13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WhatsApp Desktop Kini Tidak Aksesibel, Mimpi Buruk bagi Tunanetra

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
January 10, 2026
in Esai
WhatsApp Desktop Kini Tidak Aksesibel, Mimpi Buruk bagi Tunanetra

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SETIAP pagi, rutinitas saya dimulai dengan membuka laptop dan mengecek pesan WhatsApp. Sebagai pengusaha disabilitas tunanetra tuli yang mengelola bisnis produk digital seperti pulsa, paket internet, dan token listrik, serta sekolah musik, WhatsApp adalah jantung komunikasi saya. Berkoordinasi dengan tim customer service, mengecek kendala yang masuk lewat WhatsApp web perusahaan, berkomunikasi dengan siswa dan orang tua murid, mengirim materi pembelajaran, semua itu saya lakukan melalui WhatsApp Desktop.

Karena saya tunanetra tuli, komunikasi teks melalui WhatsApp adalah jalur utama saya berinteraksi dengan dunia. Saya tidak bisa menelepon seperti kebanyakan orang. Saya tidak bisa mendengar voice note. Teks adalah cara saya berkomunikasi, dan WhatsApp Desktop dengan pembaca layar adalah alat yang memungkinkan saya melakukannya dengan efisien. Namun, beberapa waktu belakangan, rutinitas itu berubah menjadi mimpi buruk.

Apa yang Terjadi pada WhatsApp Desktop?

WhatsApp Desktop yang dulu sangat aksesibel bagi pembaca layar seperti NVDA (NonVisual Desktop Access) dan JAWS (Job Access With Speech), kini hampir tidak bisa digunakan. Menu-menu yang dulu mudah diakses, tombol-tombol yang dulu bisa dinavigasi dengan lancar, kini semuanya kacau. Pembaca layar tidak bisa membaca elemen-elemen penting. Saya kesulitan menemukan percakapan, membuka chat, bahkan sekadar mengetik pesan dengan lancar.

Pada pertengahan tahun 2022, Meta mulai mengubah basis WhatsApp Desktop dari aplikasi native berbasis Electron menjadi berbasis web menggunakan teknologi Chromium Embedded Framework. Perubahan ini dilakukan untuk menyatukan pengalaman pengguna antara WhatsApp Web dan WhatsApp Desktop. Namun, apa yang mungkin terlihat sebagai peningkatan bagi pengguna awas, justru menjadi kemunduran besar bagi tunanetra.

Sebelumnya, semua elemen, daftar chat, tombol pencarian, menu pengaturan, area pesan, bisa diakses dengan mudah. Navigasi lancar, label tombol jelas, struktur halaman terorganisir. Sejak migrasi ke basis web, banyak elemen tidak diberi label dengan benar, tombol-tombol tidak bisa dikenali pembaca layar, dan struktur navigasi membingungkan. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan, ini hambatan besar yang mengancam produktivitas dan kehidupan sehari-hari kami.

Kesenjangan yang Tidak Adil

Bagi pengguna awas, WhatsApp Desktop mungkin terlihat lebih modern dan mudah digunakan. Antarmuka grafis yang menarik, animasi halus, ikon-ikon intuitif, semuanya dirancang untuk mata yang bisa melihat. Namun bagi kami yang bergantung pada pembaca layar, desain visual yang cantik itu tidak ada artinya jika tidak diimbangi dengan aksesibilitas yang baik.

Inilah kesenjangan yang sering terlupakan: user interface dirancang untuk pengguna awas terlebih dahulu, dan aksesibilitas bagi disabilitas sering kali menjadi prioritas kedua atau bahkan diabaikan. Padahal, aksesibilitas bukan fitur tambahan. Ini adalah hak dasar agar semua orang bisa mengakses teknologi dengan setara.

