23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
March 19, 2026
in Esai
Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

PAGI ini, Bali tidak bangun. Tidak ada suara motor, tidak ada langkah tergesa, tidak ada percakapan yang saling bertubrukan di udara. Jalanan menjadi asing, seolah lupa bahwa ia pernah dilalui. Langit turun terasa lebih dekat, dan angin bergerak tanpa gangguan apa pun. Bahkan waktu tampak ragu untuk berjalan-jalan. Hari ini, manusia berhenti. Dan dunia, untuk sesaat, kembali menjadi dirinya sendiri.

Praktik Nyepi sebagai hari hening. Hening di sini bukan sekadar ketiadaan suara. Ia adalah keputusan kolektif untuk menarik diri, dari dunia luar, dari hasrat bergerak, dari dorongan untuk terus menjadi sesuatu. Dalam keheningan itu, tubuh berubah.

Tubuh yang Berhenti, Ruang yang Bernapas

Biasanya, tubuh kita adalah mesin: bergerak, bekerja, mengejar, mengisi. Kita mengukur hari-hari dari apa yang kita lakukan. Tapi pada Nyepi, tubuh tidak lagi menjadi pusat aktivitas. Ia menjadi ruang. Tubuh tidak pergi ke mana-mana, tetapi justru karena itu, ia mulai tiba pada dirinya sendiri.

Pada Nyepi, tubuh ditarik kembali. Tidak bepergian. Tidak bekerja. Tidak menyalakan api. Tidak mencari hiburan. Tubuh menjadi sunyi. Di situlah sesuatu yang jarang terjadi; ruang mulai bernapas tanpa kita ganggu.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Dalam kosmologi Bali, ruang tidak pernah kosong. Ia selalu hidup dalam relasi antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan yang tak kasatmata (parahyangan). Relasi ini dikenal dengan Tri Hita Karana, sebuah cara memahami dunia bukan sebagai objek, tetapi sebagai jaringan kehidupan.

Ketika tubuh berhenti, relasi itu tidak hilang. Ia justru menjadi terasa. Seolah-olah selama ini kita terlalu ramai untuk mendengar bagaimana ruang bekerja. Barangkali inilah yang pernah dibayangkan Maurice Merleau-Ponty, bahwa tubuh bukan sekadar berada di dalam ruang, tapi cara kita mengalami ruang. Pada Nyepi, tubuh tidak lagi menaklukkan ruang, ia larut di dalamnya.

Dunia yang Direm

Di luar rumah, Bali seperti ditinggalkan. Bandara tutup. Lampu dipadamkan. Jalanan kosong. Bahkan internet pun terasa melambat, seolah ikut menyesuaikan diri dengan ritme yang lain, ritme yang lebih tua dari teknologi, lebih dalam dari kebiasaan. Dalam dunia yang terbiasa melaju tanpa rem, Nyepi adalah rem itu sendiri. Ia bukan krisis. Ia bukan bencana. Ia adalah pilihan.

Kita hidup dalam dunia yang mengukur nilai dari seberapa banyak yang dihasilkan. Tetapi Nyepi mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi; apa yang tersisa jika kita berhenti mengasilkan? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan kata-kata, melainkan dengan pengalaman. Tradisi Asia Pasifik lampau, keheningan sering menjadi jalan menuju pemahaman. Praktik meditasi Vipassana di India atau Myamar menempatkan diam sebagai metode untuk melihat realitas tanpa gangguan. Namun Nyepi melangkah lebih jauh.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Pulau ini tidak mati. Ia bernapas, dengan cara yang jarang kita izinkan. Ada sesuatu yang pulih dalam keheningan itu. Langit lebih gelap, bukan karena kehilangan cahaya, tetapi karena gangguan. Bintang-bintang muncul kembali, seperti kenangan yang selama ini tertutup. Kita jarang memberi dunia kesempatan untuk diam. Kita takut jika berhenti sesuatu akan hilang. Nyepi justru menunjukkan sebaliknya, dengan berhenti, sesuatu kembali.

Filsuf Arne Naess menggagas pentingnya mengurangi intervensi manusia terhadap alam sebagai bagian dari etika ekologis. Di Bali, gagasan itu tidak berhenti sebagai konsep, ia dijalankan meski hanya sehari, dengan disiplin kolektif. Dan sehari itu cukup untuk mengingatkan bahwa dunia tidak selalu membutuhkan kita untuk terus bergerak.

Tidak Ada Pertunjukan

Nyepi sering disalahpahami sebagai “hari tanpa apa-apa”. Padahal justru di situ intensitasnya. Tidak ada tontonan. Tidak ada perayaan visual. Tidak ada keramaian. Tidak ada yang bisa dipamerkan.

