4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Rawan Pariwisata Bali

Chusmeru by Chusmeru
March 29, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

HARUS diakui, Bali adalah sebuah pulau yang kecil. Namun ia terus dipacu untuk menjadi besar. Bali dipaksa menjadi penyumbang devisa negara. Bali terus bergincu untuk menjadi primadona pariwisata. Akankah Bali mempesona atau berakhir merana?

Sebagai pulau di tengah Nusantara, Bali sudah sejak lama diprediksi akan menjadi destinasi wisata dunia. Di masa lalu Bali merupakan tujuan wisata yang aman dan nyaman. Pantainya bersih dan indah. Penduduknya ramah, tradisi dan budayanya menawan.

Kondisi Bali yang didamba wisatawan tidak bertahan lama. Awal tahun 2000-an Bali mulai berubah. Bukan hanya sebagai tujuan wisata, Bali juga menjadi ladang bisnis, sumber penghidupan, lahan kejahatan, bahkan menjadi sasaran terorisme. Pariwisata Bali mulai rawan.

Titik rawan pariwisata Bali utamanya dirasakan di seputar Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Perlahan tapi pasti, beragam masalah mulai muncul di Sarbagita. Dampaknya bukan hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga penduduk setempat.

Meski menyimpan titik rawan, pemerintah pusat tetap mendorong Bali menjadi ikon pariwisata Indonesia. Siapa pun yang menjadi menteri pariwisata, selalu menjadikan Bali sebagai kiblat pengembangan pariwisata Indonesia. Tanpa disadari, tiba saatnya Bali menumpuk masalahnya sendiri. Masyarakat yang tak terkait dengan pariwisata pun harus ikut menanggung beban dampak buruk pariwisata.

Secara garis besar, titik rawan pariwisata Bali disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor kepadatan manusia. Kedua, faktor kepadatan bangunan. Bali kian padat, bukan hanya oleh wisatawan yang datang tetapi juga oleh banyaknya infrastruktur pariwisata yang memadati hampir semua destinasi.

Kepadatan Manusia

Titik rawan pariwisata Bali berawal dari kepadatan manusianya. Bali yang lengang dan tenang hanya tinggal cerita. Kini Bali sudah pengap oleh hiruk-pikuk manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, luas daratan Pulau Dewata ini sebesar 5.780,06 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 4,32 juta jiwa sesuai hasil sensus penduduk tahun 2020.

Jumlah penduduk Bali yang terus meningkat setiap tahun dibarengi dengan kunjungan wisatawan yang juga selalu bertambah. Untuk tahun 2025, berdasarkan data BPS Bali kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 6,9 juta. Sedangkan wisatawan nusantara sejumlah 26,6 juta. Dapat dibayangkan, provinsi dan pulau kecil yang setara dengan sekitar 0,29% dari total luas daratan Indonesia itu dipadati oleh jutaan manusia.

Tentu saja kepadatan manusia di Bali memunculkan titik rawan dalam banyak hal. Kemacetan lalu lintas kini menjadi pemandangan sehari-hari di Sarbagita. Jarak tempuh antara objek wisata yang satu dengan lainnya menjadi lebih lama, padahal tidak terlalu jauh. Kemacetan ini dipicu oleh bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Bali.

Kemacetan yang ditemui di jalanan setiap hari akan menimbulkan stres sosial. Orang tidak nyaman berada di jalan yang macet. Yang terjadi adalah kesemerawutan dan pelanggaran lalu lintas. Suara klakson mobil dan sepeda motor bersautan antara wisatawan dan masyarakat di tengah jalanan yang macet.

Persoalan sampah menjadi ancaman bagi pariwisata Bali. Jumlah penduduk yang setiap tahun bertambah tidak dibarengi dengan pengelolaan sampah yang baik. Akibatnya Bali dikepung oleh sampah, dan hingga kini belum ada kebijakan yang solutif untuk mengatasi sampah, khususnya di Denpasar dan Badung.

Kunjungan wisatawan mancanegara yang nyaris menembus 7 juta orang itu juga berdampak pada perilaku agresif. Apalagi hingga kini tidak pernah ada mekanisme seleksi turis asing yang masuk ke Bali. Wisatawan mulai banyak yang berulah. Sesama bule berkelahi di Bali. Ada pula pula sekelompok turis mengeroyok sekuriti sebuah tempat hiburan. Bahkan wisatawan mulai berani menantang pecalang (perangkat adat di Bali).

