22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Seminar PHDI Bali: Agama Pramanani Eva Paddhatih dan Menemukan Spirit di Balik Ritual

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 10, 2026
in Esai
Dari Seminar PHDI Bali: Agama Pramanani Eva Paddhatih dan Menemukan Spirit di Balik Ritual

Seminar PHDI Bali: Agama Pramanani Eva Paddhatih, Ritual Berlandaskan Ajaran Pustaka Suci, Jumat, 9 Januari 2026

Ketika yang Sudah Jelas, Masih Dijadikan Masalah

Ketika grup WhatsApp DPD Prajaniti Bali memposting undangan dari PHDI Bali untuk menghadiri seminar: Agama Pramanani Eva Paddhatih, Ritual Berlandaskan Ajaran Pustaka Suci, yang digelar Jumat, 9 Januari 2026, ada keengganan dalam diri untuk hadir. Mengapa? Karena saya melihat tema yang diangkat sebenarnya bukan persoalan baru dalam tradisi Hindu di Bali, melainkan isu lama yang kembali dihidupkan oleh pihak-pihak tertentu, seolah-olah masih menyisakan problem mendasar. Pertanyaan reflektif pun muncul: mengapa sesuatu yang sejatinya telah jelas justru masih dijadikan masalah?

Sugi Lanus, sebagai pakar yang kepakaran dan kredibelitasnya tidak lagi diragukan, bahkan telah menulis dua seri artikel mengenai hal ini di Tatkala. Maka dapat dipahami bila ia menyatakan keengganannya membahas sesuatu yang seharusnya telah selesai. Sindirannya yang keras—“Berhentilah membohongi warga”—justru mencerminkan keprihatinan intelektual dan etika atas upaya pengaburan pemahaman umat.

Seminar sebagai Simakrama, Bukan Arena Konflik

Namun, setelah mencermati para undangan yang hadir, perspektif saya bergeser. Kehadiran tokoh-tokoh lintas otoritas: agama, adat, akademik, politik, Organisasi Hindu dan Pasemetonan se Bali—Ida Pedanda Bang Buruan Manuaba, Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa, yang juga promotor saya, Prof. Sudiana, didampingi istri tercinta Prof. Relin Denayu Ekawati, Prof. Surada, politisi Sugawa Kori, Dr.Wayan Sudirta, Dr. Arya Wedakarna, Dr. Djondra, Guru Dharma, Dokter Sayoga selaku Ketua Umum DPD Prajaniti Bali, Dewa Putrakajaya sebagai Ketua DPC Prajaniti Denpasar, hingga Jero Mangku Dodi dari Pandita Sangraha Nusantara serta tentu saja Nyoman Kenak dan team sebagai tuan rumah, juga berbagai tokoh lain yang tidak semua saya kenal, dari beragam latar belakang,—menunjukkan bahwa forum ini lebih tepat dibaca sebagai ajang simakrama, bukan gelanggang konflik.

Seminar PHDI Bali: Agama Pramanani Eva Paddhatih, Ritual Berlandaskan Ajaran Pustaka Suci, Jumat, 9 Januari 2026

Seminar yang dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. I Gusti Made Sunartha ini, secara sosiologis dan yuridis telah mewakili hampir seluruh elemen umat Hindu Bali. Tujuannya jelas: meluruskan informasi dan menenangkan umat, bukan memperuncing perbedaan.

Pramāṇani Eva Paddhati: Sastra sebagai acuan

Tema seminar, Agama Pramāṇani Eva Paddhati, menegaskan prinsip fundamental dalam Sanātana Dharma: kebenaran ajaran dan ritual seyogyanya bertumpu pada pramana yang sah, yakni pustaka suci, lontar, dan tradisi yang hidup. Tawur Kesanga bukanlah praktik seremonial tanpa dasar, melainkan ritual yang memiliki legitimasi kuat dalam sastra Bali.

Jejak Historis Tawur Kesanga Sejak Masa Jayapangus (±1189 M)

Yang kerap luput dalam polemik kontemporer adalah dimensi historis. Tawur Kesanga bukanlah produk ritual modern. Jejak pelaksanaannya dapat ditelusuri setidaknya sejak abad ke-12, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayapangus, sekitar tahun 1189 Masehi.

Pada periode Bali Kuna ini, sistem keagamaan Hindu Bali telah menunjukkan kematangan struktur ritual dan kosmologi Siwaistik. Tradisi yang berkembang dari masa Jayapangus—yang jejaknya termaktub dalam berbagai lontar—menunjukkan bahwa nyomya Bhuta Kala pada tilem menjelang Nyepi, telah menjadi bagian dari tata ritual yang valid. Ritual ini berfungsi dan mengingatkan kita semua untuk menjaga keseimbangan buana agung dan buana alit, serta selaras dengan seisi alam, walaupun istilah Tri Hita Karana belum dikenal saat itu.

Dengan demikian, Tawur Kesanga adalah ritual kosmik tahunan yang telah berlangsung lebih dari delapan abad, diwariskan lintas generasi dari Bali Kuna, Bedulu, Gelgel, Klungkung, hingga Bali modern. Menyangkalnya tanpa dasar sastra bukan saja problem teologis, tetapi juga ahistoris.

