4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agama di Ruang Publik: Antara Keyakinan, Prasangka, dan Kekosongan Sains

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 9, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Pendahuluan

Dalam ruang sosial kontemporer—baik di tingkat global maupun dalam konteks Indonesia—agama telah menjelma menjadi salah satu topik yang paling sering diperdebatkan. Percakapan mengenai surga, kitab suci, moralitas, identitas keagamaan, hingga penilaian terhadap agama lain beredar luas di media massa, media sosial, dan diskursus keseharian. Agama tidak lagi semata diposisikan sebagai wilayah spiritual privat, melainkan hadir sebagai wacana publik yang terbuka, cair, dan sering kali kontroversial.

Namun, maraknya perbincangan tentang agama tersebut tidak selalu sejalan dengan kedalaman analisis ilmiah. Diskursus keagamaan kerap dibangun di atas opini personal, prasangka kultural, atau sentimen ideologis, tanpa mempertimbangkan konteks sejarah, metodologi kajian agama, maupun data empiris yang dapat diverifikasi. Akibatnya, narasi-narasi simplistik—seperti pengaitan agama dengan kekerasan, terorisme, radikalisme, atau perusakan kebudayaan—lebih cepat menyebar dibandingkan pemahaman yang berbasis riset akademik.

Tulisan ini berupaya mengkaji fenomena tersebut secara ilmiah dengan pendekatan multidisipliner. Fokus utama bukan pada pembelaan atau penyangkalan terhadap ajaran agama tertentu, melainkan pada cara agama dibicarakan, direpresentasikan, dan dipolitisasi di ruang publik. Analisis diarahkan pada bagaimana prasangka terbentuk, bagaimana ketidaktahuan ilmiah dimanfaatkan sebagai alat provokasi, serta mengapa pendekatan sains dan dialog kritis menjadi kebutuhan mendesak dalam masyarakat plural.

Agama sebagai Fenomena Sosial dan Psikologis

Agama dalam Perspektif Ilmu Sosial

Sejak awal perkembangan ilmu sosial modern, agama telah dipahami sebagai fenomena sosial yang kompleks. Émile Durkheim melihat agama sebagai sistem kepercayaan dan praktik yang berfungsi memperkuat solidaritas sosial. Max Weber memandang agama sebagai kekuatan etis dan rasional yang memengaruhi tindakan sosial dan struktur ekonomi. Sementara itu, Clifford Geertz menempatkan agama sebagai sistem simbol yang memberi makna terhadap realitas dan penderitaan manusia.

Dalam kerangka ini, agama tidak berdiri di ruang hampa. Ia selalu berinteraksi dengan konteks sosial, politik, dan budaya masyarakat tempat agama itu hidup. Oleh karena itu, memahami agama secara ilmiah menuntut pembacaan yang kontekstual, bukan reduksionistik.

Agama dan Dimensi Psikologi Kognitif

Kajian psikologi kognitif menunjukkan bahwa manusia secara inheren memiliki kecenderungan untuk mencari makna, keteraturan, dan tujuan, terutama dalam menghadapi ketidakpastian hidup dan kematian. Konsep tentang surga, neraka, pahala, dan dosa merupakan bentuk representasi kognitif yang membantu manusia mengelola kecemasan eksistensial.

Dalam konteks ini, agama tidak hanya berfungsi sebagai sistem kepercayaan, tetapi juga sebagai mekanisme psikologis yang memengaruhi cara manusia berpikir, menilai, dan bertindak. Oleh sebab itu, diskursus agama di ruang publik tidak dapat dilepaskan dari dimensi psikologis manusia yang rentan terhadap simplifikasi dan generalisasi.

Ketidakakuratan dalam Diskursus Publik tentang Agama

Absennya Pendekatan Ilmiah

Salah satu problem utama dalam perbincangan agama di ruang publik adalah ketiadaan landasan ilmiah. Banyak klaim tentang agama disampaikan tanpa rujukan akademik, tanpa metode analisis yang jelas, dan tanpa pembacaan komparatif. Pernyataan yang menyebut suatu agama sebagai “perusak budaya” atau “ancaman sosial” sering kali bersumber dari pengalaman subjektif atau narasi ideologis, bukan dari penelitian antropologis atau sosiologis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebaliknya, kajian antropologi justru menunjukkan bahwa agama kerap beradaptasi dan bernegosiasi dengan budaya lokal. Proses ini melahirkan praktik-praktik keagamaan yang khas dan kontekstual, bukan kehancuran budaya secara total.

Stereotip, Labelisasi, dan Penyederhanaan

Istilah-istilah seperti “mabuk agama” atau “fanatisme buta” sering digunakan untuk melabeli individu atau kelompok tertentu. Secara ilmiah, istilah semacam ini tidak memiliki definisi operasional yang jelas dan lebih bersifat retoris daripada analitis. Labelisasi semacam ini berfungsi sebagai alat delegitimasi, bukan sebagai instrumen pemahaman.

Dalam psikologi sosial, stereotip terbukti menyederhanakan realitas yang kompleks dan memperkuat prasangka antarkelompok. Alih-alih membuka ruang dialog, stereotip justru menutup kemungkinan analisis yang lebih jernih dan berimbang.

Islam dalam Wacana Publik: Antara Studi Akademik dan Prasangka

Islam dalam Kajian Ilmiah

Sebagai agama dengan jumlah penganut terbesar kedua di dunia, Islam telah menjadi objek kajian akademik lintas disiplin. Studi tentang Islam mencakup sejarah peradaban, teologi, hukum, filsafat, serta keragaman praktik keagamaan di berbagai wilayah. Pendekatan ilmiah terhadap Islam selalu menekankan pluralitas interpretasi dan konteks historis.

