2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
March 18, 2026
in Esai
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

MOMENTUM Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 hadir dalam lanskap global yang tidak biasa. Dunia sedang berada dalam pusaran ketegangan geopolitik, perang Rusia dengan Ukraina belum jelas kapan selesai, ketegangan antar negara di kawasan Indo Cina, sekarang muncul perang yang lebih besar dengan diserangnya Iran oleh Amerika Serikat besama Israel, yang sudah memasuki minggu ketiga .

Dampak perang ini menyebabkan krisis energi, disrupsi informasi, hingga konflik bersenjata di berbagai kawasan strategis. 

Hingga awal Maret 2026, konflik di Timur Tengah masih memicu ketidakstabilan, termasuk ancaman terhadap jalur energi global dengan ditutupnya Selat Hormuz yang berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian ekonomi. tentu sangat berdampak pada ketercukupan energi bagi Indonesia. Oleh karena itu pemerintahan Presiden Prabowo akan mengambil langkah efisiensi dalam menghadapi dampak perang di Timur Tengah, bagi kepentingan nasional.

Serangan  Amerika dan Israel tanggal 28 Februari 2026 menyebabkan  kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Iran kemudian membalas serangn AS dan Israel, Iran menyerang semua fasilitas Amerika di negara-negara teluk. Rivalitas kekuatan besar pun terus meningkat, memperkuat fragmentasi global. 

Di tengah kebisingan perang dan korban tewas , hancurnya fasilitas dinegara tidak saja di negara teluk teluk tersebut, tetapi dirasakan oleh banyak negara yang mengantungkan pasokan minyak dari timur tengah.  Nyepi justru menawarkan diam—kontemplasi, sebuah sikap yang tampak sederhana, namun sesungguhnya radikal. Keheningan Nyepi menjadi refleksi mendalam bahwa akar konflik tidak semata terletak pada kepentingan negara, tetapi juga pada kegagalan manusia mengelola ego, ambisi, dan keserakahan. 

Dalam praktik Catur Brata Penyepian—amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan—terdapat filosofi pengendalian diri yang menjadi fondasi peradaban damai. Nilai ini menemukan relevansinya ketika dunia modern justru bergerak dalam arus sebaliknya: serba cepat, reaktif, dan penuh pertarungan kepentingan meningkatkan kemajuan ekonomi , pendidikan setiap negara termasuk meningkatnya perlombaan persenjataan untuk pertahanan masing-masing negara. Namun justru sebaliknya, kemajuan dan modernitas sembuah negara malah menjadi ancaman bagi negara lain. dan itlah yang terjadi.

Di tengah berkecamuknya perang, ketegangan geopolitik, layak kita bercermin kepada Swami Vivekananda, seorang filsuf dan spiritualis India, saat menghadiri Parlemen Agama Dunia di Chicago pada tahun 1893. Saat itu, Beliau menyampaikan pidato yang sangat berpengaruh tentang pentingnya toleransi dan persatuan antaragama. Jika pun perang yang berkecamuk sekarang ini bukan didasarkan atas agama. apapun yang mendasarinya. Perang akan menghancurkan semua.

Dasar pemikiran Swami Vivekananda adalah: Semua agama memiliki kebenaran dan nilai yang sama, Perbedaan agama adalah seperti perbedaan jalan menuju puncak gunung yang sama, Toleransi dan saling menghormati adalah kunci untuk mencapai persatuan dan kedamaian dunia.

Dalam konteks perang dan konflik di belahan dunia saat ini, pesan Swami Vivekananda tentang toleransi, kasih sayang, dan persatuan antaragama masih sangat relevan.

Menariknya  apa yang disampaikan Swami Vevekananda dengan apa yang telah dan akan kita lalui esok, Nyepi Tahun Baru Caka 1948 tanggal 19 Maret 2026 ini berdekatan dengan Ramadan, serta dalam rentang waktu yang tidak jauh dari Hari Raya Imlek dan Rabu Abu. Pertemuan momentum lintas iman ini memperkuat pesan universal tentang pentingnya refleksi, pengendalian diri, dan harmoni sosial—sebuah pengingat bahwa manusia hidup dalam satu ruang eksistensi yang sama.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam pernyataannya pada 1 Maret 2026 lalu menegaskan bahwa kebersamaan lintas agama menjadi kebutuhan mendesak di tengah dunia yang terfragmentasi, dengan menekankan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri dan merupakan satu kesatuan “satu bumi, satu keluarga” (pernyataan resmi Kemenko PMK, 1 Maret 2026). Ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi konflik fisik, tetapi juga kebisingan informasi berupa hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi realitas digital, sehingga diperlukan kembali pada nilai mulat sarira—introspeksi diri dalam tradisi Jawa—sebagai jalan menjernihkan kesadaran (Kemenko PMK RI, 2026).

