13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
March 18, 2026
in Esai
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

MOMENTUM Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 hadir dalam lanskap global yang tidak biasa. Dunia sedang berada dalam pusaran ketegangan geopolitik, perang Rusia dengan Ukraina belum jelas kapan selesai, ketegangan antar negara di kawasan Indo Cina, sekarang muncul perang yang lebih besar dengan diserangnya Iran oleh Amerika Serikat besama Israel, yang sudah memasuki minggu ketiga .

Dampak perang ini menyebabkan krisis energi, disrupsi informasi, hingga konflik bersenjata di berbagai kawasan strategis. 

Hingga awal Maret 2026, konflik di Timur Tengah masih memicu ketidakstabilan, termasuk ancaman terhadap jalur energi global dengan ditutupnya Selat Hormuz yang berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian ekonomi. tentu sangat berdampak pada ketercukupan energi bagi Indonesia. Oleh karena itu pemerintahan Presiden Prabowo akan mengambil langkah efisiensi dalam menghadapi dampak perang di Timur Tengah, bagi kepentingan nasional.

Serangan  Amerika dan Israel tanggal 28 Februari 2026 menyebabkan  kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Iran kemudian membalas serangn AS dan Israel, Iran menyerang semua fasilitas Amerika di negara-negara teluk. Rivalitas kekuatan besar pun terus meningkat, memperkuat fragmentasi global. 

Di tengah kebisingan perang dan korban tewas , hancurnya fasilitas dinegara tidak saja di negara teluk teluk tersebut, tetapi dirasakan oleh banyak negara yang mengantungkan pasokan minyak dari timur tengah.  Nyepi justru menawarkan diam—kontemplasi, sebuah sikap yang tampak sederhana, namun sesungguhnya radikal. Keheningan Nyepi menjadi refleksi mendalam bahwa akar konflik tidak semata terletak pada kepentingan negara, tetapi juga pada kegagalan manusia mengelola ego, ambisi, dan keserakahan. 

Dalam praktik Catur Brata Penyepian—amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan—terdapat filosofi pengendalian diri yang menjadi fondasi peradaban damai. Nilai ini menemukan relevansinya ketika dunia modern justru bergerak dalam arus sebaliknya: serba cepat, reaktif, dan penuh pertarungan kepentingan meningkatkan kemajuan ekonomi , pendidikan setiap negara termasuk meningkatnya perlombaan persenjataan untuk pertahanan masing-masing negara. Namun justru sebaliknya, kemajuan dan modernitas sembuah negara malah menjadi ancaman bagi negara lain. dan itlah yang terjadi.

Di tengah berkecamuknya perang, ketegangan geopolitik, layak kita bercermin kepada Swami Vivekananda, seorang filsuf dan spiritualis India, saat menghadiri Parlemen Agama Dunia di Chicago pada tahun 1893. Saat itu, Beliau menyampaikan pidato yang sangat berpengaruh tentang pentingnya toleransi dan persatuan antaragama. Jika pun perang yang berkecamuk sekarang ini bukan didasarkan atas agama. apapun yang mendasarinya. Perang akan menghancurkan semua.

Dasar pemikiran Swami Vivekananda adalah: Semua agama memiliki kebenaran dan nilai yang sama, Perbedaan agama adalah seperti perbedaan jalan menuju puncak gunung yang sama, Toleransi dan saling menghormati adalah kunci untuk mencapai persatuan dan kedamaian dunia.

Dalam konteks perang dan konflik di belahan dunia saat ini, pesan Swami Vivekananda tentang toleransi, kasih sayang, dan persatuan antaragama masih sangat relevan.

Menariknya  apa yang disampaikan Swami Vevekananda dengan apa yang telah dan akan kita lalui esok, Nyepi Tahun Baru Caka 1948 tanggal 19 Maret 2026 ini berdekatan dengan Ramadan, serta dalam rentang waktu yang tidak jauh dari Hari Raya Imlek dan Rabu Abu. Pertemuan momentum lintas iman ini memperkuat pesan universal tentang pentingnya refleksi, pengendalian diri, dan harmoni sosial—sebuah pengingat bahwa manusia hidup dalam satu ruang eksistensi yang sama.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam pernyataannya pada 1 Maret 2026 lalu menegaskan bahwa kebersamaan lintas agama menjadi kebutuhan mendesak di tengah dunia yang terfragmentasi, dengan menekankan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri dan merupakan satu kesatuan “satu bumi, satu keluarga” (pernyataan resmi Kemenko PMK, 1 Maret 2026). Ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi konflik fisik, tetapi juga kebisingan informasi berupa hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi realitas digital, sehingga diperlukan kembali pada nilai mulat sarira—introspeksi diri dalam tradisi Jawa—sebagai jalan menjernihkan kesadaran (Kemenko PMK RI, 2026).

