23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

WhatsApp Desktop Kini Tidak Aksesibel, Mimpi Buruk bagi Tunanetra

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
January 10, 2026
in Esai
WhatsApp Desktop Kini Tidak Aksesibel, Mimpi Buruk bagi Tunanetra

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SETIAP pagi, rutinitas saya dimulai dengan membuka laptop dan mengecek pesan WhatsApp. Sebagai pengusaha disabilitas tunanetra tuli yang mengelola bisnis produk digital seperti pulsa, paket internet, dan token listrik, serta sekolah musik, WhatsApp adalah jantung komunikasi saya. Berkoordinasi dengan tim customer service, mengecek kendala yang masuk lewat WhatsApp web perusahaan, berkomunikasi dengan siswa dan orang tua murid, mengirim materi pembelajaran, semua itu saya lakukan melalui WhatsApp Desktop.

Karena saya tunanetra tuli, komunikasi teks melalui WhatsApp adalah jalur utama saya berinteraksi dengan dunia. Saya tidak bisa menelepon seperti kebanyakan orang. Saya tidak bisa mendengar voice note. Teks adalah cara saya berkomunikasi, dan WhatsApp Desktop dengan pembaca layar adalah alat yang memungkinkan saya melakukannya dengan efisien. Namun, beberapa waktu belakangan, rutinitas itu berubah menjadi mimpi buruk.

Apa yang Terjadi pada WhatsApp Desktop?

WhatsApp Desktop yang dulu sangat aksesibel bagi pembaca layar seperti NVDA (NonVisual Desktop Access) dan JAWS (Job Access With Speech), kini hampir tidak bisa digunakan. Menu-menu yang dulu mudah diakses, tombol-tombol yang dulu bisa dinavigasi dengan lancar, kini semuanya kacau. Pembaca layar tidak bisa membaca elemen-elemen penting. Saya kesulitan menemukan percakapan, membuka chat, bahkan sekadar mengetik pesan dengan lancar.

Pada pertengahan tahun 2022, Meta mulai mengubah basis WhatsApp Desktop dari aplikasi native berbasis Electron menjadi berbasis web menggunakan teknologi Chromium Embedded Framework. Perubahan ini dilakukan untuk menyatukan pengalaman pengguna antara WhatsApp Web dan WhatsApp Desktop. Namun, apa yang mungkin terlihat sebagai peningkatan bagi pengguna awas, justru menjadi kemunduran besar bagi tunanetra.

Sebelumnya, semua elemen, daftar chat, tombol pencarian, menu pengaturan, area pesan, bisa diakses dengan mudah. Navigasi lancar, label tombol jelas, struktur halaman terorganisir. Sejak migrasi ke basis web, banyak elemen tidak diberi label dengan benar, tombol-tombol tidak bisa dikenali pembaca layar, dan struktur navigasi membingungkan. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan, ini hambatan besar yang mengancam produktivitas dan kehidupan sehari-hari kami.

Kesenjangan yang Tidak Adil

Bagi pengguna awas, WhatsApp Desktop mungkin terlihat lebih modern dan mudah digunakan. Antarmuka grafis yang menarik, animasi halus, ikon-ikon intuitif, semuanya dirancang untuk mata yang bisa melihat. Namun bagi kami yang bergantung pada pembaca layar, desain visual yang cantik itu tidak ada artinya jika tidak diimbangi dengan aksesibilitas yang baik.

Inilah kesenjangan yang sering terlupakan: user interface dirancang untuk pengguna awas terlebih dahulu, dan aksesibilitas bagi disabilitas sering kali menjadi prioritas kedua atau bahkan diabaikan. Padahal, aksesibilitas bukan fitur tambahan. Ini adalah hak dasar agar semua orang bisa mengakses teknologi dengan setara.

Di bisnis produk digital, kecepatan respons sangat penting. Pelanggan yang butuh pulsa atau token listrik menginginkan layanan cepat. Saya harus mengecek kendala yang masuk, berkoordinasi dengan tim customer service, memastikan sistem berjalan lancar. Ketika aksesibilitas terganggu, respons melambat, dan pelayanan terhambat.

