15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangsa Ini Bukan Kekurangan Film Bagus

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Sidang pembaca yang budiman, tangal 30 Maret adalah peringatan Hari Film Nasional. Nanti bisa jadi akan kita lihat kemunculan satu kebiasaan lama, biasanya dari para kritikus, yaitu mengeluh. Film Indonesia dianggap dangkal, terlalu komersial, bahkan miskin gagasan.

Katanya narasinya berulang, humornya receh, dramanya lebay. Kritik ini kebanyakan terdengar tajam, tetapi sering kali bermuka dua. Karena realitanya, diam-diam, film-film yang kita kritik itulah yang paling banyak kita tonton.

Kalau memang demikian apakah benar kita kekurangan film bagus, atau justru kita kekurangan cara menonton yang sehat? Maksud saya di sini dengan sehat adalah dengan kesadaran, ada daya kritis dan tidak miskin literasi.  Sebagai penikmat film Indonesia, saya sudah merasa senang dengan film kita. Mau yang adaptasi seperti Panggil Aku Ayah, atau film dengan time loop seperti Sore. Semuanya saya nikmati agar tetap waras saja.

Maka dari itu sepertinya kita tidak bisa lagi untuk terlalu mudah menyalahkan film, seolah-olah film berdiri sendiri sebagai objek yang netral. Padahal film tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu berhadapan dengan penonton yang punya selera, kebiasaan, dan cara berpikir tertentu.  Misal toh ada film buruk yang bisa bertahan lama, itu bukan karena ia kuat dari sononya, tetapi karena ia terus diberi makan oleh penonton yang terlarut, dan tidak pernah benar-benar menuntut sesuatu yang lebih.  Macam saya ini.

Industri Budaya dan Selera yang Diproduksi

Di titik ini, kita bisa meminjam kegelisahan Theodor Adorno, yang melihat film bukan sekadar karya seni, tetapi bagian dari “industri budaya”, sebuah sistem yang memproduksi hiburan secara massal untuk menjaga masyarakat tetap nyaman, tetapi tidak kritis.  Film dalam logika ini tidak perlu mendalam atau berbobot. Ia hanya perlu cukup menarik agar ditonton, cukup familiar agar tidak membingungkan, dan cukup emosional agar bisa mengukir kuat kesan sesaat. 

Resep ini banyak berhasil, dan hasilnya adalah repetisi.  Cerita yang itu-itu saja, konflik yang mudah ditebak, karakter yang stereotipikal. Bukan karena para sineas tidak mampu untuk mengulik lebih jauh, tetapi karena sistem tidak memberi insentif untuk itu. Apalagi bicara soal film sebagai industri, apa yang bikin untung akan dijual.  Dalam logika pasar tidak perlu kedalaman, karena pasar menghargai keterulangan. Repeating order, yang berarti akan menghasikan cuan.

Namun Adorno tidak berhenti di situ. Ia juga secara implisit menunjukkan bahwa industri ini sebenarnya tidak akan bisa berjalan tanpa adanya partisipasi penonton. Artinya, penonton tidak sepenuhnya adalah sebagai korban, karena di sisi lain penonton juga ikut memproduksi kondisi ini.

Kontrol sebagai Solusi atau Ilusi?

Di tengah kegelisahan itu, muncul gagasan yang tampaknya masuk akal yaitu perlu adanya kontrol. Jika film seperti makanan, maka negara perlu hadir sebagai ahli gizi yang memastikan apa yang dikonsumsi masyarakat agar tidak merusak kesehatan budaya.  Di Indonesia, peran ini dijalankan oleh lembaga sensor. Ia bertugas menyaring konten agar tidak melanggar norma. Sekilas, ini terlihat seperti mekanisme perlindungan.  Tetapi di sinilah kita perlu injak rem sejenak.

Apakah betul bahwa kualitas bisa disensor? Michel Foucault mengingatkan bahwa setiap bentuk kontrol tidak pernah netral. Ia selalu membawa kepentingan, selalu terkait dengan kekuasaan. Ketika negara menentukan mana yang layak dan mana yang tidak, kita tidak hanya berbicara tentang moralitas, tetapi juga tentang siapa yang berhak mendefinisikan kebenaran.

Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika film buruk tidak selalu berarti film berbahaya. Film yang ringan, klise, atau bahkan dangkal juga tidak serta merta merusak. Sebaliknya, film yang kritis justru bisa dianggap tidak layak karena mengganggu kenyamanan. Entah kenyamanan siapa.

