25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangsa Ini Bukan Kekurangan Film Bagus

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Sidang pembaca yang budiman, tangal 30 Maret adalah peringatan Hari Film Nasional. Nanti bisa jadi akan kita lihat kemunculan satu kebiasaan lama, biasanya dari para kritikus, yaitu mengeluh. Film Indonesia dianggap dangkal, terlalu komersial, bahkan miskin gagasan.

Katanya narasinya berulang, humornya receh, dramanya lebay. Kritik ini kebanyakan terdengar tajam, tetapi sering kali bermuka dua. Karena realitanya, diam-diam, film-film yang kita kritik itulah yang paling banyak kita tonton.

Kalau memang demikian apakah benar kita kekurangan film bagus, atau justru kita kekurangan cara menonton yang sehat? Maksud saya di sini dengan sehat adalah dengan kesadaran, ada daya kritis dan tidak miskin literasi.  Sebagai penikmat film Indonesia, saya sudah merasa senang dengan film kita. Mau yang adaptasi seperti Panggil Aku Ayah, atau film dengan time loop seperti Sore. Semuanya saya nikmati agar tetap waras saja.

Maka dari itu sepertinya kita tidak bisa lagi untuk terlalu mudah menyalahkan film, seolah-olah film berdiri sendiri sebagai objek yang netral. Padahal film tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu berhadapan dengan penonton yang punya selera, kebiasaan, dan cara berpikir tertentu.  Misal toh ada film buruk yang bisa bertahan lama, itu bukan karena ia kuat dari sononya, tetapi karena ia terus diberi makan oleh penonton yang terlarut, dan tidak pernah benar-benar menuntut sesuatu yang lebih.  Macam saya ini.

Industri Budaya dan Selera yang Diproduksi

Di titik ini, kita bisa meminjam kegelisahan Theodor Adorno, yang melihat film bukan sekadar karya seni, tetapi bagian dari “industri budaya”, sebuah sistem yang memproduksi hiburan secara massal untuk menjaga masyarakat tetap nyaman, tetapi tidak kritis.  Film dalam logika ini tidak perlu mendalam atau berbobot. Ia hanya perlu cukup menarik agar ditonton, cukup familiar agar tidak membingungkan, dan cukup emosional agar bisa mengukir kuat kesan sesaat. 

Resep ini banyak berhasil, dan hasilnya adalah repetisi.  Cerita yang itu-itu saja, konflik yang mudah ditebak, karakter yang stereotipikal. Bukan karena para sineas tidak mampu untuk mengulik lebih jauh, tetapi karena sistem tidak memberi insentif untuk itu. Apalagi bicara soal film sebagai industri, apa yang bikin untung akan dijual.  Dalam logika pasar tidak perlu kedalaman, karena pasar menghargai keterulangan. Repeating order, yang berarti akan menghasikan cuan.

Namun Adorno tidak berhenti di situ. Ia juga secara implisit menunjukkan bahwa industri ini sebenarnya tidak akan bisa berjalan tanpa adanya partisipasi penonton. Artinya, penonton tidak sepenuhnya adalah sebagai korban, karena di sisi lain penonton juga ikut memproduksi kondisi ini.

Kontrol sebagai Solusi atau Ilusi?

Di tengah kegelisahan itu, muncul gagasan yang tampaknya masuk akal yaitu perlu adanya kontrol. Jika film seperti makanan, maka negara perlu hadir sebagai ahli gizi yang memastikan apa yang dikonsumsi masyarakat agar tidak merusak kesehatan budaya.  Di Indonesia, peran ini dijalankan oleh lembaga sensor. Ia bertugas menyaring konten agar tidak melanggar norma. Sekilas, ini terlihat seperti mekanisme perlindungan.  Tetapi di sinilah kita perlu injak rem sejenak.

Apakah betul bahwa kualitas bisa disensor? Michel Foucault mengingatkan bahwa setiap bentuk kontrol tidak pernah netral. Ia selalu membawa kepentingan, selalu terkait dengan kekuasaan. Ketika negara menentukan mana yang layak dan mana yang tidak, kita tidak hanya berbicara tentang moralitas, tetapi juga tentang siapa yang berhak mendefinisikan kebenaran.

Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika film buruk tidak selalu berarti film berbahaya. Film yang ringan, klise, atau bahkan dangkal juga tidak serta merta merusak. Sebaliknya, film yang kritis justru bisa dianggap tidak layak karena mengganggu kenyamanan. Entah kenyamanan siapa.

