2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya

Ida Ayu Made Dwi Antari by Ida Ayu Made Dwi Antari
March 16, 2026
in Esai
Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

​Di panggung kehidupan yang menuntut produktivitas tanpa jeda, sering kali kita terjebak dalam sebuah ironi : tubuh yang tetap bergerak, namun jiwa yang perlahan memudar. Orang-orang mengenalnya sebagai Soft Burnout.

Jika burnout konvensional adalah sebuah hantaman keras yang membuat seseorang tersungkur, maka soft burnout adalah sebuah “keheningan yang mematikan”  fase di mana kita berfungsi seperti mesin autopilot, namun kehilangan kemampuan untuk “merasakan”.

Analogi Mesin dan Kekosongan

​Bayangkan sebuah mesin yang lampu-lampunya masih menyala terang, namun tangki bahan bakarnya telah kering kerontang. Kita tetap berangkat ke kampus, tetap menari, tetap melakukan rutinitas seni di bawah terik matahari, bahkan ketika keterbatasan fisik mencoba menghalangi. Dari luar, dunia melihat diri ini sebagai sosok yang produktif dan tangguh.

Namun tanpa sadar kita sedang berteriak dalam kekosongan. Sebuah kondisi di mana eksistensi hanya didorong oleh tuntutan tanggung jawab, bukan lagi oleh api semangat. Inilah The Fade redupnya cahaya batin sebelum ia benar-benar padam. Pikiran adalah sumber dari segala perbuatan. Sarasamuscaya Sloka 79, menekankan pentingnya manusia mengendalikan pikiran yang dimana sebagai kunci utama dari moral dan spiritual.

Jika pikiran dibiarkan kering seperti mesin tanpa bahan bakar seseorang akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sarasamuscaya mengingatkan bahwa pikiran yang tidak terkendali akan membawa kekosongan makna, dimana tubuh bergerak akan tetapi esensi kemanusiaannya menghilang begitu saja.

Produktivitas sebagai Pelarian

​Ada sebuah rahasia yang jarang diungkap : terkadang produktivitas yang berlebihan adalah mekanisme pelarian dari luka lama. Sekujur tubuh kian berlari menuju kesibukan agar tidak punya waktu untuk menoleh pada trauma, penolakan, atau rasa sakit yang belum tuntas di masa lalu.

Kita menumpuk pencapaian seperti karya-karya literasi untuk membuktikan bahwa diri sendiri “berharga” di hadapan mereka yang pernah meremehkan. Namun, mengabaikan luka sambil terus memacu  mesin batin adalah resep menuju kehancuran yang sunyi. Menjadi manusia yang “dingin”. Sikap tenang dan tanpa emosi yang ditunjukkan sebenarnya adalah tembok pertahanan (emotional numbing) agar tidak ada lagi rasa sakit yang bisa masuk.

Di dalam Sarasamuscaya,  kebahagiaan sejati hanya bisa digapai melalui konsep Citta Suddhi dalam Sarasamuscaya merupakan etika tertinggi dimana penting bagi seseorang menekankan penyucian pikiran sebagai fondasi utama dalam melaksanakan kebenaran. Ketika seseorang menumpuk pencapaian hanya untuk membuktikan harga dirinya sendiri. Tanpa sadar sebenarnya sedang mengabaikan noda di dalam batin. Pelarian melalui kesibukan hanyalah ‘tembok pertahanan’ yang justru menjauhkan dirinya dari hakikat kedamaian yang diajarkan para leluhur.

Mengurai Benang Kusut Pikiran

​Overthinking sering kali menjadi beban tambahan yang mempercepat proses redupnya cahaya ini. Ia seperti benang kusut yang terus ada di kepala yang semakin ditarik menimbulkan kehilangan jiwa. Maka saya sebagai Narasumber Kesehatan mental, memilih mengurainya untuk dijadikan sebuah karya seni. Kelelahan mental ini merampas kemanusiaan  dan mengubah insan menjadi robot yang hanya tahu cara bekerja, namun lupa cara merasa.

Maka, saya menemukan bahwa katarsis paling jujur adalah melalui Sastra. Menulis puisi bukan sekadar merangkai kata, melainkan upaya untuk memindahkan beban di kepala ke atas kertas. Sastra menjadi tabung oksigen ketika realita terasa menyesakkan.

Menulis puisi bukan sekadar memindahkan beban di kepala ke atas kertas. Ini adalah laku Dharma untuk menata Manacika. Dengan mengurai benang kusut pikiran menjadi karya , seorang insan sedang berusaha memenuhi kodratnya sebagai makhluk yang berakal, mengembalikan cahaya batin agar tidak benar-benar padam.

Kedaulatan Diri dan Pemulihan

​Pulih dari Soft Burnout dimulai dari sebuah keberanian : mengakui keterbatasan. Keberanian mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak apa-apa untuk beristirahat sebentar. Self-compassion bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedaulatan diri. Dengan memberikan izin bagi diri sendiri untuk merasa sedih atau lelah tanpa perlu menghakimi. Sarasamuscaya Sloka 2,  diantara segala mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan baik; segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah guna (pahalanya) menjadi manusia.

​Pola pikir bertumbuh (Growth Mindset) adalah kunci. Tantangan dan rasa sakit tidak seharusnya menghentikan insan, melainkan menjadi guru yang mendewasakan. Hidup memang harus ada tantangan, karena sebagaimana disebutkan dalam Sarasamuscaya Sloka 2, menjadi manusia adalah kesempatan yang sulit didapat (Manusyah sarvabhutesu) dan hanya manusia yang bisa memperbaiki nasibnya melalui perbuatan baik.

Maka, bertahan dalam proses yang berat dengan mental yang kokoh  adalah cara seseorang menghargai anugerah kelahiran ini. Kepada kawan-kawan yang sedang merasakan lampunya mulai meredup, ketahuilah bahwa kehebatan seseorang tidak diukur dari seberapa cepat ia berlari, melainkan seberapa tangguh ia bertahan dalam proses yang berat.

Meskipun fisik terbatas, selama mental tetap kokoh, insan akan selalu menemukan jalan untuk maju. Biarlah mesin kian tetap menyala, namun jangan biarkan ia kehilangan jiwanya. Karena pada akhirnya, karya yang paling bernyawa adalah karya yang lahir dari kejujuran seorang manusia, bukan dari ketangguhan sebuah mesin. [T]

Tags: burnoutmodernitassarasamuscaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

Next Post

Ogoh-Ogoh Bali Mengambil Inspirasi dari Cerita-cerita Tiongkok, Boleh Kan?

Ida Ayu Made Dwi Antari

Ida Ayu Made Dwi Antari

Lahir dan menetap di Bali. Seorang penyuka musik dan sastra. Mengawali jejak kepenyairannya lewat Antologi Puisi pada 2021, ia juga pernah menjadi Narasumber Kesehatan Mental. Baginya, kata adalah nada yang tak bersuara. Sapa ia di Instagram @i.a_ant.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ogoh-Ogoh Bali Mengambil Inspirasi dari Cerita-cerita Tiongkok, Boleh Kan?

Ogoh-Ogoh Bali Mengambil Inspirasi dari Cerita-cerita Tiongkok, Boleh Kan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co