2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
March 19, 2026
in Esai
Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

PAGI ini, Bali tidak bangun. Tidak ada suara motor, tidak ada langkah tergesa, tidak ada percakapan yang saling bertubrukan di udara. Jalanan menjadi asing, seolah lupa bahwa ia pernah dilalui. Langit turun terasa lebih dekat, dan angin bergerak tanpa gangguan apa pun. Bahkan waktu tampak ragu untuk berjalan-jalan. Hari ini, manusia berhenti. Dan dunia, untuk sesaat, kembali menjadi dirinya sendiri.

Praktik Nyepi sebagai hari hening. Hening di sini bukan sekadar ketiadaan suara. Ia adalah keputusan kolektif untuk menarik diri, dari dunia luar, dari hasrat bergerak, dari dorongan untuk terus menjadi sesuatu. Dalam keheningan itu, tubuh berubah.

Tubuh yang Berhenti, Ruang yang Bernapas

Biasanya, tubuh kita adalah mesin: bergerak, bekerja, mengejar, mengisi. Kita mengukur hari-hari dari apa yang kita lakukan. Tapi pada Nyepi, tubuh tidak lagi menjadi pusat aktivitas. Ia menjadi ruang. Tubuh tidak pergi ke mana-mana, tetapi justru karena itu, ia mulai tiba pada dirinya sendiri.

Pada Nyepi, tubuh ditarik kembali. Tidak bepergian. Tidak bekerja. Tidak menyalakan api. Tidak mencari hiburan. Tubuh menjadi sunyi. Di situlah sesuatu yang jarang terjadi; ruang mulai bernapas tanpa kita ganggu.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Dalam kosmologi Bali, ruang tidak pernah kosong. Ia selalu hidup dalam relasi antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan yang tak kasatmata (parahyangan). Relasi ini dikenal dengan Tri Hita Karana, sebuah cara memahami dunia bukan sebagai objek, tetapi sebagai jaringan kehidupan.

Ketika tubuh berhenti, relasi itu tidak hilang. Ia justru menjadi terasa. Seolah-olah selama ini kita terlalu ramai untuk mendengar bagaimana ruang bekerja. Barangkali inilah yang pernah dibayangkan Maurice Merleau-Ponty, bahwa tubuh bukan sekadar berada di dalam ruang, tapi cara kita mengalami ruang. Pada Nyepi, tubuh tidak lagi menaklukkan ruang, ia larut di dalamnya.

Dunia yang Direm

Di luar rumah, Bali seperti ditinggalkan. Bandara tutup. Lampu dipadamkan. Jalanan kosong. Bahkan internet pun terasa melambat, seolah ikut menyesuaikan diri dengan ritme yang lain, ritme yang lebih tua dari teknologi, lebih dalam dari kebiasaan. Dalam dunia yang terbiasa melaju tanpa rem, Nyepi adalah rem itu sendiri. Ia bukan krisis. Ia bukan bencana. Ia adalah pilihan.

Kita hidup dalam dunia yang mengukur nilai dari seberapa banyak yang dihasilkan. Tetapi Nyepi mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi; apa yang tersisa jika kita berhenti mengasilkan? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan kata-kata, melainkan dengan pengalaman. Tradisi Asia Pasifik lampau, keheningan sering menjadi jalan menuju pemahaman. Praktik meditasi Vipassana di India atau Myamar menempatkan diam sebagai metode untuk melihat realitas tanpa gangguan. Namun Nyepi melangkah lebih jauh.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Pulau ini tidak mati. Ia bernapas, dengan cara yang jarang kita izinkan. Ada sesuatu yang pulih dalam keheningan itu. Langit lebih gelap, bukan karena kehilangan cahaya, tetapi karena gangguan. Bintang-bintang muncul kembali, seperti kenangan yang selama ini tertutup. Kita jarang memberi dunia kesempatan untuk diam. Kita takut jika berhenti sesuatu akan hilang. Nyepi justru menunjukkan sebaliknya, dengan berhenti, sesuatu kembali.

Filsuf Arne Naess menggagas pentingnya mengurangi intervensi manusia terhadap alam sebagai bagian dari etika ekologis. Di Bali, gagasan itu tidak berhenti sebagai konsep, ia dijalankan meski hanya sehari, dengan disiplin kolektif. Dan sehari itu cukup untuk mengingatkan bahwa dunia tidak selalu membutuhkan kita untuk terus bergerak.

Tidak Ada Pertunjukan

Nyepi sering disalahpahami sebagai “hari tanpa apa-apa”. Padahal justru di situ intensitasnya. Tidak ada tontonan. Tidak ada perayaan visual. Tidak ada keramaian. Tidak ada yang bisa dipamerkan.

