12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogoh-Ogoh Bali Mengambil Inspirasi dari Cerita-cerita Tiongkok, Boleh Kan?

Julio Saputra by Julio Saputra
March 16, 2026
in Esai
Ogoh-Ogoh Bali Mengambil Inspirasi dari Cerita-cerita Tiongkok, Boleh Kan?

Siluman Tengkorak Putih kewalahan menghadapi Sun Wukong yang mengeluarkan jurus seribu bayangan. Foto: tangkap layar film The Monkey King 2.

Sebuah video melintas begitu saja di beranda For You Page (FYP) TikTok yang iseng saya buka pada suatu sore yang mendung. Di layar gawai saya, tampak sekelompok pemuda di sebuah banjar di Bali tengah sibuk menempelkan potongan kertas dan kain pada tubuh ogoh-ogoh yang menjulang tinggi. Wajah raksasa itu masih setengah jadi. Namun ciri-cirinya sudah dapat dilihat dengan jelas. Matanya melotot, taringnya menyembul, rambutnya agak panjang dan terurai acak. Saya pun mulai menebak-nebak dalam hati. Dilihat dari bentuknya, itu pasti sosok Bhuta Kala, figur yang lazim saya jumpai pada bentuk ogoh-ogoh di Bali.

Rasa penasaran membuat saya terus menggulir layar, menjelajahi lebih banyak video ogoh-ogoh yang bermunculan di TikTok. Iseng-iseng saya pun sengaja mencari ogoh-ogoh yang berbeda, yang mungkin terinspirasi dari cerita-cerita Tiongkok. Kebetulan karena saya adalah warga keturunan dan saya lumayan tertarik dengan cerita, mitos, atau lagenda dari Negeri Tirai Bambu tersebut. Sayangnya, tidak satu pun yang saya temukan. Entah karena memang tidak ada atau saya yang tidak menemukannya. Yang pasti, sebuah pertanyaan kemudian muncul dalam benak saya: Bolehkah ogoh-ogoh Bali mengambil inspirasi dari cerita-cerita Tiongkok?

Yang saya pahami, ogoh-ogoh sendiri memang bukan sekadar figur berukuran besar dan tinggi. Dalam tradisi Bali, ia menjadi simbol energi negatif atau kekuatan liar dari alam semesta. Setiap tahun menjelang Hari Raya Nyepi, ogoh-ogoh akan diarak keliling desa sebelum akhirnya dibakar. Prosesi yang menjadi sebuah pertunjukan visual sekaligus ritual simbolik untuk menetralisir kekuatan liar dari alam semesta sebelum memasuki kesunyian.

Sejarah ogoh-ogoh pun ternyata tidak setua yang saya bayangkan. Lewat tulisan Satria Aditya berjudul “Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini”, baru saya ketahui bahwa bentuk arak-arakan ogoh-ogoh yang populer saat ini berkembang pesat sejak tahun 1980-an. Sejak itu pula, kreativitas para pembuatnya semakin berkembang. Dari sosok raksasa tradisional, sampai muncul figur-figur baru, mulai dari tokoh dewa-dewi, makhluk mitos atau folklor, sampai representasi isu sosial seperti koruptor dan teroris, dan sebagainya.

Nah, Di sanalah perdebatan sering muncul. Di kolom komentar Facebook misalnya, tak jarang saya temui sebagian kalangan berpendapat bahwa ogoh-ogoh sebaiknya tetap berakar pada simbol-simbol dalam kosmologi Hindu Bali. Sosok seperti bhuta kala, raksasa pewayangan, atau figur dari kisah epik seperti Ramayana dan Mahabharata dianggap lebih selaras dengan makna ritualnya.

