24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangsa Ini Bukan Kekurangan Film Bagus

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Sidang pembaca yang budiman, tangal 30 Maret adalah peringatan Hari Film Nasional. Nanti bisa jadi akan kita lihat kemunculan satu kebiasaan lama, biasanya dari para kritikus, yaitu mengeluh. Film Indonesia dianggap dangkal, terlalu komersial, bahkan miskin gagasan.

Katanya narasinya berulang, humornya receh, dramanya lebay. Kritik ini kebanyakan terdengar tajam, tetapi sering kali bermuka dua. Karena realitanya, diam-diam, film-film yang kita kritik itulah yang paling banyak kita tonton.

Kalau memang demikian apakah benar kita kekurangan film bagus, atau justru kita kekurangan cara menonton yang sehat? Maksud saya di sini dengan sehat adalah dengan kesadaran, ada daya kritis dan tidak miskin literasi.  Sebagai penikmat film Indonesia, saya sudah merasa senang dengan film kita. Mau yang adaptasi seperti Panggil Aku Ayah, atau film dengan time loop seperti Sore. Semuanya saya nikmati agar tetap waras saja.

Maka dari itu sepertinya kita tidak bisa lagi untuk terlalu mudah menyalahkan film, seolah-olah film berdiri sendiri sebagai objek yang netral. Padahal film tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu berhadapan dengan penonton yang punya selera, kebiasaan, dan cara berpikir tertentu.  Misal toh ada film buruk yang bisa bertahan lama, itu bukan karena ia kuat dari sononya, tetapi karena ia terus diberi makan oleh penonton yang terlarut, dan tidak pernah benar-benar menuntut sesuatu yang lebih.  Macam saya ini.

Industri Budaya dan Selera yang Diproduksi

Di titik ini, kita bisa meminjam kegelisahan Theodor Adorno, yang melihat film bukan sekadar karya seni, tetapi bagian dari “industri budaya”, sebuah sistem yang memproduksi hiburan secara massal untuk menjaga masyarakat tetap nyaman, tetapi tidak kritis.  Film dalam logika ini tidak perlu mendalam atau berbobot. Ia hanya perlu cukup menarik agar ditonton, cukup familiar agar tidak membingungkan, dan cukup emosional agar bisa mengukir kuat kesan sesaat. 

Resep ini banyak berhasil, dan hasilnya adalah repetisi.  Cerita yang itu-itu saja, konflik yang mudah ditebak, karakter yang stereotipikal. Bukan karena para sineas tidak mampu untuk mengulik lebih jauh, tetapi karena sistem tidak memberi insentif untuk itu. Apalagi bicara soal film sebagai industri, apa yang bikin untung akan dijual.  Dalam logika pasar tidak perlu kedalaman, karena pasar menghargai keterulangan. Repeating order, yang berarti akan menghasikan cuan.

Namun Adorno tidak berhenti di situ. Ia juga secara implisit menunjukkan bahwa industri ini sebenarnya tidak akan bisa berjalan tanpa adanya partisipasi penonton. Artinya, penonton tidak sepenuhnya adalah sebagai korban, karena di sisi lain penonton juga ikut memproduksi kondisi ini.

Kontrol sebagai Solusi atau Ilusi?

Di tengah kegelisahan itu, muncul gagasan yang tampaknya masuk akal yaitu perlu adanya kontrol. Jika film seperti makanan, maka negara perlu hadir sebagai ahli gizi yang memastikan apa yang dikonsumsi masyarakat agar tidak merusak kesehatan budaya.  Di Indonesia, peran ini dijalankan oleh lembaga sensor. Ia bertugas menyaring konten agar tidak melanggar norma. Sekilas, ini terlihat seperti mekanisme perlindungan.  Tetapi di sinilah kita perlu injak rem sejenak.

Apakah betul bahwa kualitas bisa disensor? Michel Foucault mengingatkan bahwa setiap bentuk kontrol tidak pernah netral. Ia selalu membawa kepentingan, selalu terkait dengan kekuasaan. Ketika negara menentukan mana yang layak dan mana yang tidak, kita tidak hanya berbicara tentang moralitas, tetapi juga tentang siapa yang berhak mendefinisikan kebenaran.

Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika film buruk tidak selalu berarti film berbahaya. Film yang ringan, klise, atau bahkan dangkal juga tidak serta merta merusak. Sebaliknya, film yang kritis justru bisa dianggap tidak layak karena mengganggu kenyamanan. Entah kenyamanan siapa.

