6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Isyarat dari Keranda Mayat

Chusmeru by Chusmeru
January 8, 2026
in Fiksi
Isyarat dari Keranda Mayat

USIANYA sudah menginjak angka tujuh puluh. Wartam Kliwon, begitu ia biasa dipanggil; masih tampak sehat dan lincah. Terlahir di hari Kamis Kliwon, ia beruntung masih diberi umur panjang. Beberapa teman kecilnya sudah ada yang terlebih dahulu menghadap Sang Kuasa.

Wartam Kliwon menyadari usianya tak lagi muda. Karenanya ia tinggalkan pekerjaan sebagai petani penggarap sawah milik tetangganya. Ia kini lebih fokus menjalani profesi juru kunci atau penjaga makam yang sudah sejak dulu ia geluti selain sebagai petani. Sebagai juru kunci makam ia tak harus berpanas-panasan di terik matahari.

Penghasilan sebagai penjaga makam tidak terlalu besar. Itu diperolehnya dari iuran warga di desanya. Wartam Kliwon mensyukurinya. Meskipun harga-harga kebutuhan pokok terus melonjak, Wartam Kliwon masih mampu menafkahi istrinya yang sudah lama sakit, menderita kanker payudara. Sedangkan tiga orang anak dan cucu-cucu tidak lagi tinggal bersama Wartam Kliwon.

Rizki yang diperoleh Wartam bukan hanya dari penghasilan bulanan. Kadang ia juga mendapat tambahan penghasilan dari orang-orang yang berziarah. Wartam membantu membersihkan makam sanak famili orang yang berziarah. Mereka memberi uang sekadarnya kepada Wartam. Bukan hanya membersihkan makam, Wartam juga turut membantu membacakan doa kubur bagi yang berziarah. Jika menjelang bulan Ramadan penghasilan tambahan Wartam cukup lumayan untuk bekal lebaran.

Banyak suka duka menjadi juru kunci makam. Sukanya, banyak keluarga yang sedang berduka menjadi senang ketika Wartam memilihkan lokasi pemakaman yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk area makam. Namun Wartam juga kadang menjumpai hal-hal yang kurang berkenan. Saat proses penggalian tanah makam oleh para penggali kubur, mendadak tanah makam di sebelahnya runtuh berguguran. Keluarga yang makam kerabatnya gugur akan komplain kepada Wartam.

Pengalaman kurang menyenangkan pernah diarasakan Wartam. Ia harus ke area pemakaman malam hari, karena ada jenazah korban kecelakaan, pembunuhan, atau bunuh diri yang harus segera dimakamkan. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk istirahat di rumah terpaksa masih harus bekerja malam hari. Belum lagi jika hujan lebat di malam hari, Wartam tetap harus berada di pemakaman, di antara para pengantar jenazah.

Semua pengalaman suka dan duka Wartam jalani secara ikhlas. Ia memang ingin mengabdi kepada masyarakat sebagai juru kunci makam. Kalau pun dari pengabdiannya ia mendapat rizki, maka harus disyukuri. Andai dari pekerjaannya ia dicaci orang, itu pun akan ia terima dengan lapang dada.

***

Wartam Kliwon masih di area tanah makam. Hari sudah menjelang senja. Ia baru saja selesai membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar batu nisan para penghuni makam. Hal seperti itu ia kerjakan setiap hari. Bila tidak dibersihkan, rumput-rumput liar akan semakin rimbun menutupi batu nisan. Apalagi jika musim hujan tiba, rumput itu begitu cepat tumbuh.

Saat hendak mengunci gudang tempat penyimpanan keranda mayat, Wartam dikejutkan oleh suara gaduh dari dalam gudang. Suara itu begitu jelas terdengar. Wartam mengurungkan niatnya mengunci gudang. Ia masuk ke dalam gudang. Ia kaget sekaligus merinding. Keranda mayat yang berupa kereta dorong itu bergoyang ke kanan dan ke kiri, membentur benda-benda lain di gudang sehingga menimbulkan suara gaduh.

 Wartam mencoba menenangkan diri. Bukan sekali dua kali ia menghadapi kejadian misterius seperti ini. Ia bahkan sering melihat penampakan arwah gentayangan di sekitar tanah makam. Biasanya mereka yang salah pati atau meninggal tidak wajar sering menampakkan diri dalam wujud yang menyeramkan.

