6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
in Ulas Film
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

Poster film Alas Roban | Unlimited Production

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata yang hidup di ingatan, bercampur antara pengalaman fisik, cerita lisan, dan mitos yang diwariskan dari mulut ke mulut. Kata itu selalu mengandung gema: angker, sepi, hutan jati yang panjang, kendaraan mogok, serta kisah orang hilang atau “dibawa” penunggu.

Maka, ketika sebuah film berjudul Alas Roban hadir di bioskop, ia tidak datang sebagai teks kosong. Ia langsung berdialog dengan memori kolektif penontonnya. Menonton film ini—dalam konteks personal, sebagai hiburan bersama istri setelah rutinitas—menjadi pengalaman hermeneutik: sebuah perjumpaan antara teks film, ingatan masa lalu, dan sistem kepercayaan Jawa yang telah lama membentuk cara kita memaknai ruang, waktu, dan yang gaib. Film ini tidak hanya “menakut-nakuti”, tetapi bekerja sebagai medium penafsiran ulang mitos Alas Roban dalam bahasa sinema kontemporer.

Produksi Era 90-an sebagai Strategi Hermeneutik

Salah satu kekuatan utama Alas Roban (2026) terletak pada totalitas desain produksinya. Bus antarkota, struktur bangunan, pasar tradisional, hingga suasana hutan jati, semuanya dikonstruksi dengan presisi yang meyakinkan penonton bahwa para karakter memang hidup di era 1990-an. Ini bukan sekadar nostalgia visual, melainkan strategi hermeneutik.

Dalam kerangka hermeneutika Hans-Georg Gadamer, pemahaman selalu terjadi melalui fusi horizon—pertemuan antara horizon masa lalu dan horizon masa kini. Dengan menghidupkan kembali era 90-an, film ini memperkecil jarak historis antara pengalaman personal penonton dan dunia naratif film. Penonton seusia saya tidak sedang “melihat” masa lalu, melainkan kembali masuk ke dalamnya.

Alas Roban, sebelum tol Trans Jawa, adalah ruang transisi: wilayah liminal antara kota dan kota, antara aman dan tidak aman, antara rasional dan irasional. Film ini berhasil mengembalikan Alas Roban sebagai ruang ambang (liminality), sebuah konsep penting dalam mitologi Jawa, di mana batas dunia manusia dan dunia gaib menjadi tipis.

Pewarnaan Warm dan Dialektika Horor–Kasih

Pilihan sinematografi dengan dominasi warna hangat (warm tone) menghadirkan paradoks menarik. Secara umum, horor identik dengan warna dingin, gelap, dan kontras tajam. Namun Alas Roban justru memilih pendekatan berbeda. Pewarnaan hangat ini bukan hanya menegaskan latar waktu, tetapi juga menjadi kode emosional.

Dalam pembacaan hermeneutik simbolik, warna hangat berfungsi ganda. Di satu sisi, ia memperhalus teror—membuat horor terasa “mendekat” dan akrab. Di sisi lain, ia memberi isyarat bahwa di balik kengerian, terdapat kisah manusiawi yang hangat: perjuangan seorang ibu untuk melindungi anaknya.

Di sinilah film ini bergerak melampaui horor sebagai genre sensasi. Ketakutan tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berdampingan dengan kasih. Dalam mitologi Jawa, hubungan antara dunia gaib dan manusia jarang hitam-putih. Penunggu hutan tidak selalu jahat; mereka memiliki hukum, etika, dan relasi tertentu dengan manusia. Pewarnaan warm menjadi metafora visual atas ambiguitas tersebut.

Urban Legendsebagai Ingatan Kolektif

Bayangan urban legend Alas Roban membuat setiap jumpscare terasa lebih berdampak. Bukan karena efek visual semata, tetapi karena penonton telah membawa “teks lain” ke dalam pengalaman menonton: cerita sopir bus, kisah orang tua, pengalaman pribadi melewati hutan jati pada malam hari.

