23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
March 19, 2026
in Esai
Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

PAGI ini, Bali tidak bangun. Tidak ada suara motor, tidak ada langkah tergesa, tidak ada percakapan yang saling bertubrukan di udara. Jalanan menjadi asing, seolah lupa bahwa ia pernah dilalui. Langit turun terasa lebih dekat, dan angin bergerak tanpa gangguan apa pun. Bahkan waktu tampak ragu untuk berjalan-jalan. Hari ini, manusia berhenti. Dan dunia, untuk sesaat, kembali menjadi dirinya sendiri.

Praktik Nyepi sebagai hari hening. Hening di sini bukan sekadar ketiadaan suara. Ia adalah keputusan kolektif untuk menarik diri, dari dunia luar, dari hasrat bergerak, dari dorongan untuk terus menjadi sesuatu. Dalam keheningan itu, tubuh berubah.

Tubuh yang Berhenti, Ruang yang Bernapas

Biasanya, tubuh kita adalah mesin: bergerak, bekerja, mengejar, mengisi. Kita mengukur hari-hari dari apa yang kita lakukan. Tapi pada Nyepi, tubuh tidak lagi menjadi pusat aktivitas. Ia menjadi ruang. Tubuh tidak pergi ke mana-mana, tetapi justru karena itu, ia mulai tiba pada dirinya sendiri.

Pada Nyepi, tubuh ditarik kembali. Tidak bepergian. Tidak bekerja. Tidak menyalakan api. Tidak mencari hiburan. Tubuh menjadi sunyi. Di situlah sesuatu yang jarang terjadi; ruang mulai bernapas tanpa kita ganggu.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Dalam kosmologi Bali, ruang tidak pernah kosong. Ia selalu hidup dalam relasi antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan yang tak kasatmata (parahyangan). Relasi ini dikenal dengan Tri Hita Karana, sebuah cara memahami dunia bukan sebagai objek, tetapi sebagai jaringan kehidupan.

Ketika tubuh berhenti, relasi itu tidak hilang. Ia justru menjadi terasa. Seolah-olah selama ini kita terlalu ramai untuk mendengar bagaimana ruang bekerja. Barangkali inilah yang pernah dibayangkan Maurice Merleau-Ponty, bahwa tubuh bukan sekadar berada di dalam ruang, tapi cara kita mengalami ruang. Pada Nyepi, tubuh tidak lagi menaklukkan ruang, ia larut di dalamnya.

Dunia yang Direm

Di luar rumah, Bali seperti ditinggalkan. Bandara tutup. Lampu dipadamkan. Jalanan kosong. Bahkan internet pun terasa melambat, seolah ikut menyesuaikan diri dengan ritme yang lain, ritme yang lebih tua dari teknologi, lebih dalam dari kebiasaan. Dalam dunia yang terbiasa melaju tanpa rem, Nyepi adalah rem itu sendiri. Ia bukan krisis. Ia bukan bencana. Ia adalah pilihan.

Kita hidup dalam dunia yang mengukur nilai dari seberapa banyak yang dihasilkan. Tetapi Nyepi mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi; apa yang tersisa jika kita berhenti mengasilkan? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan kata-kata, melainkan dengan pengalaman. Tradisi Asia Pasifik lampau, keheningan sering menjadi jalan menuju pemahaman. Praktik meditasi Vipassana di India atau Myamar menempatkan diam sebagai metode untuk melihat realitas tanpa gangguan. Namun Nyepi melangkah lebih jauh.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Pulau ini tidak mati. Ia bernapas, dengan cara yang jarang kita izinkan. Ada sesuatu yang pulih dalam keheningan itu. Langit lebih gelap, bukan karena kehilangan cahaya, tetapi karena gangguan. Bintang-bintang muncul kembali, seperti kenangan yang selama ini tertutup. Kita jarang memberi dunia kesempatan untuk diam. Kita takut jika berhenti sesuatu akan hilang. Nyepi justru menunjukkan sebaliknya, dengan berhenti, sesuatu kembali.

Filsuf Arne Naess menggagas pentingnya mengurangi intervensi manusia terhadap alam sebagai bagian dari etika ekologis. Di Bali, gagasan itu tidak berhenti sebagai konsep, ia dijalankan meski hanya sehari, dengan disiplin kolektif. Dan sehari itu cukup untuk mengingatkan bahwa dunia tidak selalu membutuhkan kita untuk terus bergerak.

Tidak Ada Pertunjukan

Nyepi sering disalahpahami sebagai “hari tanpa apa-apa”. Padahal justru di situ intensitasnya. Tidak ada tontonan. Tidak ada perayaan visual. Tidak ada keramaian. Tidak ada yang bisa dipamerkan.

