13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

FANTASMAGORIE

Hartanto by Hartanto
January 18, 2026
in Esai
FANTASMAGORIE

SUATU saat, saya ingin ‘mengusut’ lebih dalam soal novel Nadja karya Andre Breton. Pasalnya, saya ingin menambah pengetahuan tentang ‘sastra surealis’. Kata banyak ahli, novel itu termasuk kategori karya ‘sastra surealis’.

Sebagaimana para penulis, manakala ada keterbatasan buku-buku referensi, maka akan mencoba mencari via media sosial atau jurnal-jurnal keilmuan. Saya pun mencoba mencari lewat ‘mesin pencari’, google.

Banyak referensi yang muncul, dan membuat saya justru kebingungan untuk memahaminya. Maklum, ibarat computer, saya masih di generasi ‘pentium 1’. ‘Pentium’ ini adalah merek mikroprosesor (CPU) dari Intel yang sangat terkenal, menandai lompatan besar dalam komputasi PC, dan saya masih di level 1. Lelet dan terbatas memorinya.

Dari sekian banyak hasil dari mesin pencari, ada yang menarik bagi saya, yakni skripsi dari mahasiswi  Program Studi Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada – Yogyakarta – Irene Dyah Saraswati. Judul skripsinya : “Konsep Fantasmagorie Dalam Novel autobiografi Nadja Karya Andre Breton”.

Mengapa saya tertarik pada skripsi Dyah? Sebab, saya menemukan istilah yang asing dan belum pernah saya dengar. Fantasmagorie. Istilah ini, asing bagi saya, dan baru pertama kali saya temukan hingga membuat saya penasaran dan menelusuri arti sebenarnya.

‘Mesin pencari’ menjelaskan bahwa Fantasmagorie – sesuai pemikiran yang diungkapkan oleh Walter Benjamin di dalam ‘The Arcades Project’ – adalah cara untuk memahami makna fantasmagorie dan realitas yang terdapat pada novel antara hubungan karakter André (sebagai representasi Breton) dan Nadja.

Pada abstrak skripsi Dyah dijelaskan  – Walter Benjamin di dalam esainya, Paris the Capital of Nineteenth Century pada tahun 1935 – menyatakan bahwa Fantasmagorie  adalah sekumpulan peristiwa – gambar – yangmengiringi perubahan pesat yang terjadi di kota Paris pada abad ke-19, sehinggafenomena ini pun menciptakan angan-angan ‘utopis’ dari kenyataan yangsebenarnya.

Utopia yang Benjamin gambarkan, menurut penuturan Dyah – dirangkum dalam beberapa unsur fantasmagorie dan di antaranya dapat ditemukan di dalam novel autobiografi André Breton, Nadja. Novel yang terbit pada tahun 1928 ini  bercerita mengenai pengalaman Breton dan Nadja selama sepuluh hari di bulan Oktober 1926.

Sebelumnya, lewat ‘mesin pencari’ juga, saya temukan tulisan Andi Arfan Yusri di rri.co.id yang menyatakan bahwa jauh sebelum era digital mendominasi produksi film, sebuah karya pionir lahir, menandai awal mula perjalanan panjang animasi.

Film revolusioner tersebut, jelas Andi Arfan Yusri  – adalah Fantasmagorie, sebuah inovasi brilian yang diciptakan oleh seniman visioner asal Prancis, Émile Cohl. Dirilis pada tahun 1908, Fantasmagorie secara luas diakui sebagai film animasi pertama di dunia.

Selanjutnya Andi Arfan Yusri menambahkan – Karya singkat namun monumental dengan durasi sekitar satu hingga dua menit ini, membuka jalan bagi medium ekspresi artistik yang tak terhingga jumlahnya dan terus mempesona audiens hingga kini.

Cohl, seorang karikaturis yang beralih menjadi animator, menggunakan serangkaian teknik inovatif untuk zamannya –  guna menghidupkan gambar-gambar ‘statis’ menjadi ‘ilusi’ gerakan yang memukau.