Di sekolah musik, saya perlu mengirim jadwal kelas, konfirmasi pembayaran, berbagi materi pembelajaran, menjawab pertanyaan siswa dan orang tua. Semua melalui WhatsApp Desktop. Karena saya tunanetra tuli, banyak sekali komunikasi dan interaksi yang harus saya lakukan melalui teks. Saya tidak bisa beralih ke telepon atau video call. Teks adalah satu-satunya cara saya berkomunikasi secara efektif.

Memang benar, WhatsApp masih bisa diakses melalui smartphone. Namun, ketika harus mengetik pesan panjang, mengirim dokumen, atau multitasking dengan aplikasi lain, laptop jauh lebih praktis dan efisien. Mengetik di keyboard laptop jauh lebih cepat. Bagi saya yang juga memiliki gangguan pendengaran, bekerja di laptop dengan pembaca layar memberikan kontrol dan efisiensi yang lebih baik.

Sejak WhatsApp Desktop menjadi tidak aksesibel, produktivitas saya menurun drastis. Ini bukan hanya soal kenyamanan, ini soal efisiensi kerja, penghasilan, kelangsungan usaha.

Dan saya bukan satu-satunya. Ada ribuan, bahkan ratusan ribu tunanetra di seluruh dunia yang mengalami hal sama. Mungkin mereka sedang bekerja, menjalankan usaha, atau melayani pelanggan. Ketika aksesibilitas terganggu, pekerjaan terganggu. Ketika pekerjaan terganggu, penghasilan terancam. Frustrasi yang kami rasakan bukan hanya soal teknologi yang tidak berfungsi, ini soal kehidupan yang terhambat.

Akses Digital Seharusnya Menjadi Gerbang Inklusif

Kita hidup di era digital di mana teknologi seharusnya membuka peluang bagi semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Akses digital seharusnya menjadi gerbang inklusif yang memungkinkan siapa pun untuk belajar, bekerja, berbisnis, dan berkontribusi tanpa hambatan.

Namun, ketika aplikasi sekelas WhatsApp yang digunakan lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia masih memiliki elemen yang tidak aksesibel, itu menunjukkan kita masih jauh dari inklusivitas sesungguhnya. Meta, sebagai perusahaan teknologi raksasa, memiliki sumber daya lebih dari cukup untuk memastikan produk mereka aksesibel bagi semua pengguna, termasuk penyandang disabilitas.

Aksesibilitas bukan permintaan istimewa. Ini adalah standar yang harus dipenuhi, tanggung jawab sosial perusahaan teknologi, dan hak kami sebagai pengguna.

Apa yang Bisa Anda Lakukan?

Kabar baiknya, Anda bisa membantu. Ya, Anda yang sedang membaca artikel ini, meskipun Anda bukan tunanetra, meskipun Anda tidak menggunakan pembaca layar, Anda bisa membuat perbedaan besar. Caranya sangat mudah, hanya butuh beberapa menit.

1. Tanda Tangani Petisi Ini

Salah satu aktivis aksesibilitas telah membuat petisi online yang ditujukan kepada Meta dan tim developer WhatsApp untuk segera memperbaiki aksesibilitas WhatsApp Desktop. Petisi ini adalah suara kolektif kita, menunjukkan kepada Meta bahwa isu ini penting dan harus segera ditangani.

Silakan tanda tangani petisi di sini: https://c.org/hGHWtZFLzk

Setiap tanda tangan adalah dukungan nyata. Setiap tanda tangan adalah suara yang mengatakan: Aksesibilitas itu penting. Tunanetra berhak mengakses teknologi dengan setara.