Polemik Kontemporer sebagai Warisan Sejarah: Klarifikasi Sugi Lanus

Dalam konteks inilah penjelasan Sugi Lanus menjadi sangat penting, karena ia menempatkan polemik Tawur Kesanga secara jernih dan proporsional. Memang pernah terjadi kekeliruan dalam praktek, tapi telah dikoreksi kembali. Sugi Lanus menulis di Tatkala:

“Polemik sekarang adalah warisan masalah dari Parisada tahun 1960. Ketika itu Parisada mengadakan Pesamuan yang salah satu keputusannya adalah mengubah tradisi kuno Tawur Kesanga dengan memajukan pelaksanaannya sehari. Sejak tahun 1960 sampai sekitar 1970, pernah terjadi Nyepi jatuh pada saat Tilem karena Tawur Kesanga dimajukan sehari sebelumnya.

Pada tahun 1970 Parisada menyadari kekeliruan hasil Pesamuan Agung 1960 tersebut. Sadar akan kesalahan itu, Parisada kemudian mengembalikan tradisi Tawur Kesanga agar dilangsungkan seperti sedia kala, yaitu Tawur pada hari Tilem dan keesokan harinya Nyepi. Untuk menertibkan kembali pelaksanaan upacara umat, Parisada bahkan menerbitkan kalender khusus tahun 1971 yang memuat penyesuaian tanggal-tanggal odalan bagi umat Hindu.”

Kutipan ini menegaskan bahwa posisi Tawur Kesanga pada Tilem bukanlah hasil kompromi baru, melainkan justru pemulihan tradisi lama setelah sempat menyimpang akibat keputusan yang kurang tepat, yang kemudian dikoreksi secara sadar oleh Parisada sendiri.

Rwa Bhinneda: Harmoni, Bukan Alat Polarisasi

Di masyarakat, polemik ini kerap dibungkus dengan dalih rwa bhinneda, dua sisi berlawanan dalam sebuah realitas. Namun rwa bhinneda bukanlah legitimasi untuk membelah umat, melainkan filsafat keseimbangan kosmis. Terang dan gelap, dewa dan bhuta, sakral dan profan—semuanya hadir bukan untuk saling meniadakan, tetapi untuk saling melengkapi.

Tawur Kesanga justru merupakan pengejawantahan konkret rwa bhinneda. Ia tidak memusuhi Bhuta Kala, melainkan mengakui keberadaannya sebagai bagian sah dari kosmos. Tawur adalah dialog kosmik, bukan ritual penaklukan.

Ritual dan Spirit: Menjembatani Simbol dan Etika Hidup

Namun refleksi ini tidak berhenti pada pembelaan ritual. Ritual memang penting, tetapi ritual tanpa internalisasi nilai hanya akan menjadi repetisi simbolik. Hampir seluruh ritual Hindu Bali bermuara pada keharmonisan hidup sebagaimana dirumuskan dalam Tri Hita Karana.

Tawur Kesanga adalah pengingat, bukan tujuan akhir. Ia mengajak manusia untuk hidup selaras dengan alam: flora, fauna, gunung, sungai, laut, sesama, dan dirinya sendiri. Jika setelah tawur manusia tetap merusak lingkungan, memelihara konflik, dan mengabaikan keadilan, maka ritual kehilangan daya transformasinya.

Merawat Tradisi dengan Kedewasaan

Polemik Tawur Kesanga seharusnya menjadi momentum pendewasaan umat. Dengan kembali pada prinsip agama pramanani eva padhati, memahami rwa bhinneda secara utuh, serta menjembatani ritual dengan etika hidup, tradisi dapat dirawat tanpa jatuh pada formalisme maupun fragmentasi.

Dengan kesadaran bahwa Tawur Kesanga telah dilaksanakan sejak masa Raja Jayapangus pada abad ke-12, serta telah melalui koreksi institusional Parisada sejak 1970, polemik hari ini semestinya berakhir pada satu kesimpulan sederhana: kita bukan sedang menciptakan tradisi baru, melainkan sedang menjaga warisan peradaban tradisi yang telah teruji oleh zaman.

Seminar PHDI Bali: Agama Pramanani Eva Paddhatih, Ritual Berlandaskan Ajaran Pustaka Suci, Jumat, 9 Januari 2026

Satu hal yang lebih penting adalah, bahwa Tawur Kesanga, di samping untuk nyomya bhuta kala di luar diri, sejatinya adalah nyomya bhuta kala di dalam diri. Inilah perjuangan sesungguhnya yang lebih berat, sepanjang hayat, karena adanya three in one dalam diri, sebagaimana piteket para leluhur: Dewe ye, Manuse ye, Kale ye. (Madhava, Manava, Danava). Adalah upaya kita semua, setidaknya minimal untuk memanusiakan diri, sebelum meraih kesadaran Ilahi.

Dan inilah perjuangan yang sesungguhnya, sampai tiba saatnya sang badan ini purna tugasnya menemani keberadaan kita di bumi ini dan kita siap melepaskannya dengan senyum di bibir, serta dengan sebuah tanya: apakah kita telah mewarisi keadaan dunia khususnya Bali yang lebih baik dari sebelumnya?

Siapkah kita? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Tags: baliHari Raya NyepihinduHindu BaliPHDIsastra balitradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Takut pada CCTV, Bukan Tuhan

Next Post

WhatsApp Desktop Kini Tidak Aksesibel, Mimpi Buruk bagi Tunanetra

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
WhatsApp Desktop Kini Tidak Aksesibel, Mimpi Buruk bagi Tunanetra

WhatsApp Desktop Kini Tidak Aksesibel, Mimpi Buruk bagi Tunanetra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co