23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan ‘Buda Wage Kelawu’: Gunakanlah Kekayaan untuk Keharmonisan, Bukan Perpecahan Apalagi Peperangan

IK Satria by IK Satria
March 18, 2026
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

 HARI suci yang bertemu dalam satu hari memang tidak jarang terjadi dalam perhitungan waktu atau dewasa di Bali. Nyepi bersamaan dengan Tumpek, Nyepi bersamaan dengan Pagerwesi dan sebagainya. Demikian halnya hari suci yang bertemu dengan hari suci lainnya, jika kita renungkan yang secara garis besarnya bias kita simpulkan bahwa setiap hari suci berdasarkan pawukon, bisa saja bertemu dan bersamaan dengan hari suci yang berdasarkan Sasih. Hal ini mungkin bisa saja terjadi

Kita hendaknya tidak berhenti hanya pada menerima dan melaksanakan hari suci itu. Kita mesti mencari makna yang terkandung di dalamnya. Makna yang bisa saja berpesan pada kita sebagai umat bahwa ada yang perlu kita konsentrasikan untuk dimaknai dan kemudian kita wujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari dengan tindakan.

 Perhitungan hari baik dalam melakukan pemujaan bagi kita sebagai umat Hindu, jelas memiliki latar belakang yang sangat kuat. Salah satunya adalah bahwa setiap hari suci itu adalah hari yang terwujud atas pertemuan perhitungan dengan segala kemuliaannya. Pertemuan waktu (bhuta) yang sering kita sebut dengan energi terjadi pada penggabungan wewaran, jika kita berpedoman pada perhitungan Tahun Wuku.

Demikian halnya dengan hari suci berdasarkan sasih, di mana ada sitem Surya Pramana dan Candra Pramana yang memberikan makna lebih tentang hari suci tersebut dan digunakan untuk memuja kebesaran Tuhan dalam manifestasi apa sesungguhnya saat melakukan pemujaan itu.

 Sekarang mari kita melihat salah satu yang akan kita sambut pelaksanaan hari sucinya adalah pelaksanaan Hari Suci Buda Wage Kelawu yang pelaksanaannya bersamaan dengan Tilem Kesanga, dimana pada saat Tilem Kesanga adalah hari di mana Upacara Bhuta Yadnya dilakukan secara besar-besaran oleh umat kita yang dikenal dengan pelaksanaan Tawur Agung Kesanga. Secara teks, sampai saat ini mungkin belum ada yang menuliskan apa dan bagaimana ketika kedua Hari Suci ini bertemu. Namun secara pemaknaan kita bisa menarik pesan, apa dan bagaimana pelaksanaannya kemudian.

Pertama adalah Hari Suci berdasarkan Wuku, yaitu Buda Wage Kelawu. Dalam lontar Sundarigama dinyatakan “Bude wage, ngaraning Bude cemeng, kalingania adnyane sukseme pegating indria, betari manik galih sire mayoge, nurunaken Sang Hyang Ongkare mertha, ring sanggar muang ring luwuring aturu, astawakene ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala”.

Arti secara umumnya adalah buda wage juga disebut Buda  cemeng, hari dimana pikiran kita diupayakan memutuskan indria, yoga dari Bhatari Manik Galih (dewa beras). Pada saat itu beliau menurunkan Sang Hyang Ongara Mertha (uang, kesejahteraan) di tempat suci (merajan), juga diatas tempat tidur, pada saat ini memuja Dewi Seri atau Dewi Nini, dan dilakukan dengan yoga semadhi di malam hari.

Jika melihat pesan Lontar ini maka persembahan pada saat buda wage kelawu bisa kita sarikan dengan mempersembahkan banten sebagai berikut. Pejati, sesayut bagia setata sari yang isinya kulit sayut, benang tebus, uang bolong 1 kepeng, peras, tulung, sayut, raka jangkep, nasi penek 1 dialasi don kayu sugih meilehan, sesanganan sarwa galahan, tipat sari 1 kel, tipat bagia 1 kel, penyeneng, nagasari, pesucian, payuk pere tempat tirta berisi bunga harum. Segehan panca warna.

Banten ini dipersembahkan di merajan (rong telu) lalu membuat pula sarana babanten sakesidan di atas tempat tidur (ulun pagulingan). Dalam penjelasan ini maka pada hari suci Buda Wage Kelawu adalah moment atau hari untuk melakukan permohonan kepada Dewi Sri atau Dewi Laksmi sebagai dewa kesejahteraan. Hal itu juga tentang segala yang membuat kesejahteraan kita terwujud (uang).