Ming, Q. (Ed.). (2008). Qing caihui quanben Xiyouji [Qing-Period Color-Illustrated Complete Edition of Journey to the West]. Beijing: Zhongguo shudian

Di lain sisi, banyak seniman muda melihat ogoh-ogoh sebagai ruang ekspresi kreatif. Selama wujudnya tetap merepresentasikan energi negatif atau kekuatan liar dari alam semesta tersebut, maka inspirasi bisa datang dari mana saja, tidak selalu lahir dari satu sumber yang kaku. Para pembuatnya bisa mengambil gagasan dari berbagai cerita rakyat, mitologi, legenda, hingga pengalaman hidup sehari-hari. Imajinasi dapat dikembangkan dari hal-hal yang mereka lihat, dengar, atau rasakan, baik dari lingkungan sekitar, cerita yang diwariskan secara turun-temurun, maupun dari budaya lain yang mereka kenal. Bentuk visualnya dapat dieksplorasi dengan sangat bebas.

Meski begitu, beberapa keputusan yang sudah disepakati bersama tetap harus dihormati. Beberapa kalangan barangkali memiliki aturan tersendiri tentang tema ogoh-ogoh yang harus dibuat. Ada yang membatasi pada cerita tradisional, ada pula yang memberi ruang bagi interpretasi modern selama tidak menyinggung unsur keagamaan atau sosial. Positifnya, perdebatan itu boleh dikatakan menjadi bagian dari proses belajar. Para pemuda secara tak sadar juga berdialog tradisi dan berdialog kebudayaan.  

Pada akhirnya, ogoh-ogoh selalu berada di antara dua dunia, di antara ritual dan kreativitas. Di satu sisi, ia adalah simbol spiritual yang mengakar pada kosmologi Bali. Di sisi lain, ia juga karya seni kolektif yang terus berkembang mengikuti zaman. Lalu, kembali ke pertanyaan saya sebelumnya: bolehkah ogoh-ogoh Bali mengambil inspirasi dari cerita-cerita Tiongkok?

Rombongan Biksu Tan Sanzang memadamkan api menggunakan kipas besi. Ilustrasi: Ming, Q. (Ed.). (2008). Qing caihui quanben Xiyouji [Qing-Period Color-Illustrated Complete Edition of Journey to the West]. Beijing: Zhongguo shudian

Saya akhirnya menyadari, ketika nantinya sebuah ogoh-ogoh mengambil inspirasi dari cerita Tiongkok, pertanyaan yang lebih penting mungkin bukan sekadar “boleh atau tidak boleh”, melainkan: apakah makna simboliknya masih terjaga? Apakah masih selaras dan sejalan dengan makna ritualnya? Apakah karakter yang ditampilkan tetap mencerminkan sifat liar, angkara, atau kekuatan negatif yang perlu dinetralisir?

Jika jawabannya ya, maka boleh-boleh saja ogoh-ogoh mengambil inspirasi dari cerita-cerita Tiongkok, dan seperti banyak tradisi lain di Indonesia, ogoh-ogoh mungkin hanya sedang melakukan apa yang sudah lama dilakukan, yaitu beradaptasi, menyerap, dan terus hidup.

Beberapa Cerita Tiongkok yang Bisa Dijadikan Inspirasi Ogoh-ogoh

Cerita-cerita Tiongkok sendiri menyimpan banyak tokoh dan makhluk mitologis yang kuat secara visual. Ada naga raksasa yang melayang di langit, siluman yang berubah wujud, hingga sosok-sosok dewa dengan karakter dramatis. Bagi pembuat ogoh-ogoh, kekayaan imajinasi semacam ini bisa menjadi ladang eksplorasi bentuk, tekstur, dan ekspresi visual. Unsur-unsur fantastis seperti tubuh makhluk yang berliku, wajah yang garang, atau perpaduan antara manusia dan makhluk gaib membuka kemungkinan yang kreatif dalam merancang ogoh-ogoh yang imajinatif, dramatis, dan memikat secara artistik.

Dari sekian banyak cerita yang ada, berikut adalah cerita-cerita paling terkenal yang bisa dijadikan inspirasi dalam membuat ogoh-ogoh.

