14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
March 19, 2026
in Esai
Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

PAGI ini, Bali tidak bangun. Tidak ada suara motor, tidak ada langkah tergesa, tidak ada percakapan yang saling bertubrukan di udara. Jalanan menjadi asing, seolah lupa bahwa ia pernah dilalui. Langit turun terasa lebih dekat, dan angin bergerak tanpa gangguan apa pun. Bahkan waktu tampak ragu untuk berjalan-jalan. Hari ini, manusia berhenti. Dan dunia, untuk sesaat, kembali menjadi dirinya sendiri.

Praktik Nyepi sebagai hari hening. Hening di sini bukan sekadar ketiadaan suara. Ia adalah keputusan kolektif untuk menarik diri, dari dunia luar, dari hasrat bergerak, dari dorongan untuk terus menjadi sesuatu. Dalam keheningan itu, tubuh berubah.

Tubuh yang Berhenti, Ruang yang Bernapas

Biasanya, tubuh kita adalah mesin: bergerak, bekerja, mengejar, mengisi. Kita mengukur hari-hari dari apa yang kita lakukan. Tapi pada Nyepi, tubuh tidak lagi menjadi pusat aktivitas. Ia menjadi ruang. Tubuh tidak pergi ke mana-mana, tetapi justru karena itu, ia mulai tiba pada dirinya sendiri.

Pada Nyepi, tubuh ditarik kembali. Tidak bepergian. Tidak bekerja. Tidak menyalakan api. Tidak mencari hiburan. Tubuh menjadi sunyi. Di situlah sesuatu yang jarang terjadi; ruang mulai bernapas tanpa kita ganggu.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Dalam kosmologi Bali, ruang tidak pernah kosong. Ia selalu hidup dalam relasi antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan yang tak kasatmata (parahyangan). Relasi ini dikenal dengan Tri Hita Karana, sebuah cara memahami dunia bukan sebagai objek, tetapi sebagai jaringan kehidupan.

Ketika tubuh berhenti, relasi itu tidak hilang. Ia justru menjadi terasa. Seolah-olah selama ini kita terlalu ramai untuk mendengar bagaimana ruang bekerja. Barangkali inilah yang pernah dibayangkan Maurice Merleau-Ponty, bahwa tubuh bukan sekadar berada di dalam ruang, tapi cara kita mengalami ruang. Pada Nyepi, tubuh tidak lagi menaklukkan ruang, ia larut di dalamnya.

Dunia yang Direm

Di luar rumah, Bali seperti ditinggalkan. Bandara tutup. Lampu dipadamkan. Jalanan kosong. Bahkan internet pun terasa melambat, seolah ikut menyesuaikan diri dengan ritme yang lain, ritme yang lebih tua dari teknologi, lebih dalam dari kebiasaan. Dalam dunia yang terbiasa melaju tanpa rem, Nyepi adalah rem itu sendiri. Ia bukan krisis. Ia bukan bencana. Ia adalah pilihan.

Kita hidup dalam dunia yang mengukur nilai dari seberapa banyak yang dihasilkan. Tetapi Nyepi mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi; apa yang tersisa jika kita berhenti mengasilkan? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan kata-kata, melainkan dengan pengalaman. Tradisi Asia Pasifik lampau, keheningan sering menjadi jalan menuju pemahaman. Praktik meditasi Vipassana di India atau Myamar menempatkan diam sebagai metode untuk melihat realitas tanpa gangguan. Namun Nyepi melangkah lebih jauh.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Pulau ini tidak mati. Ia bernapas, dengan cara yang jarang kita izinkan. Ada sesuatu yang pulih dalam keheningan itu. Langit lebih gelap, bukan karena kehilangan cahaya, tetapi karena gangguan. Bintang-bintang muncul kembali, seperti kenangan yang selama ini tertutup. Kita jarang memberi dunia kesempatan untuk diam. Kita takut jika berhenti sesuatu akan hilang. Nyepi justru menunjukkan sebaliknya, dengan berhenti, sesuatu kembali.

Filsuf Arne Naess menggagas pentingnya mengurangi intervensi manusia terhadap alam sebagai bagian dari etika ekologis. Di Bali, gagasan itu tidak berhenti sebagai konsep, ia dijalankan meski hanya sehari, dengan disiplin kolektif. Dan sehari itu cukup untuk mengingatkan bahwa dunia tidak selalu membutuhkan kita untuk terus bergerak.

Tidak Ada Pertunjukan

Nyepi sering disalahpahami sebagai “hari tanpa apa-apa”. Padahal justru di situ intensitasnya. Tidak ada tontonan. Tidak ada perayaan visual. Tidak ada keramaian. Tidak ada yang bisa dipamerkan.