Tidak ingin mengalami kejadian yang membuat merinding sendirian, Wartam memutuskan untuk pulang ke rumah. Segera ia mandi. Azan magrib berkumandang dari masjid tak jauh dari rumahnya. Setelah salat magrib Wartam bersiap makan malam. Baru saja ia selesai menyantap makanan, terdengar pengumuman yang terdengar dari pengeras suara masjid.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal dunia Bapak Suyanto, warga RT 6 RW 2 di rumah sakit,” kata Pak Kayim yang biasa mengumumkan warga yang meninggal dunia lewat pengeras suara masjid. Pak Kayim juga yang bertugas memimpin prosesi pemakaman warga yang meninggal di desa.

Betapa terkejut Wartam mendengar berita duka itu. Ia teringat kejadian sore tadi di gudang makam. Ia teringat kembali keranda mayat yang bergerak menimbulkan suara gaduh di dalam gudang. Apakah suara gaduh keranda mayat itu sebagai isyarat kematian bagi warganya, pikir Wartam.

Jika ada warga yang meninggal, maka Wartam kembali disibukkan dengan pekerjaan mencari lahan yang masih kosong untuk lubang jenazah. Ia pula yang harus menyiapkan keranda mayat untuk mengangkut jenazah. Pekerjaan yang rutin ia lakukan.

Hari-hari selajutnya Wartam seperti biasa sudah berada di area tanah pemakaman pagi hari. Rumput di sekitar tanah makam belum terlalu rimbun. Namun daun kering dari pohon bunga kamboja dan pohon sengon yang ada di pemakaman berjatuhan mengotori batu nisan. Wartam mengambil sapu lidi untuk menyapu dedaunan kering itu. Dikumpulkannya daun-daun kering di beberapa sudut tanah makam untuk ia bakar.

Tengah asyik membakar daun-daun kering, Wartam dikejutkan dengan suara gaduh dari dalam gudang penyimpanan keranda mayat. Tidak terlalu keras, namun terdengar jelas dari sudut tanah makam. Dengan sedikit berdebar, Wartam membuka pintu gudang. Ia lihat keranda mayat bergoyang pelan. Tidak seperti beberapa hari yang lalu ketika terdengar suara sangat gaduh lantaran keranda mayat bergoyang kencang. Kali ini pelan, meski tetap mengeluarkan bunyi gaduh.

“Siapa lagi yang akan meninggal?” tanya Wartam lirih kepada dirinya sendiri.

Kini Wartam mulai menghubungkan kegaduhan keranda mayat di dalam gudang dengan warga yang akan meninggal. Seolah keranda mayat itu memberi tahu Wartam untuk bersiap mengeluarkannya untuk mengusung jenazah.

Malam hari Wartam duduk di depan rumah sambil mengisap rokoknya. Sambil membayangkan keranda yang bergoyang pelan, ia menunggu pengumuman dari masjid. Namun hingga larut malam Pak Kayim belum mengumumkan warga yang meninggal. Wartam beranjak ke kamar untuk tidur. Ia tak lagi menunggu pengumuman. Setiap orang juga akan meninggal, entah kapan waktunya, pikir Wartam.

Menjelang subuh Wartam bangun tidur. Itu kebiasaan dia setiap hari. Pukul berapa pun ia berangkat tidur, menjelang subuh pasti sudah bangun. Secangkir kopi dan sebatang rokok ia habiskan sebelum berkumandang azan subuh di masjid. Istrinya bersiap memasak nasi di dapur. Meski menderita kanker ganas, istri Wartam masih dapat melakukan pekerjaan ringan di rumah. Pekerjaan lainnya diatasi oleh Wartam, termasuk menyapu halaman rumah.

Waktu subuh sudah lama berlalu. Semburat matahari mulai tampak di arah timur. Wartam membersihkan halaman rumahnya. Sesaat kemudian terdengar suara Pak Kayim mengumumkan dari pengeras suara masjid.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal dunia ananda Dimas Raditya warga RT 1 RW 4 di rumah sakit,” kata Pak Kayim yang terdengar jelas ke wilayah sekitar masjid.

Wartam Kliwon menghentikan menyapu halaman rumah. Ia tertegun. Ternyata suara gaduh keranda mayat yang tidak terlalu keras sebagai isyarat anak kecil yang meninggal dunia. Wartam bergegas menyelesaikan menyapu halaman rumah untuk bersiap ke kuburan. Ia harus menyiapkan peralatan pemakaman sekaligus mencari lahan kosong untuk jenazah.

