3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

FANTASMAGORIE

Hartanto by Hartanto
January 18, 2026
in Esai
FANTASMAGORIE

SUATU saat, saya ingin ‘mengusut’ lebih dalam soal novel Nadja karya Andre Breton. Pasalnya, saya ingin menambah pengetahuan tentang ‘sastra surealis’. Kata banyak ahli, novel itu termasuk kategori karya ‘sastra surealis’.

Sebagaimana para penulis, manakala ada keterbatasan buku-buku referensi, maka akan mencoba mencari via media sosial atau jurnal-jurnal keilmuan. Saya pun mencoba mencari lewat ‘mesin pencari’, google.

Banyak referensi yang muncul, dan membuat saya justru kebingungan untuk memahaminya. Maklum, ibarat computer, saya masih di generasi ‘pentium 1’. ‘Pentium’ ini adalah merek mikroprosesor (CPU) dari Intel yang sangat terkenal, menandai lompatan besar dalam komputasi PC, dan saya masih di level 1. Lelet dan terbatas memorinya.

Dari sekian banyak hasil dari mesin pencari, ada yang menarik bagi saya, yakni skripsi dari mahasiswi  Program Studi Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada – Yogyakarta – Irene Dyah Saraswati. Judul skripsinya : “Konsep Fantasmagorie Dalam Novel autobiografi Nadja Karya Andre Breton”.

Mengapa saya tertarik pada skripsi Dyah? Sebab, saya menemukan istilah yang asing dan belum pernah saya dengar. Fantasmagorie. Istilah ini, asing bagi saya, dan baru pertama kali saya temukan hingga membuat saya penasaran dan menelusuri arti sebenarnya.

‘Mesin pencari’ menjelaskan bahwa Fantasmagorie – sesuai pemikiran yang diungkapkan oleh Walter Benjamin di dalam ‘The Arcades Project’ – adalah cara untuk memahami makna fantasmagorie dan realitas yang terdapat pada novel antara hubungan karakter André (sebagai representasi Breton) dan Nadja.

Pada abstrak skripsi Dyah dijelaskan  – Walter Benjamin di dalam esainya, Paris the Capital of Nineteenth Century pada tahun 1935 – menyatakan bahwa Fantasmagorie  adalah sekumpulan peristiwa – gambar – yangmengiringi perubahan pesat yang terjadi di kota Paris pada abad ke-19, sehinggafenomena ini pun menciptakan angan-angan ‘utopis’ dari kenyataan yangsebenarnya.

Utopia yang Benjamin gambarkan, menurut penuturan Dyah – dirangkum dalam beberapa unsur fantasmagorie dan di antaranya dapat ditemukan di dalam novel autobiografi André Breton, Nadja. Novel yang terbit pada tahun 1928 ini  bercerita mengenai pengalaman Breton dan Nadja selama sepuluh hari di bulan Oktober 1926.

Sebelumnya, lewat ‘mesin pencari’ juga, saya temukan tulisan Andi Arfan Yusri di rri.co.id yang menyatakan bahwa jauh sebelum era digital mendominasi produksi film, sebuah karya pionir lahir, menandai awal mula perjalanan panjang animasi.

Film revolusioner tersebut, jelas Andi Arfan Yusri  – adalah Fantasmagorie, sebuah inovasi brilian yang diciptakan oleh seniman visioner asal Prancis, Émile Cohl. Dirilis pada tahun 1908, Fantasmagorie secara luas diakui sebagai film animasi pertama di dunia.

Selanjutnya Andi Arfan Yusri menambahkan – Karya singkat namun monumental dengan durasi sekitar satu hingga dua menit ini, membuka jalan bagi medium ekspresi artistik yang tak terhingga jumlahnya dan terus mempesona audiens hingga kini.

Cohl, seorang karikaturis yang beralih menjadi animator, menggunakan serangkaian teknik inovatif untuk zamannya –  guna menghidupkan gambar-gambar ‘statis’ menjadi ‘ilusi’ gerakan yang memukau.

