2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan ‘Buda Wage Kelawu’: Gunakanlah Kekayaan untuk Keharmonisan, Bukan Perpecahan Apalagi Peperangan

IK Satria by IK Satria
March 18, 2026
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

 HARI suci yang bertemu dalam satu hari memang tidak jarang terjadi dalam perhitungan waktu atau dewasa di Bali. Nyepi bersamaan dengan Tumpek, Nyepi bersamaan dengan Pagerwesi dan sebagainya. Demikian halnya hari suci yang bertemu dengan hari suci lainnya, jika kita renungkan yang secara garis besarnya bias kita simpulkan bahwa setiap hari suci berdasarkan pawukon, bisa saja bertemu dan bersamaan dengan hari suci yang berdasarkan Sasih. Hal ini mungkin bisa saja terjadi

Kita hendaknya tidak berhenti hanya pada menerima dan melaksanakan hari suci itu. Kita mesti mencari makna yang terkandung di dalamnya. Makna yang bisa saja berpesan pada kita sebagai umat bahwa ada yang perlu kita konsentrasikan untuk dimaknai dan kemudian kita wujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari dengan tindakan.

 Perhitungan hari baik dalam melakukan pemujaan bagi kita sebagai umat Hindu, jelas memiliki latar belakang yang sangat kuat. Salah satunya adalah bahwa setiap hari suci itu adalah hari yang terwujud atas pertemuan perhitungan dengan segala kemuliaannya. Pertemuan waktu (bhuta) yang sering kita sebut dengan energi terjadi pada penggabungan wewaran, jika kita berpedoman pada perhitungan Tahun Wuku.

Demikian halnya dengan hari suci berdasarkan sasih, di mana ada sitem Surya Pramana dan Candra Pramana yang memberikan makna lebih tentang hari suci tersebut dan digunakan untuk memuja kebesaran Tuhan dalam manifestasi apa sesungguhnya saat melakukan pemujaan itu.

 Sekarang mari kita melihat salah satu yang akan kita sambut pelaksanaan hari sucinya adalah pelaksanaan Hari Suci Buda Wage Kelawu yang pelaksanaannya bersamaan dengan Tilem Kesanga, dimana pada saat Tilem Kesanga adalah hari di mana Upacara Bhuta Yadnya dilakukan secara besar-besaran oleh umat kita yang dikenal dengan pelaksanaan Tawur Agung Kesanga. Secara teks, sampai saat ini mungkin belum ada yang menuliskan apa dan bagaimana ketika kedua Hari Suci ini bertemu. Namun secara pemaknaan kita bisa menarik pesan, apa dan bagaimana pelaksanaannya kemudian.

Pertama adalah Hari Suci berdasarkan Wuku, yaitu Buda Wage Kelawu. Dalam lontar Sundarigama dinyatakan “Bude wage, ngaraning Bude cemeng, kalingania adnyane sukseme pegating indria, betari manik galih sire mayoge, nurunaken Sang Hyang Ongkare mertha, ring sanggar muang ring luwuring aturu, astawakene ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala”.

Arti secara umumnya adalah buda wage juga disebut Buda  cemeng, hari dimana pikiran kita diupayakan memutuskan indria, yoga dari Bhatari Manik Galih (dewa beras). Pada saat itu beliau menurunkan Sang Hyang Ongara Mertha (uang, kesejahteraan) di tempat suci (merajan), juga diatas tempat tidur, pada saat ini memuja Dewi Seri atau Dewi Nini, dan dilakukan dengan yoga semadhi di malam hari.

Jika melihat pesan Lontar ini maka persembahan pada saat buda wage kelawu bisa kita sarikan dengan mempersembahkan banten sebagai berikut. Pejati, sesayut bagia setata sari yang isinya kulit sayut, benang tebus, uang bolong 1 kepeng, peras, tulung, sayut, raka jangkep, nasi penek 1 dialasi don kayu sugih meilehan, sesanganan sarwa galahan, tipat sari 1 kel, tipat bagia 1 kel, penyeneng, nagasari, pesucian, payuk pere tempat tirta berisi bunga harum. Segehan panca warna.

Banten ini dipersembahkan di merajan (rong telu) lalu membuat pula sarana babanten sakesidan di atas tempat tidur (ulun pagulingan). Dalam penjelasan ini maka pada hari suci Buda Wage Kelawu adalah moment atau hari untuk melakukan permohonan kepada Dewi Sri atau Dewi Laksmi sebagai dewa kesejahteraan. Hal itu juga tentang segala yang membuat kesejahteraan kita terwujud (uang).

