12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan ‘Buda Wage Kelawu’: Gunakanlah Kekayaan untuk Keharmonisan, Bukan Perpecahan Apalagi Peperangan

IK Satria by IK Satria
March 18, 2026
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

 HARI suci yang bertemu dalam satu hari memang tidak jarang terjadi dalam perhitungan waktu atau dewasa di Bali. Nyepi bersamaan dengan Tumpek, Nyepi bersamaan dengan Pagerwesi dan sebagainya. Demikian halnya hari suci yang bertemu dengan hari suci lainnya, jika kita renungkan yang secara garis besarnya bias kita simpulkan bahwa setiap hari suci berdasarkan pawukon, bisa saja bertemu dan bersamaan dengan hari suci yang berdasarkan Sasih. Hal ini mungkin bisa saja terjadi

Kita hendaknya tidak berhenti hanya pada menerima dan melaksanakan hari suci itu. Kita mesti mencari makna yang terkandung di dalamnya. Makna yang bisa saja berpesan pada kita sebagai umat bahwa ada yang perlu kita konsentrasikan untuk dimaknai dan kemudian kita wujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari dengan tindakan.

 Perhitungan hari baik dalam melakukan pemujaan bagi kita sebagai umat Hindu, jelas memiliki latar belakang yang sangat kuat. Salah satunya adalah bahwa setiap hari suci itu adalah hari yang terwujud atas pertemuan perhitungan dengan segala kemuliaannya. Pertemuan waktu (bhuta) yang sering kita sebut dengan energi terjadi pada penggabungan wewaran, jika kita berpedoman pada perhitungan Tahun Wuku.

Demikian halnya dengan hari suci berdasarkan sasih, di mana ada sitem Surya Pramana dan Candra Pramana yang memberikan makna lebih tentang hari suci tersebut dan digunakan untuk memuja kebesaran Tuhan dalam manifestasi apa sesungguhnya saat melakukan pemujaan itu.

 Sekarang mari kita melihat salah satu yang akan kita sambut pelaksanaan hari sucinya adalah pelaksanaan Hari Suci Buda Wage Kelawu yang pelaksanaannya bersamaan dengan Tilem Kesanga, dimana pada saat Tilem Kesanga adalah hari di mana Upacara Bhuta Yadnya dilakukan secara besar-besaran oleh umat kita yang dikenal dengan pelaksanaan Tawur Agung Kesanga. Secara teks, sampai saat ini mungkin belum ada yang menuliskan apa dan bagaimana ketika kedua Hari Suci ini bertemu. Namun secara pemaknaan kita bisa menarik pesan, apa dan bagaimana pelaksanaannya kemudian.

Pertama adalah Hari Suci berdasarkan Wuku, yaitu Buda Wage Kelawu. Dalam lontar Sundarigama dinyatakan “Bude wage, ngaraning Bude cemeng, kalingania adnyane sukseme pegating indria, betari manik galih sire mayoge, nurunaken Sang Hyang Ongkare mertha, ring sanggar muang ring luwuring aturu, astawakene ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala”.

Arti secara umumnya adalah buda wage juga disebut Buda  cemeng, hari dimana pikiran kita diupayakan memutuskan indria, yoga dari Bhatari Manik Galih (dewa beras). Pada saat itu beliau menurunkan Sang Hyang Ongara Mertha (uang, kesejahteraan) di tempat suci (merajan), juga diatas tempat tidur, pada saat ini memuja Dewi Seri atau Dewi Nini, dan dilakukan dengan yoga semadhi di malam hari.

Jika melihat pesan Lontar ini maka persembahan pada saat buda wage kelawu bisa kita sarikan dengan mempersembahkan banten sebagai berikut. Pejati, sesayut bagia setata sari yang isinya kulit sayut, benang tebus, uang bolong 1 kepeng, peras, tulung, sayut, raka jangkep, nasi penek 1 dialasi don kayu sugih meilehan, sesanganan sarwa galahan, tipat sari 1 kel, tipat bagia 1 kel, penyeneng, nagasari, pesucian, payuk pere tempat tirta berisi bunga harum. Segehan panca warna.

Banten ini dipersembahkan di merajan (rong telu) lalu membuat pula sarana babanten sakesidan di atas tempat tidur (ulun pagulingan). Dalam penjelasan ini maka pada hari suci Buda Wage Kelawu adalah moment atau hari untuk melakukan permohonan kepada Dewi Sri atau Dewi Laksmi sebagai dewa kesejahteraan. Hal itu juga tentang segala yang membuat kesejahteraan kita terwujud (uang).

