23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

FANTASMAGORIE

Hartanto by Hartanto
January 18, 2026
in Esai
FANTASMAGORIE

SUATU saat, saya ingin ‘mengusut’ lebih dalam soal novel Nadja karya Andre Breton. Pasalnya, saya ingin menambah pengetahuan tentang ‘sastra surealis’. Kata banyak ahli, novel itu termasuk kategori karya ‘sastra surealis’.

Sebagaimana para penulis, manakala ada keterbatasan buku-buku referensi, maka akan mencoba mencari via media sosial atau jurnal-jurnal keilmuan. Saya pun mencoba mencari lewat ‘mesin pencari’, google.

Banyak referensi yang muncul, dan membuat saya justru kebingungan untuk memahaminya. Maklum, ibarat computer, saya masih di generasi ‘pentium 1’. ‘Pentium’ ini adalah merek mikroprosesor (CPU) dari Intel yang sangat terkenal, menandai lompatan besar dalam komputasi PC, dan saya masih di level 1. Lelet dan terbatas memorinya.

Dari sekian banyak hasil dari mesin pencari, ada yang menarik bagi saya, yakni skripsi dari mahasiswi  Program Studi Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada – Yogyakarta – Irene Dyah Saraswati. Judul skripsinya : “Konsep Fantasmagorie Dalam Novel autobiografi Nadja Karya Andre Breton”.

Mengapa saya tertarik pada skripsi Dyah? Sebab, saya menemukan istilah yang asing dan belum pernah saya dengar. Fantasmagorie. Istilah ini, asing bagi saya, dan baru pertama kali saya temukan hingga membuat saya penasaran dan menelusuri arti sebenarnya.

‘Mesin pencari’ menjelaskan bahwa Fantasmagorie – sesuai pemikiran yang diungkapkan oleh Walter Benjamin di dalam ‘The Arcades Project’ – adalah cara untuk memahami makna fantasmagorie dan realitas yang terdapat pada novel antara hubungan karakter André (sebagai representasi Breton) dan Nadja.

Pada abstrak skripsi Dyah dijelaskan  – Walter Benjamin di dalam esainya, Paris the Capital of Nineteenth Century pada tahun 1935 – menyatakan bahwa Fantasmagorie  adalah sekumpulan peristiwa – gambar – yangmengiringi perubahan pesat yang terjadi di kota Paris pada abad ke-19, sehinggafenomena ini pun menciptakan angan-angan ‘utopis’ dari kenyataan yangsebenarnya.

Utopia yang Benjamin gambarkan, menurut penuturan Dyah – dirangkum dalam beberapa unsur fantasmagorie dan di antaranya dapat ditemukan di dalam novel autobiografi André Breton, Nadja. Novel yang terbit pada tahun 1928 ini  bercerita mengenai pengalaman Breton dan Nadja selama sepuluh hari di bulan Oktober 1926.

Sebelumnya, lewat ‘mesin pencari’ juga, saya temukan tulisan Andi Arfan Yusri di rri.co.id yang menyatakan bahwa jauh sebelum era digital mendominasi produksi film, sebuah karya pionir lahir, menandai awal mula perjalanan panjang animasi.

Film revolusioner tersebut, jelas Andi Arfan Yusri  – adalah Fantasmagorie, sebuah inovasi brilian yang diciptakan oleh seniman visioner asal Prancis, Émile Cohl. Dirilis pada tahun 1908, Fantasmagorie secara luas diakui sebagai film animasi pertama di dunia.

Selanjutnya Andi Arfan Yusri menambahkan – Karya singkat namun monumental dengan durasi sekitar satu hingga dua menit ini, membuka jalan bagi medium ekspresi artistik yang tak terhingga jumlahnya dan terus mempesona audiens hingga kini.

Cohl, seorang karikaturis yang beralih menjadi animator, menggunakan serangkaian teknik inovatif untuk zamannya –  guna menghidupkan gambar-gambar ‘statis’ menjadi ‘ilusi’ gerakan yang memukau.

