12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Tubuh atau Badan Wadag menjadi Terminal Dunia

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
February 10, 2026
in Esai
Ketika Tubuh atau Badan Wadag menjadi Terminal Dunia

Tubuh yang Hadir lebih Dulu dari Kata

Lingkup Bali, tubuh yang hadir lebih dulu dari kata bukanlah gagasan asing. Sejak kecil, tubuh dibentuk melalui ritme ritual, berdiri lama saat sembahyang, duduk besila tanpa banyak bergerak, berjalan pelan mengikuti iring-iringan. Tubuh belajar lebih dulu, jauh sebelum mampu menjelaskan apa yang sedang diplajari. Badan wadag menjadi medan latihan kepekaan tempat dunia ditangkap melalui gerak, diam, dan napas.

Dalam keseharian hal serupa sering terjadi, ketika memasuki ruang baru, tubuh langsung memberi sinyal nyaman, sebaliknya tidak nyaman, atau mengancam. Pikiran menyusul belakangan, mencoba memberi alasan. Dalam praktik seni, pengalaman memperlambat dan memperpanjang performans memberi waktu bagi tubuh untuk benar-benar dirasakan, bukan sekedar dilewati. Kesadaran ini menggeser posisi penciptaan, bukan konsep menuju tubuh, tetapi dari tubuh menuju kemungkinan tubuh.

Alamat Pertama Bernama Rasa

Sebelum tubuh mengetahui di mana ia berada, rasa sudah lebih dulu memberi alamat. Bukan alamat geografis, bukan koordinat ruang, melainkan penanda halus: hangat, siang, tegang, atau tenang. Rasa bekerja cepat dan senyap. Iya muncul bahkan sebelum tubuh sempat menamai situasi. Berdasarkan banyak pengalaman, rasa menjadi pintu pertama yang membuat relasi antara tubuh dan dunia.

Foto karya I Wayan Sujana Suklu | Dok. Pribadi

Kehidupan keseharian budaya Bali, rasa juga menjadi alat pemandu utama. Konsep taksu misalnya, tidak mudah dijelaskan secara rasional, tetapi sangat mudah dirasakan. Tubuh segera tahu kapan sebuah ruang “hidup” dan kapan ia kosong. Rasa inilah yang menjadi menanda awal relasi manusia dan lingkungan, sebuah bentuk pengetahuan yang tidak dicatat, tetapi diwariskan melalui pengalaman langsung. Bali kontemporer, pendekatan berbasis rasa ini menjadi penting untuk menghindari jebakan eksotisme. Tubuh Bali tidak selalu perlu “diterjemahkan” ke dalam simbol yang mudah dikenali. Cukup dihadirkan sebagai tubuh yang merasakan seperti panas, lelah, ragu, atau tenang. Dengan cara ini, tradisi tidak tampil sebagai citra beku, melainkan sebagai pengalaman yang terus bergerak.

Pemikiran fenomenologi memberi kerangka untuk memahami pengalaman ini, Maurice Merleau-Ponty menekankan bahwa pesepsi selalu berakar tubuh yang merasakan, bukan pada pikiran yang menganalisis. Dunia pertama-tama dialami sebagai rasa; tekstur, tekanan, suhu, jarak. Dalam praktik seni, kesadaran ini membuka kemungkinan penciptaan yang tidak tergesa-gesa menuju makna, tetapi memberi ruang bagi rasa untuk bekerja.

Pada akhirnya, terminal pertama bernama rasa mengingatkan bahwa seni tidak selalu perlu segera dipahami. Cukup dirasakan. Dari rasa itulah, tubuh mulai mengenali dunia, dan dunia perlahan membuka dirinya. Kata-kata boleh menyusul, tetapi rasa sudah lebih dulu memberi tanda: tubuh ini sedang berada di sini.

Badan Wadag dan Dunia yang Berdenyut di Dalamnya.

Badan wadag kerap dianggap sebagai batas. Ia dipahami sebagai kulit sebagai kulit yang membungkus diri, sebagai tubuh fisik yang terpisah dari dunia sekitarnya. Namun dalam pengalaman keseharian terutama dalam praktek seni, badan wadag justru bekerja sebaliknya. Ia menjadi ruang tempat dunia berdenyut, bergerak, dan meninggalkan jejak. Tubuh tidak menunggu dunia datang, dunia sudah lebih dulu tinggal di dalamnya.