Serlanjutnya adalah Hari Suci Tilem kesanga yang identik dengan pelaksanaan rangkaian dan Uger-Uger Hari Suci Nyepi. Tilem Kesanga merupakan hari yang tepat untuk melakukan Upacara Bhuta Yadnya, yaitu melaksanakan Upacara Tawur Agung Kasanga dengan berbagai ketentuannya. Hari suci ini datangnya setahun sekali yaitu tepat pada Tilem Kasanga. Pada hari ini adalah hari yang memiliki pertemuan waktu untuk melakukan Upacara Nyomya Bhuta. Mulai dari tingkatan yang paling kecil yang dilakukan di perumahan, sampai pada upacara madia dan utama yang dilakukan oleh tingkat kabupaten dan provinsi. Upacara ini bertujuan untuk melakukan upaya menetralisir kekuatan Bhuta agar menjadi Bhuta Hita atau karakter dewata yang agung.

Upacara dilangsungkan dengan teknis yang sangat rapi mulai dari tingkat provinsi sampai pada tingkat rumah tangga. Upacara mecaru seperti yang kita ketahui adalah upaya nyata dalam bentuk ritual untuk mewujudkan keharmonisan, kecantikan dan keteraturan antara alam dan seluruh ciptaannya.

Diyakini bahwa dengan melakukan perayaan Upacara Bhuta Yadnya, akan mampu menetralisir energy dan merubah unsur-unsur segatif agar supaya berdampak positif melalui berbagai tingkatan Upacara. Jadi dengan bertemunya atau bersamaannya hari suci dalam perayaan kedua hari suci ini maka ada beberapa pesan yang penting bagi kita untuk kita maknai bersama

Adapun pesan yang bias kita tan gkap adalah pesan tentang bagaimana sebaiknya penggunaan uang (kesejahteraan). Uang memang tidak segalanya, namun sepenuhnya kita sangat memerlukan uang untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Dengan begitu pentingnya uang, maka mengarahkan uang agar tepat sasaran dalam penggunaannya menjadi penting.

Uang digunakan untuk ber-yadnya (persembahan kepada alam) sesungguhnya memiliki ketepatan. Bagaimana alam dibangun dengan uang, bagaimana manusia sebagai bagian dari alam dibangun dengan meningkatkan sumber dayanya demikian halnya bagaimana uang digunakan untuk menebar kebaikan untuk keberlangsungan hidup bersama di alam ini. Memanusiakan alam dengan segala isinya adalah cara penggunaan uang yang benar.

Uang atau kemakmuran digunakan untuk sepenuhnya untuk mensejahterakan, menguatkan dan mengembangkan seluruh isi alam. Bukan sebaliknya uang digunakan untuk mengekploitasi alam, penghancuran, terlebih hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok, golongan atau bahkan kepentingan negaranya, namun untuk segala sekalian alam. Alam ini mesti dipelihara dengan  baik, dengan menjaga keharmonisannya. Sebab tidak mungkin kita disebut baik, tanpa kebaikan pula yang kita tebar. Atau tidak bisa kita disebut baik dengan menjelekan atau bahkan menyakiti mahluk lainnya.

Di sinilah kesejahteraan atau uang itu memiliki posisi yang sangat tipis antara kebaikan dan atau keburukan. Artinya uang bisa saja membuat kebaikan ketika digunakan dengan dasar kebaikan, ketulusan dan kebenaran. Sebaliknya uang bisa bermanfaat buruk jika digunaan tanpa dasar kesadaran akan kebaikan bersama. Pada titik inilah uang itu sesungguhnya dikelola untuk kesejagatan, ke-alam-an dan untuk kelanggengan alam.

Bukan menjatuhkan, ego diri atau bahkan menghancurkan. Bertemunya dua hari suci yang penuh makna inilah yang mestinya kita jadikan renungan untuk saat ini. Ditengah keguncangan suhu politik dan dan ketegangan dunia saat ini, mau tidak mau kita mesti memposisikan uang dengan baik. Cara memperoleh uang mestinya dengan baik tanpa menjelekan atau menghancurkan, cara menggunakan uang mesti dilandasi kebenaran (dharma) dan bukan yang lainnya. Sehingga kesejahteraan bisa diperoleh bersama sebagai anak alam, mahluk alam yang satu sama lainnya perlu saling menguatkan, saling jaga dan saling pelihara untuk kebaikan dan keberlangsungan kehidupan bersama.

Mari kita renungkan kedua hari ini, lalu kita wujudnyatakan bersama pesan-pesannya, untuk keharmonisan alam, sebagai salah satu anugerah dalam kehidupan kita. Dengan saling jaga, saling pelihara, maka alam akan senantiasa memberikan manfaatnya untuk kehidupan baik kita. Selamat hari suci tilem kesanga, tawur agung kesanga dan Buda Wage Kelawu. Mari bangkit menjadi terhormat dengan menggunakan uang hanya untuk keharmonisan dan bukan penghancuran. [T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya NyepihinduHindu BaliTawur Kesanga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konsep Keseimbangan dalam Bhuta Wiru, Ogoh-Ogoh Banjar Wanayu, Gianyar

Next Post

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co