2. Laporkan Isu Ini ke WhatsApp

Anda juga bisa melaporkan masalah aksesibilitas ini langsung ke WhatsApp melalui fitur feedback atau bantuan. Caranya sangat mudah:

Di WhatsApp Desktop atau WhatsApp Web: Buka menu Pengaturan (Settings) kemudian Bantuan (Help) kemudian Hubungi Kami (Contact Us).

Di smartphone: Buka WhatsApp kemudian Pengaturan kemudian Bantuan kemudian Hubungi Kami.

Sampaikan bahwa Anda mendukung perbaikan aksesibilitas WhatsApp Desktop untuk pengguna pembaca layar. Anda bisa menulis:

Saya ingin melaporkan bahwa WhatsApp Desktop saat ini tidak aksesibel bagi pengguna tunanetra yang menggunakan pembaca layar seperti NVDA dan JAWS. Banyak elemen yang tidak diberi label dengan benar, sehingga sangat sulit bagi tunanetra untuk menggunakan aplikasi ini. Saya mendukung agar Meta segera memperbaiki aksesibilitas WhatsApp Desktop agar semua pengguna, termasuk penyandang disabilitas, bisa mengakses aplikasi ini dengan setara. Terima kasih.

Ini sangat mudah. Semudah Anda klik di HP, semudah Anda klik di laptop. Namun dampaknya sangat besar. Ketika Meta menerima banyak laporan tentang isu yang sama, mereka akan lebih cepat menyadari ini adalah masalah serius yang harus segera diperbaiki.

3. Bagikan Isu Ini

Ceritakan tentang isu ini kepada teman, keluarga, kolega, atau siapa pun di sekitar Anda. Bagikan artikel ini di media sosial. Semakin banyak orang yang tahu, semakin besar tekanan kepada Meta untuk bertindak.

Anda mungkin berpikir, apa yang bisa saya lakukan? Saya cuma satu orang. Tapi percayalah, satu orang bisa membuat perbedaan. Ketika ribuan orang bergerak bersama, perubahan pasti terjadi.

Dari Satu Orang untuk Jutaan Manfaat

Bayangkan jika Meta merilis pembaruan yang meningkatkan aksesibilitas WhatsApp Desktop. Ratusan ribu, bahkan jutaan tunanetra di seluruh dunia akan bisa bekerja lebih produktif, melayani pelanggan lebih cepat, menyelesaikan tugas akademik lebih lancar, dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.

Anda, dengan tindakan sederhana menandatangani petisi, mengirim feedback, membagikan artikel ini bisa menjadi bagian dari perubahan besar itu. Dari satu orang untuk jutaan manfaat. Dari satu klik untuk masa depan yang lebih inklusif.

Mari bergerak sekarang.

Aksesibilitas adalah hak, bukan privilege. Teknologi harus inklusif untuk semua, tanpa terkecuali. WhatsApp adalah aplikasi yang digunakan miliaran orang di seluruh dunia dan itu harus termasuk kami, tunanetra.

Saya mengajak Anda semua untuk berdiri bersama kami. Tanda tangani petisi. Laporkan isu ini. Bagikan kepada orang lain. Mari kita tunjukkan kepada Meta bahwa aksesibilitas itu penting, dan bahwa kami tidak akan diam sampai WhatsApp Desktop kembali aksesibel bagi semua pengguna. Mari bergerak sekarang. Mari wujudkan dunia digital yang benar-benar inklusif untuk semua. Terima kasih. [T]

Penulis: I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
Editor: Adnyana Ole

Tags: media sosialtunanetraWhatsApp
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Seminar PHDI Bali: Agama Pramanani Eva Paddhatih dan Menemukan Spirit di Balik Ritual

Next Post

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham – Raras

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, S.Pd., M.M, biasa dipanggil Wiguna. Ia adalah pengusaha tunanetra tuli (deafblind) asal Denpasar, Bali. Selain sebagai pengusaha, ia juga aktif memperjuangkan isu-isu tentang wirausaha disabilitas dan isu terkait tunanetra tuli di Indonesia.

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham – Raras

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham - Raras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co