26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 30, 2026
in Esai
Konflik Israel–Palestina dari Perspektif Gus Dur: Sebuah Pelajaran bagi Indonesia

ilustrasi tatkala.co

Melampaui Narasi Hitam-Putih

Dalam percakapan global, konflik Israel–Palestina sering direduksi menjadi pertarungan agama: Islam versus Yahudi. Narasi ini sederhana, emosional, dan mudah diterima—tetapi justru karena itu, ia sering menyesatkan. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menawarkan perspektif yang berbeda: konflik ini bukan konflik agama, melainkan konflik politik, sejarah, dan kemanusiaan. Pandangan ini tidak hanya relevan untuk memahami Timur Tengah, tetapi juga penting sebagai cermin bagi Indonesia, bangsa yang majemuk dan rentan terhadap simplifikasi serupa.

Realitas Sosial: Ketika Manusia Tetap Bisa Hidup Bersama

Salah satu argumen kuat Gus Dur berangkat dari fakta sederhana: banyak warga Palestina bekerja di Israel. Mereka berinteraksi setiap hari—di tempat kerja, pasar, dan ruang publik—tanpa selalu berada dalam ketegangan. Relasi ini menunjukkan bahwa pada tingkat manusiawi, hubungan tidak selalu diwarnai kebencian.

Di sini kita melihat perbedaan antara “realitas sosial” dan “realitas politik.” Rakyat biasa, baik Palestina maupun Israel, pada dasarnya ingin hidup layak: bekerja, membesarkan keluarga, dan hidup aman. Konflik besar yang kita lihat di layar televisi seringkali bukan refleksi dari hubungan antarindividu, melainkan hasil konstruksi politik yang lebih luas.

Pelajaran penting bagi Indonesia adalah bahwa harmoni sosial seringkali lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Namun, ia bisa retak ketika ditarik ke dalam narasi politik yang sempit.

Fragmentasi Internal: Palestina Tidak Tunggal

Pandangan Gus Dur semakin kuat ketika kita melihat fakta bahwa Palestina sendiri tidak monolitik. Terdapat berbagai faksi dengan ideologi dan strategi yang berbeda, seperti Fatah dan Hamas, serta kelompok lain seperti Palestinian Islamic Jihad.

Perbedaan ini mencakup:

  • pendekatan terhadap Israel (negosiasi vs perlawanan bersenjata)
  • orientasi ideologi (nasionalis sekuler vs Islam politik)
  • kepentingan kekuasaan internal

Jika konflik ini murni agama, seharusnya tidak ada perpecahan internal yang signifikan. Namun kenyataannya, konflik internal justru menjadi bagian penting dari dinamika Palestina. Ini memperkuat argumen bahwa konflik tersebut adalah konflik politik yang kompleks, bukan sekadar pertarungan teologis.

Kekerasan dan Jalan Buntu Politik

Gus Dur secara konsisten menolak kekerasan, baik yang dilakukan oleh Israel maupun kelompok Palestina. Ia melihat kekerasan sebagai jalan buntu yang hanya memperpanjang penderitaan. Ketimpangan kekuatan militer membuat korban terbesar hampir selalu jatuh di pihak sipil, terutama rakyat Palestina.

Namun, kritik Gus Dur tidak berhenti pada satu pihak. Ia juga mengingatkan bahwa strategi kekerasan dari kelompok tertentu di Palestina tidak membantu perjuangan mereka dalam jangka panjang. Kekerasan, dalam perspektif ini, bukan solusi, melainkan lingkaran setan.

Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat penting: konflik yang dibiarkan berkembang dalam logika kekerasan akan sulit diselesaikan tanpa keberanian untuk keluar dari siklus tersebut.

Dialog sebagai Jalan Tengah

Salah satu gagasan yang sering dianggap kontroversial dari Gus Dur adalah pentingnya dialog, bahkan dengan pihak yang dianggap “lawan.” Ia pernah mengusulkan agar Indonesia membuka hubungan dengan Israel, bukan sebagai bentuk dukungan, tetapi sebagai strategi untuk berperan dalam perdamaian.