                                                                        ***

Kematian adalah rahasia Tuhan. Tidak seorang pun tahu kapan ia akan meninggalkan dunia ini. Kalaupun Wartam mendapat isyarat kematian seseorang dari keranda mayat yang gaduh, bukan berarti ia tahu persis siapa yang akan masuk ke dalam liang kubur. Wartam hanya menduga-duga akan ada warga yang meninggal.

Pagi yang mendung dan berkabut. Udara terasa lebih dingin dari hari biasanya. Wartam sedikit malas untuk pergi ke tanah makam. Ia masih duduk di depan rumah sambil merokok. Istrinya mengingatkan Wartam.

“Belum berangkat ke kuburan, Pak?” tanya istri Wartam.

“Sebentar lagi, Bu,” jawab Wartam singkat.

Wartam mengambil cangkul yang ia simpan di samping rumah. Tak lupa ia gunakan tudung atau caping untuk mengurangi sengat matahari siang nanti. Setelah berpamitan dengan istrinya, Wartam melangkah menuju tanah makam. Matahari sedikit demi sedikit menyingkirkan mendung dan kabut yang membuat Wartam bermalas-malasan.

Tanah makam tidak terlalu kotor. Angin sedari kemarin memang hanya bertiup sepoi basa, sehingga tidak banyak daun yang berjatuhan. Wartam memandangi satu per satu batu nisan di kuburan. Hal itu selalu ia lakukan setiap akan memulai pekerjaan membersihkan kuburan.

Saat matanya tertuju ke gudang tempat menyimpan keranda dan peralatan pemakaman, ia dikejutkan dengan pintu gudang yang bergerak, seperti ada yang mengguncang dari dalam. Selanjutnya terdengar “Brraakkk”, seperti benda jatuh. Wartam terkejut. Ia segera menuju gudang.

 Kaget bukan kepalang ketika pintu gudang dibuka. Payung yang biasanya digunakan untuk mengantar jenazah ke pemakaman jatuh menimpa keranda mayat. Bukan hanya itu, payung jenazah yang terbuat dari bahan kertas itu dalam keadaan terbuka. Bulu kuduk Wartam berdiri.

“Isyarat apa lagi ini?” tanya Wartam sambil berbisik entah kepada siapa.

Selama ini ia hanya mendapat isyarat suara gaduh keranda mayat sebagai pertanda akan ada warga yang meninggal. Kali ini ia melihat payung jenazah yang jatuh dan terbuka. Segera ia benahi payung jenazah itu dan ditutupnya kembali. Aura mistis ia rasakan saat meletakkan kembali payung jenazah ke tempat penyimpanan.

Wartam memutuskan untuk pulang ke rumah lebih cepat. Tidak seperti biasanya, ia merasa ada yang berbeda dari isyarat payung jenazah yang terjatuh tadi. Melihat suaminya pulang lebih awal, istri Wartam sedikit heran.

“Kok pulang cepat, Pak?” tanya istri Wartam.

“Ada yang aneh, Bu. Payung jenazah di gudang jatuh dan terbuka,” ujar Wartam sambil duduk dan minum air putih untuk menenangkan diri.

 “Mungkin akan ada orang penting yang meninggal, Pak,” kata istrinya.

“Orang penting…? Siapa?” tanya Wartam tak paham maksud istrinya.

“Orang penting yang selama ini mengayomi warga,” jawab istrinya membuat Wartam berpikir dan menerka orang penting itu.

Belum tuntas Wartam dan istrinya membahas payung jenazah yang terjatuh, terdengar pengumuman dari masjid. Pak Kayim menyampaikan kabar duka. Sumitro, kepala desa meninggal dunia beberapa saat yang lalu. Wartam dan istrinya saling pandang. Terjawab sudah isyarat payung jenazah yang jatuh. Kepala desa yang selama ini mengayomi warga meninggal dunia.

Semakin bertambah isyarat kematian yang diperoleh Wartam dari gudang di tanah makam. Hanya saja ia tak dapat menerka siapa yang akan meninggal. Pengetahuan tentang tafsir isyarat kematian tidak pernah ia pelajari. Orang tuanya dulu juga tidak pernah mengajarkan hal itu.

 Wartam hanya dapat mengira akan ada warga yang meninggal ketika terjadi kegaduhan di dalam gudang tanah makam. Seperti sore ini, Wartam dikagetkan dengan suara gaduh di dalam gudang. Suara itu begitu menganggunya. Seolah bukan hanya suara keranda mayat yang bergoyang. Bising dan berkepanjangan. Tidak seperti biasanya, suara gaduh ini terus terjadi tiada henti.