Di titik ini, kontrol berubah menjadi ilusi solusi. Ia tampak menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya hanya memindahkannya ke ruang yang lebih tersembunyi.  Kita bisa saja merasa berhasil menyaring konten, tetapi jangan-jangan justeru gagal membentuk kesadaran.

Penonton sebagai Subjek, Bukan Konsumen

Jika, katakanlah, kontrol bukan jawaban utama, maka kita perlu menggeser fokus. Dari film ke penonton. Dari produksi ke konsumsi, artiya dari apa yang ditampilkan ke bagaimana ia diterima.  Di sini, pemikiran Marshall McLuhan menjadi relevan. Bahwa  medium bukan sekadar alat, tetapi membentuk cara kita memahami dunia sekitar kita. Film tidak hanya membagi dan memberi cerita, tetapi juga membentuk persepsi.

Masalahnya, kita sering bertindak sebagai penonton yang pasif. Kita menerima tanpa bertanya, menikmati tanpa memahami, terhanyut tanpa jarak.  Ya kadang memang begitu, masa iya nonton film harus berpikir lagi. Namun begitu sebenarnya menonton seharusnya adalah aktivitas intelektual. Tentu bukan dalam artian harus selalu serius atau berat, tetapi dalam arti sadar. Sadar bahwa setiap adegan adalah konstruksi. Sadar bahwa setiap narasi membawa sudut pandang dan apa yang kita lihat tidak pernah sepenuhnya netral.

Ketika kesadaran ini tidak ada, maka kita menjadi mudah dipengaruhi. Kita menganggap apa yang sering muncul sebagai sesuatu yang normal. Demikianjuga penonton lain, yang akan menyerap nilai tanpa filter. Kita semua sekedar menjadi konsumen, bukan subjek. Dan di situlah letak ketidak-sehatan itu.

Cara Menonton yang Sehat

Dalam benak saya cara menonton yang sehat bukan berarti melulu hanya memilih film berkualitas tinggi, film festival, atau film yang penuh simbol filosofis. Itu justru bisa menjadi bentuk baru dari eksklusivitas.  Tidak membuat kita menjadi utuh. Cara menonton yang sehat adalah cara menonton yang reflektif.

Kita bisa saja menonton film ringan, komedi, atau drama populer. Tetapi kita tidak berhenti di sana. Kita bisa sadar  kenapa ini lucu, kenapa ini menyentuh, bahkan lebih lanjut mempertanyakan nilai apa yang sedang dimainkan. Pertanyaan-pertanyaan kecil ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki dampak besar. Ia menciptakan jarak sepatutnya antara kita dan film yang akan mencegah kita larut sepenuhnya. Jadi jarak ini yang memberi ruang untuk berpikir.

Dan ketika kebiasaan ini tumbuh, sesuatu yang menarik bisa terjadi. Seperti selera yang berubah, sehingga penonton tidak lagi puas dengan cerita yang itu-itu saja. Mereka mulai menuntut variasi, kedalaman, dan kejujuran. Niscaya, Industri pun perlahan mengikuti.  Karena pada akhirnya, sebenanrnya pasar tidak pernah benar-benar memimpin, melainkan hanya selalu merespons.

Dari Sensor ke Kesadaran

Maka mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak sensor atau larangan, tetapi lebih banyak kesadaran yang lahir dari dialog.  Film tidak perlu dijaga seperti anak kecil yang harus disterilkan dari segala risiko. Namun justru penontonlah yang perlu dikuatkan agar mampu menghadapi keragaman itu. 

Anggaplah bahwa film menjadi guru bangsa, karena film bisa mengajari dan memengaruhi masyarakat dalam banyak hal, maka kita tidak bisa hanya berharap pada kualitas film. Kita juga harus memperbaiki kualitas muridnya. Penonton yang sehat tidak lahir dari pembatasan, tetapi dari pembiasaan. Dari diskusi, dari kritik, dari keberanian untuk tidak sekadar menerima. 

Maka, Hari Film Nasional semestinya tidak hanya menjadi perayaan bagi sineas. Ia juga menjadi momen refleksi bagi penonton. Karena, dari pengalaman pribadi saya, selama kita masih menonton tanpa berpikir, selama itu pula kita akan terus mengulang keluhan yang sama. Filmnya buruk, ceritanya dangkal, dan kualitasnya rendah.  Karena industri berpikir penonton memang maunya yang itu-itu saja. Padahal, bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan industri, melainkan cara kita melihatnya. Mari menonton film Indonesia. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaHari Film Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Next Post

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co