24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Tubuh atau Badan Wadag menjadi Terminal Dunia

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
February 10, 2026
in Esai
Ketika Tubuh atau Badan Wadag menjadi Terminal Dunia

Tubuh yang Hadir lebih Dulu dari Kata

Lingkup Bali, tubuh yang hadir lebih dulu dari kata bukanlah gagasan asing. Sejak kecil, tubuh dibentuk melalui ritme ritual, berdiri lama saat sembahyang, duduk besila tanpa banyak bergerak, berjalan pelan mengikuti iring-iringan. Tubuh belajar lebih dulu, jauh sebelum mampu menjelaskan apa yang sedang diplajari. Badan wadag menjadi medan latihan kepekaan tempat dunia ditangkap melalui gerak, diam, dan napas.

Dalam keseharian hal serupa sering terjadi, ketika memasuki ruang baru, tubuh langsung memberi sinyal nyaman, sebaliknya tidak nyaman, atau mengancam. Pikiran menyusul belakangan, mencoba memberi alasan. Dalam praktik seni, pengalaman memperlambat dan memperpanjang performans memberi waktu bagi tubuh untuk benar-benar dirasakan, bukan sekedar dilewati. Kesadaran ini menggeser posisi penciptaan, bukan konsep menuju tubuh, tetapi dari tubuh menuju kemungkinan tubuh.

Alamat Pertama Bernama Rasa

Sebelum tubuh mengetahui di mana ia berada, rasa sudah lebih dulu memberi alamat. Bukan alamat geografis, bukan koordinat ruang, melainkan penanda halus: hangat, siang, tegang, atau tenang. Rasa bekerja cepat dan senyap. Iya muncul bahkan sebelum tubuh sempat menamai situasi. Berdasarkan banyak pengalaman, rasa menjadi pintu pertama yang membuat relasi antara tubuh dan dunia.

Foto karya I Wayan Sujana Suklu | Dok. Pribadi

Kehidupan keseharian budaya Bali, rasa juga menjadi alat pemandu utama. Konsep taksu misalnya, tidak mudah dijelaskan secara rasional, tetapi sangat mudah dirasakan. Tubuh segera tahu kapan sebuah ruang “hidup” dan kapan ia kosong. Rasa inilah yang menjadi menanda awal relasi manusia dan lingkungan, sebuah bentuk pengetahuan yang tidak dicatat, tetapi diwariskan melalui pengalaman langsung. Bali kontemporer, pendekatan berbasis rasa ini menjadi penting untuk menghindari jebakan eksotisme. Tubuh Bali tidak selalu perlu “diterjemahkan” ke dalam simbol yang mudah dikenali. Cukup dihadirkan sebagai tubuh yang merasakan seperti panas, lelah, ragu, atau tenang. Dengan cara ini, tradisi tidak tampil sebagai citra beku, melainkan sebagai pengalaman yang terus bergerak.

Pemikiran fenomenologi memberi kerangka untuk memahami pengalaman ini, Maurice Merleau-Ponty menekankan bahwa pesepsi selalu berakar tubuh yang merasakan, bukan pada pikiran yang menganalisis. Dunia pertama-tama dialami sebagai rasa; tekstur, tekanan, suhu, jarak. Dalam praktik seni, kesadaran ini membuka kemungkinan penciptaan yang tidak tergesa-gesa menuju makna, tetapi memberi ruang bagi rasa untuk bekerja.

Pada akhirnya, terminal pertama bernama rasa mengingatkan bahwa seni tidak selalu perlu segera dipahami. Cukup dirasakan. Dari rasa itulah, tubuh mulai mengenali dunia, dan dunia perlahan membuka dirinya. Kata-kata boleh menyusul, tetapi rasa sudah lebih dulu memberi tanda: tubuh ini sedang berada di sini.

Badan Wadag dan Dunia yang Berdenyut di Dalamnya.

Badan wadag kerap dianggap sebagai batas. Ia dipahami sebagai kulit sebagai kulit yang membungkus diri, sebagai tubuh fisik yang terpisah dari dunia sekitarnya. Namun dalam pengalaman keseharian terutama dalam praktek seni, badan wadag justru bekerja sebaliknya. Ia menjadi ruang tempat dunia berdenyut, bergerak, dan meninggalkan jejak. Tubuh tidak menunggu dunia datang, dunia sudah lebih dulu tinggal di dalamnya.

