14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangsa Ini Bukan Kekurangan Film Bagus

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Sidang pembaca yang budiman, tangal 30 Maret adalah peringatan Hari Film Nasional. Nanti bisa jadi akan kita lihat kemunculan satu kebiasaan lama, biasanya dari para kritikus, yaitu mengeluh. Film Indonesia dianggap dangkal, terlalu komersial, bahkan miskin gagasan.

Katanya narasinya berulang, humornya receh, dramanya lebay. Kritik ini kebanyakan terdengar tajam, tetapi sering kali bermuka dua. Karena realitanya, diam-diam, film-film yang kita kritik itulah yang paling banyak kita tonton.

Kalau memang demikian apakah benar kita kekurangan film bagus, atau justru kita kekurangan cara menonton yang sehat? Maksud saya di sini dengan sehat adalah dengan kesadaran, ada daya kritis dan tidak miskin literasi.  Sebagai penikmat film Indonesia, saya sudah merasa senang dengan film kita. Mau yang adaptasi seperti Panggil Aku Ayah, atau film dengan time loop seperti Sore. Semuanya saya nikmati agar tetap waras saja.

Maka dari itu sepertinya kita tidak bisa lagi untuk terlalu mudah menyalahkan film, seolah-olah film berdiri sendiri sebagai objek yang netral. Padahal film tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu berhadapan dengan penonton yang punya selera, kebiasaan, dan cara berpikir tertentu.  Misal toh ada film buruk yang bisa bertahan lama, itu bukan karena ia kuat dari sononya, tetapi karena ia terus diberi makan oleh penonton yang terlarut, dan tidak pernah benar-benar menuntut sesuatu yang lebih.  Macam saya ini.

Industri Budaya dan Selera yang Diproduksi

Di titik ini, kita bisa meminjam kegelisahan Theodor Adorno, yang melihat film bukan sekadar karya seni, tetapi bagian dari “industri budaya”, sebuah sistem yang memproduksi hiburan secara massal untuk menjaga masyarakat tetap nyaman, tetapi tidak kritis.  Film dalam logika ini tidak perlu mendalam atau berbobot. Ia hanya perlu cukup menarik agar ditonton, cukup familiar agar tidak membingungkan, dan cukup emosional agar bisa mengukir kuat kesan sesaat. 

Resep ini banyak berhasil, dan hasilnya adalah repetisi.  Cerita yang itu-itu saja, konflik yang mudah ditebak, karakter yang stereotipikal. Bukan karena para sineas tidak mampu untuk mengulik lebih jauh, tetapi karena sistem tidak memberi insentif untuk itu. Apalagi bicara soal film sebagai industri, apa yang bikin untung akan dijual.  Dalam logika pasar tidak perlu kedalaman, karena pasar menghargai keterulangan. Repeating order, yang berarti akan menghasikan cuan.

Namun Adorno tidak berhenti di situ. Ia juga secara implisit menunjukkan bahwa industri ini sebenarnya tidak akan bisa berjalan tanpa adanya partisipasi penonton. Artinya, penonton tidak sepenuhnya adalah sebagai korban, karena di sisi lain penonton juga ikut memproduksi kondisi ini.

Kontrol sebagai Solusi atau Ilusi?

Di tengah kegelisahan itu, muncul gagasan yang tampaknya masuk akal yaitu perlu adanya kontrol. Jika film seperti makanan, maka negara perlu hadir sebagai ahli gizi yang memastikan apa yang dikonsumsi masyarakat agar tidak merusak kesehatan budaya.  Di Indonesia, peran ini dijalankan oleh lembaga sensor. Ia bertugas menyaring konten agar tidak melanggar norma. Sekilas, ini terlihat seperti mekanisme perlindungan.  Tetapi di sinilah kita perlu injak rem sejenak.

Apakah betul bahwa kualitas bisa disensor? Michel Foucault mengingatkan bahwa setiap bentuk kontrol tidak pernah netral. Ia selalu membawa kepentingan, selalu terkait dengan kekuasaan. Ketika negara menentukan mana yang layak dan mana yang tidak, kita tidak hanya berbicara tentang moralitas, tetapi juga tentang siapa yang berhak mendefinisikan kebenaran.

Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika film buruk tidak selalu berarti film berbahaya. Film yang ringan, klise, atau bahkan dangkal juga tidak serta merta merusak. Sebaliknya, film yang kritis justru bisa dianggap tidak layak karena mengganggu kenyamanan. Entah kenyamanan siapa.