Di bisnis produk digital, kecepatan respons sangat penting. Pelanggan yang butuh pulsa atau token listrik menginginkan layanan cepat. Saya harus mengecek kendala yang masuk, berkoordinasi dengan tim customer service, memastikan sistem berjalan lancar. Ketika aksesibilitas terganggu, respons melambat, dan pelayanan terhambat.

Di sekolah musik, saya perlu mengirim jadwal kelas, konfirmasi pembayaran, berbagi materi pembelajaran, menjawab pertanyaan siswa dan orang tua. Semua melalui WhatsApp Desktop. Karena saya tunanetra tuli, banyak sekali komunikasi dan interaksi yang harus saya lakukan melalui teks. Saya tidak bisa beralih ke telepon atau video call. Teks adalah satu-satunya cara saya berkomunikasi secara efektif.

Memang benar, WhatsApp masih bisa diakses melalui smartphone. Namun, ketika harus mengetik pesan panjang, mengirim dokumen, atau multitasking dengan aplikasi lain, laptop jauh lebih praktis dan efisien. Mengetik di keyboard laptop jauh lebih cepat. Bagi saya yang juga memiliki gangguan pendengaran, bekerja di laptop dengan pembaca layar memberikan kontrol dan efisiensi yang lebih baik.

Sejak WhatsApp Desktop menjadi tidak aksesibel, produktivitas saya menurun drastis. Ini bukan hanya soal kenyamanan, ini soal efisiensi kerja, penghasilan, kelangsungan usaha.

Dan saya bukan satu-satunya. Ada ribuan, bahkan ratusan ribu tunanetra di seluruh dunia yang mengalami hal sama. Mungkin mereka sedang bekerja, menjalankan usaha, atau melayani pelanggan. Ketika aksesibilitas terganggu, pekerjaan terganggu. Ketika pekerjaan terganggu, penghasilan terancam. Frustrasi yang kami rasakan bukan hanya soal teknologi yang tidak berfungsi, ini soal kehidupan yang terhambat.

Akses Digital Seharusnya Menjadi Gerbang Inklusif

Kita hidup di era digital di mana teknologi seharusnya membuka peluang bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Akses digital seharusnya menjadi gerbang inklusif yang memungkinkan siapa pun untuk belajar, bekerja, berbisnis, dan berkontribusi tanpa hambatan.

Namun, ketika aplikasi sekelas WhatsApp yang digunakan lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia masih memiliki elemen yang tidak aksesibel, itu menunjukkan kita masih jauh dari inklusivitas sesungguhnya. Meta, sebagai perusahaan teknologi raksasa, memiliki sumber daya lebih dari cukup untuk memastikan produk mereka aksesibel bagi semua pengguna, termasuk penyandang disabilitas.

Aksesibilitas bukan permintaan istimewa. Ini adalah standar yang harus dipenuhi, tanggung jawab sosial perusahaan teknologi, dan hak kami sebagai pengguna.

Apa yang Bisa Anda Lakukan?

Kabar baiknya, Anda bisa membantu. Ya, Anda yang sedang membaca artikel ini, meskipun Anda bukan tunanetra, meskipun Anda tidak menggunakan pembaca layar, Anda bisa membuat perbedaan besar. Caranya sangat mudah, hanya butuh beberapa menit.

1. Tanda Tangani Petisi Ini

Salah satu aktivis aksesibilitas telah membuat petisi online yang ditujukan kepada Meta dan tim developer WhatsApp untuk segera memperbaiki aksesibilitas WhatsApp Desktop. Petisi ini adalah suara kolektif kita, menunjukkan kepada Meta bahwa isu ini penting dan harus segera ditangani.

Silakan tanda tangani petisi di sini: https://c.org/hGHWtZFLzk

Setiap tanda tangan adalah dukungan nyata. Setiap tanda tangan adalah suara yang mengatakan: Aksesibilitas itu penting. Tunanetra berhak mengakses teknologi dengan setara.