Pandangan tersebut diperkuat oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, I Gede Dwipayana, yang menilai tema Saka Bhoga Sevanam sebagai refleksi etika pelayanan universal. Istilah ini, yang berakar dari bahasa Sanskerta, mengandung makna bahwa menikmati anugerah kehidupan (bhoga) tidak dapat dipisahkan dari tindakan melayani (sevanam).

Dengan kata lain, kehidupan menemukan maknanya justru ketika manusia tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelayan bagi sesama. Ia menegaskan bahwa melayani sesama merupakan bentuk konkret pengabdian kepada Tuhan sekaligus fondasi ketahanan sosial bangsa di tengah tekanan global (Kantor Staf Presiden, 2026). Dalam konteks geopolitik yang sarat kompetisi dan konflik, nilai pelayanan ini menjadi antitesis terhadap egoisme kolektif yang kerap memicu krisis kemanusiaan.

Satu hal penting lain yang disampaikan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster bahwa Nyepi tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga ekologis, di mana penghentian total aktivitas selama Nyepi terbukti mampu menurunkan emisi karbon, mengurangi polusi cahaya, serta memberi ruang pemulihan bagi alam (Pemerintah Provinsi Bali, rilis resmi 2025–2026). Dalam perspektif global yang tengah menghadapi krisis iklim, praktik ini menjadi contoh konkret bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi pada solusi global.

Lebih jauh, Nyepi juga mencerminkan praktik toleransi yang nyata. Di Bali, seluruh aktivitas termasuk bandara, pelabuhan, dan lalu lintas dihentikan, dan hal ini dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat lintas agama. Fenomena ini menjadi cerminan harmoni sosial yang langka di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Sebaliknya, dalam Ramadan, semangat berbagi dan solidaritas sosial juga melintasi batas identitas, memperlihatkan bahwa nilai-nilai spiritual pada dasarnya bersifat universal.

Jika ditarik lebih dalam, Nyepi dan Ramadan memiliki irisan nilai yang kuat. Nyepi mengajarkan keheningan total, sementara Ramadan mengajarkan pengendalian diri melalui puasa. Keduanya menempatkan manusia dalam posisi reflektif menahan diri dari dorongan eksternal demi mencapai keseimbangan internal. Dalam konteks dunia yang penuh agresi dan kebisingan, nilai ini menjadi sangat relevan dan bahkan mendesak. Tema Saka Bhoga Sevanam kemudian memperluas makna tersebut. Ia tidak berhenti pada refleksi individu, tetapi mendorong aksi sosial: melayani sesama, menjaga alam, dan membangun harmoni lintas iman. Ini menjadi penting ketika dunia menghadapi krisis multidimensi—mulai dari konflik bersenjata, krisis energi, hingga krisis kepercayaan terhadap informasi.

Intinya, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan kritik peradaban. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak kekurangan kekuatan, tetapi kekurangan kemampuan untuk berhenti sejenak. Dalam diam, manusia diajak untuk mendengar kembali suara hati sesuatu yang sering hilang dalam hiruk-pikuk kepentingan global. Momentum Nyepi  tahun Baru Caka 1948 ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran kolektif. Bahwa di tengah dunia yang retak oleh konflik dan kepentingan, masih ada jalan lain: jalan keheningan, refleksi, kontemplasi menyelam dikedalaman jiwa untuk menemukan mutiara yang terang dalam diri . Jalan yang mengingatkan bahwa manusia, pada hakikatnya, hidup dalam satu ruang yang sama satu bumi, satu keluarga. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya Nyepiperang Iran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan ‘Buda Wage Kelawu’: Gunakanlah Kekayaan untuk Keharmonisan, Bukan Perpecahan Apalagi Peperangan

Next Post

Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co