25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 15, 2026
in Esai
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan di kolom komentar yang tidak pernah diminta. Kata-kata berhamburan seperti daun kering diterpa angin.

Tetapi di tengah kebisingan itu, ada dua jenis diam yang menarik untuk dibandingkan. Yang pertama berasal dari India, disebut mauna. Yang kedua hidup dalam percakapan sehari-hari di Bali, yakni, koh ngomong.

Keduanya sama-sama diam. Tetapi maknanya sangat berbeda. Dalam tradisi spiritual India, mauna adalah puasa berbicara. Ia bukan sekadar tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan latihan kesadaran. Seseorang sengaja menutup mulutnya agar pikirannya tidak terus-menerus berlari.

Dalam banyak praktik yoga dan meditasi, mauna dipercaya dapat menenangkan pikiran. Kata-kata dianggap sebagai salah satu sumber kegaduhan batin. Dengan mengurangi bicara, seseorang belajar mendengarkan sesuatu yang lebih dalam, dirinya sendiri.

Tokoh seperti Mahatma Gandhi menjalankan praktik ini secara disiplin. Ia dikenal memiliki kebiasaan tidak berbicara setiap hari Senin. Pada hari itu ia tetap bekerja, tetap menerima tamu, tetapi berkomunikasi dengan tulisan.

Bagi Gandhi, diam bukan kelemahan. Diam adalah cara menguatkan batin. Mauna lahir dari kesadaran bahwa manusia terlalu mudah berbicara. Kata-kata sering keluar lebih cepat daripada pikiran. Dalam banyak konflik, kata-kata justru memperkeruh keadaan. Diam dalam mauna adalah upaya merawat kebijaksanaan. Sekarang mari kita kembali ke Bali.

Di pulau yang terkenal dengan upacara dan kesantunan sosial ini, kita mengenal ungkapan koh ngomong. Artinya sederhana, yaitu, enggan berbicara. Tidak mau berkomentar. Memilih diam.

Kalimat ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, semisal “Ada apa sebenarnya?” “Entahlah. Semua pada koh ngomong.”

Di permukaan, koh ngomong tampak seperti kebiasaan kecil. Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ia sebenarnya mencerminkan sesuatu yang lebih besar, yakni, budaya sosial yang sangat menghargai harmoni.

Dalam masyarakat komunal seperti Bali, hubungan sosial adalah hal yang sensitif. Mengkritik seseorang secara terbuka bisa dianggap mempermalukan. Berdebat terlalu keras bisa merusak keseimbangan. Akibatnya, banyak orang memilih diam. Diam di rapat banjar, di kantor, atau diam ketika ada keputusan yang sebenarnya tidak sepenuhnya disetujui.

Koh ngomong menjadi semacam etika sosial yang tak tertulis. Tetapi setiap etika sosial memiliki bayangannya sendiri. Ketika terlalu banyak orang memilih diam, kritik menjadi langka. Ketika kritik menghilang, kekuasaan sering berjalan tanpa koreksi. Koh ngomong, dalam situasi tertentu, bisa berubah dari sikap sopan menjadi budaya pembungkaman. Di sinilah perbandingan dengan mauna menjadi menarik.

Mauna adalah diam yang dipilih secara sadar. Koh ngomong sering kali adalah diam yang dipilih karena situasi. Mauna lahir dari disiplin spiritual. Koh ngomong lahir dari struktur sosial. Yang satu dilakukan untuk menjernihkan pikiran. Yang lain kadang dilakukan untuk menghindari ketegangan.

Ironisnya, keduanya sama-sama disebut kebijaksanaan. Padahal keduanya tidak selalu sama. Diam dalam mauna membuka ruang refleksi. Diam dalam koh ngomong kadang justru menutup ruang percakapan.

Di satu tempat, diam adalah jalan menuju kesadaran. Di tempat lain, diam bisa menjadi cara paling halus untuk menghindari tanggung jawab. Namun tentu saja dunia tidak sesederhana itu.

Tidak semua koh ngomong adalah ketakutan. Kadang diam memang lebih bijaksana daripada berbicara. Ada banyak konflik yang membesar justru karena terlalu banyak kata. Orang Bali sebenarnya mengenal kearifan semacam ini. Dalam banyak pepatah lokal, berbicara sembarangan dianggap sebagai tanda kurangnya pengendalian diri.

Tetapi keseimbangan itu mudah tergelincir. Ketika masyarakat terlalu lama terbiasa diam, keberanian untuk berbicara perlahan memudar. Kritik menjadi sesuatu yang canggung. Orang lebih nyaman bergosip daripada berdiskusi terbuka.

Bahkan kadang muncul paradoks yang lucu: semua orang mengeluh secara pribadi, tetapi tidak ada yang mau mengatakan apa pun secara terbuka. Semua tahu. Tetapi semua juga diam. Perubahan mulai terlihat dalam dua dekade terakhir. Internet dan media sosial membuka ruang baru bagi suara-suara yang sebelumnya tidak terdengar.

Hal-hal yang dulu hanya dibicarakan di warung kopi kini bisa muncul di layar ponsel dan dibaca ribuan orang. Kritik terhadap kebijakan publik, pembangunan pariwisata, hingga persoalan lingkungan semakin sering terdengar.

Budaya koh ngomong perlahan mulai bergeser. Namun perubahan ini juga membawa persoalan baru. Media sosial membuat orang berbicara lebih cepat daripada berpikir. Kata-kata menjadi lebih kasar. Perdebatan sering berubah menjadi pertengkaran. Dunia menjadi sangat ramai.

Di tengah kebisingan itu, praktik seperti mauna justru terasa relevan kembali. Mungkin manusia memang membutuhkan ruang hening untuk menata pikirannya. Mungkin yang kita perlukan bukan sekadar keberanian untuk berbicara, tetapi juga kemampuan untuk diam pada saat yang tepat. Akhirnya, perbandingan antara mauna dan koh ngomong mengingatkan kita pada satu hal sederhana, bahwa, diam bukanlah sesuatu yang tunggal. Ada diam yang membebaskan, ada diam yang mengekang. Ada diam yang lahir dari kebijaksanaan, ada diam yang lahir dari ketakutan. Kebijaksanaan sejati mungkin bukan memilih salah satunya, melainkan mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Dan di zaman yang semakin riuh ini, kemampuan itu mungkin lebih sulit daripada yang kita kira. [T]

Tags: baliindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co