25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 15, 2026
in Esai
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan di kolom komentar yang tidak pernah diminta. Kata-kata berhamburan seperti daun kering diterpa angin.

Tetapi di tengah kebisingan itu, ada dua jenis diam yang menarik untuk dibandingkan. Yang pertama berasal dari India, disebut mauna. Yang kedua hidup dalam percakapan sehari-hari di Bali, yakni, koh ngomong.

Keduanya sama-sama diam. Tetapi maknanya sangat berbeda. Dalam tradisi spiritual India, mauna adalah puasa berbicara. Ia bukan sekadar tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan latihan kesadaran. Seseorang sengaja menutup mulutnya agar pikirannya tidak terus-menerus berlari.

Dalam banyak praktik yoga dan meditasi, mauna dipercaya dapat menenangkan pikiran. Kata-kata dianggap sebagai salah satu sumber kegaduhan batin. Dengan mengurangi bicara, seseorang belajar mendengarkan sesuatu yang lebih dalam, dirinya sendiri.

Tokoh seperti Mahatma Gandhi menjalankan praktik ini secara disiplin. Ia dikenal memiliki kebiasaan tidak berbicara setiap hari Senin. Pada hari itu ia tetap bekerja, tetap menerima tamu, tetapi berkomunikasi dengan tulisan.

Bagi Gandhi, diam bukan kelemahan. Diam adalah cara menguatkan batin. Mauna lahir dari kesadaran bahwa manusia terlalu mudah berbicara. Kata-kata sering keluar lebih cepat daripada pikiran. Dalam banyak konflik, kata-kata justru memperkeruh keadaan. Diam dalam mauna adalah upaya merawat kebijaksanaan. Sekarang mari kita kembali ke Bali.

Di pulau yang terkenal dengan upacara dan kesantunan sosial ini, kita mengenal ungkapan koh ngomong. Artinya sederhana, yaitu, enggan berbicara. Tidak mau berkomentar. Memilih diam.

Kalimat ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, semisal “Ada apa sebenarnya?” “Entahlah. Semua pada koh ngomong.”

Di permukaan, koh ngomong tampak seperti kebiasaan kecil. Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ia sebenarnya mencerminkan sesuatu yang lebih besar, yakni, budaya sosial yang sangat menghargai harmoni.

Dalam masyarakat komunal seperti Bali, hubungan sosial adalah hal yang sensitif. Mengkritik seseorang secara terbuka bisa dianggap mempermalukan. Berdebat terlalu keras bisa merusak keseimbangan. Akibatnya, banyak orang memilih diam. Diam di rapat banjar, di kantor, atau diam ketika ada keputusan yang sebenarnya tidak sepenuhnya disetujui.

Koh ngomong menjadi semacam etika sosial yang tak tertulis. Tetapi setiap etika sosial memiliki bayangannya sendiri. Ketika terlalu banyak orang memilih diam, kritik menjadi langka. Ketika kritik menghilang, kekuasaan sering berjalan tanpa koreksi. Koh ngomong, dalam situasi tertentu, bisa berubah dari sikap sopan menjadi budaya pembungkaman. Di sinilah perbandingan dengan mauna menjadi menarik.

Mauna adalah diam yang dipilih secara sadar. Koh ngomong sering kali adalah diam yang dipilih karena situasi. Mauna lahir dari disiplin spiritual. Koh ngomong lahir dari struktur sosial. Yang satu dilakukan untuk menjernihkan pikiran. Yang lain kadang dilakukan untuk menghindari ketegangan.

Ironisnya, keduanya sama-sama disebut kebijaksanaan. Padahal keduanya tidak selalu sama. Diam dalam mauna membuka ruang refleksi. Diam dalam koh ngomong kadang justru menutup ruang percakapan.

Di satu tempat, diam adalah jalan menuju kesadaran. Di tempat lain, diam bisa menjadi cara paling halus untuk menghindari tanggung jawab. Namun tentu saja dunia tidak sesederhana itu.

Tidak semua koh ngomong adalah ketakutan. Kadang diam memang lebih bijaksana daripada berbicara. Ada banyak konflik yang membesar justru karena terlalu banyak kata. Orang Bali sebenarnya mengenal kearifan semacam ini. Dalam banyak pepatah lokal, berbicara sembarangan dianggap sebagai tanda kurangnya pengendalian diri.

Tetapi keseimbangan itu mudah tergelincir. Ketika masyarakat terlalu lama terbiasa diam, keberanian untuk berbicara perlahan memudar. Kritik menjadi sesuatu yang canggung. Orang lebih nyaman bergosip daripada berdiskusi terbuka.

Bahkan kadang muncul paradoks yang lucu: semua orang mengeluh secara pribadi, tetapi tidak ada yang mau mengatakan apa pun secara terbuka. Semua tahu. Tetapi semua juga diam. Perubahan mulai terlihat dalam dua dekade terakhir. Internet dan media sosial membuka ruang baru bagi suara-suara yang sebelumnya tidak terdengar.

Hal-hal yang dulu hanya dibicarakan di warung kopi kini bisa muncul di layar ponsel dan dibaca ribuan orang. Kritik terhadap kebijakan publik, pembangunan pariwisata, hingga persoalan lingkungan semakin sering terdengar.

Budaya koh ngomong perlahan mulai bergeser. Namun perubahan ini juga membawa persoalan baru. Media sosial membuat orang berbicara lebih cepat daripada berpikir. Kata-kata menjadi lebih kasar. Perdebatan sering berubah menjadi pertengkaran. Dunia menjadi sangat ramai.

Di tengah kebisingan itu, praktik seperti mauna justru terasa relevan kembali. Mungkin manusia memang membutuhkan ruang hening untuk menata pikirannya. Mungkin yang kita perlukan bukan sekadar keberanian untuk berbicara, tetapi juga kemampuan untuk diam pada saat yang tepat. Akhirnya, perbandingan antara mauna dan koh ngomong mengingatkan kita pada satu hal sederhana, bahwa, diam bukanlah sesuatu yang tunggal. Ada diam yang membebaskan, ada diam yang mengekang. Ada diam yang lahir dari kebijaksanaan, ada diam yang lahir dari ketakutan. Kebijaksanaan sejati mungkin bukan memilih salah satunya, melainkan mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Dan di zaman yang semakin riuh ini, kemampuan itu mungkin lebih sulit daripada yang kita kira. [T]

Tags: baliindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co