Kosmologi Bali mengisyaratkan, gagasan ini hadir melalui bhuana alit dan bhuana agung. Tubuh manusia bukan entitas kecil terpisah dari semesta, melainkan cerminan miniatur dari dunia yang lebih luas. Nafas, denyut jantung, dan gerak tubuh tidak berdiri sendiri, semuanya terhubung dengan ritme kosmik-siang malam, pasang surut, upacara, dan musim. Dengan cara ini, badan wadag bukan sekedar alat hidup, tetapi medan pertemuan diri dan semesta.

Praktik performans yang melibatkan diam misalnya, badan wadag justru bekerja paling intens. Ketika tubuh tidak bergerak, dunia tetap bergerak di dalamnya. Suara dari luar masuk lewat telinganya, cahaya menyentuh kulit, waktu menekan pikiran. Penonton sering kali melihat keheningan, tetapi yang terjadi di dalam tubuh adalah keramaian. Dunia berdenyut melalui rasa tidak nyaman, sabar, atau waswas.

Beberapa praktik sengaja menempatkan tubuh sebagai bagian dari sistem proyeksi. Bayangan tubuh mengganggu gambar, atau sebaliknya, gambar menguasai tubuh. Dunia rupa tidak lagi berada “di luar”, melainkan berdenyut bersama tubuh. Pengalaman ini mengingatkan pada gagasan Marshall McLuhan tentang media sebagai perpanjangan tubuh manusia. Dalam expanded cinema, perpanjangan itu menjadi sangat literal: cahaya, suara, dan waktu benar-benar bekerja di dalam badan wadag.

Dalam kontek Bali kontemporer, pendekatan ini membuka ruang pembacaan baru terhadap tubuh tradisional. Tubuh yang biasa hadir dalam ritual kini memasuki ruang seni dengan teknologi, durasi, eksperimental, dan konteks urban. Namun denyut kosmologinya tidak hilang. Ia hanya bergeser bentuk.  Tubuh tetap membawa ingatan upacara, disiplin raga, dan hubungan dengan ruang sakral-meski kini berhadapan dengan layar, proyektor, dan penonton global.

Pemikiran antropologis dan perfomatif membantu memahami tubuh sebagai ruang yang berlapis. Diana Taylor menyebutkan tubuh sebagai reportoire-tempat pengetahuan disimpan dan diwariskan melalui praktik, bukan teks. Dalam badan wadag, dunia sosial, budaya, dan sejarah terus bekerja. Setiap gerak kecil membawa jejak yang lebih besar dari sekedar tindakan individual.

Fenomenologi kembali menegaskan bahwa tubuh tidak berada di dunia sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang selalu terlibat. Maurice Merleau-Ponty menyatakan bahwa tubuh adalah cara utama berada di dunia. Dalam praktik seni, pemahamam ini bergeser fokus dari hasil proses, dari representasi ke pengalaman. Badan wadag tidak diminta untuk “menyampaikan pesan” tetapi untuk membuka dirinya sebagai tempat dunia berspektrum.

Pada akhirnya, badan wadag dan dunia yang berdenyut di dalamnya mengingatkan bahwa tuh bukan sakedar wadah sementara. Ia adalah ruang hidup tempat pengalaman bertumpuk, tempat dunia datang dan pergi, dan tempat seni menemukan kejujuranya. Dalam denyut itu, tubuh tidak pernah benar-benar sendiri. Dunia selalu ikut hadir, bernafas, dan bergerak bersama.

Ingatan yang Tinggal di Otot dan Napas

Tidak semua ingatan tinggal di kepala. Sebagaian besar justru menetap di tempat yang jarang disadari; di otot, di sendi, di cara nafas keluar dan masuk. Tubuh mengingat tanpa perlu diminta. Ia menyimpan jejak pengalaman jauh lebih lama dari pada kata-kata. Dalam banyak praktik seni performans, tubuh bekerja bukan sebagai medium ekspresi semata, melainkan sebagai arsip hidup yang terus membawa masa lalu ke momen kini.