Berjubelnya manusia di satu tempat yang kecil memang berpotensi menimbulkan konflik sosial, baik antara masyarakat setempat dengan pendatang maupun di antara wisatawan. Konflik sosial bisa berupa ketidaksukaan wisatawan terhadap perilaku penduduk setempat atau sebaliknya. Hal itu terjadi di Bali ketika beberapa turis asing membuat petisi karena terganggu suara kokok ayam di Jimbaran maupun turis yang protes karena tergangu oleh tetabuhan joged bumbung hingga malam di Mengwi, Badung.

Potensi konflik sosial dan ekonomi juga berpeluang terjadi di Bali, ketika sektor pariwisata menjadi ladang bisnis yang semakin terbuka. Ojek online di kawasan wisata kini banyak digeluti oleh pendatang dari luar Bali. Diduga, banyak pula akomodasi ilegal yang dikelola orang asing. Bahkan wisatawan mancanegara sudah merambah kepada profesi pemandu wisata, yang tentu saja ilegal.

Titik rawan yang mulai dirasakan Bali seiring kepadatan manusia adalah faktor keamanan, baik bagi masyarakat maupun wisatawan. Tindak kriminalitas kerap terjadi. Pencurian dan peredaran narkoba kian marak. Yang mengkhawatirkan, beberapa wisatawan asing menjadi korban pemerkosaan. Selain berkurangnya rasa aman, ini semua mencoreng citra pariwisata Bali. Perlu ada jaminan keamanan dari pemerintah kepada wisatawan.

Kepadatan Bangunan

Bukan hanya oleh penduduk dan wisatawan, Bali juga dipadati dan dikepung oleh bangunan. Setiap pembukaan objek wisata baru sudah pasti akan dibarengi dengan pembangunan sarana akomodasi dan amenitas lain. Konsekuensi kepadatan bangunan akan menimbulkan berbagai ekses, baik yang positif maupun negatif.

Kepadatan bangunan yang ditandai dengan menjamurnya hotel, vila, restoran, warung makan, kafe, kios cinderamata, dan bangunan lain memang memberi banyak peluang kerja. Perputaran uang dan pendapatan di daerah juga meningkat. Namun kepadatan bangunan mengorbankan lahan-lahan produktif. Kepadatan bangunan yang tidak direncanakan dengan baik juga akan menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Tentu saja kepadatan bangunan menjadi salah satu titik rawan pariwisata Bali. Apalagi bila tidak didukung oleh manajemen transportasi yang baik, kemacetan sudah pasti akan terjadi. Kepadatan bangunan amenitas pariwisata maupun pemukiman penduduk akan memicu persoalan volume sampah yang tinggi setiap hari. Hal ini akan membuat Bali mudah dilanda banjir ketika hujan deras lantaran sampah yang menumpuk, seperti banjir bandang yang terjadi pada September 2025 lalu dan banjir Februari 2026 di Denpasar, Badung, dan Tabanan.

Pantai-pantai yang selama ini menjadi andalan pariwisata Bali menghadapi kerawanan pula. Abrasi pantai sudah terjadi di Bali. Pantai Kuta, misalnya, mengalami abrasi yang serius. Puluhan meter bibir pantai sudah hilang sejak 20 tahun silam. Jika musim pasang air laut, bisa cuma sisa 2 meter sampai pedestrian (detikBali, 21/11/2024). Faktor alam memang berperan dalam abrasi. Namun ada pula yang beranggapan bahwa pembangunan perluasan bandara internasional mempercepat proses abrasi.

Kepadatan bangunan di sektor pariwisata Bali menyimpan potensi penyimpangan. Bentuk penyimpangan bermacam-macam, mulai dari pembangunan di jalur hijau, konversi hutan mangrove menjadi tempat usaha, bangunan di tebing sungai, penggunaan sempadan pantai, hingga bisnis vila ilegal. Pelanggaran dan penindakan pun hilang timbul seperti gejala penyakit maag. Ketika pemerintah diam dan mendiamkan, penyimpangan itu kian menjadi.

Solusinya tidak mudah. Titik rawan pariwisata yang disebabkan oleh kepadatan dan bangunan memerlukan kebijakan yang revolusioner, ekstrem, dan radikal. Bukan kebijakan yang biasa-biasa saja. Bukan kebijakan yang hanya mengamankan jabatan politik atau kepentingan ekonomis.

Bali perlu kebijakan ekstrem yang menyentuh hal dasar dalam mengatasi kepadatan manusia dan bangunan. Membatasi jumlah kunjungan wisatawan merupakan salah satu pilihan. Moratorium pembangunan sarana dan prasarana pariwisata menjadi pilihan lain. Jika Bali dibiarkan ugal-ugalan, cepat atau lambat akan mengalami kehancuran. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Next Post

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co