Kembali ke materi skripsi Dyah, tercatat Walter Benjamin melihat Paris sebagai laboratorium modernitas – pusat perbelanjaan, ‘parade’ arsitektur, dan boulevard yang luas menjadi simbol kemajuan sekaligus ilusi.

Fantasmagorie bukan sekadar ‘ilusi visual’, melainkan sebuah ‘konstruksi utopis’ yang menutupi kenyataan sosial, politik, dan ekonomi yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, fantasmagorie menjadi semacam tirai yang menampilkan ‘citra ideal’, sementara ‘realitas’ di baliknya tetap penuh ‘kontradiksi’.

‘Fantasmagorie’ hadir dalam bentuk citra-citra yang memikat – pameran dunia, toko-toko mewah, dan iklan – yang menyembunyikan ketegangan sosial akibat ‘industrialisasi’ dan ‘kapitalisme’. Dengan demikian, ‘fantasmagorie’ adalah mekanisme budaya yang mengubah pengalaman sehari-hari menjadi ‘tontonan utopis’, meski realitas di baliknya penuh ‘eksploitasi’ dan ‘alienasi’.

Dalam Nadja, Breton menuliskan pengalaman personal yang sarat dengan nuansa surealis. Pertemuan dengan Nadja bukan hanya kisah cinta atau persahabatan, melainkan sebuah perjalanan ke dalam fantasmagorie kota Paris. Jalan-jalan, percakapan, dan peristiwa sehari-hari ditransformasikan menjadi citra yang penuh misteri dan keajaiban.

Seperti fantasmagorie Benjamin, kisah Breton menutupi realitas dengan lapisan utopis. Nadja sendiri menjadi figur fantasmagoris – ia hadir sebagai simbol kebebasan, inspirasi, dan misteri, namun di balik itu terdapat realitas tragis tentang keterasingan dan kegilaan.

Dengan demikian, menurut saya – Nadja memperlihatkan bagaimana fantasmagorie dapat mengubah pengalaman nyata menjadi narasi yang penuh ilusi, sekaligus menyingkap realitas yang tersembunyi.

Baik Benjamin maupun Breton menunjukkan bahwa fantasmagorie bukan sekadar ilusi kosong. Ia adalah dialektika antara utopia dan realitas – sebuah cara untuk memahami bagaimana manusia menciptakan citra-citra ideal guna melarikan diri dari kenyataan, namun pada saat yang sama citra itu justru menyingkap kontradiksi yang ada.

Dalam Paris dan Nadja, fantasmagorie berfungsi sebagai medium untuk mengungkapkan pengalaman modernitas. Paris abad ke-19 dan Paris tahun 1920-an sama-sama menjadi panggung di mana utopia dan realitas saling berkelindan. Fantasmagorie menutupi, tetapi juga membuka – ia menyembunyikan realitas, namun sekaligus memperlihatkan jejaknya.

Kedua teks ini, meski berbeda medium, sama-sama memperlihatkan bagaimana fantasmagorie bekerja sebagai dialektika antara utopia dan realitas. Untuk memahami kedalaman fenomena ini, kita dapat menautkannya dengan teori Marx tentang ‘komoditas’ dan ‘Surrealisme’ sebagai gerakan ‘estetika’ yang menolak batas antara ‘mimpi’ dan ‘kenyataan’.

Benjamin, yang banyak dipengaruhi oleh Marx, melihat fantasmagorie sebagai bentuk “fetisisme komoditas.” Marx menulis dalam Das Kapital bahwa komoditas memiliki “karakter fantasmagoris” karena nilai tukarnya menutupi kerja manusia yang sesungguhnya. Paris abad ke-19, dengan pasar, arcade, dan iklan, menjadi ruang di mana komoditas tampil sebagai citra utopis, sementara realitas buruh dan eksploitasi tersembunyi di baliknya.

