Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung Kriya atau di depan Wantilan, Taman Budaya Provisni Bali. Stand ini ditata indah, dilengkapi dengan meja dan kursi sebagai tempat makan. Stand kuliner berderet di sebelah utara dan barat, sedangkan tempat makan itu berada di depan stand kuliner itu. Keluarga ataupun rombongan cukup makan di stand kuliner itu.
“Pameran kuliner ini menjadi program baru dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Sebelumnya hanya pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadikan aksara Bali sebagai dasar dari usaha mereka, misalnya kaos dan kolaborasi dengan teknologi,” kata Ketua Tim Kerja Pembinaan SDM, Lembaga dan Pranata Kebudayaan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, IGN. Wiriawan, Jumat 27 Pebruari 2026.
Sebanyak 6 stand menyajikan berbagai jenis makanan ataupun camilan dan minuman. Mulai dari Ketan Susu Jaen, Warung Babi Genyol Nanang, Warung Sutama menjual nasi, steak, kentang, berbagai jenis sate dan minuman berupa es jeruk, es teh dan air mineral. Warung Demen menjual berbagai camilan Bali, seperti lalapan ayam, rujak, tipat cantok, berbagai rujak serta minuman es campur, orange juice dan air mineral.
Sementara Bakso Genep Panjer itu menyajikan berbagai jenis bakso dengan base genep sebagai ciri khasnya. Semua itu diangkat ke dalam ajang Bulan Bahasa Bali, dan tentu sudah distandarkan, bahwa itu kuliner Bali yang menjadi ciri khas masakan Bali. “Tenant-tenant yang diajak berpameran di Bulan Bahasa Bali kali ini berdasarkan koordinasi bersama Dinas Koperasi Provinsi Bali, sehingga kami mendapatkan rekomendasi enam usaha ini,” jelas IGN. Wiriawan.
Pameran kuliner mungkin secara penjualan belum maksimal karena masih menjadi program baru. Program kuliner ini, mungkin juga belum dikenal, kalau ada pameran kuliner di ajang Bulan Bahasa Bali. “Tetapi, kami berharap kedepannya akan ada lebih banyak tenant yang terlibat dan lebih banyak ragam masakan Bali yang bisa ditampilkan,” harapnya.

Walau menampilkan masakan Bali, tetapi stand-stan itu menyajikan hidangan yang memang menjadi tren bagi generasi milenial. Misalnya, stand Ketan Susu Jaen yang menampilkan jajan Bali yang dipadu dengan susu dan keju yang memang disukai anak-amak di jaman kini. Bakso genep yang memadukan dengan bumbu base genep, sehingga memiliki aroma yang enak dan sedap. Berbagai jaja Bali itu banyak jenisnya, diantaranya laklak, pisang rai, giling dan lainnya yang bisa diperkenalkan dalam ajang ini.
Menu-menu yang ada, diolah sesuai jaman kekinian, namun tidak meninggalkan ke Bali-annya. “Ini sebuah kolaborasi dengan makanan kekinian, tetapi tidak meninggakan ciri khas Bali-nya. Stand Ketan Susu Jaen itu menawarkan yang modern, jaja ketan dasarnya lalu diisi susu dan keju, sehingga menarik bagi anak-anak muda. Ini pengelaman bagi anak-anak, kalau ternyata jajan Bali itu bisa dikombinasikan dengan makanan di jaman kini,” paparnya.
IGN. Wiriawan mengaku, kunjungan kali ini memang belum maksimal, baik dari segi beragam jenis masakan yang ditampilkan atau mungkin dari segi kunjungan. Tetapi, ini merupakan tahun pertama dan bisa berkolaborasi dengan pengusaha kuliner sudah cukup bagus. Sebab, dibeberapa tanggal, hidangan yang disajikan itu terkadang habis. Sebelum jam 14.00 Wita kuliner yang disajikan terkadang habis. Itu artinya tidak hanya pengunjung Bulan Bahasa Bali yang menikmati, tetapi juga pihak luar atau masyarakat umum. Mereka mungkin mengetahui pameran kuliner itu melalui media social, karena panitia kencangh melakukan promosi melalui media social.

Pada ajang Bulan Bahasa Bali tahun depan, IGN. Wiriawan berharap bisa menempilkan lebih banyak, semisal 10 stand. Namun, tetap akan diatur ada agar menonjolkan kuliner khas, seperti memperkenalkan jenis sambel, dan komponen dalam nasi be guling, seperti oret, lawar, samsam dan lainnya. Selain itu, semua menu itu diisi tulisan aksara Bali, sehingga menjadi ajang untuk mengenalkan aksara Bali kepada masyarakat. “Ini akan bagus, karena tradisi kuliner itu jelas tradisi kebudayaan yang ada di setiap daerah, dan itu menunjukan Bali memilikin keunikan,” tutupnya [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























