15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 15, 2026
in Esai
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan di kolom komentar yang tidak pernah diminta. Kata-kata berhamburan seperti daun kering diterpa angin.

Tetapi di tengah kebisingan itu, ada dua jenis diam yang menarik untuk dibandingkan. Yang pertama berasal dari India, disebut mauna. Yang kedua hidup dalam percakapan sehari-hari di Bali, yakni, koh ngomong.

Keduanya sama-sama diam. Tetapi maknanya sangat berbeda. Dalam tradisi spiritual India, mauna adalah puasa berbicara. Ia bukan sekadar tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan latihan kesadaran. Seseorang sengaja menutup mulutnya agar pikirannya tidak terus-menerus berlari.

Dalam banyak praktik yoga dan meditasi, mauna dipercaya dapat menenangkan pikiran. Kata-kata dianggap sebagai salah satu sumber kegaduhan batin. Dengan mengurangi bicara, seseorang belajar mendengarkan sesuatu yang lebih dalam, dirinya sendiri.

Tokoh seperti Mahatma Gandhi menjalankan praktik ini secara disiplin. Ia dikenal memiliki kebiasaan tidak berbicara setiap hari Senin. Pada hari itu ia tetap bekerja, tetap menerima tamu, tetapi berkomunikasi dengan tulisan.

Bagi Gandhi, diam bukan kelemahan. Diam adalah cara menguatkan batin. Mauna lahir dari kesadaran bahwa manusia terlalu mudah berbicara. Kata-kata sering keluar lebih cepat daripada pikiran. Dalam banyak konflik, kata-kata justru memperkeruh keadaan. Diam dalam mauna adalah upaya merawat kebijaksanaan. Sekarang mari kita kembali ke Bali.

Di pulau yang terkenal dengan upacara dan kesantunan sosial ini, kita mengenal ungkapan koh ngomong. Artinya sederhana, yaitu, enggan berbicara. Tidak mau berkomentar. Memilih diam.

Kalimat ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, semisal “Ada apa sebenarnya?” “Entahlah. Semua pada koh ngomong.”

Di permukaan, koh ngomong tampak seperti kebiasaan kecil. Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ia sebenarnya mencerminkan sesuatu yang lebih besar, yakni, budaya sosial yang sangat menghargai harmoni.

Dalam masyarakat komunal seperti Bali, hubungan sosial adalah hal yang sensitif. Mengkritik seseorang secara terbuka bisa dianggap mempermalukan. Berdebat terlalu keras bisa merusak keseimbangan. Akibatnya, banyak orang memilih diam. Diam di rapat banjar, di kantor, atau diam ketika ada keputusan yang sebenarnya tidak sepenuhnya disetujui.

Koh ngomong menjadi semacam etika sosial yang tak tertulis. Tetapi setiap etika sosial memiliki bayangannya sendiri. Ketika terlalu banyak orang memilih diam, kritik menjadi langka. Ketika kritik menghilang, kekuasaan sering berjalan tanpa koreksi. Koh ngomong, dalam situasi tertentu, bisa berubah dari sikap sopan menjadi budaya pembungkaman. Di sinilah perbandingan dengan mauna menjadi menarik.

Mauna adalah diam yang dipilih secara sadar. Koh ngomong sering kali adalah diam yang dipilih karena situasi. Mauna lahir dari disiplin spiritual. Koh ngomong lahir dari struktur sosial. Yang satu dilakukan untuk menjernihkan pikiran. Yang lain kadang dilakukan untuk menghindari ketegangan.

Ironisnya, keduanya sama-sama disebut kebijaksanaan. Padahal keduanya tidak selalu sama. Diam dalam mauna membuka ruang refleksi. Diam dalam koh ngomong kadang justru menutup ruang percakapan.

Di satu tempat, diam adalah jalan menuju kesadaran. Di tempat lain, diam bisa menjadi cara paling halus untuk menghindari tanggung jawab. Namun tentu saja dunia tidak sesederhana itu.

Tidak semua koh ngomong adalah ketakutan. Kadang diam memang lebih bijaksana daripada berbicara. Ada banyak konflik yang membesar justru karena terlalu banyak kata. Orang Bali sebenarnya mengenal kearifan semacam ini. Dalam banyak pepatah lokal, berbicara sembarangan dianggap sebagai tanda kurangnya pengendalian diri.

Tetapi keseimbangan itu mudah tergelincir. Ketika masyarakat terlalu lama terbiasa diam, keberanian untuk berbicara perlahan memudar. Kritik menjadi sesuatu yang canggung. Orang lebih nyaman bergosip daripada berdiskusi terbuka.

Bahkan kadang muncul paradoks yang lucu: semua orang mengeluh secara pribadi, tetapi tidak ada yang mau mengatakan apa pun secara terbuka. Semua tahu. Tetapi semua juga diam. Perubahan mulai terlihat dalam dua dekade terakhir. Internet dan media sosial membuka ruang baru bagi suara-suara yang sebelumnya tidak terdengar.

Hal-hal yang dulu hanya dibicarakan di warung kopi kini bisa muncul di layar ponsel dan dibaca ribuan orang. Kritik terhadap kebijakan publik, pembangunan pariwisata, hingga persoalan lingkungan semakin sering terdengar.

Budaya koh ngomong perlahan mulai bergeser. Namun perubahan ini juga membawa persoalan baru. Media sosial membuat orang berbicara lebih cepat daripada berpikir. Kata-kata menjadi lebih kasar. Perdebatan sering berubah menjadi pertengkaran. Dunia menjadi sangat ramai.

Di tengah kebisingan itu, praktik seperti mauna justru terasa relevan kembali. Mungkin manusia memang membutuhkan ruang hening untuk menata pikirannya. Mungkin yang kita perlukan bukan sekadar keberanian untuk berbicara, tetapi juga kemampuan untuk diam pada saat yang tepat. Akhirnya, perbandingan antara mauna dan koh ngomong mengingatkan kita pada satu hal sederhana, bahwa, diam bukanlah sesuatu yang tunggal. Ada diam yang membebaskan, ada diam yang mengekang. Ada diam yang lahir dari kebijaksanaan, ada diam yang lahir dari ketakutan. Kebijaksanaan sejati mungkin bukan memilih salah satunya, melainkan mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Dan di zaman yang semakin riuh ini, kemampuan itu mungkin lebih sulit daripada yang kita kira. [T]

Tags: baliindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co