Kosmologi Bali mengisyaratkan, gagasan ini hadir melalui bhuana alit dan bhuana agung. Tubuh manusia bukan entitas kecil terpisah dari semesta, melainkan cerminan miniatur dari dunia yang lebih luas. Nafas, denyut jantung, dan gerak tubuh tidak berdiri sendiri, semuanya terhubung dengan ritme kosmik-siang malam, pasang surut, upacara, dan musim. Dengan cara ini, badan wadag bukan sekedar alat hidup, tetapi medan pertemuan diri dan semesta.

Praktik performans yang melibatkan diam misalnya, badan wadag justru bekerja paling intens. Ketika tubuh tidak bergerak, dunia tetap bergerak di dalamnya. Suara dari luar masuk lewat telinganya, cahaya menyentuh kulit, waktu menekan pikiran. Penonton sering kali melihat keheningan, tetapi yang terjadi di dalam tubuh adalah keramaian. Dunia berdenyut melalui rasa tidak nyaman, sabar, atau waswas.

Beberapa praktik sengaja menempatkan tubuh sebagai bagian dari sistem proyeksi. Bayangan tubuh mengganggu gambar, atau sebaliknya, gambar menguasai tubuh. Dunia rupa tidak lagi berada “di luar”, melainkan berdenyut bersama tubuh. Pengalaman ini mengingatkan pada gagasan Marshall McLuhan tentang media sebagai perpanjangan tubuh manusia. Dalam expanded cinema, perpanjangan itu menjadi sangat literal: cahaya, suara, dan waktu benar-benar bekerja di dalam badan wadag.

Dalam kontek Bali kontemporer, pendekatan ini membuka ruang pembacaan baru terhadap tubuh tradisional. Tubuh yang biasa hadir dalam ritual kini memasuki ruang seni dengan teknologi, durasi, eksperimental, dan konteks urban. Namun denyut kosmologinya tidak hilang. Ia hanya bergeser bentuk.  Tubuh tetap membawa ingatan upacara, disiplin raga, dan hubungan dengan ruang sakral-meski kini berhadapan dengan layar, proyektor, dan penonton global.

Pemikiran antropologis dan perfomatif membantu memahami tubuh sebagai ruang yang berlapis. Diana Taylor menyebutkan tubuh sebagai reportoire-tempat pengetahuan disimpan dan diwariskan melalui praktik, bukan teks. Dalam badan wadag, dunia sosial, budaya, dan sejarah terus bekerja. Setiap gerak kecil membawa jejak yang lebih besar dari sekedar tindakan individual.

Fenomenologi kembali menegaskan bahwa tubuh tidak berada di dunia sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang selalu terlibat. Maurice Merleau-Ponty menyatakan bahwa tubuh adalah cara utama berada di dunia. Dalam praktik seni, pemahamam ini bergeser fokus dari hasil proses, dari representasi ke pengalaman. Badan wadag tidak diminta untuk “menyampaikan pesan” tetapi untuk membuka dirinya sebagai tempat dunia berspektrum.

Pada akhirnya, badan wadag dan dunia yang berdenyut di dalamnya mengingatkan bahwa tuh bukan sakedar wadah sementara. Ia adalah ruang hidup tempat pengalaman bertumpuk, tempat dunia datang dan pergi, dan tempat seni menemukan kejujuranya. Dalam denyut itu, tubuh tidak pernah benar-benar sendiri. Dunia selalu ikut hadir, bernafas, dan bergerak bersama.

Ingatan yang Tinggal di Otot dan Napas

Tidak semua ingatan tinggal di kepala. Sebagaian besar justru menetap di tempat yang jarang disadari; di otot, di sendi, di cara nafas keluar dan masuk. Tubuh mengingat tanpa perlu diminta. Ia menyimpan jejak pengalaman jauh lebih lama dari pada kata-kata. Dalam banyak praktik seni performans, tubuh bekerja bukan sebagai medium ekspresi semata, melainkan sebagai arsip hidup yang terus membawa masa lalu ke momen kini.

