24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
March 19, 2026
in Esai
Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

PAGI ini, Bali tidak bangun. Tidak ada suara motor, tidak ada langkah tergesa, tidak ada percakapan yang saling bertubrukan di udara. Jalanan menjadi asing, seolah lupa bahwa ia pernah dilalui. Langit turun terasa lebih dekat, dan angin bergerak tanpa gangguan apa pun. Bahkan waktu tampak ragu untuk berjalan-jalan. Hari ini, manusia berhenti. Dan dunia, untuk sesaat, kembali menjadi dirinya sendiri.

Praktik Nyepi sebagai hari hening. Hening di sini bukan sekadar ketiadaan suara. Ia adalah keputusan kolektif untuk menarik diri, dari dunia luar, dari hasrat bergerak, dari dorongan untuk terus menjadi sesuatu. Dalam keheningan itu, tubuh berubah.

Tubuh yang Berhenti, Ruang yang Bernapas

Biasanya, tubuh kita adalah mesin: bergerak, bekerja, mengejar, mengisi. Kita mengukur hari-hari dari apa yang kita lakukan. Tapi pada Nyepi, tubuh tidak lagi menjadi pusat aktivitas. Ia menjadi ruang. Tubuh tidak pergi ke mana-mana, tetapi justru karena itu, ia mulai tiba pada dirinya sendiri.

Pada Nyepi, tubuh ditarik kembali. Tidak bepergian. Tidak bekerja. Tidak menyalakan api. Tidak mencari hiburan. Tubuh menjadi sunyi. Di situlah sesuatu yang jarang terjadi; ruang mulai bernapas tanpa kita ganggu.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Dalam kosmologi Bali, ruang tidak pernah kosong. Ia selalu hidup dalam relasi antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan yang tak kasatmata (parahyangan). Relasi ini dikenal dengan Tri Hita Karana, sebuah cara memahami dunia bukan sebagai objek, tetapi sebagai jaringan kehidupan.

Ketika tubuh berhenti, relasi itu tidak hilang. Ia justru menjadi terasa. Seolah-olah selama ini kita terlalu ramai untuk mendengar bagaimana ruang bekerja. Barangkali inilah yang pernah dibayangkan Maurice Merleau-Ponty, bahwa tubuh bukan sekadar berada di dalam ruang, tapi cara kita mengalami ruang. Pada Nyepi, tubuh tidak lagi menaklukkan ruang, ia larut di dalamnya.

Dunia yang Direm

Di luar rumah, Bali seperti ditinggalkan. Bandara tutup. Lampu dipadamkan. Jalanan kosong. Bahkan internet pun terasa melambat, seolah ikut menyesuaikan diri dengan ritme yang lain, ritme yang lebih tua dari teknologi, lebih dalam dari kebiasaan. Dalam dunia yang terbiasa melaju tanpa rem, Nyepi adalah rem itu sendiri. Ia bukan krisis. Ia bukan bencana. Ia adalah pilihan.

Kita hidup dalam dunia yang mengukur nilai dari seberapa banyak yang dihasilkan. Tetapi Nyepi mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi; apa yang tersisa jika kita berhenti mengasilkan? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan kata-kata, melainkan dengan pengalaman. Tradisi Asia Pasifik lampau, keheningan sering menjadi jalan menuju pemahaman. Praktik meditasi Vipassana di India atau Myamar menempatkan diam sebagai metode untuk melihat realitas tanpa gangguan. Namun Nyepi melangkah lebih jauh.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Pulau ini tidak mati. Ia bernapas, dengan cara yang jarang kita izinkan. Ada sesuatu yang pulih dalam keheningan itu. Langit lebih gelap, bukan karena kehilangan cahaya, tetapi karena gangguan. Bintang-bintang muncul kembali, seperti kenangan yang selama ini tertutup. Kita jarang memberi dunia kesempatan untuk diam. Kita takut jika berhenti sesuatu akan hilang. Nyepi justru menunjukkan sebaliknya, dengan berhenti, sesuatu kembali.

Filsuf Arne Naess menggagas pentingnya mengurangi intervensi manusia terhadap alam sebagai bagian dari etika ekologis. Di Bali, gagasan itu tidak berhenti sebagai konsep, ia dijalankan meski hanya sehari, dengan disiplin kolektif. Dan sehari itu cukup untuk mengingatkan bahwa dunia tidak selalu membutuhkan kita untuk terus bergerak.

Tidak Ada Pertunjukan

Nyepi sering disalahpahami sebagai “hari tanpa apa-apa”. Padahal justru di situ intensitasnya. Tidak ada tontonan. Tidak ada perayaan visual. Tidak ada keramaian. Tidak ada yang bisa dipamerkan.