Dengan demikian, memandang Islam sebagai entitas tunggal yang homogen bertentangan dengan temuan akademik yang menunjukkan keragaman ekspresi Islam di tingkat lokal dan global.

Narasi Negatif dan Generalisasi

Di ruang publik, khususnya media digital, Islam kerap direduksi menjadi simbol kekerasan, terorisme, dan radikalisme. Penelitian ilmiah secara konsisten membedakan antara ajaran agama, praktik keagamaan mayoritas, dan tindakan ekstrem yang dilakukan oleh kelompok kecil dengan agenda politik tertentu.

Generalisasi semacam ini tidak hanya tidak akurat, tetapi juga berpotensi menciptakan ketegangan sosial. Dalam teori konflik sosial, prasangka kolektif sering kali menjadi bahan bakar utama konflik identitas.

Islam dan Kebudayaan Jawa

Dalam konteks kebudayaan Jawa, terdapat pandangan yang menganggap Islam sebagai kekuatan yang menghapus tradisi lokal. Namun, kajian antropologis menunjukkan sebaliknya. Proses Islamisasi di Jawa berlangsung melalui akulturasi dan sinkretisme, melahirkan praktik keagamaan yang memadukan nilai Islam dengan tradisi lokal.

Tradisi seperti slametan, tahlilan, dan berbagai ritual sosial menunjukkan bahwa hubungan antara Islam dan budaya Jawa bersifat dialogis, bukan destruktif.

Ketidaktahuan Ilmiah dan Dampaknya bagi Masyarakat

Media Sosial dan Ekonomi Atensi

Media sosial telah mengubah cara manusia mengonsumsi informasi. Algoritma platform digital cenderung mengutamakan konten yang memicu emosi kuat, seperti kemarahan dan ketakutan. Dalam konteks agama, narasi provokatif lebih mudah viral dibandingkan analisis akademik yang kompleks.

Fenomena ini menciptakan ekosistem informasi yang miskin verifikasi dan kaya sensasi.

Kerentanan Publik terhadap Provokasi

Kelompok masyarakat dengan akses terbatas terhadap pendidikan kritis dan literasi media lebih rentan terhadap narasi provokatif. Heuristik kognitif—jalur berpikir cepat yang minim refleksi—membuat individu mudah menerima klaim tanpa verifikasi.

Dalam kondisi ini, agama sering dijadikan instrumen untuk membangun musuh imajiner dan memperkuat polarisasi sosial.

Polarisasi dan Konflik Identitas

Ketika prasangka dan stereotip terus direproduksi, masyarakat berisiko terjebak dalam polarisasi identitas. Diskursus agama yang seharusnya membuka ruang etika dan kemanusiaan justru berubah menjadi alat fragmentasi sosial.

Pendekatan Ilmiah sebagai Jalan Tengah

Literasi Agama dan Literasi Media

Peningkatan kualitas diskursus agama mensyaratkan penguatan literasi agama dan literasi media. Literasi agama menuntut pemahaman kontekstual terhadap teks, sejarah, dan praktik keagamaan. Sementara literasi media menuntut kemampuan memilah informasi, mengenali bias, dan memverifikasi sumber.

Keduanya merupakan prasyarat penting untuk mencegah manipulasi opini publik.

Metodologi Kajian Agama

Kajian ilmiah tentang agama memanfaatkan berbagai metode, mulai dari analisis sejarah, observasi antropologis, survei sosiologis, hingga eksperimen psikologis. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif dan terukur.

Dialog Interdisipliner

Dialog antara akademisi, tokoh agama, dan praktisi media perlu diperkuat agar diskursus agama tidak terjebak dalam ekstremitas opini. Pendekatan interdisipliner membuka ruang sintesis antara iman, rasionalitas, dan kemanusiaan.

Kesimpulan

Maraknya perbincangan tentang agama di ruang publik tidak selalu mencerminkan kedalaman pemahaman. Ketika agama dibahas tanpa sains, tanpa metodologi, dan tanpa etika dialog, ia mudah direduksi menjadi alat provokasi. Fenomena ini bukan sekadar persoalan perbedaan keyakinan, melainkan persoalan krisis literasi dan tanggung jawab intelektual.

Diskursus agama yang sehat hanya dapat tumbuh melalui pendekatan ilmiah, dialog terbuka, dan penghormatan terhadap kompleksitas sosial. Dalam masyarakat majemuk dan digital, upaya ini bukan sekadar pilihan akademik, melainkan kebutuhan kemanusiaan.

Referensi:

  • Allport, G. (1954). The Nature of Prejudice.
  • Berger, J., & Milkman, K. (2012). Social Transmission and Emotion in Viral Content.
  • Boyer, P. (2001). Religion Explained: The Human Instincts That Fashion Gods.
  • Durkheim, É. (1912). The Elementary Forms of Religious Life.
  • Esposito, J. (1999). The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World.
  • Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow.
  • Nasr, S. H. (2002). The Heart of Islam.
  • Tajfel, H., & Turner, J. (1979). An Integrative Theory of Intergroup Conflict.
Tags: agamaIslamsains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof. Suka Yasa: Kembali Menekuni Sastra Lontar untuk Bangkitkan Taksu Manusia Bali

Next Post

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co