24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan ‘Buda Wage Kelawu’: Gunakanlah Kekayaan untuk Keharmonisan, Bukan Perpecahan Apalagi Peperangan

IK Satria by IK Satria
March 18, 2026
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

 HARI suci yang bertemu dalam satu hari memang tidak jarang terjadi dalam perhitungan waktu atau dewasa di Bali. Nyepi bersamaan dengan Tumpek, Nyepi bersamaan dengan Pagerwesi dan sebagainya. Demikian halnya hari suci yang bertemu dengan hari suci lainnya, jika kita renungkan yang secara garis besarnya bias kita simpulkan bahwa setiap hari suci berdasarkan pawukon, bisa saja bertemu dan bersamaan dengan hari suci yang berdasarkan Sasih. Hal ini mungkin bisa saja terjadi

Kita hendaknya tidak berhenti hanya pada menerima dan melaksanakan hari suci itu. Kita mesti mencari makna yang terkandung di dalamnya. Makna yang bisa saja berpesan pada kita sebagai umat bahwa ada yang perlu kita konsentrasikan untuk dimaknai dan kemudian kita wujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari dengan tindakan.

 Perhitungan hari baik dalam melakukan pemujaan bagi kita sebagai umat Hindu, jelas memiliki latar belakang yang sangat kuat. Salah satunya adalah bahwa setiap hari suci itu adalah hari yang terwujud atas pertemuan perhitungan dengan segala kemuliaannya. Pertemuan waktu (bhuta) yang sering kita sebut dengan energi terjadi pada penggabungan wewaran, jika kita berpedoman pada perhitungan Tahun Wuku.

Demikian halnya dengan hari suci berdasarkan sasih, di mana ada sitem Surya Pramana dan Candra Pramana yang memberikan makna lebih tentang hari suci tersebut dan digunakan untuk memuja kebesaran Tuhan dalam manifestasi apa sesungguhnya saat melakukan pemujaan itu.

 Sekarang mari kita melihat salah satu yang akan kita sambut pelaksanaan hari sucinya adalah pelaksanaan Hari Suci Buda Wage Kelawu yang pelaksanaannya bersamaan dengan Tilem Kesanga, dimana pada saat Tilem Kesanga adalah hari di mana Upacara Bhuta Yadnya dilakukan secara besar-besaran oleh umat kita yang dikenal dengan pelaksanaan Tawur Agung Kesanga. Secara teks, sampai saat ini mungkin belum ada yang menuliskan apa dan bagaimana ketika kedua Hari Suci ini bertemu. Namun secara pemaknaan kita bisa menarik pesan, apa dan bagaimana pelaksanaannya kemudian.

Pertama adalah Hari Suci berdasarkan Wuku, yaitu Buda Wage Kelawu. Dalam lontar Sundarigama dinyatakan “Bude wage, ngaraning Bude cemeng, kalingania adnyane sukseme pegating indria, betari manik galih sire mayoge, nurunaken Sang Hyang Ongkare mertha, ring sanggar muang ring luwuring aturu, astawakene ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala”.

Arti secara umumnya adalah buda wage juga disebut Buda  cemeng, hari dimana pikiran kita diupayakan memutuskan indria, yoga dari Bhatari Manik Galih (dewa beras). Pada saat itu beliau menurunkan Sang Hyang Ongara Mertha (uang, kesejahteraan) di tempat suci (merajan), juga diatas tempat tidur, pada saat ini memuja Dewi Seri atau Dewi Nini, dan dilakukan dengan yoga semadhi di malam hari.

Jika melihat pesan Lontar ini maka persembahan pada saat buda wage kelawu bisa kita sarikan dengan mempersembahkan banten sebagai berikut. Pejati, sesayut bagia setata sari yang isinya kulit sayut, benang tebus, uang bolong 1 kepeng, peras, tulung, sayut, raka jangkep, nasi penek 1 dialasi don kayu sugih meilehan, sesanganan sarwa galahan, tipat sari 1 kel, tipat bagia 1 kel, penyeneng, nagasari, pesucian, payuk pere tempat tirta berisi bunga harum. Segehan panca warna.

Banten ini dipersembahkan di merajan (rong telu) lalu membuat pula sarana babanten sakesidan di atas tempat tidur (ulun pagulingan). Dalam penjelasan ini maka pada hari suci Buda Wage Kelawu adalah moment atau hari untuk melakukan permohonan kepada Dewi Sri atau Dewi Laksmi sebagai dewa kesejahteraan. Hal itu juga tentang segala yang membuat kesejahteraan kita terwujud (uang).

