4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Rawan Pariwisata Bali

Chusmeru by Chusmeru
March 29, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

HARUS diakui, Bali adalah sebuah pulau yang kecil. Namun ia terus dipacu untuk menjadi besar. Bali dipaksa menjadi penyumbang devisa negara. Bali terus bergincu untuk menjadi primadona pariwisata. Akankah Bali mempesona atau berakhir merana?

Sebagai pulau di tengah Nusantara, Bali sudah sejak lama diprediksi akan menjadi destinasi wisata dunia. Di masa lalu Bali merupakan tujuan wisata yang aman dan nyaman. Pantainya bersih dan indah. Penduduknya ramah, tradisi dan budayanya menawan.

Kondisi Bali yang didamba wisatawan tidak bertahan lama. Awal tahun 2000-an Bali mulai berubah. Bukan hanya sebagai tujuan wisata, Bali juga menjadi ladang bisnis, sumber penghidupan, lahan kejahatan, bahkan menjadi sasaran terorisme. Pariwisata Bali mulai rawan.

Titik rawan pariwisata Bali utamanya dirasakan di seputar Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Perlahan tapi pasti, beragam masalah mulai muncul di Sarbagita. Dampaknya bukan hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga penduduk setempat.

Meski menyimpan titik rawan, pemerintah pusat tetap mendorong Bali menjadi ikon pariwisata Indonesia. Siapa pun yang menjadi menteri pariwisata, selalu menjadikan Bali sebagai kiblat pengembangan pariwisata Indonesia. Tanpa disadari, tiba saatnya Bali menumpuk masalahnya sendiri. Masyarakat yang tak terkait dengan pariwisata pun harus ikut menanggung beban dampak buruk pariwisata.

Secara garis besar, titik rawan pariwisata Bali disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor kepadatan manusia. Kedua, faktor kepadatan bangunan. Bali kian padat, bukan hanya oleh wisatawan yang datang tetapi juga oleh banyaknya infrastruktur pariwisata yang memadati hampir semua destinasi.

Kepadatan Manusia

Titik rawan pariwisata Bali berawal dari kepadatan manusianya. Bali yang lengang dan tenang hanya tinggal cerita. Kini Bali sudah pengap oleh hiruk-pikuk manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, luas daratan Pulau Dewata ini sebesar 5.780,06 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 4,32 juta jiwa sesuai hasil sensus penduduk tahun 2020.

Jumlah penduduk Bali yang terus meningkat setiap tahun dibarengi dengan kunjungan wisatawan yang juga selalu bertambah. Untuk tahun 2025, berdasarkan data BPS Bali kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 6,9 juta. Sedangkan wisatawan nusantara sejumlah 26,6 juta. Dapat dibayangkan, provinsi dan pulau kecil yang setara dengan sekitar 0,29% dari total luas daratan Indonesia itu dipadati oleh jutaan manusia.

Tentu saja kepadatan manusia di Bali memunculkan titik rawan dalam banyak hal. Kemacetan lalu lintas kini menjadi pemandangan sehari-hari di Sarbagita. Jarak tempuh antara objek wisata yang satu dengan lainnya menjadi lebih lama, padahal tidak terlalu jauh. Kemacetan ini dipicu oleh bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Bali.

Kemacetan yang ditemui di jalanan setiap hari akan menimbulkan stres sosial. Orang tidak nyaman berada di jalan yang macet. Yang terjadi adalah kesemerawutan dan pelanggaran lalu lintas. Suara klakson mobil dan sepeda motor bersautan antara wisatawan dan masyarakat di tengah jalanan yang macet.

Persoalan sampah menjadi ancaman bagi pariwisata Bali. Jumlah penduduk yang setiap tahun bertambah tidak dibarengi dengan pengelolaan sampah yang baik. Akibatnya Bali dikepung oleh sampah, dan hingga kini belum ada kebijakan yang solutif untuk mengatasi sampah, khususnya di Denpasar dan Badung.

Kunjungan wisatawan mancanegara yang nyaris menembus 7 juta orang itu juga berdampak pada perilaku agresif. Apalagi hingga kini tidak pernah ada mekanisme seleksi turis asing yang masuk ke Bali. Wisatawan mulai banyak yang berulah. Sesama bule berkelahi di Bali. Ada pula pula sekelompok turis mengeroyok sekuriti sebuah tempat hiburan. Bahkan wisatawan mulai berani menantang pecalang (perangkat adat di Bali).

