14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Rawan Pariwisata Bali

Chusmeru by Chusmeru
March 29, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

HARUS diakui, Bali adalah sebuah pulau yang kecil. Namun ia terus dipacu untuk menjadi besar. Bali dipaksa menjadi penyumbang devisa negara. Bali terus bergincu untuk menjadi primadona pariwisata. Akankah Bali mempesona atau berakhir merana?

Sebagai pulau di tengah Nusantara, Bali sudah sejak lama diprediksi akan menjadi destinasi wisata dunia. Di masa lalu Bali merupakan tujuan wisata yang aman dan nyaman. Pantainya bersih dan indah. Penduduknya ramah, tradisi dan budayanya menawan.

Kondisi Bali yang didamba wisatawan tidak bertahan lama. Awal tahun 2000-an Bali mulai berubah. Bukan hanya sebagai tujuan wisata, Bali juga menjadi ladang bisnis, sumber penghidupan, lahan kejahatan, bahkan menjadi sasaran terorisme. Pariwisata Bali mulai rawan.

Titik rawan pariwisata Bali utamanya dirasakan di seputar Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Perlahan tapi pasti, beragam masalah mulai muncul di Sarbagita. Dampaknya bukan hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga penduduk setempat.

Meski menyimpan titik rawan, pemerintah pusat tetap mendorong Bali menjadi ikon pariwisata Indonesia. Siapa pun yang menjadi menteri pariwisata, selalu menjadikan Bali sebagai kiblat pengembangan pariwisata Indonesia. Tanpa disadari, tiba saatnya Bali menumpuk masalahnya sendiri. Masyarakat yang tak terkait dengan pariwisata pun harus ikut menanggung beban dampak buruk pariwisata.

Secara garis besar, titik rawan pariwisata Bali disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor kepadatan manusia. Kedua, faktor kepadatan bangunan. Bali kian padat, bukan hanya oleh wisatawan yang datang tetapi juga oleh banyaknya infrastruktur pariwisata yang memadati hampir semua destinasi.

Kepadatan Manusia

Titik rawan pariwisata Bali berawal dari kepadatan manusianya. Bali yang lengang dan tenang hanya tinggal cerita. Kini Bali sudah pengap oleh hiruk-pikuk manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, luas daratan Pulau Dewata ini sebesar 5.780,06 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 4,32 juta jiwa sesuai hasil sensus penduduk tahun 2020.

Jumlah penduduk Bali yang terus meningkat setiap tahun dibarengi dengan kunjungan wisatawan yang juga selalu bertambah. Untuk tahun 2025, berdasarkan data BPS Bali kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 6,9 juta. Sedangkan wisatawan nusantara sejumlah 26,6 juta. Dapat dibayangkan, provinsi dan pulau kecil yang setara dengan sekitar 0,29% dari total luas daratan Indonesia itu dipadati oleh jutaan manusia.

Tentu saja kepadatan manusia di Bali memunculkan titik rawan dalam banyak hal. Kemacetan lalu lintas kini menjadi pemandangan sehari-hari di Sarbagita. Jarak tempuh antara objek wisata yang satu dengan lainnya menjadi lebih lama, padahal tidak terlalu jauh. Kemacetan ini dipicu oleh bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Bali.

Kemacetan yang ditemui di jalanan setiap hari akan menimbulkan stres sosial. Orang tidak nyaman berada di jalan yang macet. Yang terjadi adalah kesemerawutan dan pelanggaran lalu lintas. Suara klakson mobil dan sepeda motor bersautan antara wisatawan dan masyarakat di tengah jalanan yang macet.

Persoalan sampah menjadi ancaman bagi pariwisata Bali. Jumlah penduduk yang setiap tahun bertambah tidak dibarengi dengan pengelolaan sampah yang baik. Akibatnya Bali dikepung oleh sampah, dan hingga kini belum ada kebijakan yang solutif untuk mengatasi sampah, khususnya di Denpasar dan Badung.

Kunjungan wisatawan mancanegara yang nyaris menembus 7 juta orang itu juga berdampak pada perilaku agresif. Apalagi hingga kini tidak pernah ada mekanisme seleksi turis asing yang masuk ke Bali. Wisatawan mulai banyak yang berulah. Sesama bule berkelahi di Bali. Ada pula pula sekelompok turis mengeroyok sekuriti sebuah tempat hiburan. Bahkan wisatawan mulai berani menantang pecalang (perangkat adat di Bali).