— Lagenda Ular Putih

Legenda Ular Putih merupakan salah satu kisah rakyat paling terkenal dari Tiongkok. Cerita ini telah diwariskan selama ratusan tahun dan sangat populer di berbagai generasi. Ceritanya telah diadaptasi ke dalam berbagai bentuk lain. Waktu kecil saya sempat menonton serial televisinya. Beberapa tahun lalu, saya juga menonton filmnya. Kebetulan salah satu pemainnya adalah Jet Li, salah satu aktor laga favorit saya.

Sosok Siluman Ular Putih dan Siluman Ular Hijau dalam wujud setengah manusia setengah siluman dalam film The Sorcerer and the White Snake

Lagenda ini menceritakan tentang siluman ular putih bernama Bai Suzhen yang telah berlatih spiritual selama ratusan tahun hingga mampu berubah menjadi manusia. Bersama sahabatnya, siluman ular hijau Xiao Qing, ia turun ke dunia manusia.

Di tepi danau, Bai Suzhen bertemu seorang pria baik hati bernama Xu Xian. Mereka jatuh cinta, menikah, dan hidup damai sambil membuka toko obat untuk membantu orang-orang sakit. Namun kebahagiaan mereka terganggu oleh seorang biksu bernama Fa Hai, yang menganggap hubungan antara manusia dan siluman melanggar hukum alam. Ia berusaha memisahkan pasangan tersebut dan mengungkap identitas asli Bai Suzhen.

Bagian paling dramatis terjadi saat Festival Perahu Naga, ketika Fa Hai menyuruh Xu Xian memberi Bai Suzhen minuman arak realgar yang dapat mengungkap wujud roh. Setelah meminumnya, Bai Suzhen tak mampu menahan kekuatannya dan berubah kembali menjadi ular putih raksasa. Xu Xian yang melihat wujud aslinya ketakutan hingga pingsan.

Ilustrasi pertarungan Siluman Ular Putih dan Siluman Ular Hijau melawan pendeta sakti. Supplied: Museum of Chinese Australian History

Merasa bersalah dan putus asa, Bai Suzhen melakukan perjalanan berbahaya untuk mencari obat yang dapat menyelamatkan suaminya. Setelah Xu Xian sadar, Fa Hai membawa pria itu ke kuil agar menjauh dari Bai Suzhen. Dalam keadaan hamil, Bai Suzhen bersama Xiao Qing mencoba menyelamatkannya. Mereka memanggil badai besar dan banjir untuk menyerang kuil tempat Xu Xian ditahan. Pertempuran antara kekuatan spiritual Fa Hai dan kekuatan dua siluman ular itu menjadi klimaks cerita.

Namun pada akhirnya Fa Hai menang. Bai Suzhen disegel di bawah Leifeng Pagoda, meninggalkan suami dan anaknya. Xiao Qing bersumpah akan kembali suatu hari untuk membebaskannya.

— Sun Wukong melawan Siluman Tengkorak Putih

Bagi saya secara pribadi, kisah berikut ini adalah salah satu kisah paling emosional dalam keseluruhan cerita Kera Sakti yang saya tonton di televisi.

Kisah Sun Wukong melawan Siluman Tengkorak Putih berasal dari cerita klasik Journey to the West. Dalam perjalanan mencari kitab suci ke barat, Biksu Tang Sanzang ditemani oleh tiga muridnya, yaitu Sun Wukong, Zhu Bajie, dan Sha Wujing. Pada suatu hari, mereka diincar oleh siluman jahat bernama Bai Gu Jing, yang juga dikenal sebagai Siluman Tengkorak Putih. Ia ingin memakan daging Biksu Tang Sanzang karena dipercaya dapat memberinya keabadian dan kekuatan yang luar biasa.

Momen Zhu Bajie dan Sha Wujing bersiap-siap menghadapi Siluman Tengkorak Putih yang sudah berubah ke dalam wujud sempurnanya. Foto: tangkap layar film The Monkey King 2

Siluman Tengkorak Putih sangat licik. Ia tahu bahwa Sun Wukong memiliki mata sakti yang bisa melihat wujud aslinya. Untuk menipu rombongan Biksu Tang Sanzang, ia menyamar beberapa kali sebagai manusia.