Di banyak tempat di dunia, keheningan adalah praktik personal. Orang bermeditasi, menutup mata, menarik napas dalam-dalam, mencoba menemukan ketenangan di dalam diri. Namun di Bali, keheningan adalah peristiwa bersama. Seluruh pulau sepakat untuk tidak bergerak. Tidak ada yang menonton, tidak ada yang mempertunjukkan. Tidak ada panggung, tetapi semuanya terlibat. Ini seperti pertunjukan tanpa penonton, atau mungkin, kehidupan itu sendiri yang sedang menonton dirinya.

Jika hari-hari lain dipenuhi oleh produksi dan konsumsi, termasuk konsumsi estetika, maka Nyepi menangguhkan semuanya. Ia seperti sebuah pertunjukan tanpa penonton (no-audiens), atau lebih tepatnya, pertunjukan yang tidak membutuhkan penonton. Dalam dunia seni, gagasan seperti ini pernah dieksplorasi oleh seniman performans seperti Marina Abramovic, yang menekankan kehadiran, durasi, dan pengalaman langsung sebagai inti karya.

Namun Nyepi melampaui itu. Ia bukan karya individu. Ia bukan eksperimen galeri. Ia adalah praktik hidup yang diwariskan, dijalankan, dan dihayati oleh komunitas. Seluruh pulau menjadi ruang performatif, tanpa perlu menyebut dirinya sebagai seni. Dan disitulah letak kekuatannya.

Mengheningkan Dunia, Menghadirkan Diri

Dalam keheningan Nyepi, sesuatu yang jarang kita alami mulai muncul, yakni diri sendiri. Tanpa distraksi. Tanpa kewajiban sosial. Tanpa dorongan untuk menjadi produktif. Kita berhadapan dengan sesuatu yang sering kita hindari, kehadiran kita sendiri.

Filsuf Martin Heidegger pernah menulis tentang bagaimana manusia sering “terlempar” dalam rutinitas, sehingga lupa untuk benar-benar ada. Nyepi, dengan cara yang sederhana, membuka kemungkinan untuk kembali pada keberadaan itu. Bukan melalui teori, bukan melalui wacana, tetapi melalui diam. Diam yang tidak kosong, tetapi penuh. Diam yang bukan ketiadaan, tetapi ruang kemungkinan.

Intermingle: Dari Keheningan Menuju Praktik

Jika Nyepi adalah momen di mana dunia berhenti, maka pertanyaannya kemudian, apa yang kita bawa setelahnya? Keheningan tidak tinggal sebagai pengalaman sesaat. Ia memerlukan tindakan, bukan dalam bentuk kebisingan baru, tetapi dalam cara lain untuk bergerak, melihat, dan mencipta. Di sinilah praktik Intermingle Art Project menemukan relevansinya.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Intermingle hadir dari ruang yang telah dikosongkan, ia adalah kurasi membaca ulang relasi antara tubuh, ruang, dan waktu, persis seperti yang dihadirkan Nyepi, tetapi dalam bentuk yang bergerak kembali. Jika Nyepi adalah penarikan diri (withdrawal), maka intermingle adalah muncul kembali (re-emergence). Namun kemunculan ini tidak kembali ke cara lama. Ia membawa jejak keheningan.

Tubuh yang mengingat keheningan menjadi medium yang sensitif terhadap lingkungan. Ia bergerak dengan kesadaran bahwa setiap langkah adalah relasi. Gagasan ini relevan dengan pemikiran Gilles Deleuze tentang becoming, bahwa tubuh bukan entitas tetap, melainkan proses yang terus menerus berubah melalui pertemuan (encorunter) dan afeksi.

Dari desa ke dunia sebagai sistem pengetahuan hidup, Intermingle tidak berhenti sebagai praktik lokal. Ia bergerak, beriteraksi, dan bernegosiasi dengan dunia global, namun gerakan ini tidak bersifat ekspansif dalam arti kolonial. Ia membuka ruang pertemuan di mana pengetahuan lokal dan global saling memengaruhi. Di sini, Nyepi menjadi semacam “arsip hidup” yang dibawa ke dalam percakapan global. Intermingle hanya mengartikulasikannya kembali dengan bahasa yang dapat dibaca oleh dunia.

Setelah hening, Nyepi tidak benar-benar selesai, ia berakhir secara kalender, tetapi jejaknya tinggal di tubuh, di ruang, di cara kita memandang dunia. Intermingle adalah salah satu cara untuk menjaga jejak itu tetap hidup. Bukan dengan mengulang keheningan, tetapi dengan membawa kesadaran ke dalam setiap tindakan. Pada akhirnya, yang kita cari bukanlah keheningan itu sendiri, melainkan kemampuan untuk tetap mendengar, bahkan ketika dunia kembali bising.[T]

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: Hari Raya NyepiIntermingleNyepi 2026refleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

Next Post

Suara Klunting Menjelang Takbir

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Suara Klunting Menjelang Takbir

Suara Klunting Menjelang Takbir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co