Kembali ke materi skripsi Dyah, tercatat Walter Benjamin melihat Paris sebagai laboratorium modernitas – pusat perbelanjaan, ‘parade’ arsitektur, dan boulevard yang luas menjadi simbol kemajuan sekaligus ilusi.

Fantasmagorie bukan sekadar ‘ilusi visual’, melainkan sebuah ‘konstruksi utopis’ yang menutupi kenyataan sosial, politik, dan ekonomi yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, fantasmagorie menjadi semacam tirai yang menampilkan ‘citra ideal’, sementara ‘realitas’ di baliknya tetap penuh ‘kontradiksi’.

‘Fantasmagorie’ hadir dalam bentuk citra-citra yang memikat – pameran dunia, toko-toko mewah, dan iklan – yang menyembunyikan ketegangan sosial akibat ‘industrialisasi’ dan ‘kapitalisme’. Dengan demikian, ‘fantasmagorie’ adalah mekanisme budaya yang mengubah pengalaman sehari-hari menjadi ‘tontonan utopis’, meski realitas di baliknya penuh ‘eksploitasi’ dan ‘alienasi’.

Dalam Nadja, Breton menuliskan pengalaman personal yang sarat dengan nuansa surealis. Pertemuan dengan Nadja bukan hanya kisah cinta atau persahabatan, melainkan sebuah perjalanan ke dalam fantasmagorie kota Paris. Jalan-jalan, percakapan, dan peristiwa sehari-hari ditransformasikan menjadi citra yang penuh misteri dan keajaiban.

Seperti fantasmagorie Benjamin, kisah Breton menutupi realitas dengan lapisan utopis. Nadja sendiri menjadi figur fantasmagoris – ia hadir sebagai simbol kebebasan, inspirasi, dan misteri, namun di balik itu terdapat realitas tragis tentang keterasingan dan kegilaan.

Dengan demikian, menurut saya – Nadja memperlihatkan bagaimana fantasmagorie dapat mengubah pengalaman nyata menjadi narasi yang penuh ilusi, sekaligus menyingkap realitas yang tersembunyi.

Baik Benjamin maupun Breton menunjukkan bahwa fantasmagorie bukan sekadar ilusi kosong. Ia adalah dialektika antara utopia dan realitas – sebuah cara untuk memahami bagaimana manusia menciptakan citra-citra ideal guna melarikan diri dari kenyataan, namun pada saat yang sama citra itu justru menyingkap kontradiksi yang ada.

Dalam Paris dan Nadja, fantasmagorie berfungsi sebagai medium untuk mengungkapkan pengalaman modernitas. Paris abad ke-19 dan Paris tahun 1920-an sama-sama menjadi panggung di mana utopia dan realitas saling berkelindan. Fantasmagorie menutupi, tetapi juga membuka – ia menyembunyikan realitas, namun sekaligus memperlihatkan jejaknya.

Kedua teks ini, meski berbeda medium, sama-sama memperlihatkan bagaimana fantasmagorie bekerja sebagai dialektika antara utopia dan realitas. Untuk memahami kedalaman fenomena ini, kita dapat menautkannya dengan teori Marx tentang ‘komoditas’ dan ‘Surrealisme’ sebagai gerakan ‘estetika’ yang menolak batas antara ‘mimpi’ dan ‘kenyataan’.

Benjamin, yang banyak dipengaruhi oleh Marx, melihat fantasmagorie sebagai bentuk “fetisisme komoditas.” Marx menulis dalam Das Kapital bahwa komoditas memiliki “karakter fantasmagoris” karena nilai tukarnya menutupi kerja manusia yang sesungguhnya. Paris abad ke-19, dengan pasar, arcade, dan iklan, menjadi ruang di mana komoditas tampil sebagai citra utopis, sementara realitas buruh dan eksploitasi tersembunyi di baliknya.