Berjubelnya manusia di satu tempat yang kecil memang berpotensi menimbulkan konflik sosial, baik antara masyarakat setempat dengan pendatang maupun di antara wisatawan. Konflik sosial bisa berupa ketidaksukaan wisatawan terhadap perilaku penduduk setempat atau sebaliknya. Hal itu terjadi di Bali ketika beberapa turis asing membuat petisi karena terganggu suara kokok ayam di Jimbaran maupun turis yang protes karena tergangu oleh tetabuhan joged bumbung hingga malam di Mengwi, Badung.

Potensi konflik sosial dan ekonomi juga berpeluang terjadi di Bali, ketika sektor pariwisata menjadi ladang bisnis yang semakin terbuka. Ojek online di kawasan wisata kini banyak digeluti oleh pendatang dari luar Bali. Diduga, banyak pula akomodasi ilegal yang dikelola orang asing. Bahkan wisatawan mancanegara sudah merambah kepada profesi pemandu wisata, yang tentu saja ilegal.

Titik rawan yang mulai dirasakan Bali seiring kepadatan manusia adalah faktor keamanan, baik bagi masyarakat maupun wisatawan. Tindak kriminalitas kerap terjadi. Pencurian dan peredaran narkoba kian marak. Yang mengkhawatirkan, beberapa wisatawan asing menjadi korban pemerkosaan. Selain berkurangnya rasa aman, ini semua mencoreng citra pariwisata Bali. Perlu ada jaminan keamanan dari pemerintah kepada wisatawan.

Kepadatan Bangunan

Bukan hanya oleh penduduk dan wisatawan, Bali juga dipadati dan dikepung oleh bangunan. Setiap pembukaan objek wisata baru sudah pasti akan dibarengi dengan pembangunan sarana akomodasi dan amenitas lain. Konsekuensi kepadatan bangunan akan menimbulkan berbagai ekses, baik yang positif maupun negatif.

Kepadatan bangunan yang ditandai dengan menjamurnya hotel, vila, restoran, warung makan, kafe, kios cinderamata, dan bangunan lain memang memberi banyak peluang kerja. Perputaran uang dan pendapatan di daerah juga meningkat. Namun kepadatan bangunan mengorbankan lahan-lahan produktif. Kepadatan bangunan yang tidak direncanakan dengan baik juga akan menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Tentu saja kepadatan bangunan menjadi salah satu titik rawan pariwisata Bali. Apalagi bila tidak didukung oleh manajemen transportasi yang baik, kemacetan sudah pasti akan terjadi. Kepadatan bangunan amenitas pariwisata maupun pemukiman penduduk akan memicu persoalan volume sampah yang tinggi setiap hari. Hal ini akan membuat Bali mudah dilanda banjir ketika hujan deras lantaran sampah yang menumpuk, seperti banjir bandang yang terjadi pada September 2025 lalu dan banjir Februari 2026 di Denpasar, Badung, dan Tabanan.

Pantai-pantai yang selama ini menjadi andalan pariwisata Bali menghadapi kerawanan pula. Abrasi pantai sudah terjadi di Bali. Pantai Kuta, misalnya, mengalami abrasi yang serius. Puluhan meter bibir pantai sudah hilang sejak 20 tahun silam. Jika musim pasang air laut, bisa cuma sisa 2 meter sampai pedestrian (detikBali, 21/11/2024). Faktor alam memang berperan dalam abrasi. Namun ada pula yang beranggapan bahwa pembangunan perluasan bandara internasional mempercepat proses abrasi.

Kepadatan bangunan di sektor pariwisata Bali menyimpan potensi penyimpangan. Bentuk penyimpangan bermacam-macam, mulai dari pembangunan di jalur hijau, konversi hutan mangrove menjadi tempat usaha, bangunan di tebing sungai, penggunaan sempadan pantai, hingga bisnis vila ilegal. Pelanggaran dan penindakan pun hilang timbul seperti gejala penyakit maag. Ketika pemerintah diam dan mendiamkan, penyimpangan itu kian menjadi.

Solusinya tidak mudah. Titik rawan pariwisata yang disebabkan oleh kepadatan dan bangunan memerlukan kebijakan yang revolusioner, ekstrem, dan radikal. Bukan kebijakan yang biasa-biasa saja. Bukan kebijakan yang hanya mengamankan jabatan politik atau kepentingan ekonomis.

Bali perlu kebijakan ekstrem yang menyentuh hal dasar dalam mengatasi kepadatan manusia dan bangunan. Membatasi jumlah kunjungan wisatawan merupakan salah satu pilihan. Moratorium pembangunan sarana dan prasarana pariwisata menjadi pilihan lain. Jika Bali dibiarkan ugal-ugalan, cepat atau lambat akan mengalami kehancuran. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Next Post

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Kolaborasi Internasional Tanam 1000 Pohon di Kawasan Danau Tamblingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co