Di banyak tempat di dunia, keheningan adalah praktik personal. Orang bermeditasi, menutup mata, menarik napas dalam-dalam, mencoba menemukan ketenangan di dalam diri. Namun di Bali, keheningan adalah peristiwa bersama. Seluruh pulau sepakat untuk tidak bergerak. Tidak ada yang menonton, tidak ada yang mempertunjukkan. Tidak ada panggung, tetapi semuanya terlibat. Ini seperti pertunjukan tanpa penonton, atau mungkin, kehidupan itu sendiri yang sedang menonton dirinya.

Jika hari-hari lain dipenuhi oleh produksi dan konsumsi, termasuk konsumsi estetika, maka Nyepi menangguhkan semuanya. Ia seperti sebuah pertunjukan tanpa penonton (no-audiens), atau lebih tepatnya, pertunjukan yang tidak membutuhkan penonton. Dalam dunia seni, gagasan seperti ini pernah dieksplorasi oleh seniman performans seperti Marina Abramovic, yang menekankan kehadiran, durasi, dan pengalaman langsung sebagai inti karya.

Namun Nyepi melampaui itu. Ia bukan karya individu. Ia bukan eksperimen galeri. Ia adalah praktik hidup yang diwariskan, dijalankan, dan dihayati oleh komunitas. Seluruh pulau menjadi ruang performatif, tanpa perlu menyebut dirinya sebagai seni. Dan disitulah letak kekuatannya.

Mengheningkan Dunia, Menghadirkan Diri

Dalam keheningan Nyepi, sesuatu yang jarang kita alami mulai muncul, yakni diri sendiri. Tanpa distraksi. Tanpa kewajiban sosial. Tanpa dorongan untuk menjadi produktif. Kita berhadapan dengan sesuatu yang sering kita hindari, kehadiran kita sendiri.

Filsuf Martin Heidegger pernah menulis tentang bagaimana manusia sering “terlempar” dalam rutinitas, sehingga lupa untuk benar-benar ada. Nyepi, dengan cara yang sederhana, membuka kemungkinan untuk kembali pada keberadaan itu. Bukan melalui teori, bukan melalui wacana, tetapi melalui diam. Diam yang tidak kosong, tetapi penuh. Diam yang bukan ketiadaan, tetapi ruang kemungkinan.

Intermingle: Dari Keheningan Menuju Praktik

Jika Nyepi adalah momen di mana dunia berhenti, maka pertanyaannya kemudian, apa yang kita bawa setelahnya? Keheningan tidak tinggal sebagai pengalaman sesaat. Ia memerlukan tindakan, bukan dalam bentuk kebisingan baru, tetapi dalam cara lain untuk bergerak, melihat, dan mencipta. Di sinilah praktik Intermingle Art Project menemukan relevansinya.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Intermingle hadir dari ruang yang telah dikosongkan, ia adalah kurasi membaca ulang relasi antara tubuh, ruang, dan waktu, persis seperti yang dihadirkan Nyepi, tetapi dalam bentuk yang bergerak kembali. Jika Nyepi adalah penarikan diri (withdrawal), maka intermingle adalah muncul kembali (re-emergence). Namun kemunculan ini tidak kembali ke cara lama. Ia membawa jejak keheningan.

Tubuh yang mengingat keheningan menjadi medium yang sensitif terhadap lingkungan. Ia bergerak dengan kesadaran bahwa setiap langkah adalah relasi. Gagasan ini relevan dengan pemikiran Gilles Deleuze tentang becoming, bahwa tubuh bukan entitas tetap, melainkan proses yang terus menerus berubah melalui pertemuan (encorunter) dan afeksi.

Dari desa ke dunia sebagai sistem pengetahuan hidup, Intermingle tidak berhenti sebagai praktik lokal. Ia bergerak, beriteraksi, dan bernegosiasi dengan dunia global, namun gerakan ini tidak bersifat ekspansif dalam arti kolonial. Ia membuka ruang pertemuan di mana pengetahuan lokal dan global saling memengaruhi. Di sini, Nyepi menjadi semacam “arsip hidup” yang dibawa ke dalam percakapan global. Intermingle hanya mengartikulasikannya kembali dengan bahasa yang dapat dibaca oleh dunia.

Setelah hening, Nyepi tidak benar-benar selesai, ia berakhir secara kalender, tetapi jejaknya tinggal di tubuh, di ruang, di cara kita memandang dunia. Intermingle adalah salah satu cara untuk menjaga jejak itu tetap hidup. Bukan dengan mengulang keheningan, tetapi dengan membawa kesadaran ke dalam setiap tindakan. Pada akhirnya, yang kita cari bukanlah keheningan itu sendiri, melainkan kemampuan untuk tetap mendengar, bahkan ketika dunia kembali bising.[T]

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: Hari Raya NyepiIntermingleNyepi 2026refleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

Next Post

Suara Klunting Menjelang Takbir

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Suara Klunting Menjelang Takbir

Suara Klunting Menjelang Takbir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co