16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 30, 2026
in Esai
Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

ilustrasi tatkala.co

Melampaui Narasi Hitam-Putih

Dalam percakapan global, konflik Israel–Palestina sering direduksi menjadi pertarungan agama: Islam versus Yahudi. Narasi ini sederhana, emosional, dan mudah diterima—tetapi justru karena itu, ia sering menyesatkan. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menawarkan perspektif yang berbeda: konflik ini bukan konflik agama, melainkan konflik politik, sejarah, dan kemanusiaan. Pandangan ini tidak hanya relevan untuk memahami Timur Tengah, tetapi juga penting sebagai cermin bagi Indonesia, bangsa yang majemuk dan rentan terhadap simplifikasi serupa.

Realitas Sosial: Ketika Manusia Tetap Bisa Hidup Bersama

Salah satu argumen kuat Gus Dur berangkat dari fakta sederhana: banyak warga Palestina bekerja di Israel. Mereka berinteraksi setiap hari—di tempat kerja, pasar, dan ruang publik—tanpa selalu berada dalam ketegangan. Relasi ini menunjukkan bahwa pada tingkat manusiawi, hubungan tidak selalu diwarnai kebencian.

Di sini kita melihat perbedaan antara “realitas sosial” dan “realitas politik.” Rakyat biasa, baik Palestina maupun Israel, pada dasarnya ingin hidup layak: bekerja, membesarkan keluarga, dan hidup aman. Konflik besar yang kita lihat di layar televisi seringkali bukan refleksi dari hubungan antarindividu, melainkan hasil konstruksi politik yang lebih luas.

Pelajaran penting bagi Indonesia adalah bahwa harmoni sosial seringkali lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Namun, ia bisa retak ketika ditarik ke dalam narasi politik yang sempit.

Fragmentasi Internal: Palestina Tidak Tunggal

Pandangan Gus Dur semakin kuat ketika kita melihat fakta bahwa Palestina sendiri tidak monolitik. Terdapat berbagai faksi dengan ideologi dan strategi yang berbeda, seperti Fatah dan Hamas, serta kelompok lain seperti Palestinian Islamic Jihad.

Perbedaan ini mencakup:

  • pendekatan terhadap Israel (negosiasi vs perlawanan bersenjata)
  • orientasi ideologi (nasionalis sekuler vs Islam politik)
  • kepentingan kekuasaan internal

Jika konflik ini murni agama, seharusnya tidak ada perpecahan internal yang signifikan. Namun kenyataannya, konflik internal justru menjadi bagian penting dari dinamika Palestina. Ini memperkuat argumen bahwa konflik tersebut adalah konflik politik yang kompleks, bukan sekadar pertarungan teologis.

Kekerasan dan Jalan Buntu Politik

Gus Dur secara konsisten menolak kekerasan, baik yang dilakukan oleh Israel maupun kelompok Palestina. Ia melihat kekerasan sebagai jalan buntu yang hanya memperpanjang penderitaan. Ketimpangan kekuatan militer membuat korban terbesar hampir selalu jatuh di pihak sipil, terutama rakyat Palestina.

Namun, kritik Gus Dur tidak berhenti pada satu pihak. Ia juga mengingatkan bahwa strategi kekerasan dari kelompok tertentu di Palestina tidak membantu perjuangan mereka dalam jangka panjang. Kekerasan, dalam perspektif ini, bukan solusi, melainkan lingkaran setan.

Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat penting: konflik yang dibiarkan berkembang dalam logika kekerasan akan sulit diselesaikan tanpa keberanian untuk keluar dari siklus tersebut.

Dialog sebagai Jalan Tengah

Salah satu gagasan yang sering dianggap kontroversial dari Gus Dur adalah pentingnya dialog, bahkan dengan pihak yang dianggap “lawan.” Ia pernah mengusulkan agar Indonesia membuka hubungan dengan Israel, bukan sebagai bentuk dukungan, tetapi sebagai strategi untuk berperan dalam perdamaian.