Pertama-tama, ia menyamar menjadi seorang gadis desa yang membawa makanan kepada para musafir. Biksu Tang Sanzang merasa kasihan dan ingin menerimanya. Namun Sun Wukong melihat wujud aslinya dan langsung menyerang dengan tongkatnya. Tubuh gadis itu jatuh dan berubah menjadi tulang belulang. Sayangnya, Biksu Tang Sanzang tidak melihat wujud asli dari siluman tersebut dan mengira Sun Wukong membunuh manusia tak bersalah.

Pada penyamaran kedua, ia berubah menjadi seorang ibu dari seorang gadis yang sebelumnya mencoba memberi makanan kepada Biksu Tang Sanzang. Sekali lagi Sun Wukong menghancurkan wujud itu. Tetapi di mata Biksu Tang Sanzang, Sun Wukong tampak membunuh manusia tak bersalah untuk kedua kalinya.

Monster tengkorak raksasa, wujud sempurna dari Siluman Tengkorak Putih. Foto: tangkap layar film The Monkey King 2

Untuk terakhir kalinya, siluman itu menyamar sebagai seorang kakek tua yang mencari istri dan anak gadisnya yang hilang. Saat Sun Wukong menyerangnya dan menghancurkan wujud itu, roh asli siluman itu akhirnya muncul kemudian menghilang. Namun Biksu Tang Sanzang tetap tidak percaya pada Sun Wukong. Ia mengira muridnya telah membunuh tiga manusia tak berdosa. Dengan marah dan sedih, ia mengusir Sun Wukong dari perjalanan mereka.

Siluman Tengkorak Putih akhirnya berhasil memanfaatkan momen ketika Sun Wukong sedang jauh dari Biksu Tan Sanzang. Siluman itu menangkapnya dan bersiap memakan sang biksu untuk memperoleh kekuatan abadi. Namun sebelum terlambat, Dewi Guanyin, pelindung perjalanan suci mereka, muncul dan menasihati Sun Wukong agar tetap setia melindungi gurunya serta tidak menyerah pada kesalahpahaman yang terjadi. Nasihat itu membangkitkan kembali tekad Sun Wukong untuk menyelamatkan Biksu Tang Sanzang.

Sun Wukong segera kembali dan menghadapi siluman tersebut. Mengetahui usahanya telah gagal, siluman itu akhirnya menampakkan wujud aslinya, yaitu iblis tengkorak putih yang menyeramkan. Pertempuran sengit pun terjadi. Sun Wukong mengayunkan tongkat saktinya melawan kekuatan iblis tersebut. Dalam pertarungan yang dahsyat, ia akhirnya berhasil mengalahkan dan menghancurkan siluman tersebut menyelamatkan gurunya dari bahaya maut.

— Sun Wukong melawan Iblis Kerbau

Kisah berikut ini juga terinspirasi dari cerita klasik Journey to the West. Dalam perjalanan suci menuju Barat untuk mengambil kitab suci, Biksu Tang Sanzang bersama murid-muridnya melewati Pegunungan Api yang berkobar tanpa henti. Sun Wukong meminta para Raja Naga untuk menurunkan hujan yang sangat deras untuk memadamkan api tersebut. Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Satu-satunya cara untuk memadamkan api tersebut adalah dengan menggunakan kipas sakti milik Putri Kipas Besi.

Wujud asli Raja Iblis Kerbau melawan Nezha dalam novel. Sumber ilsutrasi: https://villains.fandom.com/wiki/Bull_Demon_King_(Journey_to_the_West)

Namun usaha tersebut justru memicu kemarahan suaminya, Iblis Kerbau yang sangat kuat dan sulit untuk ditandingi. Ia dulu pernah menjadi saudara angkat Sun Wukong, tetapi kini menjadi musuh besar.

Pertemuan mereka berubah menjadi pertarungan dahsyat antara dua makhluk sakti. Iblis Kerbau menunjukkan kekuatan aslinya dengan berubah menjadi kerbau raksasa bertanduk besar, mengaum dan mengguncang alam semesta berserta isinya. Gunung-gunung bergetar ketika ia bertarung melawan Sun Wukong dan tongkat saktinya.