Di banyak tempat di dunia, keheningan adalah praktik personal. Orang bermeditasi, menutup mata, menarik napas dalam-dalam, mencoba menemukan ketenangan di dalam diri. Namun di Bali, keheningan adalah peristiwa bersama. Seluruh pulau sepakat untuk tidak bergerak. Tidak ada yang menonton, tidak ada yang mempertunjukkan. Tidak ada panggung, tetapi semuanya terlibat. Ini seperti pertunjukan tanpa penonton, atau mungkin, kehidupan itu sendiri yang sedang menonton dirinya.

Jika hari-hari lain dipenuhi oleh produksi dan konsumsi, termasuk konsumsi estetika, maka Nyepi menangguhkan semuanya. Ia seperti sebuah pertunjukan tanpa penonton (no-audiens), atau lebih tepatnya, pertunjukan yang tidak membutuhkan penonton. Dalam dunia seni, gagasan seperti ini pernah dieksplorasi oleh seniman performans seperti Marina Abramovic, yang menekankan kehadiran, durasi, dan pengalaman langsung sebagai inti karya.

Namun Nyepi melampaui itu. Ia bukan karya individu. Ia bukan eksperimen galeri. Ia adalah praktik hidup yang diwariskan, dijalankan, dan dihayati oleh komunitas. Seluruh pulau menjadi ruang performatif, tanpa perlu menyebut dirinya sebagai seni. Dan disitulah letak kekuatannya.

Mengheningkan Dunia, Menghadirkan Diri

Dalam keheningan Nyepi, sesuatu yang jarang kita alami mulai muncul, yakni diri sendiri. Tanpa distraksi. Tanpa kewajiban sosial. Tanpa dorongan untuk menjadi produktif. Kita berhadapan dengan sesuatu yang sering kita hindari, kehadiran kita sendiri.

Filsuf Martin Heidegger pernah menulis tentang bagaimana manusia sering “terlempar” dalam rutinitas, sehingga lupa untuk benar-benar ada. Nyepi, dengan cara yang sederhana, membuka kemungkinan untuk kembali pada keberadaan itu. Bukan melalui teori, bukan melalui wacana, tetapi melalui diam. Diam yang tidak kosong, tetapi penuh. Diam yang bukan ketiadaan, tetapi ruang kemungkinan.

Intermingle: Dari Keheningan Menuju Praktik

Jika Nyepi adalah momen di mana dunia berhenti, maka pertanyaannya kemudian, apa yang kita bawa setelahnya? Keheningan tidak tinggal sebagai pengalaman sesaat. Ia memerlukan tindakan, bukan dalam bentuk kebisingan baru, tetapi dalam cara lain untuk bergerak, melihat, dan mencipta. Di sinilah praktik Intermingle Art Project menemukan relevansinya.

Intermingle Art Project No-Audiens I Wayan Sujana Suklu di Ababi, Karangasem, Bali tahun 2011

Intermingle hadir dari ruang yang telah dikosongkan, ia adalah kurasi membaca ulang relasi antara tubuh, ruang, dan waktu, persis seperti yang dihadirkan Nyepi, tetapi dalam bentuk yang bergerak kembali. Jika Nyepi adalah penarikan diri (withdrawal), maka intermingle adalah muncul kembali (re-emergence). Namun kemunculan ini tidak kembali ke cara lama. Ia membawa jejak keheningan.

Tubuh yang mengingat keheningan menjadi medium yang sensitif terhadap lingkungan. Ia bergerak dengan kesadaran bahwa setiap langkah adalah relasi. Gagasan ini relevan dengan pemikiran Gilles Deleuze tentang becoming, bahwa tubuh bukan entitas tetap, melainkan proses yang terus menerus berubah melalui pertemuan (encorunter) dan afeksi.

Dari desa ke dunia sebagai sistem pengetahuan hidup, Intermingle tidak berhenti sebagai praktik lokal. Ia bergerak, beriteraksi, dan bernegosiasi dengan dunia global, namun gerakan ini tidak bersifat ekspansif dalam arti kolonial. Ia membuka ruang pertemuan di mana pengetahuan lokal dan global saling memengaruhi. Di sini, Nyepi menjadi semacam “arsip hidup” yang dibawa ke dalam percakapan global. Intermingle hanya mengartikulasikannya kembali dengan bahasa yang dapat dibaca oleh dunia.

Setelah hening, Nyepi tidak benar-benar selesai, ia berakhir secara kalender, tetapi jejaknya tinggal di tubuh, di ruang, di cara kita memandang dunia. Intermingle adalah salah satu cara untuk menjaga jejak itu tetap hidup. Bukan dengan mengulang keheningan, tetapi dengan membawa kesadaran ke dalam setiap tindakan. Pada akhirnya, yang kita cari bukanlah keheningan itu sendiri, melainkan kemampuan untuk tetap mendengar, bahkan ketika dunia kembali bising.[T]

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Jaswanto

Tags: Hari Raya NyepiIntermingleNyepi 2026refleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

Next Post

Suara Klunting Menjelang Takbir

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Suara Klunting Menjelang Takbir

Suara Klunting Menjelang Takbir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co