Logika di balik gagasan ini sederhana tetapi mendalam: tidak mungkin menjadi mediator jika tidak memiliki akses ke kedua pihak. Dialog bukan berarti menyerah, melainkan membuka kemungkinan solusi yang lebih manusiawi.

Pendekatan ini menunjukkan keberanian intelektual dan moral. Dalam konteks Indonesia, ini relevan ketika kita menghadapi konflik internal: apakah kita memilih menutup diri atau membuka ruang dialog?

Rakyat versus Elite: Dua Lapisan Realitas

Gus Dur sering membedakan antara rakyat biasa dan elite politik. Rakyat cenderung menginginkan stabilitas dan kehidupan yang damai, sementara elite sering terjebak dalam kepentingan kekuasaan, ideologi, atau legitimasi politik.

Dalam konflik Israel–Palestina, perbedaan ini sangat jelas. Sementara banyak warga dapat hidup berdampingan dalam keseharian, keputusan-keputusan politik di tingkat atas justru memperuncing konflik.

Indonesia pun tidak kebal terhadap fenomena ini. Konflik horizontal seringkali dipicu atau diperbesar oleh narasi elite, sementara masyarakat di tingkat akar rumput sebenarnya memiliki kapasitas untuk hidup rukun.

Perspektif Kemanusiaan: Inti dari Pemikiran Gus Dur

Pada akhirnya, pendekatan Gus Dur berakar pada kemanusiaan. Ia melihat manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya mampu hidup berdampingan. Agama, dalam pandangannya, seharusnya menjadi sumber kedamaian, bukan alat konflik.

Pendekatan ini menolak reduksi identitas. Seseorang tidak hanya Muslim, Yahudi, atau Kristen; ia juga seorang pekerja, ayah, ibu, tetangga—manusia dengan kebutuhan dan harapan yang sama.

Dengan perspektif ini, konflik tidak dilihat sebagai pertarungan identitas, melainkan sebagai kegagalan sistem politik dalam mengelola perbedaan.

Pelajaran bagi Indonesia: Mengelola Keberagaman

Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang luar biasa: agama, suku, budaya, dan bahasa. Dalam konteks ini, pelajaran dari konflik Israel–Palestina menjadi sangat relevan.

Pertama, kita harus waspada terhadap narasi yang menyederhanakan konflik menjadi “kita versus mereka.” Narasi semacam ini mudah memicu polarisasi.

Kedua, penting untuk membedakan antara konflik politik dan konflik sosial. Tidak semua ketegangan di masyarakat berasal dari perbedaan identitas; seringkali ada kepentingan lain di baliknya.

Ketiga, dialog harus menjadi pilihan utama. Dalam masyarakat plural, menutup ruang komunikasi hanya akan memperbesar kesalahpahaman.

Keempat, peran elite sangat menentukan. Elite politik dan intelektual memiliki tanggung jawab untuk meredakan, bukan memperkeruh situasi.

Dari Timur Tengah ke Nusantara

Pandangan Gus Dur tentang konflik Israel–Palestina mengajarkan kita untuk berpikir lebih dalam, melampaui emosi dan simplifikasi. Ia mengajak kita melihat manusia di balik konflik, serta memahami kompleksitas politik yang menyertainya.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar pelajaran tentang konflik di negeri jauh, tetapi cermin bagi diri sendiri. Apakah kita mampu menjaga keberagaman sebagai kekuatan, atau justru terjebak dalam polarisasi?

Gus Dur memberikan arah yang jelas: kemanusiaan di atas segalanya, dialog sebagai jalan, dan keberanian untuk melihat kebenaran di luar narasi yang nyaman. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, pandangan ini bukan hanya relevan, tetapi juga mendesak. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gus DurisraelPalestinaperangPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jika Tuhan adalah AI —Sebuah Refleksi tentang Iman, Gender, dan Keheningan Semesta

Next Post

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi ---Catatan Pementasan 'Aduh" Teater Mahima

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co