Keseharian kita, ingatan tubuh muncul tanpa aba-aba. Tubuh tiba-tiba menegang ketika memasuki ruangan tertentu, atau bernapas lebih panjang saat merasa aman. Ingatan itu tidal selalu personal; sering kali Ia bersifat kolektif. Tubuh menyerap kebiasaan, disipli, dan ritme yang diwariskan lintas generasi. Di Bali, hal ini terasa kuat melalui ritual, tari, dan laku keseharian yang terus menerus melibatkan pengulangan gerak dan waktu. Tubuh belajar dengan cara melakukannya, bukan dengan mengafalnya.

Praktik performans memberi ruang bagi ingatan semacam ini untuk muncul ke permukaan. Ketika tubuh diminta mengulang gerak sederhana dalam durasi panjang seperti berdiri, berjalan perlahan, atau bernafas teratur ingatan mulai bekerja. Otot mengingat kebiasaan lama, nafas mengulang ritme yang pernah dilatih. Tubuh tidak pernah benar-benar netral, Ia selalu membawa sejarahnya sendiri ke dalam setiap tindakan.

Dalam konteks Bali, tubuh menyimpan memori ritual yang sering kali tidak disadari. Cara berdiri saat sembahyang, cara menunduk, cara berjalan di ruang sakral-semuanya tertanam dalam tubuh jauh sebelum mampu dijelaskan secara verbal. Antropolog I Gusti Ngurah Bagus mencatat bahwa tubuh Bali dibentuk melalui pengalaman langsung yang berulang, bukan melalui instruksi tertulis. Ingatan ini hidup di raga, bukan di arsip.

Foto Performans I Nyoman Erawan, Tribute to Kadek Suardana | Dok. Bayu Andika

Ketika tubuh ritual ini masuk ke ruang seni kontemporer, ingatan tersebut tidak serta merta hilang. Ia justru berpraktik dengan kontek baru. Dalam performans, tubuh yang terbiasa disiplin menghadapi durasi dan keheningan membawa memori itu ke dalam ruang pertunjukan. Diam menjadi penuh. Gerak kecil menjadi bermakna. Nafas menjadi penanda waktu. Ingatan lama bekerja di dalam situasi baru. Ingatan ini tidak sepenuhnya didokumentasikan, ia hanya bisa dihidupkan kembali. Dalam seni performans setiap pengulangan adalah pembaharuan, bukan penyalinan. Tubuh mengingat, tetapi tidak pernah dengan cara yang sama persis.

Fenomenologi dalm hal ini memberi kerangka untuk memahami ingatan tubuh, Maurice Merleau-Ponty menekankan bahwa tubuh adalah tempat di mana masa lalu dan masa kini bertemu. Ingatan tidak tersimpan sebagai data, melainkan sebagai kecendrungan tubuh untuk bertindak dan merasakan dengan cara tertentu. Dalam performans, kecendrungan ini menjadi bahan utama penciptaan.

Kesadaran akan ingatan tubuh menjadi penting untuk membaca ulang relasi antara tradisi dan praktik baru, dalam kontek Bali kontemporer. Tubuh tidak perlu selalu menjelaskan asal-usulnya. Cukup dengan hadir, bergerak, bernafas, ia sudah membawa sejarah yang panjang. Seni performans memberi ruang bagi sejarah itu untuk muncul tanpa harus dipadatkan menjadi simbol atau narasi tunggal.

Foto Performans I Wayan Dibia, Tribute to Kadek Suardana | Dok. Bayu Andika

Pada akhirnya, ingatan yang tinggal di otot dan nafas mengingatkan bahwa tubuh adalah penyimpan waktu. Setiap gerak membawa masa lalu, setiap bafas memuat pengalaman. Dalam seni, tubuh tidak diminta untuk mengingat secara sadar, tetapi untuk membiarkan ingatan itu bekerja. Dari situlah pengalaman yang jujur dan berlapis dapat lahir, pengalaman yang tidak hanya dipahami, tetapi dirasakan. [T]

Penulis: Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seni Rupateater tubuhTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seratus Pemuda Bali–NTT Belajar Merancang Masa Depan Politik dari Keresahan Setiap Daerah

Next Post

Agung Rai dan Tata Ulang Nama-nama Jalan di Ubud: Literasi Budaya Lewat Nama Tokoh

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Agung Rai dan Tata Ulang Nama-nama Jalan di Ubud: Literasi Budaya Lewat Nama Tokoh

Agung Rai dan Tata Ulang Nama-nama Jalan di Ubud: Literasi Budaya Lewat Nama Tokoh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co