Di titik ini, kontrol berubah menjadi ilusi solusi. Ia tampak menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya hanya memindahkannya ke ruang yang lebih tersembunyi.  Kita bisa saja merasa berhasil menyaring konten, tetapi jangan-jangan justeru gagal membentuk kesadaran.

Penonton sebagai Subjek, Bukan Konsumen

Jika, katakanlah, kontrol bukan jawaban utama, maka kita perlu menggeser fokus. Dari film ke penonton. Dari produksi ke konsumsi, artiya dari apa yang ditampilkan ke bagaimana ia diterima.  Di sini, pemikiran Marshall McLuhan menjadi relevan. Bahwa  medium bukan sekadar alat, tetapi membentuk cara kita memahami dunia sekitar kita. Film tidak hanya membagi dan memberi cerita, tetapi juga membentuk persepsi.

Masalahnya, kita sering bertindak sebagai penonton yang pasif. Kita menerima tanpa bertanya, menikmati tanpa memahami, terhanyut tanpa jarak.  Ya kadang memang begitu, masa iya nonton film harus berpikir lagi. Namun begitu sebenarnya menonton seharusnya adalah aktivitas intelektual. Tentu bukan dalam artian harus selalu serius atau berat, tetapi dalam arti sadar. Sadar bahwa setiap adegan adalah konstruksi. Sadar bahwa setiap narasi membawa sudut pandang dan apa yang kita lihat tidak pernah sepenuhnya netral.

Ketika kesadaran ini tidak ada, maka kita menjadi mudah dipengaruhi. Kita menganggap apa yang sering muncul sebagai sesuatu yang normal. Demikianjuga penonton lain, yang akan menyerap nilai tanpa filter. Kita semua sekedar menjadi konsumen, bukan subjek. Dan di situlah letak ketidak-sehatan itu.

Cara Menonton yang Sehat

Dalam benak saya cara menonton yang sehat bukan berarti melulu hanya memilih film berkualitas tinggi, film festival, atau film yang penuh simbol filosofis. Itu justru bisa menjadi bentuk baru dari eksklusivitas.  Tidak membuat kita menjadi utuh. Cara menonton yang sehat adalah cara menonton yang reflektif.

Kita bisa saja menonton film ringan, komedi, atau drama populer. Tetapi kita tidak berhenti di sana. Kita bisa sadar  kenapa ini lucu, kenapa ini menyentuh, bahkan lebih lanjut mempertanyakan nilai apa yang sedang dimainkan. Pertanyaan-pertanyaan kecil ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki dampak besar. Ia menciptakan jarak sepatutnya antara kita dan film yang akan mencegah kita larut sepenuhnya. Jadi jarak ini yang memberi ruang untuk berpikir.

Dan ketika kebiasaan ini tumbuh, sesuatu yang menarik bisa terjadi. Seperti selera yang berubah, sehingga penonton tidak lagi puas dengan cerita yang itu-itu saja. Mereka mulai menuntut variasi, kedalaman, dan kejujuran. Niscaya, Industri pun perlahan mengikuti.  Karena pada akhirnya, sebenanrnya pasar tidak pernah benar-benar memimpin, melainkan hanya selalu merespons.

Dari Sensor ke Kesadaran

Maka mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak sensor atau larangan, tetapi lebih banyak kesadaran yang lahir dari dialog.  Film tidak perlu dijaga seperti anak kecil yang harus disterilkan dari segala risiko. Namun justru penontonlah yang perlu dikuatkan agar mampu menghadapi keragaman itu. 

Anggaplah bahwa film menjadi guru bangsa, karena film bisa mengajari dan memengaruhi masyarakat dalam banyak hal, maka kita tidak bisa hanya berharap pada kualitas film. Kita juga harus memperbaiki kualitas muridnya. Penonton yang sehat tidak lahir dari pembatasan, tetapi dari pembiasaan. Dari diskusi, dari kritik, dari keberanian untuk tidak sekadar menerima. 

Maka, Hari Film Nasional semestinya tidak hanya menjadi perayaan bagi sineas. Ia juga menjadi momen refleksi bagi penonton. Karena, dari pengalaman pribadi saya, selama kita masih menonton tanpa berpikir, selama itu pula kita akan terus mengulang keluhan yang sama. Filmnya buruk, ceritanya dangkal, dan kualitasnya rendah.  Karena industri berpikir penonton memang maunya yang itu-itu saja. Padahal, bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan industri, melainkan cara kita melihatnya. Mari menonton film Indonesia. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaHari Film Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Next Post

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post
5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co