25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
March 18, 2026
in Esai
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

MOMENTUM Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 hadir dalam lanskap global yang tidak biasa. Dunia sedang berada dalam pusaran ketegangan geopolitik, perang Rusia dengan Ukraina belum jelas kapan selesai, ketegangan antar negara di kawasan Indo Cina, sekarang muncul perang yang lebih besar dengan diserangnya Iran oleh Amerika Serikat besama Israel, yang sudah memasuki minggu ketiga .

Dampak perang ini menyebabkan krisis energi, disrupsi informasi, hingga konflik bersenjata di berbagai kawasan strategis. 

Hingga awal Maret 2026, konflik di Timur Tengah masih memicu ketidakstabilan, termasuk ancaman terhadap jalur energi global dengan ditutupnya Selat Hormuz yang berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian ekonomi. tentu sangat berdampak pada ketercukupan energi bagi Indonesia. Oleh karena itu pemerintahan Presiden Prabowo akan mengambil langkah efisiensi dalam menghadapi dampak perang di Timur Tengah, bagi kepentingan nasional.

Serangan  Amerika dan Israel tanggal 28 Februari 2026 menyebabkan  kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Iran kemudian membalas serangn AS dan Israel, Iran menyerang semua fasilitas Amerika di negara-negara teluk. Rivalitas kekuatan besar pun terus meningkat, memperkuat fragmentasi global. 

Di tengah kebisingan perang dan korban tewas , hancurnya fasilitas dinegara tidak saja di negara teluk teluk tersebut, tetapi dirasakan oleh banyak negara yang mengantungkan pasokan minyak dari timur tengah.  Nyepi justru menawarkan diam—kontemplasi, sebuah sikap yang tampak sederhana, namun sesungguhnya radikal. Keheningan Nyepi menjadi refleksi mendalam bahwa akar konflik tidak semata terletak pada kepentingan negara, tetapi juga pada kegagalan manusia mengelola ego, ambisi, dan keserakahan. 

Dalam praktik Catur Brata Penyepian—amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan—terdapat filosofi pengendalian diri yang menjadi fondasi peradaban damai. Nilai ini menemukan relevansinya ketika dunia modern justru bergerak dalam arus sebaliknya: serba cepat, reaktif, dan penuh pertarungan kepentingan meningkatkan kemajuan ekonomi , pendidikan setiap negara termasuk meningkatnya perlombaan persenjataan untuk pertahanan masing-masing negara. Namun justru sebaliknya, kemajuan dan modernitas sembuah negara malah menjadi ancaman bagi negara lain. dan itlah yang terjadi.

Di tengah berkecamuknya perang, ketegangan geopolitik, layak kita bercermin kepada Swami Vivekananda, seorang filsuf dan spiritualis India, saat menghadiri Parlemen Agama Dunia di Chicago pada tahun 1893. Saat itu, Beliau menyampaikan pidato yang sangat berpengaruh tentang pentingnya toleransi dan persatuan antaragama. Jika pun perang yang berkecamuk sekarang ini bukan didasarkan atas agama. apapun yang mendasarinya. Perang akan menghancurkan semua.

Dasar pemikiran Swami Vivekananda adalah: Semua agama memiliki kebenaran dan nilai yang sama, Perbedaan agama adalah seperti perbedaan jalan menuju puncak gunung yang sama, Toleransi dan saling menghormati adalah kunci untuk mencapai persatuan dan kedamaian dunia.

Dalam konteks perang dan konflik di belahan dunia saat ini, pesan Swami Vivekananda tentang toleransi, kasih sayang, dan persatuan antaragama masih sangat relevan.

Menariknya  apa yang disampaikan Swami Vevekananda dengan apa yang telah dan akan kita lalui esok, Nyepi Tahun Baru Caka 1948 tanggal 19 Maret 2026 ini berdekatan dengan Ramadan, serta dalam rentang waktu yang tidak jauh dari Hari Raya Imlek dan Rabu Abu. Pertemuan momentum lintas iman ini memperkuat pesan universal tentang pentingnya refleksi, pengendalian diri, dan harmoni sosial—sebuah pengingat bahwa manusia hidup dalam satu ruang eksistensi yang sama.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam pernyataannya pada 1 Maret 2026 lalu menegaskan bahwa kebersamaan lintas agama menjadi kebutuhan mendesak di tengah dunia yang terfragmentasi, dengan menekankan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri dan merupakan satu kesatuan “satu bumi, satu keluarga” (pernyataan resmi Kemenko PMK, 1 Maret 2026). Ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi konflik fisik, tetapi juga kebisingan informasi berupa hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi realitas digital, sehingga diperlukan kembali pada nilai mulat sarira—introspeksi diri dalam tradisi Jawa—sebagai jalan menjernihkan kesadaran (Kemenko PMK RI, 2026).