Di banyak tempat di dunia, keheningan adalah praktik personal. Orang bermeditasi, menutup mata, menarik napas dalam-dalam, mencoba menemukan ketenangan di dalam diri. Namun di Bali, keheningan adalah peristiwa bersama. Seluruh pulau sepakat untuk tidak bergerak. Tidak ada yang menonton, tidak ada yang mempertunjukkan. Tidak ada panggung, tetapi semuanya terlibat. Ini seperti pertunjukan tanpa penonton, atau mungkin, kehidupan itu sendiri yang sedang menonton dirinya.

Jika hari-hari lain dipenuhi oleh produksi dan konsumsi, termasuk konsumsi estetika, maka Nyepi menangguhkan semuanya. Ia seperti sebuah pertunjukan tanpa penonton (no-audiens), atau lebih tepatnya, pertunjukan yang tidak membutuhkan penonton. Dalam dunia seni, gagasan seperti ini pernah dieksplorasi oleh seniman performans seperti Marina Abramovic, yang menekankan kehadiran, durasi, dan pengalaman langsung sebagai inti karya.

Namun Nyepi melampaui itu. Ia bukan karya individu. Ia bukan eksperimen galeri. Ia adalah praktik hidup yang diwariskan, dijalankan, dan dihayati oleh komunitas. Seluruh pulau menjadi ruang performatif, tanpa perlu menyebut dirinya sebagai seni. Dan disitulah letak kekuatannya.

Mengheningkan Dunia, Menghadirkan Diri

Dalam keheningan Nyepi, sesuatu yang jarang kita alami mulai muncul, yakni diri sendiri. Tanpa distraksi. Tanpa kewajiban sosial. Tanpa dorongan untuk menjadi produktif. Kita berhadapan dengan sesuatu yang sering kita hindari, kehadiran kita sendiri.

Filsuf Martin Heidegger pernah menulis tentang bagaimana manusia sering “terlempar” dalam rutinitas, sehingga lupa untuk benar-benar ada. Nyepi, dengan cara yang sederhana, membuka kemungkinan untuk kembali pada keberadaan itu. Bukan melalui teori, bukan melalui wacana, tetapi melalui diam. Diam yang tidak kosong, tetapi penuh. Diam yang bukan ketiadaan, tetapi ruang kemungkinan.

Intermingle: Dari Keheningan Menuju Praktik

Jika Nyepi adalah momen di mana dunia berhenti, maka pertanyaannya kemudian, apa yang kita bawa setelahnya? Keheningan tidak tinggal sebagai pengalaman sesaat. Ia memerlukan tindakan, bukan dalam bentuk kebisingan baru, tetapi dalam cara lain untuk bergerak, melihat, dan mencipta. Di sinilah praktik Intermingle Art Project menemukan relevansinya.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Intermingle hadir dari ruang yang telah dikosongkan, ia adalah kurasi membaca ulang relasi antara tubuh, ruang, dan waktu, persis seperti yang dihadirkan Nyepi, tetapi dalam bentuk yang bergerak kembali. Jika Nyepi adalah penarikan diri (withdrawal), maka intermingle adalah muncul kembali (re-emergence). Namun kemunculan ini tidak kembali ke cara lama. Ia membawa jejak keheningan.

Tubuh yang mengingat keheningan menjadi medium yang sensitif terhadap lingkungan. Ia bergerak dengan kesadaran bahwa setiap langkah adalah relasi. Gagasan ini relevan dengan pemikiran Gilles Deleuze tentang becoming, bahwa tubuh bukan entitas tetap, melainkan proses yang terus menerus berubah melalui pertemuan (encorunter) dan afeksi.

Dari desa ke dunia sebagai sistem pengetahuan hidup, Intermingle tidak berhenti sebagai praktik lokal. Ia bergerak, beriteraksi, dan bernegosiasi dengan dunia global, namun gerakan ini tidak bersifat ekspansif dalam arti kolonial. Ia membuka ruang pertemuan di mana pengetahuan lokal dan global saling memengaruhi. Di sini, Nyepi menjadi semacam “arsip hidup” yang dibawa ke dalam percakapan global. Intermingle hanya mengartikulasikannya kembali dengan bahasa yang dapat dibaca oleh dunia.

Setelah hening, Nyepi tidak benar-benar selesai, ia berakhir secara kalender, tetapi jejaknya tinggal di tubuh, di ruang, di cara kita memandang dunia. Intermingle adalah salah satu cara untuk menjaga jejak itu tetap hidup. Bukan dengan mengulang keheningan, tetapi dengan membawa kesadaran ke dalam setiap tindakan. Pada akhirnya, yang kita cari bukanlah keheningan itu sendiri, melainkan kemampuan untuk tetap mendengar, bahkan ketika dunia kembali bising.[T]

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: Hari Raya NyepiIntermingleNyepi 2026refleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

Next Post

Suara Klunting Menjelang Takbir

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Suara Klunting Menjelang Takbir

Suara Klunting Menjelang Takbir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co