25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Rawan Pariwisata Bali

Chusmeru by Chusmeru
March 29, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

HARUS diakui, Bali adalah sebuah pulau yang kecil. Namun ia terus dipacu untuk menjadi besar. Bali dipaksa menjadi penyumbang devisa negara. Bali terus bergincu untuk menjadi primadona pariwisata. Akankah Bali mempesona atau berakhir merana?

Sebagai pulau di tengah Nusantara, Bali sudah sejak lama diprediksi akan menjadi destinasi wisata dunia. Di masa lalu Bali merupakan tujuan wisata yang aman dan nyaman. Pantainya bersih dan indah. Penduduknya ramah, tradisi dan budayanya menawan.

Kondisi Bali yang didamba wisatawan tidak bertahan lama. Awal tahun 2000-an Bali mulai berubah. Bukan hanya sebagai tujuan wisata, Bali juga menjadi ladang bisnis, sumber penghidupan, lahan kejahatan, bahkan menjadi sasaran terorisme. Pariwisata Bali mulai rawan.

Titik rawan pariwisata Bali utamanya dirasakan di seputar Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Perlahan tapi pasti, beragam masalah mulai muncul di Sarbagita. Dampaknya bukan hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga penduduk setempat.

Meski menyimpan titik rawan, pemerintah pusat tetap mendorong Bali menjadi ikon pariwisata Indonesia. Siapa pun yang menjadi menteri pariwisata, selalu menjadikan Bali sebagai kiblat pengembangan pariwisata Indonesia. Tanpa disadari, tiba saatnya Bali menumpuk masalahnya sendiri. Masyarakat yang tak terkait dengan pariwisata pun harus ikut menanggung beban dampak buruk pariwisata.

Secara garis besar, titik rawan pariwisata Bali disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor kepadatan manusia. Kedua, faktor kepadatan bangunan. Bali kian padat, bukan hanya oleh wisatawan yang datang tetapi juga oleh banyaknya infrastruktur pariwisata yang memadati hampir semua destinasi.

Kepadatan Manusia

Titik rawan pariwisata Bali berawal dari kepadatan manusianya. Bali yang lengang dan tenang hanya tinggal cerita. Kini Bali sudah pengap oleh hiruk-pikuk manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, luas daratan Pulau Dewata ini sebesar 5.780,06 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 4,32 juta jiwa sesuai hasil sensus penduduk tahun 2020.

Jumlah penduduk Bali yang terus meningkat setiap tahun dibarengi dengan kunjungan wisatawan yang juga selalu bertambah. Untuk tahun 2025, berdasarkan data BPS Bali kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 6,9 juta. Sedangkan wisatawan nusantara sejumlah 26,6 juta. Dapat dibayangkan, provinsi dan pulau kecil yang setara dengan sekitar 0,29% dari total luas daratan Indonesia itu dipadati oleh jutaan manusia.

Tentu saja kepadatan manusia di Bali memunculkan titik rawan dalam banyak hal. Kemacetan lalu lintas kini menjadi pemandangan sehari-hari di Sarbagita. Jarak tempuh antara objek wisata yang satu dengan lainnya menjadi lebih lama, padahal tidak terlalu jauh. Kemacetan ini dipicu oleh bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Bali.

Kemacetan yang ditemui di jalanan setiap hari akan menimbulkan stres sosial. Orang tidak nyaman berada di jalan yang macet. Yang terjadi adalah kesemerawutan dan pelanggaran lalu lintas. Suara klakson mobil dan sepeda motor bersautan antara wisatawan dan masyarakat di tengah jalanan yang macet.

Persoalan sampah menjadi ancaman bagi pariwisata Bali. Jumlah penduduk yang setiap tahun bertambah tidak dibarengi dengan pengelolaan sampah yang baik. Akibatnya Bali dikepung oleh sampah, dan hingga kini belum ada kebijakan yang solutif untuk mengatasi sampah, khususnya di Denpasar dan Badung.

Kunjungan wisatawan mancanegara yang nyaris menembus 7 juta orang itu juga berdampak pada perilaku agresif. Apalagi hingga kini tidak pernah ada mekanisme seleksi turis asing yang masuk ke Bali. Wisatawan mulai banyak yang berulah. Sesama bule berkelahi di Bali. Ada pula pula sekelompok turis mengeroyok sekuriti sebuah tempat hiburan. Bahkan wisatawan mulai berani menantang pecalang (perangkat adat di Bali).