Pertarungan berlangsung di darat dan di langit. Keduanya saling berubah wujud, saling mengejar, dan saling mengeluarkan kekuatan besar yang menggemparkan dunia.  Saat Sun Wukong hampir kewalahan menghadapi kekuatan iblis tersebut, bantuan datang dari langit. Muncullah Ne Zha, pangeran dewa perang, bersama pasukan surgawi yang dipimpin ayahnya sendiri, Li Jing.

Pertempuran antara Raja Iblis Kerbau dan Sun Wukong. Lukisan di Koridor Panjang Istana Musim Panas di Beijing

Dalam pertempuran yang dahsyat tersebut, Iblis Kerbau mencoba melarikan diri. Namun serangan gabungan Sun Wukong dan Ne Zha akhirnya menjatuhkan dan menangkap siluman kerbau tersebut. Api Pegunungan pun dapat dipadamkan, dan perjalanan suci dapat dilanjutkan.

— Sun Wukong melawan Raja Kera Palsu

Setelah melewati beberapa konflik bersama Biksu Tang Sanzang, Sun Wukong  kemudian bertemu dengan ancaman baru, ancaman yang sangat dianggapnya sangat mengancam keberadaannya, yaitu identitas dirinya sendiri.

Makhluk yang dikenal sebagai Raja Kera Bertelinga Enam adalah primata spiritual yang setara dengan Wukong dalam segala hal. Ia mampu melakukan 72 perubahan wujud, terbang di atas awan, dan menggunakan tongkat sihir yang identik dengan milik Wukong.

Rencana sang kera palsu tersebut terbilang sangat berani. Ia menyamar sebagai Wukong, memukul Biksu Tang Sanzang hingga pingsan, mencuri dokumen perjalanan suci, lalu membentuk rombongan perjalanan palsu. Tujuannya adalah mencapai kitab suci terlebih dahulu dan menjadi Buddha menggantikan Wukong.

Sun Wukong bersama Raja Kera Palsu menghadap Sang Buddha untuk mencari tahu siapa yang asli di antara mereka. Ilustrasi: Ming, Q. (Ed.). (2008). Qing caihui quanben Xiyouji [Qing-Period Color-Illustrated Complete Edition of Journey to the West]. Beijing: Zhongguo shudian

Ketika Wukong yang asli dan yang palsu akhirnya berhadapan, kekuatan mereka begitu seimbang sehingga tidak seorang pun mampu membedakan keduanya. Mereka bertarung di hadapan Dewi Guanyin, namun bahkan sang bodhisattva agung pun tidak dapat menentukan siapa raja kera yang sesungguhnya

Mereka kemudian bertarung di hadapan Kaisar Giok, tetapi para penasihat istana langit pun gagal mengenali Wukong yang asli. Bahkan di alam baka, para hakim arwah juga tidak mampu membedakan keduanya, mana yang asli dan mana yang palsu.

Akhirnya, kedua kera itu dibawa menghadap Buddha. Hanya Sang Buddha yang mampu mengungkapkan kebenaran. Ia menjelaskan bahwa Raja Kera Palsu adalah salah satu dari Empat Primata Spiritual di dunia. Ketika identitasnya terbongkar, kera tersebut mencoba melarikan diri. Namun Buddha telah menjebaknya, dan Sun Wukong pun menghantamnya hingga tewas dengan tongkat saktinya.

Pertarungan ini melambangkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar pertempuran antara dua musuh. Ini adalah simbol ketika Wukong menghadapi dan menaklukkan bayangannya sendiri, menaklukan dorongan gelap dalam dirinya yang dapat membawanya menuju kekacauan, pemberontakan, dan keegoisan.

