pertama, kita harus waspada terhadap narasi yang menyederhanakan konflik menjadi “kita versus mereka.” Narasi semacam ini mudah memicu polarisasi.

Kedua, penting untuk membedakan antara konflik politik dan konflik sosial. Tidak semua ketegangan di masyarakat berasal dari perbedaan identitas; seringkali ada kepentingan lain di baliknya.

Ketiga, dialog harus menjadi pilihan utama. Dalam masyarakat plural, menutup ruang komunikasi hanya akan memperbesar kesalahpahaman.

Keempat, peran elite sangat menentukan. Elite politik dan intelektual memiliki tanggung jawab untuk meredakan, bukan memperkeruh situasi.

Dari Timur Tengah ke Nusantara

Pandangan Gus Dur tentang konflik Israel–Palestina mengajarkan kita untuk berpikir lebih dalam, melampaui emosi dan simplifikasi. Ia mengajak kita melihat manusia di balik konflik, serta memahami kompleksitas politik yang menyertainya.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar pelajaran tentang konflik di negeri jauh, tetapi cermin bagi diri sendiri. Apakah kita mampu menjaga keberagaman sebagai kekuatan, atau justru terjebak dalam polarisasi?

Gus Dur memberikan arah yang jelas: kemanusiaan di atas segalanya, dialog sebagai jalan, dan keberanian untuk melihat kebenaran di luar narasi yang nyaman. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, pandangan ini bukan hanya relevan, tetapi juga mendesak. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gus DurisraelPalestinaperangPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Tuhan adalah AI —Sebuah Refleksi tentang Iman, Gender, dan Keheningan Semesta

Next Post

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi ---Catatan Pementasan 'Aduh" Teater Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co