Serlanjutnya adalah Hari Suci Tilem kesanga yang identik dengan pelaksanaan rangkaian dan Uger-Uger Hari Suci Nyepi. Tilem Kesanga merupakan hari yang tepat untuk melakukan Upacara Bhuta Yadnya, yaitu melaksanakan Upacara Tawur Agung Kasanga dengan berbagai ketentuannya. Hari suci ini datangnya setahun sekali yaitu tepat pada Tilem Kasanga. Pada hari ini adalah hari yang memiliki pertemuan waktu untuk melakukan Upacara Nyomya Bhuta. Mulai dari tingkatan yang paling kecil yang dilakukan di perumahan, sampai pada upacara madia dan utama yang dilakukan oleh tingkat kabupaten dan provinsi. Upacara ini bertujuan untuk melakukan upaya menetralisir kekuatan Bhuta agar menjadi Bhuta Hita atau karakter dewata yang agung.

Upacara dilangsungkan dengan teknis yang sangat rapi mulai dari tingkat provinsi sampai pada tingkat rumah tangga. Upacara mecaru seperti yang kita ketahui adalah upaya nyata dalam bentuk ritual untuk mewujudkan keharmonisan, kecantikan dan keteraturan antara alam dan seluruh ciptaannya.

Diyakini bahwa dengan melakukan perayaan Upacara Bhuta Yadnya, akan mampu menetralisir energy dan merubah unsur-unsur segatif agar supaya berdampak positif melalui berbagai tingkatan Upacara. Jadi dengan bertemunya atau bersamaannya hari suci dalam perayaan kedua hari suci ini maka ada beberapa pesan yang penting bagi kita untuk kita maknai bersama

Adapun pesan yang bias kita tan gkap adalah pesan tentang bagaimana sebaiknya penggunaan uang (kesejahteraan). Uang memang tidak segalanya, namun sepenuhnya kita sangat memerlukan uang untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Dengan begitu pentingnya uang, maka mengarahkan uang agar tepat sasaran dalam penggunaannya menjadi penting.

Uang digunakan untuk ber-yadnya (persembahan kepada alam) sesungguhnya memiliki ketepatan. Bagaimana alam dibangun dengan uang, bagaimana manusia sebagai bagian dari alam dibangun dengan meningkatkan sumber dayanya demikian halnya bagaimana uang digunakan untuk menebar kebaikan untuk keberlangsungan hidup bersama di alam ini. Memanusiakan alam dengan segala isinya adalah cara penggunaan uang yang benar.

Uang atau kemakmuran digunakan untuk sepenuhnya untuk mensejahterakan, menguatkan dan mengembangkan seluruh isi alam. Bukan sebaliknya uang digunakan untuk mengekploitasi alam, penghancuran, terlebih hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok, golongan atau bahkan kepentingan negaranya, namun untuk segala sekalian alam. Alam ini mesti dipelihara dengan  baik, dengan menjaga keharmonisannya. Sebab tidak mungkin kita disebut baik, tanpa kebaikan pula yang kita tebar. Atau tidak bisa kita disebut baik dengan menjelekan atau bahkan menyakiti mahluk lainnya.

Di sinilah kesejahteraan atau uang itu memiliki posisi yang sangat tipis antara kebaikan dan atau keburukan. Artinya uang bisa saja membuat kebaikan ketika digunakan dengan dasar kebaikan, ketulusan dan kebenaran. Sebaliknya uang bisa bermanfaat buruk jika digunaan tanpa dasar kesadaran akan kebaikan bersama. Pada titik inilah uang itu sesungguhnya dikelola untuk kesejagatan, ke-alam-an dan untuk kelanggengan alam.

Bukan menjatuhkan, ego diri atau bahkan menghancurkan. Bertemunya dua hari suci yang penuh makna inilah yang mestinya kita jadikan renungan untuk saat ini. Ditengah keguncangan suhu politik dan dan ketegangan dunia saat ini, mau tidak mau kita mesti memposisikan uang dengan baik. Cara memperoleh uang mestinya dengan baik tanpa menjelekan atau menghancurkan, cara menggunakan uang mesti dilandasi kebenaran (dharma) dan bukan yang lainnya. Sehingga kesejahteraan bisa diperoleh bersama sebagai anak alam, mahluk alam yang satu sama lainnya perlu saling menguatkan, saling jaga dan saling pelihara untuk kebaikan dan keberlangsungan kehidupan bersama.

Mari kita renungkan kedua hari ini, lalu kita wujudnyatakan bersama pesan-pesannya, untuk keharmonisan alam, sebagai salah satu anugerah dalam kehidupan kita. Dengan saling jaga, saling pelihara, maka alam akan senantiasa memberikan manfaatnya untuk kehidupan baik kita. Selamat hari suci tilem kesanga, tawur agung kesanga dan Buda Wage Kelawu. Mari bangkit menjadi terhormat dengan menggunakan uang hanya untuk keharmonisan dan bukan penghancuran. [T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya NyepihinduHindu BaliTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konsep Keseimbangan dalam Bhuta Wiru, Ogoh-Ogoh Banjar Wanayu, Gianyar

Next Post

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co