23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
March 18, 2026
in Esai
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

MOMENTUM Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 hadir dalam lanskap global yang tidak biasa. Dunia sedang berada dalam pusaran ketegangan geopolitik, perang Rusia dengan Ukraina belum jelas kapan selesai, ketegangan antar negara di kawasan Indo Cina, sekarang muncul perang yang lebih besar dengan diserangnya Iran oleh Amerika Serikat besama Israel, yang sudah memasuki minggu ketiga .

Dampak perang ini menyebabkan krisis energi, disrupsi informasi, hingga konflik bersenjata di berbagai kawasan strategis. 

Hingga awal Maret 2026, konflik di Timur Tengah masih memicu ketidakstabilan, termasuk ancaman terhadap jalur energi global dengan ditutupnya Selat Hormuz yang berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian ekonomi. tentu sangat berdampak pada ketercukupan energi bagi Indonesia. Oleh karena itu pemerintahan Presiden Prabowo akan mengambil langkah efisiensi dalam menghadapi dampak perang di Timur Tengah, bagi kepentingan nasional.

Serangan  Amerika dan Israel tanggal 28 Februari 2026 menyebabkan  kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Iran kemudian membalas serangn AS dan Israel, Iran menyerang semua fasilitas Amerika di negara-negara teluk. Rivalitas kekuatan besar pun terus meningkat, memperkuat fragmentasi global. 

Di tengah kebisingan perang dan korban tewas , hancurnya fasilitas dinegara tidak saja di negara teluk teluk tersebut, tetapi dirasakan oleh banyak negara yang mengantungkan pasokan minyak dari timur tengah.  Nyepi justru menawarkan diam—kontemplasi, sebuah sikap yang tampak sederhana, namun sesungguhnya radikal. Keheningan Nyepi menjadi refleksi mendalam bahwa akar konflik tidak semata terletak pada kepentingan negara, tetapi juga pada kegagalan manusia mengelola ego, ambisi, dan keserakahan. 

Dalam praktik Catur Brata Penyepian—amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan—terdapat filosofi pengendalian diri yang menjadi fondasi peradaban damai. Nilai ini menemukan relevansinya ketika dunia modern justru bergerak dalam arus sebaliknya: serba cepat, reaktif, dan penuh pertarungan kepentingan meningkatkan kemajuan ekonomi , pendidikan setiap negara termasuk meningkatnya perlombaan persenjataan untuk pertahanan masing-masing negara. Namun justru sebaliknya, kemajuan dan modernitas sembuah negara malah menjadi ancaman bagi negara lain. dan itlah yang terjadi.

Di tengah berkecamuknya perang, ketegangan geopolitik, layak kita bercermin kepada Swami Vivekananda, seorang filsuf dan spiritualis India, saat menghadiri Parlemen Agama Dunia di Chicago pada tahun 1893. Saat itu, Beliau menyampaikan pidato yang sangat berpengaruh tentang pentingnya toleransi dan persatuan antaragama. Jika pun perang yang berkecamuk sekarang ini bukan didasarkan atas agama. apapun yang mendasarinya. Perang akan menghancurkan semua.

Dasar pemikiran Swami Vivekananda adalah: Semua agama memiliki kebenaran dan nilai yang sama, Perbedaan agama adalah seperti perbedaan jalan menuju puncak gunung yang sama, Toleransi dan saling menghormati adalah kunci untuk mencapai persatuan dan kedamaian dunia.

Dalam konteks perang dan konflik di belahan dunia saat ini, pesan Swami Vivekananda tentang toleransi, kasih sayang, dan persatuan antaragama masih sangat relevan.

Menariknya  apa yang disampaikan Swami Vevekananda dengan apa yang telah dan akan kita lalui esok, Nyepi Tahun Baru Caka 1948 tanggal 19 Maret 2026 ini berdekatan dengan Ramadan, serta dalam rentang waktu yang tidak jauh dari Hari Raya Imlek dan Rabu Abu. Pertemuan momentum lintas iman ini memperkuat pesan universal tentang pentingnya refleksi, pengendalian diri, dan harmoni sosial—sebuah pengingat bahwa manusia hidup dalam satu ruang eksistensi yang sama.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam pernyataannya pada 1 Maret 2026 lalu menegaskan bahwa kebersamaan lintas agama menjadi kebutuhan mendesak di tengah dunia yang terfragmentasi, dengan menekankan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri dan merupakan satu kesatuan “satu bumi, satu keluarga” (pernyataan resmi Kemenko PMK, 1 Maret 2026). Ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi konflik fisik, tetapi juga kebisingan informasi berupa hoaks, ujaran kebencian, dan manipulasi realitas digital, sehingga diperlukan kembali pada nilai mulat sarira—introspeksi diri dalam tradisi Jawa—sebagai jalan menjernihkan kesadaran (Kemenko PMK RI, 2026).