Dengan demikian, fantasmagorie bukan sekadar ilusi estetis, melainkan struktur ideologis yang mengatur cara manusia memandang dunia. Ia adalah mimpi kolektif kapitalisme, sebuah utopia yang rapuh namun memikat.

Breton, sebagai tokoh utama Surrealisme, menolak dikotomi antara mimpi dan kenyataan. Dalam Manifesto of Surrealism (1924), ia menulis bahwa Surrealisme adalah “penyatuan mimpi dan realitas dalam suatu realitas absolut, super-reality.” Nadja adalah perwujudan manifesto itu – kisah sehari-hari di Paris ditransformasikan menjadi pengalaman fantasmagoris, di mana Nadja hadir sebagai figur liminal – antara inspirasi, cinta, dan kegilaan.

Seperti fantasmagorie Benjamin, kisah Nadja menutupi realitas dengan lapisan utopis. Namun, Surrealisme tidak sekadar menyembunyikan – ia justru membuka celah untuk melihat realitas dari sudut pandang yang lain, lebih intim, lebih misterius. Nadja adalah fantasmagorie yang hidup, sebuah “komoditas emosional” yang menyingkap sekaligus menutupi kenyataan.

Paris adalah panggung cahaya dan bayangan. Di abad ke-19, nyala mimpi kolektif hadir disini. Walter Benjamin menyebutnya fantasmagorie – ilusi yang menawan, tirai yang menutupi kenyataan.

Ia menulis, “Fantasmagoria of the marketplace: here commodities assume a phantasmagoric character.” (Pasar Fantasmagoria: di sini komoditas mengambil karakter fantasmagoris.) Di balik gemerlap itu, buruh bekerja, kapitalisme berdenyut, dan kontradiksi sosial bersembunyi dalam gelap.

Beberapa waktu kemudian, André Breton berjalan bersama Nadja di jalan-jalan Paris. Sepuluh hari menjadi sepuluh bayangan, di mana percakapan, tatapan, dan langkah kaki berubah menjadi citra surealis.

Nadja adalah fantasmagorie yang hidup – inspirasi sekaligus kegilaan, utopia sekaligus keterasingan. Breton menulis dalam Nadja – “Who am I? If not the one who waits to be surprised by Nadja.” (Siapakah aku? Jika bukan orang yang menunggu untuk dikejutkan oleh Nadja). Ia hadir sebagai cahaya yang menuntun, namun juga sebagai bayangan yang mengingatkan akan rapuhnya mimpi.

Dalam Manifesto of Surrealism (1924), Breton menegaskan: “I believe in the future resolution of these two states, dream and reality, which are seemingly so contradictory, into a kind of absolute reality, a surreality.” (“Saya percaya pada penyelesaian di masa depan dari kedua keadaan ini, mimpi dan kenyataan, yang tampaknya sangat bertentangan, menjadi semacam realitas absolut, sebuah surealitas.”).

Kutipan ini memperkuat bahwa fantasmagorie bukan sekadar ilusi, melainkan jembatan antara mimpi dan kenyataan, sebuah realitas absolut yang lahir dari ketegangan keduanya.

Fantasmagorie menurut saya adalah puitika modernitas – bayangan yang menari di layar sejarah, cahaya yang bergetar di antara mimpi dan kenyataan. Paris menjadi teks kolektif, Nadja menjadi simbol pribadi, dan kita – para pembaca – diajak masuk ke ruang liminal di mana utopia dan realitas saling berkelindan.

Demikianlah akhirnya keterpesonaan saya pada kata Fantasmagorie terjawab sudah. Tentu, semua ini bisa terjawab karena bantuan yang sangat berharga dari produk pemikiran Irene Dyah Saraswati lewat skripsinya. Terima kasih Dyah, Salam Fantasmagorie. [T]

Tags: Andre Bretonnovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SUNDARIGAMA TAK BERŚIWARATRI (?)

Next Post

Mewaspadai Grooming dengan Penguatan Komunikasi Keluarga

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Mewaspadai Grooming dengan Penguatan Komunikasi Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co