Kembali ke materi skripsi Dyah, tercatat Walter Benjamin melihat Paris sebagai laboratorium modernitas – pusat perbelanjaan, ‘parade’ arsitektur, dan boulevard yang luas menjadi simbol kemajuan sekaligus ilusi.

Fantasmagorie bukan sekadar ‘ilusi visual’, melainkan sebuah ‘konstruksi utopis’ yang menutupi kenyataan sosial, politik, dan ekonomi yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, fantasmagorie menjadi semacam tirai yang menampilkan ‘citra ideal’, sementara ‘realitas’ di baliknya tetap penuh ‘kontradiksi’.

‘Fantasmagorie’ hadir dalam bentuk citra-citra yang memikat – pameran dunia, toko-toko mewah, dan iklan – yang menyembunyikan ketegangan sosial akibat ‘industrialisasi’ dan ‘kapitalisme’. Dengan demikian, ‘fantasmagorie’ adalah mekanisme budaya yang mengubah pengalaman sehari-hari menjadi ‘tontonan utopis’, meski realitas di baliknya penuh ‘eksploitasi’ dan ‘alienasi’.

Dalam Nadja, Breton menuliskan pengalaman personal yang sarat dengan nuansa surealis. Pertemuan dengan Nadja bukan hanya kisah cinta atau persahabatan, melainkan sebuah perjalanan ke dalam fantasmagorie kota Paris. Jalan-jalan, percakapan, dan peristiwa sehari-hari ditransformasikan menjadi citra yang penuh misteri dan keajaiban.

Seperti fantasmagorie Benjamin, kisah Breton menutupi realitas dengan lapisan utopis. Nadja sendiri menjadi figur fantasmagoris – ia hadir sebagai simbol kebebasan, inspirasi, dan misteri, namun di balik itu terdapat realitas tragis tentang keterasingan dan kegilaan.

Dengan demikian, menurut saya – Nadja memperlihatkan bagaimana fantasmagorie dapat mengubah pengalaman nyata menjadi narasi yang penuh ilusi, sekaligus menyingkap realitas yang tersembunyi.

Baik Benjamin maupun Breton menunjukkan bahwa fantasmagorie bukan sekadar ilusi kosong. Ia adalah dialektika antara utopia dan realitas – sebuah cara untuk memahami bagaimana manusia menciptakan citra-citra ideal guna melarikan diri dari kenyataan, namun pada saat yang sama citra itu justru menyingkap kontradiksi yang ada.

Dalam Paris dan Nadja, fantasmagorie berfungsi sebagai medium untuk mengungkapkan pengalaman modernitas. Paris abad ke-19 dan Paris tahun 1920-an sama-sama menjadi panggung di mana utopia dan realitas saling berkelindan. Fantasmagorie menutupi, tetapi juga membuka – ia menyembunyikan realitas, namun sekaligus memperlihatkan jejaknya.

Kedua teks ini, meski berbeda medium, sama-sama memperlihatkan bagaimana fantasmagorie bekerja sebagai dialektika antara utopia dan realitas. Untuk memahami kedalaman fenomena ini, kita dapat menautkannya dengan teori Marx tentang ‘komoditas’ dan ‘Surrealisme’ sebagai gerakan ‘estetika’ yang menolak batas antara ‘mimpi’ dan ‘kenyataan’.

Benjamin, yang banyak dipengaruhi oleh Marx, melihat fantasmagorie sebagai bentuk “fetisisme komoditas.” Marx menulis dalam Das Kapital bahwa komoditas memiliki “karakter fantasmagoris” karena nilai tukarnya menutupi kerja manusia yang sesungguhnya. Paris abad ke-19, dengan pasar, arcade, dan iklan, menjadi ruang di mana komoditas tampil sebagai citra utopis, sementara realitas buruh dan eksploitasi tersembunyi di baliknya.