Berjubelnya manusia di satu tempat yang kecil memang berpotensi menimbulkan konflik sosial, baik antara masyarakat setempat dengan pendatang maupun di antara wisatawan. Konflik sosial bisa berupa ketidaksukaan wisatawan terhadap perilaku penduduk setempat atau sebaliknya. Hal itu terjadi di Bali ketika beberapa turis asing membuat petisi karena terganggu suara kokok ayam di Jimbaran maupun turis yang protes karena tergangu oleh tetabuhan joged bumbung hingga malam di Mengwi, Badung.

Potensi konflik sosial dan ekonomi juga berpeluang terjadi di Bali, ketika sektor pariwisata menjadi ladang bisnis yang semakin terbuka. Ojek online di kawasan wisata kini banyak digeluti oleh pendatang dari luar Bali. Diduga, banyak pula akomodasi ilegal yang dikelola orang asing. Bahkan wisatawan mancanegara sudah merambah kepada profesi pemandu wisata, yang tentu saja ilegal.

Titik rawan yang mulai dirasakan Bali seiring kepadatan manusia adalah faktor keamanan, baik bagi masyarakat maupun wisatawan. Tindak kriminalitas kerap terjadi. Pencurian dan peredaran narkoba kian marak. Yang mengkhawatirkan, beberapa wisatawan asing menjadi korban pemerkosaan. Selain berkurangnya rasa aman, ini semua mencoreng citra pariwisata Bali. Perlu ada jaminan keamanan dari pemerintah kepada wisatawan.

Kepadatan Bangunan

Bukan hanya oleh penduduk dan wisatawan, Bali juga dipadati dan dikepung oleh bangunan. Setiap pembukaan objek wisata baru sudah pasti akan dibarengi dengan pembangunan sarana akomodasi dan amenitas lain. Konsekuensi kepadatan bangunan akan menimbulkan berbagai ekses, baik yang positif maupun negatif.

Kepadatan bangunan yang ditandai dengan menjamurnya hotel, vila, restoran, warung makan, kafe, kios cinderamata, dan bangunan lain memang memberi banyak peluang kerja. Perputaran uang dan pendapatan di daerah juga meningkat. Namun kepadatan bangunan mengorbankan lahan-lahan produktif. Kepadatan bangunan yang tidak direncanakan dengan baik juga akan menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Tentu saja kepadatan bangunan menjadi salah satu titik rawan pariwisata Bali. Apalagi bila tidak didukung oleh manajemen transportasi yang baik, kemacetan sudah pasti akan terjadi. Kepadatan bangunan amenitas pariwisata maupun pemukiman penduduk akan memicu persoalan volume sampah yang tinggi setiap hari. Hal ini akan membuat Bali mudah dilanda banjir ketika hujan deras lantaran sampah yang menumpuk, seperti banjir bandang yang terjadi pada September 2025 lalu dan banjir Februari 2026 di Denpasar, Badung, dan Tabanan.

Pantai-pantai yang selama ini menjadi andalan pariwisata Bali menghadapi kerawanan pula. Abrasi pantai sudah terjadi di Bali. Pantai Kuta, misalnya, mengalami abrasi yang serius. Puluhan meter bibir pantai sudah hilang sejak 20 tahun silam. Jika musim pasang air laut, bisa cuma sisa 2 meter sampai pedestrian (detikBali, 21/11/2024). Faktor alam memang berperan dalam abrasi. Namun ada pula yang beranggapan bahwa pembangunan perluasan bandara internasional mempercepat proses abrasi.

Kepadatan bangunan di sektor pariwisata Bali menyimpan potensi penyimpangan. Bentuk penyimpangan bermacam-macam, mulai dari pembangunan di jalur hijau, konversi hutan mangrove menjadi tempat usaha, bangunan di tebing sungai, penggunaan sempadan pantai, hingga bisnis vila ilegal. Pelanggaran dan penindakan pun hilang timbul seperti gejala penyakit maag. Ketika pemerintah diam dan mendiamkan, penyimpangan itu kian menjadi.

Solusinya tidak mudah. Titik rawan pariwisata yang disebabkan oleh kepadatan dan bangunan memerlukan kebijakan yang revolusioner, ekstrem, dan radikal. Bukan kebijakan yang biasa-biasa saja. Bukan kebijakan yang hanya mengamankan jabatan politik atau kepentingan ekonomis.

Bali perlu kebijakan ekstrem yang menyentuh hal dasar dalam mengatasi kepadatan manusia dan bangunan. Membatasi jumlah kunjungan wisatawan merupakan salah satu pilihan. Moratorium pembangunan sarana dan prasarana pariwisata menjadi pilihan lain. Jika Bali dibiarkan ugal-ugalan, cepat atau lambat akan mengalami kehancuran. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Next Post

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co