Pandangan tersebut diperkuat oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, I Gede Dwipayana, yang menilai tema Saka Bhoga Sevanam sebagai refleksi etika pelayanan universal. Istilah ini, yang berakar dari bahasa Sanskerta, mengandung makna bahwa menikmati anugerah kehidupan (bhoga) tidak dapat dipisahkan dari tindakan melayani (sevanam).

Dengan kata lain, kehidupan menemukan maknanya justru ketika manusia tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelayan bagi sesama. Ia menegaskan bahwa melayani sesama merupakan bentuk konkret pengabdian kepada Tuhan sekaligus fondasi ketahanan sosial bangsa di tengah tekanan global (Kantor Staf Presiden, 2026). Dalam konteks geopolitik yang sarat kompetisi dan konflik, nilai pelayanan ini menjadi antitesis terhadap egoisme kolektif yang kerap memicu krisis kemanusiaan.

Satu hal penting lain yang disampaikan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster bahwa Nyepi tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga ekologis, di mana penghentian total aktivitas selama Nyepi terbukti mampu menurunkan emisi karbon, mengurangi polusi cahaya, serta memberi ruang pemulihan bagi alam (Pemerintah Provinsi Bali, rilis resmi 2025–2026). Dalam perspektif global yang tengah menghadapi krisis iklim, praktik ini menjadi contoh konkret bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi pada solusi global.

Lebih jauh, Nyepi juga mencerminkan praktik toleransi yang nyata. Di Bali, seluruh aktivitas termasuk bandara, pelabuhan, dan lalu lintas dihentikan, dan hal ini dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat lintas agama. Fenomena ini menjadi cerminan harmoni sosial yang langka di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Sebaliknya, dalam Ramadan, semangat berbagi dan solidaritas sosial juga melintasi batas identitas, memperlihatkan bahwa nilai-nilai spiritual pada dasarnya bersifat universal.

Jika ditarik lebih dalam, Nyepi dan Ramadan memiliki irisan nilai yang kuat. Nyepi mengajarkan keheningan total, sementara Ramadan mengajarkan pengendalian diri melalui puasa. Keduanya menempatkan manusia dalam posisi reflektif menahan diri dari dorongan eksternal demi mencapai keseimbangan internal. Dalam konteks dunia yang penuh agresi dan kebisingan, nilai ini menjadi sangat relevan dan bahkan mendesak. Tema Saka Bhoga Sevanam kemudian memperluas makna tersebut. Ia tidak berhenti pada refleksi individu, tetapi mendorong aksi sosial: melayani sesama, menjaga alam, dan membangun harmoni lintas iman. Ini menjadi penting ketika dunia menghadapi krisis multidimensi—mulai dari konflik bersenjata, krisis energi, hingga krisis kepercayaan terhadap informasi.

Intinya, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan kritik peradaban. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak kekurangan kekuatan, tetapi kekurangan kemampuan untuk berhenti sejenak. Dalam diam, manusia diajak untuk mendengar kembali suara hati sesuatu yang sering hilang dalam hiruk-pikuk kepentingan global. Momentum Nyepi  tahun Baru Caka 1948 ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran kolektif. Bahwa di tengah dunia yang retak oleh konflik dan kepentingan, masih ada jalan lain: jalan keheningan, refleksi, kontemplasi menyelam dikedalaman jiwa untuk menemukan mutiara yang terang dalam diri . Jalan yang mengingatkan bahwa manusia, pada hakikatnya, hidup dalam satu ruang yang sama satu bumi, satu keluarga. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya Nyepiperang Iran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan ‘Buda Wage Kelawu’: Gunakanlah Kekayaan untuk Keharmonisan, Bukan Perpecahan Apalagi Peperangan

Next Post

Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co