Pandangan tersebut diperkuat oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, I Gede Dwipayana, yang menilai tema Saka Bhoga Sevanam sebagai refleksi etika pelayanan universal. Istilah ini, yang berakar dari bahasa Sanskerta, mengandung makna bahwa menikmati anugerah kehidupan (bhoga) tidak dapat dipisahkan dari tindakan melayani (sevanam).

Dengan kata lain, kehidupan menemukan maknanya justru ketika manusia tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelayan bagi sesama. Ia menegaskan bahwa melayani sesama merupakan bentuk konkret pengabdian kepada Tuhan sekaligus fondasi ketahanan sosial bangsa di tengah tekanan global (Kantor Staf Presiden, 2026). Dalam konteks geopolitik yang sarat kompetisi dan konflik, nilai pelayanan ini menjadi antitesis terhadap egoisme kolektif yang kerap memicu krisis kemanusiaan.

Satu hal penting lain yang disampaikan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster bahwa Nyepi tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga ekologis, di mana penghentian total aktivitas selama Nyepi terbukti mampu menurunkan emisi karbon, mengurangi polusi cahaya, serta memberi ruang pemulihan bagi alam (Pemerintah Provinsi Bali, rilis resmi 2025–2026). Dalam perspektif global yang tengah menghadapi krisis iklim, praktik ini menjadi contoh konkret bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi pada solusi global.

Lebih jauh, Nyepi juga mencerminkan praktik toleransi yang nyata. Di Bali, seluruh aktivitas termasuk bandara, pelabuhan, dan lalu lintas dihentikan, dan hal ini dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat lintas agama. Fenomena ini menjadi cerminan harmoni sosial yang langka di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Sebaliknya, dalam Ramadan, semangat berbagi dan solidaritas sosial juga melintasi batas identitas, memperlihatkan bahwa nilai-nilai spiritual pada dasarnya bersifat universal.

Jika ditarik lebih dalam, Nyepi dan Ramadan memiliki irisan nilai yang kuat. Nyepi mengajarkan keheningan total, sementara Ramadan mengajarkan pengendalian diri melalui puasa. Keduanya menempatkan manusia dalam posisi reflektif menahan diri dari dorongan eksternal demi mencapai keseimbangan internal. Dalam konteks dunia yang penuh agresi dan kebisingan, nilai ini menjadi sangat relevan dan bahkan mendesak. Tema Saka Bhoga Sevanam kemudian memperluas makna tersebut. Ia tidak berhenti pada refleksi individu, tetapi mendorong aksi sosial: melayani sesama, menjaga alam, dan membangun harmoni lintas iman. Ini menjadi penting ketika dunia menghadapi krisis multidimensi—mulai dari konflik bersenjata, krisis energi, hingga krisis kepercayaan terhadap informasi.

Intinya, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan kritik peradaban. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak kekurangan kekuatan, tetapi kekurangan kemampuan untuk berhenti sejenak. Dalam diam, manusia diajak untuk mendengar kembali suara hati sesuatu yang sering hilang dalam hiruk-pikuk kepentingan global. Momentum Nyepi  tahun Baru Caka 1948 ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran kolektif. Bahwa di tengah dunia yang retak oleh konflik dan kepentingan, masih ada jalan lain: jalan keheningan, refleksi, kontemplasi menyelam dikedalaman jiwa untuk menemukan mutiara yang terang dalam diri . Jalan yang mengingatkan bahwa manusia, pada hakikatnya, hidup dalam satu ruang yang sama satu bumi, satu keluarga. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya Nyepiperang Iran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan ‘Buda Wage Kelawu’: Gunakanlah Kekayaan untuk Keharmonisan, Bukan Perpecahan Apalagi Peperangan

Next Post

Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co