Dengan demikian, fantasmagorie bukan sekadar ilusi estetis, melainkan struktur ideologis yang mengatur cara manusia memandang dunia. Ia adalah mimpi kolektif kapitalisme, sebuah utopia yang rapuh namun memikat.

Breton, sebagai tokoh utama Surrealisme, menolak dikotomi antara mimpi dan kenyataan. Dalam Manifesto of Surrealism (1924), ia menulis bahwa Surrealisme adalah “penyatuan mimpi dan realitas dalam suatu realitas absolut, super-reality.” Nadja adalah perwujudan manifesto itu – kisah sehari-hari di Paris ditransformasikan menjadi pengalaman fantasmagoris, di mana Nadja hadir sebagai figur liminal – antara inspirasi, cinta, dan kegilaan.

Seperti fantasmagorie Benjamin, kisah Nadja menutupi realitas dengan lapisan utopis. Namun, Surrealisme tidak sekadar menyembunyikan – ia justru membuka celah untuk melihat realitas dari sudut pandang yang lain, lebih intim, lebih misterius. Nadja adalah fantasmagorie yang hidup, sebuah “komoditas emosional” yang menyingkap sekaligus menutupi kenyataan.

Paris adalah panggung cahaya dan bayangan. Di abad ke-19, nyala mimpi kolektif hadir disini. Walter Benjamin menyebutnya fantasmagorie – ilusi yang menawan, tirai yang menutupi kenyataan.

Ia menulis, “Fantasmagoria of the marketplace: here commodities assume a phantasmagoric character.” (Pasar Fantasmagoria: di sini komoditas mengambil karakter fantasmagoris.) Di balik gemerlap itu, buruh bekerja, kapitalisme berdenyut, dan kontradiksi sosial bersembunyi dalam gelap.

Beberapa waktu kemudian, André Breton berjalan bersama Nadja di jalan-jalan Paris. Sepuluh hari menjadi sepuluh bayangan, di mana percakapan, tatapan, dan langkah kaki berubah menjadi citra surealis.

Nadja adalah fantasmagorie yang hidup – inspirasi sekaligus kegilaan, utopia sekaligus keterasingan. Breton menulis dalam Nadja – “Who am I? If not the one who waits to be surprised by Nadja.” (Siapakah aku? Jika bukan orang yang menunggu untuk dikejutkan oleh Nadja). Ia hadir sebagai cahaya yang menuntun, namun juga sebagai bayangan yang mengingatkan akan rapuhnya mimpi.

Dalam Manifesto of Surrealism (1924), Breton menegaskan: “I believe in the future resolution of these two states, dream and reality, which are seemingly so contradictory, into a kind of absolute reality, a surreality.” (“Saya percaya pada penyelesaian di masa depan dari kedua keadaan ini, mimpi dan kenyataan, yang tampaknya sangat bertentangan, menjadi semacam realitas absolut, sebuah surealitas.”).

Kutipan ini memperkuat bahwa fantasmagorie bukan sekadar ilusi, melainkan jembatan antara mimpi dan kenyataan, sebuah realitas absolut yang lahir dari ketegangan keduanya.

Fantasmagorie menurut saya adalah puitika modernitas – bayangan yang menari di layar sejarah, cahaya yang bergetar di antara mimpi dan kenyataan. Paris menjadi teks kolektif, Nadja menjadi simbol pribadi, dan kita – para pembaca – diajak masuk ke ruang liminal di mana utopia dan realitas saling berkelindan.

Demikianlah akhirnya keterpesonaan saya pada kata Fantasmagorie terjawab sudah. Tentu, semua ini bisa terjawab karena bantuan yang sangat berharga dari produk pemikiran Irene Dyah Saraswati lewat skripsinya. Terima kasih Dyah, Salam Fantasmagorie. [T]

Tags: Andre Bretonnovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SUNDARIGAMA TAK BERŚIWARATRI (?)

Next Post

Mewaspadai Grooming dengan Penguatan Komunikasi Keluarga

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Mewaspadai Grooming dengan Penguatan Komunikasi Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co