Di titik ini, kontrol berubah menjadi ilusi solusi. Ia tampak menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya hanya memindahkannya ke ruang yang lebih tersembunyi.  Kita bisa saja merasa berhasil menyaring konten, tetapi jangan-jangan justeru gagal membentuk kesadaran.

Penonton sebagai Subjek, Bukan Konsumen

Jika, katakanlah, kontrol bukan jawaban utama, maka kita perlu menggeser fokus. Dari film ke penonton. Dari produksi ke konsumsi, artiya dari apa yang ditampilkan ke bagaimana ia diterima.  Di sini, pemikiran Marshall McLuhan menjadi relevan. Bahwa  medium bukan sekadar alat, tetapi membentuk cara kita memahami dunia sekitar kita. Film tidak hanya membagi dan memberi cerita, tetapi juga membentuk persepsi.

Masalahnya, kita sering bertindak sebagai penonton yang pasif. Kita menerima tanpa bertanya, menikmati tanpa memahami, terhanyut tanpa jarak.  Ya kadang memang begitu, masa iya nonton film harus berpikir lagi. Namun begitu sebenarnya menonton seharusnya adalah aktivitas intelektual. Tentu bukan dalam artian harus selalu serius atau berat, tetapi dalam arti sadar. Sadar bahwa setiap adegan adalah konstruksi. Sadar bahwa setiap narasi membawa sudut pandang dan apa yang kita lihat tidak pernah sepenuhnya netral.

Ketika kesadaran ini tidak ada, maka kita menjadi mudah dipengaruhi. Kita menganggap apa yang sering muncul sebagai sesuatu yang normal. Demikianjuga penonton lain, yang akan menyerap nilai tanpa filter. Kita semua sekedar menjadi konsumen, bukan subjek. Dan di situlah letak ketidak-sehatan itu.

Cara Menonton yang Sehat

Dalam benak saya cara menonton yang sehat bukan berarti melulu hanya memilih film berkualitas tinggi, film festival, atau film yang penuh simbol filosofis. Itu justru bisa menjadi bentuk baru dari eksklusivitas.  Tidak membuat kita menjadi utuh. Cara menonton yang sehat adalah cara menonton yang reflektif.

Kita bisa saja menonton film ringan, komedi, atau drama populer. Tetapi kita tidak berhenti di sana. Kita bisa sadar  kenapa ini lucu, kenapa ini menyentuh, bahkan lebih lanjut mempertanyakan nilai apa yang sedang dimainkan. Pertanyaan-pertanyaan kecil ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki dampak besar. Ia menciptakan jarak sepatutnya antara kita dan film yang akan mencegah kita larut sepenuhnya. Jadi jarak ini yang memberi ruang untuk berpikir.

Dan ketika kebiasaan ini tumbuh, sesuatu yang menarik bisa terjadi. Seperti selera yang berubah, sehingga penonton tidak lagi puas dengan cerita yang itu-itu saja. Mereka mulai menuntut variasi, kedalaman, dan kejujuran. Niscaya, Industri pun perlahan mengikuti.  Karena pada akhirnya, sebenanrnya pasar tidak pernah benar-benar memimpin, melainkan hanya selalu merespons.

Dari Sensor ke Kesadaran

Maka mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak sensor atau larangan, tetapi lebih banyak kesadaran yang lahir dari dialog.  Film tidak perlu dijaga seperti anak kecil yang harus disterilkan dari segala risiko. Namun justru penontonlah yang perlu dikuatkan agar mampu menghadapi keragaman itu. 

Anggaplah bahwa film menjadi guru bangsa, karena film bisa mengajari dan memengaruhi masyarakat dalam banyak hal, maka kita tidak bisa hanya berharap pada kualitas film. Kita juga harus memperbaiki kualitas muridnya. Penonton yang sehat tidak lahir dari pembatasan, tetapi dari pembiasaan. Dari diskusi, dari kritik, dari keberanian untuk tidak sekadar menerima. 

Maka, Hari Film Nasional semestinya tidak hanya menjadi perayaan bagi sineas. Ia juga menjadi momen refleksi bagi penonton. Karena, dari pengalaman pribadi saya, selama kita masih menonton tanpa berpikir, selama itu pula kita akan terus mengulang keluhan yang sama. Filmnya buruk, ceritanya dangkal, dan kualitasnya rendah.  Karena industri berpikir penonton memang maunya yang itu-itu saja. Padahal, bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan industri, melainkan cara kita melihatnya. Mari menonton film Indonesia. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaHari Film Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

Next Post

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

5 Keuntungan Mengubah Footage Drone Menjadi Visual Travel Sinematik 4K

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co