Logika di balik gagasan ini sederhana tetapi mendalam: tidak mungkin menjadi mediator jika tidak memiliki akses ke kedua pihak. Dialog bukan berarti menyerah, melainkan membuka kemungkinan solusi yang lebih manusiawi.

Pendekatan ini menunjukkan keberanian intelektual dan moral. Dalam konteks Indonesia, ini relevan ketika kita menghadapi konflik internal: apakah kita memilih menutup diri atau membuka ruang dialog?

Rakyat versus Elite: Dua Lapisan Realitas

Gus Dur sering membedakan antara rakyat biasa dan elite politik. Rakyat cenderung menginginkan stabilitas dan kehidupan yang damai, sementara elite sering terjebak dalam kepentingan kekuasaan, ideologi, atau legitimasi politik.

Dalam konflik Israel–Palestina, perbedaan ini sangat jelas. Sementara banyak warga dapat hidup berdampingan dalam keseharian, keputusan-keputusan politik di tingkat atas justru memperuncing konflik.

Indonesia pun tidak kebal terhadap fenomena ini. Konflik horizontal seringkali dipicu atau diperbesar oleh narasi elite, sementara masyarakat di tingkat akar rumput sebenarnya memiliki kapasitas untuk hidup rukun.

Perspektif Kemanusiaan: Inti dari Pemikiran Gus Dur

Pada akhirnya, pendekatan Gus Dur berakar pada kemanusiaan. Ia melihat manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya mampu hidup berdampingan. Agama, dalam pandangannya, seharusnya menjadi sumber kedamaian, bukan alat konflik.

Pendekatan ini menolak reduksi identitas. Seseorang tidak hanya Muslim, Yahudi, atau Kristen; ia juga seorang pekerja, ayah, ibu, tetangga—manusia dengan kebutuhan dan harapan yang sama.

Dengan perspektif ini, konflik tidak dilihat sebagai pertarungan identitas, melainkan sebagai kegagalan sistem politik dalam mengelola perbedaan.

Pelajaran bagi Indonesia: Mengelola Keberagaman

Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang luar biasa: agama, suku, budaya, dan bahasa. Dalam konteks ini, pelajaran dari konflik Israel–Palestina menjadi sangat relevan.

Pertama, kita harus waspada terhadap narasi yang menyederhanakan konflik menjadi “kita versus mereka.” Narasi semacam ini mudah memicu polarisasi.

Kedua, penting untuk membedakan antara konflik politik dan konflik sosial. Tidak semua ketegangan di masyarakat berasal dari perbedaan identitas; seringkali ada kepentingan lain di baliknya.

Ketiga, dialog harus menjadi pilihan utama. Dalam masyarakat plural, menutup ruang komunikasi hanya akan memperbesar kesalahpahaman.

Keempat, peran elite sangat menentukan. Elite politik dan intelektual memiliki tanggung jawab untuk meredakan, bukan memperkeruh situasi.

Dari Timur Tengah ke Nusantara

Pandangan Gus Dur tentang konflik Israel–Palestina mengajarkan kita untuk berpikir lebih dalam, melampaui emosi dan simplifikasi. Ia mengajak kita melihat manusia di balik konflik, serta memahami kompleksitas politik yang menyertainya.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar pelajaran tentang konflik di negeri jauh, tetapi cermin bagi diri sendiri. Apakah kita mampu menjaga keberagaman sebagai kekuatan, atau justru terjebak dalam polarisasi?

Gus Dur memberikan arah yang jelas: kemanusiaan di atas segalanya, dialog sebagai jalan, dan keberanian untuk melihat kebenaran di luar narasi yang nyaman. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, pandangan ini bukan hanya relevan, tetapi juga mendesak. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gus DurisraelPalestinaperangPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Tuhan adalah AI —Sebuah Refleksi tentang Iman, Gender, dan Keheningan Semesta

Next Post

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi ---Catatan Pementasan 'Aduh" Teater Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co