Di banyak tempat di dunia, keheningan adalah praktik personal. Orang bermeditasi, menutup mata, menarik napas dalam-dalam, mencoba menemukan ketenangan di dalam diri. Namun di Bali, keheningan adalah peristiwa bersama. Seluruh pulau sepakat untuk tidak bergerak. Tidak ada yang menonton, tidak ada yang mempertunjukkan. Tidak ada panggung, tetapi semuanya terlibat. Ini seperti pertunjukan tanpa penonton, atau mungkin, kehidupan itu sendiri yang sedang menonton dirinya.

Jika hari-hari lain dipenuhi oleh produksi dan konsumsi, termasuk konsumsi estetika, maka Nyepi menangguhkan semuanya. Ia seperti sebuah pertunjukan tanpa penonton (no-audiens), atau lebih tepatnya, pertunjukan yang tidak membutuhkan penonton. Dalam dunia seni, gagasan seperti ini pernah dieksplorasi oleh seniman performans seperti Marina Abramovic, yang menekankan kehadiran, durasi, dan pengalaman langsung sebagai inti karya.

Namun Nyepi melampaui itu. Ia bukan karya individu. Ia bukan eksperimen galeri. Ia adalah praktik hidup yang diwariskan, dijalankan, dan dihayati oleh komunitas. Seluruh pulau menjadi ruang performatif, tanpa perlu menyebut dirinya sebagai seni. Dan disitulah letak kekuatannya.

Mengheningkan Dunia, Menghadirkan Diri

Dalam keheningan Nyepi, sesuatu yang jarang kita alami mulai muncul, yakni diri sendiri. Tanpa distraksi. Tanpa kewajiban sosial. Tanpa dorongan untuk menjadi produktif. Kita berhadapan dengan sesuatu yang sering kita hindari, kehadiran kita sendiri.

Filsuf Martin Heidegger pernah menulis tentang bagaimana manusia sering “terlempar” dalam rutinitas, sehingga lupa untuk benar-benar ada. Nyepi, dengan cara yang sederhana, membuka kemungkinan untuk kembali pada keberadaan itu. Bukan melalui teori, bukan melalui wacana, tetapi melalui diam. Diam yang tidak kosong, tetapi penuh. Diam yang bukan ketiadaan, tetapi ruang kemungkinan.

Intermingle: Dari Keheningan Menuju Praktik

Jika Nyepi adalah momen di mana dunia berhenti, maka pertanyaannya kemudian, apa yang kita bawa setelahnya? Keheningan tidak tinggal sebagai pengalaman sesaat. Ia memerlukan tindakan, bukan dalam bentuk kebisingan baru, tetapi dalam cara lain untuk bergerak, melihat, dan mencipta. Di sinilah praktik Intermingle Art Project menemukan relevansinya.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Intermingle hadir dari ruang yang telah dikosongkan, ia adalah kurasi membaca ulang relasi antara tubuh, ruang, dan waktu, persis seperti yang dihadirkan Nyepi, tetapi dalam bentuk yang bergerak kembali. Jika Nyepi adalah penarikan diri (withdrawal), maka intermingle adalah muncul kembali (re-emergence). Namun kemunculan ini tidak kembali ke cara lama. Ia membawa jejak keheningan.

Tubuh yang mengingat keheningan menjadi medium yang sensitif terhadap lingkungan. Ia bergerak dengan kesadaran bahwa setiap langkah adalah relasi. Gagasan ini relevan dengan pemikiran Gilles Deleuze tentang becoming, bahwa tubuh bukan entitas tetap, melainkan proses yang terus menerus berubah melalui pertemuan (encorunter) dan afeksi.

Dari desa ke dunia sebagai sistem pengetahuan hidup, Intermingle tidak berhenti sebagai praktik lokal. Ia bergerak, beriteraksi, dan bernegosiasi dengan dunia global, namun gerakan ini tidak bersifat ekspansif dalam arti kolonial. Ia membuka ruang pertemuan di mana pengetahuan lokal dan global saling memengaruhi. Di sini, Nyepi menjadi semacam “arsip hidup” yang dibawa ke dalam percakapan global. Intermingle hanya mengartikulasikannya kembali dengan bahasa yang dapat dibaca oleh dunia.

Setelah hening, Nyepi tidak benar-benar selesai, ia berakhir secara kalender, tetapi jejaknya tinggal di tubuh, di ruang, di cara kita memandang dunia. Intermingle adalah salah satu cara untuk menjaga jejak itu tetap hidup. Bukan dengan mengulang keheningan, tetapi dengan membawa kesadaran ke dalam setiap tindakan. Pada akhirnya, yang kita cari bukanlah keheningan itu sendiri, melainkan kemampuan untuk tetap mendengar, bahkan ketika dunia kembali bising.[T]

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: Hari Raya NyepiIntermingleNyepi 2026refleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

Next Post

Suara Klunting Menjelang Takbir

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Suara Klunting Menjelang Takbir

Suara Klunting Menjelang Takbir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co