Dibukanya pintu gudang. Betapa terkejut Wartam. Dilihatnya keranda mayat yang bergerak maju mundur, ke kanan dan ke kiri. Keranda mayat itu seolah kalap, menabrak beberapa perlengkapan pemakaman yang berjatuhan. Wartam mengucap istighfar. Keringat di keningnya mengucur. Ia merinding. Baru kali ini ia menyaksikan keranda mayat yang bergerak seperti orang mengamuk.

Bingung, kaget, dan takut. Itu yang dirasakan Wartam. Kali ini Wartam tidak ingin menerka siapa yang akan meninggal dunia. Persaannya tidak enak. Ada sesuatu yang tak seperti biasanya. Ia merasa bersedih. Seolah ia akan kehilangan orang yang sangat dicintainya.

 Burung kedasih tampak bertengger di atas pohon sengon. Kicauannya panjang dan menyayat hati. Burung kedasih dipercaya warga sebagai simbol kematian. Belum pernah Wartam mendengar burung itu berkicau di atas kepalanya. Ia merasakan begitu dekat dengan kematian.

Tiba-tiba ia teringat istrinya di rumah. Sebelum Wartam berangkat bekerja, istrinya sempat mengeluh pusing, demam, dan sesak nafas. Wartam pikir istrinya terserang flu. Ia sudah membelikan obat flu yang dijual bebas di toko dekat rumahnya. Istrinya juga sudah meminum obat itu. Namun perasaan Wartam tak karuan. Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.

Bergegas Wartam meninggalkan tanah pemakaman. Ia berharap istrinya baik-baik saja. Begitu sampai rumah ia panggil nama istrinya. Tidak terdengar sahutan. Wartam curiga sambil cemas. Ia buka pintu kamar. Terkejut bukan kepalang. Istri Wartam terbaring di tempat tidur. Nafasnya tersengal-sengal. Ia tatap suaminya dengan sorot mata yang sayu, menyedihkan.

“Buu.. kamu kenapa..???” Wartam mendekat dan memeluk istrinya.

 Istri Wartam tak menjawab. Mulutnya terbuka, ingin mengatakan sesuatu namun tak mampu. Wartam memegang tangan dan kaki istrinya. Terasa dingin semua. Istri Wartam kesulitan bernafas. Penuh sayang ia tatap Wartam. Perlahan ia melafalkan kalimat Sahadat dan Tauhid.” Laa ilaaha illallah”, ucap istri Wartam. Ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Wartam berteriak memanggil-manggil nama istrinya. Ia goyang tubuh istrinya yang telah tiada, menghadap Sang Pencipta. Wartam tak percaya istrinya berpulang ke rumah Tuhan secepat itu. Ia mencoba menengangkan diri.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap Wartam tegar sambil menutup mata istrinya.

Tetangga berdatangan. Wartam tak mampu menahan air mata yang perlahan menetes di pipinya. Ia begitu bersedih. Sama sekali tak menyangka, keranda mayat yang gaduh dan kicau burung kedasih sebagai isyarat kematian istrinya. Dan ia pun tak tahu, isyarat apa yang akan ia temui ketika ia akan dipanggil menghadap Ilahi, mendampingi istrinya di alam baka kelak. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GUBERNUR BALI TIDAK AKAN MENYETUJUI PERUBAHAN HARI PERAYAAN NYEPI

Next Post

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

by Pitrus Puspito
March 1, 2026
0
Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

JARAK MENCURI KAU DARIKU Ketika cinta mulai terjelaskanjarak telah mencuri kau dariku. Sementara pagi tak menjanjikanbahwa kau akan datang,setiap detik...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

by Aura Syfa Muliasari
February 28, 2026
0
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

MAMPIR DI NAKAREMPE angin berlalu liarmenelisik dan menjelma lalim yang jemawamembawa perkarabersoal tentang pendapa di ujung desa tapi atap ijuknya...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

by Vito Prasetyo
February 27, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Hidup Bagai Galeri Ponsel Tatapanmu seperti sinar yang tersasardi antara bantal-bantal bau peluhkita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengantapi hening...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

by Ida Ayu Made Dwi Antari
February 22, 2026
0
Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

LENTERA DI AMBANG PINTU Penghujung tahun ini dinginTangis seperti membendung waktuMenyesakkan batin Ada seseorang pernah jadi muara harapKini pupusKecewa mendekapkuHarapan...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co