Serlanjutnya adalah Hari Suci Tilem kesanga yang identik dengan pelaksanaan rangkaian dan Uger-Uger Hari Suci Nyepi. Tilem Kesanga merupakan hari yang tepat untuk melakukan Upacara Bhuta Yadnya, yaitu melaksanakan Upacara Tawur Agung Kasanga dengan berbagai ketentuannya. Hari suci ini datangnya setahun sekali yaitu tepat pada Tilem Kasanga. Pada hari ini adalah hari yang memiliki pertemuan waktu untuk melakukan Upacara Nyomya Bhuta. Mulai dari tingkatan yang paling kecil yang dilakukan di perumahan, sampai pada upacara madia dan utama yang dilakukan oleh tingkat kabupaten dan provinsi. Upacara ini bertujuan untuk melakukan upaya menetralisir kekuatan Bhuta agar menjadi Bhuta Hita atau karakter dewata yang agung.

Upacara dilangsungkan dengan teknis yang sangat rapi mulai dari tingkat provinsi sampai pada tingkat rumah tangga. Upacara mecaru seperti yang kita ketahui adalah upaya nyata dalam bentuk ritual untuk mewujudkan keharmonisan, kecantikan dan keteraturan antara alam dan seluruh ciptaannya.

Diyakini bahwa dengan melakukan perayaan Upacara Bhuta Yadnya, akan mampu menetralisir energy dan merubah unsur-unsur segatif agar supaya berdampak positif melalui berbagai tingkatan Upacara. Jadi dengan bertemunya atau bersamaannya hari suci dalam perayaan kedua hari suci ini maka ada beberapa pesan yang penting bagi kita untuk kita maknai bersama

Adapun pesan yang bias kita tan gkap adalah pesan tentang bagaimana sebaiknya penggunaan uang (kesejahteraan). Uang memang tidak segalanya, namun sepenuhnya kita sangat memerlukan uang untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Dengan begitu pentingnya uang, maka mengarahkan uang agar tepat sasaran dalam penggunaannya menjadi penting.

Uang digunakan untuk ber-yadnya (persembahan kepada alam) sesungguhnya memiliki ketepatan. Bagaimana alam dibangun dengan uang, bagaimana manusia sebagai bagian dari alam dibangun dengan meningkatkan sumber dayanya demikian halnya bagaimana uang digunakan untuk menebar kebaikan untuk keberlangsungan hidup bersama di alam ini. Memanusiakan alam dengan segala isinya adalah cara penggunaan uang yang benar.

Uang atau kemakmuran digunakan untuk sepenuhnya untuk mensejahterakan, menguatkan dan mengembangkan seluruh isi alam. Bukan sebaliknya uang digunakan untuk mengekploitasi alam, penghancuran, terlebih hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok, golongan atau bahkan kepentingan negaranya, namun untuk segala sekalian alam. Alam ini mesti dipelihara dengan  baik, dengan menjaga keharmonisannya. Sebab tidak mungkin kita disebut baik, tanpa kebaikan pula yang kita tebar. Atau tidak bisa kita disebut baik dengan menjelekan atau bahkan menyakiti mahluk lainnya.

Di sinilah kesejahteraan atau uang itu memiliki posisi yang sangat tipis antara kebaikan dan atau keburukan. Artinya uang bisa saja membuat kebaikan ketika digunakan dengan dasar kebaikan, ketulusan dan kebenaran. Sebaliknya uang bisa bermanfaat buruk jika digunaan tanpa dasar kesadaran akan kebaikan bersama. Pada titik inilah uang itu sesungguhnya dikelola untuk kesejagatan, ke-alam-an dan untuk kelanggengan alam.

Bukan menjatuhkan, ego diri atau bahkan menghancurkan. Bertemunya dua hari suci yang penuh makna inilah yang mestinya kita jadikan renungan untuk saat ini. Ditengah keguncangan suhu politik dan dan ketegangan dunia saat ini, mau tidak mau kita mesti memposisikan uang dengan baik. Cara memperoleh uang mestinya dengan baik tanpa menjelekan atau menghancurkan, cara menggunakan uang mesti dilandasi kebenaran (dharma) dan bukan yang lainnya. Sehingga kesejahteraan bisa diperoleh bersama sebagai anak alam, mahluk alam yang satu sama lainnya perlu saling menguatkan, saling jaga dan saling pelihara untuk kebaikan dan keberlangsungan kehidupan bersama.

Mari kita renungkan kedua hari ini, lalu kita wujudnyatakan bersama pesan-pesannya, untuk keharmonisan alam, sebagai salah satu anugerah dalam kehidupan kita. Dengan saling jaga, saling pelihara, maka alam akan senantiasa memberikan manfaatnya untuk kehidupan baik kita. Selamat hari suci tilem kesanga, tawur agung kesanga dan Buda Wage Kelawu. Mari bangkit menjadi terhormat dengan menggunakan uang hanya untuk keharmonisan dan bukan penghancuran. [T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya NyepihinduHindu BaliTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konsep Keseimbangan dalam Bhuta Wiru, Ogoh-Ogoh Banjar Wanayu, Gianyar

Next Post

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co