Dengan demikian, fantasmagorie bukan sekadar ilusi estetis, melainkan struktur ideologis yang mengatur cara manusia memandang dunia. Ia adalah mimpi kolektif kapitalisme, sebuah utopia yang rapuh namun memikat.

Breton, sebagai tokoh utama Surrealisme, menolak dikotomi antara mimpi dan kenyataan. Dalam Manifesto of Surrealism (1924), ia menulis bahwa Surrealisme adalah “penyatuan mimpi dan realitas dalam suatu realitas absolut, super-reality.” Nadja adalah perwujudan manifesto itu – kisah sehari-hari di Paris ditransformasikan menjadi pengalaman fantasmagoris, di mana Nadja hadir sebagai figur liminal – antara inspirasi, cinta, dan kegilaan.

Seperti fantasmagorie Benjamin, kisah Nadja menutupi realitas dengan lapisan utopis. Namun, Surrealisme tidak sekadar menyembunyikan – ia justru membuka celah untuk melihat realitas dari sudut pandang yang lain, lebih intim, lebih misterius. Nadja adalah fantasmagorie yang hidup, sebuah “komoditas emosional” yang menyingkap sekaligus menutupi kenyataan.

Paris adalah panggung cahaya dan bayangan. Di abad ke-19, nyala mimpi kolektif hadir disini. Walter Benjamin menyebutnya fantasmagorie – ilusi yang menawan, tirai yang menutupi kenyataan.

Ia menulis, “Fantasmagoria of the marketplace: here commodities assume a phantasmagoric character.” (Pasar Fantasmagoria: di sini komoditas mengambil karakter fantasmagoris.) Di balik gemerlap itu, buruh bekerja, kapitalisme berdenyut, dan kontradiksi sosial bersembunyi dalam gelap.

Beberapa waktu kemudian, André Breton berjalan bersama Nadja di jalan-jalan Paris. Sepuluh hari menjadi sepuluh bayangan, di mana percakapan, tatapan, dan langkah kaki berubah menjadi citra surealis.

Nadja adalah fantasmagorie yang hidup – inspirasi sekaligus kegilaan, utopia sekaligus keterasingan. Breton menulis dalam Nadja – “Who am I? If not the one who waits to be surprised by Nadja.” (Siapakah aku? Jika bukan orang yang menunggu untuk dikejutkan oleh Nadja). Ia hadir sebagai cahaya yang menuntun, namun juga sebagai bayangan yang mengingatkan akan rapuhnya mimpi.

Dalam Manifesto of Surrealism (1924), Breton menegaskan: “I believe in the future resolution of these two states, dream and reality, which are seemingly so contradictory, into a kind of absolute reality, a surreality.” (“Saya percaya pada penyelesaian di masa depan dari kedua keadaan ini, mimpi dan kenyataan, yang tampaknya sangat bertentangan, menjadi semacam realitas absolut, sebuah surealitas.”).

Kutipan ini memperkuat bahwa fantasmagorie bukan sekadar ilusi, melainkan jembatan antara mimpi dan kenyataan, sebuah realitas absolut yang lahir dari ketegangan keduanya.

Fantasmagorie menurut saya adalah puitika modernitas – bayangan yang menari di layar sejarah, cahaya yang bergetar di antara mimpi dan kenyataan. Paris menjadi teks kolektif, Nadja menjadi simbol pribadi, dan kita – para pembaca – diajak masuk ke ruang liminal di mana utopia dan realitas saling berkelindan.

Demikianlah akhirnya keterpesonaan saya pada kata Fantasmagorie terjawab sudah. Tentu, semua ini bisa terjawab karena bantuan yang sangat berharga dari produk pemikiran Irene Dyah Saraswati lewat skripsinya. Terima kasih Dyah, Salam Fantasmagorie. [T]

Tags: Andre Bretonnovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SUNDARIGAMA TAK BERŚIWARATRI (?)

Next Post

Mewaspadai Grooming dengan Penguatan Komunikasi Keluarga

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Mewaspadai Grooming dengan Penguatan Komunikasi Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co