Pandangan tersebut diperkuat oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, I Gede Dwipayana, yang menilai tema Saka Bhoga Sevanam sebagai refleksi etika pelayanan universal. Istilah ini, yang berakar dari bahasa Sanskerta, mengandung makna bahwa menikmati anugerah kehidupan (bhoga) tidak dapat dipisahkan dari tindakan melayani (sevanam).

Dengan kata lain, kehidupan menemukan maknanya justru ketika manusia tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelayan bagi sesama. Ia menegaskan bahwa melayani sesama merupakan bentuk konkret pengabdian kepada Tuhan sekaligus fondasi ketahanan sosial bangsa di tengah tekanan global (Kantor Staf Presiden, 2026). Dalam konteks geopolitik yang sarat kompetisi dan konflik, nilai pelayanan ini menjadi antitesis terhadap egoisme kolektif yang kerap memicu krisis kemanusiaan.

Satu hal penting lain yang disampaikan oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster bahwa Nyepi tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga ekologis, di mana penghentian total aktivitas selama Nyepi terbukti mampu menurunkan emisi karbon, mengurangi polusi cahaya, serta memberi ruang pemulihan bagi alam (Pemerintah Provinsi Bali, rilis resmi 2025–2026). Dalam perspektif global yang tengah menghadapi krisis iklim, praktik ini menjadi contoh konkret bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi pada solusi global.

Lebih jauh, Nyepi juga mencerminkan praktik toleransi yang nyata. Di Bali, seluruh aktivitas termasuk bandara, pelabuhan, dan lalu lintas dihentikan, dan hal ini dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat lintas agama. Fenomena ini menjadi cerminan harmoni sosial yang langka di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Sebaliknya, dalam Ramadan, semangat berbagi dan solidaritas sosial juga melintasi batas identitas, memperlihatkan bahwa nilai-nilai spiritual pada dasarnya bersifat universal.

Jika ditarik lebih dalam, Nyepi dan Ramadan memiliki irisan nilai yang kuat. Nyepi mengajarkan keheningan total, sementara Ramadan mengajarkan pengendalian diri melalui puasa. Keduanya menempatkan manusia dalam posisi reflektif menahan diri dari dorongan eksternal demi mencapai keseimbangan internal. Dalam konteks dunia yang penuh agresi dan kebisingan, nilai ini menjadi sangat relevan dan bahkan mendesak. Tema Saka Bhoga Sevanam kemudian memperluas makna tersebut. Ia tidak berhenti pada refleksi individu, tetapi mendorong aksi sosial: melayani sesama, menjaga alam, dan membangun harmoni lintas iman. Ini menjadi penting ketika dunia menghadapi krisis multidimensi—mulai dari konflik bersenjata, krisis energi, hingga krisis kepercayaan terhadap informasi.

Intinya, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan kritik peradaban. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak kekurangan kekuatan, tetapi kekurangan kemampuan untuk berhenti sejenak. Dalam diam, manusia diajak untuk mendengar kembali suara hati sesuatu yang sering hilang dalam hiruk-pikuk kepentingan global. Momentum Nyepi  tahun Baru Caka 1948 ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran kolektif. Bahwa di tengah dunia yang retak oleh konflik dan kepentingan, masih ada jalan lain: jalan keheningan, refleksi, kontemplasi menyelam dikedalaman jiwa untuk menemukan mutiara yang terang dalam diri . Jalan yang mengingatkan bahwa manusia, pada hakikatnya, hidup dalam satu ruang yang sama satu bumi, satu keluarga. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya Nyepiperang Iran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan ‘Buda Wage Kelawu’: Gunakanlah Kekayaan untuk Keharmonisan, Bukan Perpecahan Apalagi Peperangan

Next Post

Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co