26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 15, 2026
in Esai
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan di kolom komentar yang tidak pernah diminta. Kata-kata berhamburan seperti daun kering diterpa angin.

Tetapi di tengah kebisingan itu, ada dua jenis diam yang menarik untuk dibandingkan. Yang pertama berasal dari India, disebut mauna. Yang kedua hidup dalam percakapan sehari-hari di Bali, yakni, koh ngomong.

Keduanya sama-sama diam. Tetapi maknanya sangat berbeda. Dalam tradisi spiritual India, mauna adalah puasa berbicara. Ia bukan sekadar tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan latihan kesadaran. Seseorang sengaja menutup mulutnya agar pikirannya tidak terus-menerus berlari.

Dalam banyak praktik yoga dan meditasi, mauna dipercaya dapat menenangkan pikiran. Kata-kata dianggap sebagai salah satu sumber kegaduhan batin. Dengan mengurangi bicara, seseorang belajar mendengarkan sesuatu yang lebih dalam, dirinya sendiri.

Tokoh seperti Mahatma Gandhi menjalankan praktik ini secara disiplin. Ia dikenal memiliki kebiasaan tidak berbicara setiap hari Senin. Pada hari itu ia tetap bekerja, tetap menerima tamu, tetapi berkomunikasi dengan tulisan.

Bagi Gandhi, diam bukan kelemahan. Diam adalah cara menguatkan batin. Mauna lahir dari kesadaran bahwa manusia terlalu mudah berbicara. Kata-kata sering keluar lebih cepat daripada pikiran. Dalam banyak konflik, kata-kata justru memperkeruh keadaan. Diam dalam mauna adalah upaya merawat kebijaksanaan. Sekarang mari kita kembali ke Bali.

Di pulau yang terkenal dengan upacara dan kesantunan sosial ini, kita mengenal ungkapan koh ngomong. Artinya sederhana, yaitu, enggan berbicara. Tidak mau berkomentar. Memilih diam.

Kalimat ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, semisal “Ada apa sebenarnya?” “Entahlah. Semua pada koh ngomong.”

Di permukaan, koh ngomong tampak seperti kebiasaan kecil. Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ia sebenarnya mencerminkan sesuatu yang lebih besar, yakni, budaya sosial yang sangat menghargai harmoni.

Dalam masyarakat komunal seperti Bali, hubungan sosial adalah hal yang sensitif. Mengkritik seseorang secara terbuka bisa dianggap mempermalukan. Berdebat terlalu keras bisa merusak keseimbangan. Akibatnya, banyak orang memilih diam. Diam di rapat banjar, di kantor, atau diam ketika ada keputusan yang sebenarnya tidak sepenuhnya disetujui.

Koh ngomong menjadi semacam etika sosial yang tak tertulis. Tetapi setiap etika sosial memiliki bayangannya sendiri. Ketika terlalu banyak orang memilih diam, kritik menjadi langka. Ketika kritik menghilang, kekuasaan sering berjalan tanpa koreksi. Koh ngomong, dalam situasi tertentu, bisa berubah dari sikap sopan menjadi budaya pembungkaman. Di sinilah perbandingan dengan mauna menjadi menarik.

Mauna adalah diam yang dipilih secara sadar. Koh ngomong sering kali adalah diam yang dipilih karena situasi. Mauna lahir dari disiplin spiritual. Koh ngomong lahir dari struktur sosial. Yang satu dilakukan untuk menjernihkan pikiran. Yang lain kadang dilakukan untuk menghindari ketegangan.

Ironisnya, keduanya sama-sama disebut kebijaksanaan. Padahal keduanya tidak selalu sama. Diam dalam mauna membuka ruang refleksi. Diam dalam koh ngomong kadang justru menutup ruang percakapan.

Di satu tempat, diam adalah jalan menuju kesadaran. Di tempat lain, diam bisa menjadi cara paling halus untuk menghindari tanggung jawab. Namun tentu saja dunia tidak sesederhana itu.

Tidak semua koh ngomong adalah ketakutan. Kadang diam memang lebih bijaksana daripada berbicara. Ada banyak konflik yang membesar justru karena terlalu banyak kata. Orang Bali sebenarnya mengenal kearifan semacam ini. Dalam banyak pepatah lokal, berbicara sembarangan dianggap sebagai tanda kurangnya pengendalian diri.

Tetapi keseimbangan itu mudah tergelincir. Ketika masyarakat terlalu lama terbiasa diam, keberanian untuk berbicara perlahan memudar. Kritik menjadi sesuatu yang canggung. Orang lebih nyaman bergosip daripada berdiskusi terbuka.

Bahkan kadang muncul paradoks yang lucu: semua orang mengeluh secara pribadi, tetapi tidak ada yang mau mengatakan apa pun secara terbuka. Semua tahu. Tetapi semua juga diam. Perubahan mulai terlihat dalam dua dekade terakhir. Internet dan media sosial membuka ruang baru bagi suara-suara yang sebelumnya tidak terdengar.

Hal-hal yang dulu hanya dibicarakan di warung kopi kini bisa muncul di layar ponsel dan dibaca ribuan orang. Kritik terhadap kebijakan publik, pembangunan pariwisata, hingga persoalan lingkungan semakin sering terdengar.

Budaya koh ngomong perlahan mulai bergeser. Namun perubahan ini juga membawa persoalan baru. Media sosial membuat orang berbicara lebih cepat daripada berpikir. Kata-kata menjadi lebih kasar. Perdebatan sering berubah menjadi pertengkaran. Dunia menjadi sangat ramai.

Di tengah kebisingan itu, praktik seperti mauna justru terasa relevan kembali. Mungkin manusia memang membutuhkan ruang hening untuk menata pikirannya. Mungkin yang kita perlukan bukan sekadar keberanian untuk berbicara, tetapi juga kemampuan untuk diam pada saat yang tepat. Akhirnya, perbandingan antara mauna dan koh ngomong mengingatkan kita pada satu hal sederhana, bahwa, diam bukanlah sesuatu yang tunggal. Ada diam yang membebaskan, ada diam yang mengekang. Ada diam yang lahir dari kebijaksanaan, ada diam yang lahir dari ketakutan. Kebijaksanaan sejati mungkin bukan memilih salah satunya, melainkan mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Dan di zaman yang semakin riuh ini, kemampuan itu mungkin lebih sulit daripada yang kita kira. [T]

Tags: baliindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co