Keseharian kita, ingatan tubuh muncul tanpa aba-aba. Tubuh tiba-tiba menegang ketika memasuki ruangan tertentu, atau bernapas lebih panjang saat merasa aman. Ingatan itu tidal selalu personal; sering kali Ia bersifat kolektif. Tubuh menyerap kebiasaan, disipli, dan ritme yang diwariskan lintas generasi. Di Bali, hal ini terasa kuat melalui ritual, tari, dan laku keseharian yang terus menerus melibatkan pengulangan gerak dan waktu. Tubuh belajar dengan cara melakukannya, bukan dengan mengafalnya.

Praktik performans memberi ruang bagi ingatan semacam ini untuk muncul ke permukaan. Ketika tubuh diminta mengulang gerak sederhana dalam durasi panjang seperti berdiri, berjalan perlahan, atau bernafas teratur ingatan mulai bekerja. Otot mengingat kebiasaan lama, nafas mengulang ritme yang pernah dilatih. Tubuh tidak pernah benar-benar netral, Ia selalu membawa sejarahnya sendiri ke dalam setiap tindakan.

Dalam konteks Bali, tubuh menyimpan memori ritual yang sering kali tidak disadari. Cara berdiri saat sembahyang, cara menunduk, cara berjalan di ruang sakral-semuanya tertanam dalam tubuh jauh sebelum mampu dijelaskan secara verbal. Antropolog I Gusti Ngurah Bagus mencatat bahwa tubuh Bali dibentuk melalui pengalaman langsung yang berulang, bukan melalui instruksi tertulis. Ingatan ini hidup di raga, bukan di arsip.

Foto Performans I Nyoman Erawan, Tribute to Kadek Suardana | Dok. Bayu Andika

Ketika tubuh ritual ini masuk ke ruang seni kontemporer, ingatan tersebut tidak serta merta hilang. Ia justru berpraktik dengan kontek baru. Dalam performans, tubuh yang terbiasa disiplin menghadapi durasi dan keheningan membawa memori itu ke dalam ruang pertunjukan. Diam menjadi penuh. Gerak kecil menjadi bermakna. Nafas menjadi penanda waktu. Ingatan lama bekerja di dalam situasi baru. Ingatan ini tidak sepenuhnya didokumentasikan, ia hanya bisa dihidupkan kembali. Dalam seni performans setiap pengulangan adalah pembaharuan, bukan penyalinan. Tubuh mengingat, tetapi tidak pernah dengan cara yang sama persis.

Fenomenologi dalm hal ini memberi kerangka untuk memahami ingatan tubuh, Maurice Merleau-Ponty menekankan bahwa tubuh adalah tempat di mana masa lalu dan masa kini bertemu. Ingatan tidak tersimpan sebagai data, melainkan sebagai kecendrungan tubuh untuk bertindak dan merasakan dengan cara tertentu. Dalam performans, kecendrungan ini menjadi bahan utama penciptaan.

Kesadaran akan ingatan tubuh menjadi penting untuk membaca ulang relasi antara tradisi dan praktik baru, dalam kontek Bali kontemporer. Tubuh tidak perlu selalu menjelaskan asal-usulnya. Cukup dengan hadir, bergerak, bernafas, ia sudah membawa sejarah yang panjang. Seni performans memberi ruang bagi sejarah itu untuk muncul tanpa harus dipadatkan menjadi simbol atau narasi tunggal.

Foto Performans I Wayan Dibia, Tribute to Kadek Suardana | Dok. Bayu Andika

Pada akhirnya, ingatan yang tinggal di otot dan nafas mengingatkan bahwa tubuh adalah penyimpan waktu. Setiap gerak membawa masa lalu, setiap bafas memuat pengalaman. Dalam seni, tubuh tidak diminta untuk mengingat secara sadar, tetapi untuk membiarkan ingatan itu bekerja. Dari situlah pengalaman yang jujur dan berlapis dapat lahir, pengalaman yang tidak hanya dipahami, tetapi dirasakan. [T]

Penulis: Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seni Rupateater tubuhTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seratus Pemuda Bali–NTT Belajar Merancang Masa Depan Politik dari Keresahan Setiap Daerah

Next Post

Agung Rai dan Tata Ulang Nama-nama Jalan di Ubud: Literasi Budaya Lewat Nama Tokoh

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Agung Rai dan Tata Ulang Nama-nama Jalan di Ubud: Literasi Budaya Lewat Nama Tokoh

Agung Rai dan Tata Ulang Nama-nama Jalan di Ubud: Literasi Budaya Lewat Nama Tokoh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co