Di titik ini, kontrol berubah menjadi ilusi solusi. Ia tampak menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya hanya memindahkannya ke ruang yang lebih tersembunyi.  Kita bisa saja merasa berhasil menyaring konten, tetapi jangan-jangan justeru gagal membentuk kesadaran.

Penonton sebagai Subjek, Bukan Konsumen

Jika, katakanlah, kontrol bukan jawaban utama, maka kita perlu menggeser fokus. Dari film ke penonton. Dari produksi ke konsumsi, artiya dari apa yang ditampilkan ke bagaimana ia diterima.  Di sini, pemikiran Marshall McLuhan menjadi relevan. Bahwa  medium bukan sekadar alat, tetapi membentuk cara kita memahami dunia sekitar kita. Film tidak hanya membagi dan memberi cerita, tetapi juga membentuk persepsi.

Masalahnya, kita sering bertindak sebagai penonton yang pasif. Kita menerima tanpa bertanya, menikmati tanpa memahami, terhanyut tanpa jarak.  Ya kadang memang begitu, masa iya nonton film harus berpikir lagi. Namun begitu sebenarnya menonton seharusnya adalah aktivitas intelektual. Tentu bukan dalam artian harus selalu serius atau berat, tetapi dalam arti sadar. Sadar bahwa setiap adegan adalah konstruksi. Sadar bahwa setiap narasi membawa sudut pandang dan apa yang kita lihat tidak pernah sepenuhnya netral.

Ketika kesadaran ini tidak ada, maka kita menjadi mudah dipengaruhi. Kita menganggap apa yang sering muncul sebagai sesuatu yang normal. Demikianjuga penonton lain, yang akan menyerap nilai tanpa filter. Kita semua sekedar menjadi konsumen, bukan subjek. Dan di situlah letak ketidak-sehatan itu.

Cara Menonton yang Sehat

Dalam benak saya cara menonton yang sehat bukan berarti melulu hanya memilih film berkualitas tinggi, film festival, atau film yang penuh simbol filosofis. Itu justru bisa menjadi bentuk baru dari eksklusivitas.  Tidak membuat kita menjadi utuh. Cara menonton yang sehat adalah cara menonton yang reflektif.

Kita bisa saja menonton film ringan, komedi, atau drama populer. Tetapi kita tidak berhenti di sana. Kita bisa sadar  kenapa ini lucu, kenapa ini menyentuh, bahkan lebih lanjut mempertanyakan nilai apa yang sedang dimainkan. Pertanyaan-pertanyaan kecil ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki dampak besar. Ia menciptakan jarak sepatutnya antara kita dan film yang akan mencegah kita larut sepenuhnya. Jadi jarak ini yang memberi ruang untuk berpikir.

Dan ketika kebiasaan ini tumbuh, sesuatu yang menarik bisa terjadi. Seperti selera yang berubah, sehingga penonton tidak lagi puas dengan cerita yang itu-itu saja. Mereka mulai menuntut variasi, kedalaman, dan kejujuran. Niscaya, Industri pun perlahan mengikuti.  Karena pada akhirnya, sebenanrnya pasar tidak pernah benar-benar memimpin, melainkan hanya selalu merespons.

Dari Sensor ke Kesadaran

Maka mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak sensor atau larangan, tetapi lebih banyak kesadaran yang lahir dari dialog.  Film tidak perlu dijaga seperti anak kecil yang harus disterilkan dari segala risiko. Namun justru penontonlah yang perlu dikuatkan agar mampu menghadapi keragaman itu. 

Anggaplah bahwa film menjadi guru bangsa, karena film bisa mengajari dan memengaruhi masyarakat dalam banyak hal, maka kita tidak bisa hanya berharap pada kualitas film. Kita juga harus memperbaiki kualitas muridnya. Penonton yang sehat tidak lahir dari pembatasan, tetapi dari pembiasaan. Dari diskusi, dari kritik, dari keberanian untuk tidak sekadar menerima. 

Maka, Hari Film Nasional semestinya tidak hanya menjadi perayaan bagi sineas. Ia juga menjadi momen refleksi bagi penonton. Karena, dari pengalaman pribadi saya, selama kita masih menonton tanpa berpikir, selama itu pula kita akan terus mengulang keluhan yang sama. Filmnya buruk, ceritanya dangkal, dan kualitasnya rendah.  Karena industri berpikir penonton memang maunya yang itu-itu saja. Padahal, bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan industri, melainkan cara kita melihatnya. Mari menonton film Indonesia. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaHari Film Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Next Post

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co