Serlanjutnya adalah Hari Suci Tilem kesanga yang identik dengan pelaksanaan rangkaian dan Uger-Uger Hari Suci Nyepi. Tilem Kesanga merupakan hari yang tepat untuk melakukan Upacara Bhuta Yadnya, yaitu melaksanakan Upacara Tawur Agung Kasanga dengan berbagai ketentuannya. Hari suci ini datangnya setahun sekali yaitu tepat pada Tilem Kasanga. Pada hari ini adalah hari yang memiliki pertemuan waktu untuk melakukan Upacara Nyomya Bhuta. Mulai dari tingkatan yang paling kecil yang dilakukan di perumahan, sampai pada upacara madia dan utama yang dilakukan oleh tingkat kabupaten dan provinsi. Upacara ini bertujuan untuk melakukan upaya menetralisir kekuatan Bhuta agar menjadi Bhuta Hita atau karakter dewata yang agung.

Upacara dilangsungkan dengan teknis yang sangat rapi mulai dari tingkat provinsi sampai pada tingkat rumah tangga. Upacara mecaru seperti yang kita ketahui adalah upaya nyata dalam bentuk ritual untuk mewujudkan keharmonisan, kecantikan dan keteraturan antara alam dan seluruh ciptaannya.

Diyakini bahwa dengan melakukan perayaan Upacara Bhuta Yadnya, akan mampu menetralisir energy dan merubah unsur-unsur segatif agar supaya berdampak positif melalui berbagai tingkatan Upacara. Jadi dengan bertemunya atau bersamaannya hari suci dalam perayaan kedua hari suci ini maka ada beberapa pesan yang penting bagi kita untuk kita maknai bersama

Adapun pesan yang bias kita tan gkap adalah pesan tentang bagaimana sebaiknya penggunaan uang (kesejahteraan). Uang memang tidak segalanya, namun sepenuhnya kita sangat memerlukan uang untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Dengan begitu pentingnya uang, maka mengarahkan uang agar tepat sasaran dalam penggunaannya menjadi penting.

Uang digunakan untuk ber-yadnya (persembahan kepada alam) sesungguhnya memiliki ketepatan. Bagaimana alam dibangun dengan uang, bagaimana manusia sebagai bagian dari alam dibangun dengan meningkatkan sumber dayanya demikian halnya bagaimana uang digunakan untuk menebar kebaikan untuk keberlangsungan hidup bersama di alam ini. Memanusiakan alam dengan segala isinya adalah cara penggunaan uang yang benar.

Uang atau kemakmuran digunakan untuk sepenuhnya untuk mensejahterakan, menguatkan dan mengembangkan seluruh isi alam. Bukan sebaliknya uang digunakan untuk mengekploitasi alam, penghancuran, terlebih hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok, golongan atau bahkan kepentingan negaranya, namun untuk segala sekalian alam. Alam ini mesti dipelihara dengan  baik, dengan menjaga keharmonisannya. Sebab tidak mungkin kita disebut baik, tanpa kebaikan pula yang kita tebar. Atau tidak bisa kita disebut baik dengan menjelekan atau bahkan menyakiti mahluk lainnya.

Di sinilah kesejahteraan atau uang itu memiliki posisi yang sangat tipis antara kebaikan dan atau keburukan. Artinya uang bisa saja membuat kebaikan ketika digunakan dengan dasar kebaikan, ketulusan dan kebenaran. Sebaliknya uang bisa bermanfaat buruk jika digunaan tanpa dasar kesadaran akan kebaikan bersama. Pada titik inilah uang itu sesungguhnya dikelola untuk kesejagatan, ke-alam-an dan untuk kelanggengan alam.

Bukan menjatuhkan, ego diri atau bahkan menghancurkan. Bertemunya dua hari suci yang penuh makna inilah yang mestinya kita jadikan renungan untuk saat ini. Ditengah keguncangan suhu politik dan dan ketegangan dunia saat ini, mau tidak mau kita mesti memposisikan uang dengan baik. Cara memperoleh uang mestinya dengan baik tanpa menjelekan atau menghancurkan, cara menggunakan uang mesti dilandasi kebenaran (dharma) dan bukan yang lainnya. Sehingga kesejahteraan bisa diperoleh bersama sebagai anak alam, mahluk alam yang satu sama lainnya perlu saling menguatkan, saling jaga dan saling pelihara untuk kebaikan dan keberlangsungan kehidupan bersama.

Mari kita renungkan kedua hari ini, lalu kita wujudnyatakan bersama pesan-pesannya, untuk keharmonisan alam, sebagai salah satu anugerah dalam kehidupan kita. Dengan saling jaga, saling pelihara, maka alam akan senantiasa memberikan manfaatnya untuk kehidupan baik kita. Selamat hari suci tilem kesanga, tawur agung kesanga dan Buda Wage Kelawu. Mari bangkit menjadi terhormat dengan menggunakan uang hanya untuk keharmonisan dan bukan penghancuran. [T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya NyepihinduHindu BaliTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konsep Keseimbangan dalam Bhuta Wiru, Ogoh-Ogoh Banjar Wanayu, Gianyar

Next Post

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co