Dalam perspektif hermeneutika Paul Ricoeur, mitos bekerja sebagai narasi simbolik yang menyimpan kebenaran eksistensial, bukan kebenaran faktual. Film Alas Roban membaca ulang mitos ini bukan untuk membuktikan benar-salahnya, melainkan untuk menyingkap maknanya: rasa takut sebagai mekanisme sosial, sebagai cara masyarakat Jawa mengajarkan kehati-hatian terhadap ruang yang dianggap sakral.

Ketika jumpscare muncul, ia tidak berdiri sendiri. Ia beresonansi dengan memori kolektif penonton. Inilah sebabnya adegan-adegan mengejutkan terasa “lebih kena”: karena ketakutan itu telah lama hidup sebelum film ini dibuat.

Sosok Gendis dan Tanda dari Alam Gaib

Kemunculan sosok Gendis yang diperankan oleh Fara Shakila menjadi titik balik emosional sekaligus simbolik film ini. Gendis bukan sekadar korban atau medium horor. Ia adalah penanda—tubuh manusia yang ditandai oleh kekuatan gaib Alas Roban.

Dalam mitologi Jawa, penandaan oleh makhluk halus sering kali bukan hukuman, melainkan penetapan takdir atau posisi. Individu yang “dipilih” berada di antara dua dunia. Film ini menangkap konsep tersebut dengan cukup sensitif, terutama melalui ritual masuk ke alam gaib yang ditampilkan dengan nuansa sakral, bukan sensasional.

Ritual tersebut dapat dibaca sebagai bentuk rite of passage—peralihan status dari manusia biasa menuju subjek yang memahami hukum alam lain. Dalam hermeneutika mitos, ritual bukan sekadar adegan, melainkan teks budaya yang mengajarkan bahwa tidak semua wilayah boleh dimasuki tanpa izin, tanpa etika, dan tanpa kesiapan batin.

Alas Roban sebagai Metafora Jalan Hidup

Lebih jauh, Alas Roban dalam film ini dapat dibaca sebagai metafora perjalanan hidup. Jalan panjang, gelap, penuh risiko, tetapi harus dilalui demi tujuan tertentu. Dalam konteks cerita, tujuan itu adalah keselamatan anak; dalam konteks penonton, ia adalah perjalanan hidup itu sendiri.

Mitologi Jawa memandang jalan bukan sekadar ruang fisik, tetapi ruang spiritual. Setiap perjalanan mengandung kemungkinan pertemuan—dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan yang tak kasatmata. Film Alas Roban berhasil menghidupkan kembali cara pandang ini, tanpa perlu ceramah atau simbol yang terlalu eksplisit.

Horor sebagai Tafsir Kebudayaan

Alas Roban (2026) bukan film horor yang hanya mengandalkan teriakan dan bayangan. Ia adalah teks budaya yang membuka kembali dialog tentang mitos, ingatan kolektif, dan cara orang Jawa memaknai ruang angker. Melalui pendekatan visual era 90-an, pewarnaan hangat, dan narasi relasi ibu–anak, film ini menghadirkan horor sebagai pengalaman hermeneutik: ketakutan yang ditafsirkan, bukan sekadar dirasakan.

Bagi penonton yang pernah melewati Alas Roban sebelum tol Trans Jawa, film ini terasa seperti cermin retak: kita melihat masa lalu, mitos, dan diri kita sendiri di dalamnya. Dan mungkin, di situlah letak horor paling dalam—bukan pada penunggu hutan, melainkan pada kesadaran bahwa ketakutan itu telah lama tinggal dalam ingatan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmfilm hororhermeneutikajawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Next Post

Mendidik Sebuah Kota dengan Kebutuhan Membaca —Soft launching Anima tokobuku di Kota Singaraja

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails

Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

by Petrus Imam Prawoto Jati
November 7, 2025
0
Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

JAGAT persilatan film Netflix Indonesia sedang agak heboh.  Film “Abadi Nan Jaya” nongol dan langsung melesat ke posisi nomor satu....

Read moreDetails
Next Post
Omong Kutang Kutang

Mendidik Sebuah Kota dengan Kebutuhan Membaca ---Soft launching Anima tokobuku di Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co