2. Laporkan Isu Ini ke WhatsApp

Anda juga bisa melaporkan masalah aksesibilitas ini langsung ke WhatsApp melalui fitur feedback atau bantuan. Caranya sangat mudah:

Di WhatsApp Desktop atau WhatsApp Web: Buka menu Pengaturan (Settings) kemudian Bantuan (Help) kemudian Hubungi Kami (Contact Us).

Di smartphone: Buka WhatsApp kemudian Pengaturan kemudian Bantuan kemudian Hubungi Kami.

Sampaikan bahwa Anda mendukung perbaikan aksesibilitas WhatsApp Desktop untuk pengguna pembaca layar. Anda bisa menulis:

Saya ingin melaporkan bahwa WhatsApp Desktop saat ini tidak aksesibel bagi pengguna tunanetra yang menggunakan pembaca layar seperti NVDA dan JAWS. Banyak elemen yang tidak diberi label dengan benar, sehingga sangat sulit bagi tunanetra untuk menggunakan aplikasi ini. Saya mendukung agar Meta segera memperbaiki aksesibilitas WhatsApp Desktop agar semua pengguna, termasuk penyandang disabilitas, bisa mengakses aplikasi ini dengan setara. Terima kasih.

Ini sangat mudah. Semudah Anda klik di HP, semudah Anda klik di laptop. Namun dampaknya sangat besar. Ketika Meta menerima banyak laporan tentang isu yang sama, mereka akan lebih cepat menyadari ini adalah masalah serius yang harus segera diperbaiki.

3. Bagikan Isu Ini

Ceritakan tentang isu ini kepada teman, keluarga, kolega, atau siapa pun di sekitar Anda. Bagikan artikel ini di media sosial. Semakin banyak orang yang tahu, semakin besar tekanan kepada Meta untuk bertindak.

Anda mungkin berpikir, apa yang bisa saya lakukan? Saya cuma satu orang. Tapi percayalah, satu orang bisa membuat perbedaan. Ketika ribuan orang bergerak bersama, perubahan pasti terjadi.

Dari Satu Orang untuk Jutaan Manfaat

Bayangkan jika Meta merilis pembaruan yang meningkatkan aksesibilitas WhatsApp Desktop. Ratusan ribu, bahkan jutaan tunanetra di seluruh dunia akan bisa bekerja lebih produktif, melayani pelanggan lebih cepat, menyelesaikan tugas akademik lebih lancar, dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.

Anda, dengan tindakan sederhana menandatangani petisi, mengirim feedback, membagikan artikel ini bisa menjadi bagian dari perubahan besar itu. Dari satu orang untuk jutaan manfaat. Dari satu klik untuk masa depan yang lebih inklusif.

Mari bergerak sekarang.

Aksesibilitas adalah hak, bukan privilege. Teknologi harus inklusif untuk semua, tanpa terkecuali. WhatsApp adalah aplikasi yang digunakan miliaran orang di seluruh dunia dan itu harus termasuk kami, tunanetra.

Saya mengajak Anda semua untuk berdiri bersama kami. Tanda tangani petisi. Laporkan isu ini. Bagikan kepada orang lain. Mari kita tunjukkan kepada Meta bahwa aksesibilitas itu penting, dan bahwa kami tidak akan diam sampai WhatsApp Desktop kembali aksesibel bagi semua pengguna. Mari bergerak sekarang. Mari wujudkan dunia digital yang benar-benar inklusif untuk semua. Terima kasih. [T]

Penulis: I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
Editor: Adnyana Ole

Tags: media sosialtunanetraWhatsApp
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Seminar PHDI Bali: Agama Pramanani Eva Paddhatih dan Menemukan Spirit di Balik Ritual

Next Post

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham – Raras

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, S.Pd., M.M, biasa dipanggil Wiguna. Ia adalah pengusaha tunanetra tuli (deafblind) asal Denpasar, Bali. Selain sebagai pengusaha, ia juga aktif memperjuangkan isu-isu tentang wirausaha disabilitas dan isu terkait tunanetra tuli di Indonesia.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham – Raras

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham - Raras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co