5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 15, 2026
in Esai
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan di kolom komentar yang tidak pernah diminta. Kata-kata berhamburan seperti daun kering diterpa angin.

Tetapi di tengah kebisingan itu, ada dua jenis diam yang menarik untuk dibandingkan. Yang pertama berasal dari India, disebut mauna. Yang kedua hidup dalam percakapan sehari-hari di Bali, yakni, koh ngomong.

Keduanya sama-sama diam. Tetapi maknanya sangat berbeda. Dalam tradisi spiritual India, mauna adalah puasa berbicara. Ia bukan sekadar tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan latihan kesadaran. Seseorang sengaja menutup mulutnya agar pikirannya tidak terus-menerus berlari.

Dalam banyak praktik yoga dan meditasi, mauna dipercaya dapat menenangkan pikiran. Kata-kata dianggap sebagai salah satu sumber kegaduhan batin. Dengan mengurangi bicara, seseorang belajar mendengarkan sesuatu yang lebih dalam, dirinya sendiri.

Tokoh seperti Mahatma Gandhi menjalankan praktik ini secara disiplin. Ia dikenal memiliki kebiasaan tidak berbicara setiap hari Senin. Pada hari itu ia tetap bekerja, tetap menerima tamu, tetapi berkomunikasi dengan tulisan.

Bagi Gandhi, diam bukan kelemahan. Diam adalah cara menguatkan batin. Mauna lahir dari kesadaran bahwa manusia terlalu mudah berbicara. Kata-kata sering keluar lebih cepat daripada pikiran. Dalam banyak konflik, kata-kata justru memperkeruh keadaan. Diam dalam mauna adalah upaya merawat kebijaksanaan. Sekarang mari kita kembali ke Bali.

Di pulau yang terkenal dengan upacara dan kesantunan sosial ini, kita mengenal ungkapan koh ngomong. Artinya sederhana, yaitu, enggan berbicara. Tidak mau berkomentar. Memilih diam.

Kalimat ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari, semisal “Ada apa sebenarnya?” “Entahlah. Semua pada koh ngomong.”

Di permukaan, koh ngomong tampak seperti kebiasaan kecil. Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ia sebenarnya mencerminkan sesuatu yang lebih besar, yakni, budaya sosial yang sangat menghargai harmoni.

Dalam masyarakat komunal seperti Bali, hubungan sosial adalah hal yang sensitif. Mengkritik seseorang secara terbuka bisa dianggap mempermalukan. Berdebat terlalu keras bisa merusak keseimbangan. Akibatnya, banyak orang memilih diam. Diam di rapat banjar, di kantor, atau diam ketika ada keputusan yang sebenarnya tidak sepenuhnya disetujui.

Koh ngomong menjadi semacam etika sosial yang tak tertulis. Tetapi setiap etika sosial memiliki bayangannya sendiri. Ketika terlalu banyak orang memilih diam, kritik menjadi langka. Ketika kritik menghilang, kekuasaan sering berjalan tanpa koreksi. Koh ngomong, dalam situasi tertentu, bisa berubah dari sikap sopan menjadi budaya pembungkaman. Di sinilah perbandingan dengan mauna menjadi menarik.

Mauna adalah diam yang dipilih secara sadar. Koh ngomong sering kali adalah diam yang dipilih karena situasi. Mauna lahir dari disiplin spiritual. Koh ngomong lahir dari struktur sosial. Yang satu dilakukan untuk menjernihkan pikiran. Yang lain kadang dilakukan untuk menghindari ketegangan.

Ironisnya, keduanya sama-sama disebut kebijaksanaan. Padahal keduanya tidak selalu sama. Diam dalam mauna membuka ruang refleksi. Diam dalam koh ngomong kadang justru menutup ruang percakapan.

Di satu tempat, diam adalah jalan menuju kesadaran. Di tempat lain, diam bisa menjadi cara paling halus untuk menghindari tanggung jawab. Namun tentu saja dunia tidak sesederhana itu.

Tidak semua koh ngomong adalah ketakutan. Kadang diam memang lebih bijaksana daripada berbicara. Ada banyak konflik yang membesar justru karena terlalu banyak kata. Orang Bali sebenarnya mengenal kearifan semacam ini. Dalam banyak pepatah lokal, berbicara sembarangan dianggap sebagai tanda kurangnya pengendalian diri.

Tetapi keseimbangan itu mudah tergelincir. Ketika masyarakat terlalu lama terbiasa diam, keberanian untuk berbicara perlahan memudar. Kritik menjadi sesuatu yang canggung. Orang lebih nyaman bergosip daripada berdiskusi terbuka.

Bahkan kadang muncul paradoks yang lucu: semua orang mengeluh secara pribadi, tetapi tidak ada yang mau mengatakan apa pun secara terbuka. Semua tahu. Tetapi semua juga diam. Perubahan mulai terlihat dalam dua dekade terakhir. Internet dan media sosial membuka ruang baru bagi suara-suara yang sebelumnya tidak terdengar.

Hal-hal yang dulu hanya dibicarakan di warung kopi kini bisa muncul di layar ponsel dan dibaca ribuan orang. Kritik terhadap kebijakan publik, pembangunan pariwisata, hingga persoalan lingkungan semakin sering terdengar.

Budaya koh ngomong perlahan mulai bergeser. Namun perubahan ini juga membawa persoalan baru. Media sosial membuat orang berbicara lebih cepat daripada berpikir. Kata-kata menjadi lebih kasar. Perdebatan sering berubah menjadi pertengkaran. Dunia menjadi sangat ramai.

Di tengah kebisingan itu, praktik seperti mauna justru terasa relevan kembali. Mungkin manusia memang membutuhkan ruang hening untuk menata pikirannya. Mungkin yang kita perlukan bukan sekadar keberanian untuk berbicara, tetapi juga kemampuan untuk diam pada saat yang tepat. Akhirnya, perbandingan antara mauna dan koh ngomong mengingatkan kita pada satu hal sederhana, bahwa, diam bukanlah sesuatu yang tunggal. Ada diam yang membebaskan, ada diam yang mengekang. Ada diam yang lahir dari kebijaksanaan, ada diam yang lahir dari ketakutan. Kebijaksanaan sejati mungkin bukan memilih salah satunya, melainkan mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Dan di zaman yang semakin riuh ini, kemampuan itu mungkin lebih sulit daripada yang kita kira. [T]

Tags: baliindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co