— Sun Wukong melawan Siluman Laba-Laba Bersaudari, Siluman Kelabang, dan Siluman Kalajengking

Di Jembatan Sutra, rombongan Biksu Tang Sanzang bertemu dengan tujuh siluman laba-laba bersaudari. Mereka dapat menembakkan benang sutra dari pusar mereka untuk menjebak mangsa. Ketika Biksu Tang Sanzang tanpa sengaja masuk ke sarang mereka, para siluman itu segera menangkapnya. Saat menghadapi perlawanan dari Sun Wukong, para saudari laba-laba melarikan diri untuk meminta bantuan kepada saudara mereka, yaitu siluman kelabang.

Siluman kelabang memiliki seribu mata emas yang memancarkan cahaya menyilaukan. Cahaya tersebut membuatnya hampir mustahil untuk dikalahkan oleh Sun Wukong. Pertarungan berlangsung sengit hingga akhirnya Pilam Bodhisattva turun membantu. Ia mengirim putranya, Pangeran Ayam Jantan Matahari dari delapan belas rasi bintang. Kokok ayam suci itu menjadi kelemahan alami sang kelabang, sehingga siluman tersebut akhirnya dapat dikalahkan.

Namun tak lama kemudian, ancaman lain muncul. Siluman laba-laba bersaudari meminta bantuan kepada Siluman Kalajengking yang dikenal pernah menyusup ke Biara Sangha dan menyengat Buddha pada jari tengah kirinya. Senjata paling mematikan yang ia miliki adalah ekor beracun dengan sengatan kuat hingga mampu merobohkan seekor kuda.

Sun Wukong bertarung melawan Siluman Laba-Laba Bersaudara. Foto:
Spiders’ Trap: The Lore of Bajie and the Spiders | Journey to the West Comic | Eng Dub Sub | 4K (Youtube)

Ketika ia berhasil menyengat kepala Sun Wukong, rasa sakit yang luar biasa memaksa sang Raja Kera mundur dari pertempuran. Sekali lagi, Pangeran Ayam Suci dipanggil untuk menghadapi musuh tersebut. Begitu ayam suci itu berkokok, siluman kalajengking langsung mati seketika, karena ayam adalah predator alami bagi kalajengking.

Pada akhirnya, barangkali yang paling penting untuk diingat adalah bahwa kebudayaan selalu hidup karena bergerak. Tradisi tidak berdiri di ruang yang sepenuhnya tertutup, melainkan terus berdialog dengan zaman, dengan pengalaman manusia, dan dengan cerita-cerita dari berbagai penjuru dunia. Ogoh-ogoh Bali pun selama ini tumbuh melalui proses yang serupa. Ia menyerap, menafsirkan ulang, lalu melahirkan bentuk-bentuk baru tanpa sepenuhnya melepaskan akarnya.

Siluman Laba-Laba Bersaudari berhasil menangkap Biksu Tan Sanzang. Foto:
Spiders’ Trap: The Lore of Bajie and the Spiders | Journey to the West Comic | Eng Dub Sub | 4K (Youtube)

Maka jika suatu hari kita melihat sosok siluman tengkorak putih, iblis kerbau raksasa, atau bahkan raja kera dari cerita Tiongkok menjulang di tengah arak-arakan ogoh-ogoh, mungkin itu bukanlah tanda bahwa tradisi telah berubah arah. Bisa jadi itu justru menandakan bahwa tradisi tersebut masih hidup, terus berimajinasi, terus beradaptasi, dan tetap menemukan cara baru untuk menceritakan kembali pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan. [T]

Tags: baliogoh-ogohTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya

Next Post

ANTRABEZ Rilis Single ‘Bali Menyepi’ di Lapas Kerobokan: Merayakan Nyepi Sebagai Ruang Refleksi dan Memaknai Kembali Hubungan antara Manusia, Alam dan Spiritualitas

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
ANTRABEZ Rilis Single ‘Bali Menyepi’ di Lapas Kerobokan: Merayakan Nyepi Sebagai Ruang Refleksi dan Memaknai Kembali Hubungan antara Manusia, Alam dan Spiritualitas

ANTRABEZ Rilis Single 'Bali Menyepi' di Lapas Kerobokan: Merayakan Nyepi Sebagai Ruang Refleksi dan Memaknai Kembali Hubungan antara Manusia, Alam dan Spiritualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co