Berjubelnya manusia di satu tempat yang kecil memang berpotensi menimbulkan konflik sosial, baik antara masyarakat setempat dengan pendatang maupun di antara wisatawan. Konflik sosial bisa berupa ketidaksukaan wisatawan terhadap perilaku penduduk setempat atau sebaliknya. Hal itu terjadi di Bali ketika beberapa turis asing membuat petisi karena terganggu suara kokok ayam di Jimbaran maupun turis yang protes karena tergangu oleh tetabuhan joged bumbung hingga malam di Mengwi, Badung.

Potensi konflik sosial dan ekonomi juga berpeluang terjadi di Bali, ketika sektor pariwisata menjadi ladang bisnis yang semakin terbuka. Ojek online di kawasan wisata kini banyak digeluti oleh pendatang dari luar Bali. Diduga, banyak pula akomodasi ilegal yang dikelola orang asing. Bahkan wisatawan mancanegara sudah merambah kepada profesi pemandu wisata, yang tentu saja ilegal.

Titik rawan yang mulai dirasakan Bali seiring kepadatan manusia adalah faktor keamanan, baik bagi masyarakat maupun wisatawan. Tindak kriminalitas kerap terjadi. Pencurian dan peredaran narkoba kian marak. Yang mengkhawatirkan, beberapa wisatawan asing menjadi korban pemerkosaan. Selain berkurangnya rasa aman, ini semua mencoreng citra pariwisata Bali. Perlu ada jaminan keamanan dari pemerintah kepada wisatawan.

Kepadatan Bangunan

Bukan hanya oleh penduduk dan wisatawan, Bali juga dipadati dan dikepung oleh bangunan. Setiap pembukaan objek wisata baru sudah pasti akan dibarengi dengan pembangunan sarana akomodasi dan amenitas lain. Konsekuensi kepadatan bangunan akan menimbulkan berbagai ekses, baik yang positif maupun negatif.

Kepadatan bangunan yang ditandai dengan menjamurnya hotel, vila, restoran, warung makan, kafe, kios cinderamata, dan bangunan lain memang memberi banyak peluang kerja. Perputaran uang dan pendapatan di daerah juga meningkat. Namun kepadatan bangunan mengorbankan lahan-lahan produktif. Kepadatan bangunan yang tidak direncanakan dengan baik juga akan menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Tentu saja kepadatan bangunan menjadi salah satu titik rawan pariwisata Bali. Apalagi bila tidak didukung oleh manajemen transportasi yang baik, kemacetan sudah pasti akan terjadi. Kepadatan bangunan amenitas pariwisata maupun pemukiman penduduk akan memicu persoalan volume sampah yang tinggi setiap hari. Hal ini akan membuat Bali mudah dilanda banjir ketika hujan deras lantaran sampah yang menumpuk, seperti banjir bandang yang terjadi pada September 2025 lalu dan banjir Februari 2026 di Denpasar, Badung, dan Tabanan.

Pantai-pantai yang selama ini menjadi andalan pariwisata Bali menghadapi kerawanan pula. Abrasi pantai sudah terjadi di Bali. Pantai Kuta, misalnya, mengalami abrasi yang serius. Puluhan meter bibir pantai sudah hilang sejak 20 tahun silam. Jika musim pasang air laut, bisa cuma sisa 2 meter sampai pedestrian (detikBali, 21/11/2024). Faktor alam memang berperan dalam abrasi. Namun ada pula yang beranggapan bahwa pembangunan perluasan bandara internasional mempercepat proses abrasi.

Kepadatan bangunan di sektor pariwisata Bali menyimpan potensi penyimpangan. Bentuk penyimpangan bermacam-macam, mulai dari pembangunan di jalur hijau, konversi hutan mangrove menjadi tempat usaha, bangunan di tebing sungai, penggunaan sempadan pantai, hingga bisnis vila ilegal. Pelanggaran dan penindakan pun hilang timbul seperti gejala penyakit maag. Ketika pemerintah diam dan mendiamkan, penyimpangan itu kian menjadi.

Solusinya tidak mudah. Titik rawan pariwisata yang disebabkan oleh kepadatan dan bangunan memerlukan kebijakan yang revolusioner, ekstrem, dan radikal. Bukan kebijakan yang biasa-biasa saja. Bukan kebijakan yang hanya mengamankan jabatan politik atau kepentingan ekonomis.

Bali perlu kebijakan ekstrem yang menyentuh hal dasar dalam mengatasi kepadatan manusia dan bangunan. Membatasi jumlah kunjungan wisatawan merupakan salah satu pilihan. Moratorium pembangunan sarana dan prasarana pariwisata menjadi pilihan lain. Jika Bali dibiarkan ugal-ugalan, cepat atau lambat akan mengalami kehancuran. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Next Post

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co