6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

Chusmeru by Chusmeru
December 25, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

KAMPUS di kaki Gunung Slamet ini kini telah banyak berubah dibanding sepuluh atau dua puluh tahun silam. Hal itu tampak pada sarana dan prasarana kampus maupun jumlah mahasiswanya. Banyak bangunan kampus yang baru dengan desain arsitektur modern. Jumlah mahasiswa baru setiap tahun pun meningkat hingga ribuan.

Namun ada yang tak pernah berubah dari kampus di kota berhawa sejuk ini. Cerita tentang kampus yang menyimpan banyak cerita mistis tetap menjadi bahan perbincangan. Tidak sedikit mahasiswa yang menganggap kampusnya sebagai sarang hantu. Meski banyak bangunan baru, namun tiap sudut kampus seolah menyimpan misteri yang kadang menyeramkan.

 Anggapan itu didasarkan pada beberapa kejadian yang pernah dialami mahasiswa, dosen, dan pegawai di kampus. Ada ruang kuliah yang dianggap angker oleh mahasiswa. Taman kampus yang biasa digunakan mahasiswa untuk foto selepas wisuda juga konon dihuni oleh makhluk halus. Bahkan gudang di kampus yang tak lagi digunakan juga menjadi sarang hantu.

Cerita tentang sosok hantu yang ikut dalam perkuliahan juga sempat beredar di kalangan mahasiswa. Bukan hanya ikut kuliah, pernah pula terjadi sosok dosen tak kasat mata yang hadir di ruang kuliah. Belum lagi cerita tentang siluman ular di sungai kecil kampus dan siluman harimau di pertigaan kampus. Semua cerita itu menambah kepercayaan bahwa kampus memang sarang hantu.

Bagi mahasiswa yang cuek dan tak percaya tentang cerita-cerita itu mungkin tidak begitu mengganggu. Namun bagi mahasiswa yang ciut nyali, apalagi pernah mengalami sendiri, cerita mistis di kampus membuat mereka selalu tidak tenang bila berada di kampus sendirian, terlebih pada malam hari.

Sosok hantu yang dipercaya menghuni kampus pun bermacam-macam. Ada yang menyebut genderuwo, pocong, dan kuntilanak. Ada pula dosen dan pegawai yang pernah menjumpai hantu anak kecil di dalam ruangan. Ada yang berujud menyeramkan, namun ada pula yang tampak cantik. Tetapi apa pun bentuknya, hantu bagi mahasiswa, dosen, dan pegawai tetap saja menakutkan.

Banyak yang mengusulkan agar universitas mengadakan ruwatan untuk membersihkan unsur-unsur negatif di kampus. Ruwatan dianggap sebagai upaya menyikapi kejadian-kejadian mistis di kampus. Tradisi ruwatan bagi masyarakat Jawa di daerah Banyumas merupakan ritual adat untuk membersihkan seseorang atau tempat tertentu dari malapetaka, kesialan, maupun energi buruk.

***

Universitas merespons usulan diadakannya ruwatan di kampus. Selain untuk melestarikan tradisi yang ada di daerah, ruwatan juga dianggap sebagai sarana untuk menjaga keharmonisan manusia dan lingkungannya. Kampus yang selama ini dianggap angker tak lepas dari faktor manusia dan alam, sehingga secara tradisi perlu ada pembebasan dari aura yang negatif. Diharapkan setelah diadakan ruwatan tidak terjadi lagi hal-hal yang berbau mistis di kampus.

Pembentukan panitia ruwatan terdiri dari berbagai fakultas yang pernah mengalami hal-hal mistis, melibatkan dosen, pegawai, dan mahasiswa. Diputuskan, ruwatan akan dilakukan pada malam Jumat Kliwon bulan Suro dalam kalender Jawa. Ruwatan biasanya memang terdiri dari tiga bentuk, yaitu ruwatan orang, lingkungan, dan daerah. Ruwatan orang dilakukan pada siang hari, sedangkan ruwatan lingkungan diselenggarakan pada malam hari.

Rangkaian kegiatan ruwatan telah disiapkan. Tempat pelaksanaan di lapangan kampus yang cukup luas. Beberapa sesaji juga disiapkan. Banyak jenis sesaji untuk tradisi ruwatan, seperti air dari tujuh sumber, dupa dan kemenyan, bunga setaman, padi, kain putih, aneka jajanan, rujak buah, aneka nasi, dan barang-barang lain. Melihat bermacam sesaji itu, acara ruwatan akan berlangsung dalam suasana mistis dan menegangkan.

Puncak acara ruwatan diselenggarakan pagelaran wayang kulit dengan lakon atau cerita “Murwakala”.  Murwa berarti awal, dan Kala yang berarti waktu. Lakon ini menggambarkan tentang upaya manusia untuk melakukan pembersihan diri dari segalasengkala atau kesialan dan sukerta atau keburukan, sehingga kembali kepada keadaan awal yang bersih.

Tokoh sentral dalam lakon Murwakala adalah Batara Kala, seorang raksasa dalam pewayangan. Batara Kala mendapat amanat dari sang ayah, Batara Guru untuk memangsa manusia yang dalam keadaan sukerta atau keburukan. Pertunjukkan wayang ruwatan menjadi magis dan menegangkan saat tokoh Batara Kala dikeluarkan oleh sang dalang.

Mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, pihak panitia mengundang paranormal kondang Suryo Baskoro untuk mendampingi pelaksanaan ruwatan di kampus. Acara ruwatan kadang menimbulkan kejadian mistis. Apalagi bila dilakukan pada malam Jumat Kliwon.

Tepat pukul 21.00 acara ruwatan dimulai. Musik gamelan dilantunkan secara perlahan. Sinden yang berperan menyanyikan tembang-tembang Jawa duduk di antara penabuh gamelan. Para penonton yang sebagian besar dosen, pegawai, dan mahasiswa sudah mulai berdatangan.

Dalang mulai memainkan satu per satu wayang dalam lakon Murwakala. Tak seperti pertunjukan wayang pada umumnya, dalam ruwatan suasananya agak berbeda. Muncul aura mistis di sekitar panggung pertunjukan wayang. Udara terasa lebih dingin dari kota yang memang berhawa sejuk. Para penonton bukan hanya menikmati alur cerita wayang, tetapi juga merasakan suasana yang mencekam dan menegangkan. Aroma kemenyan, dupa, dan kembang di tempat sesaji menambah aura mistis dalam acara ruwatan.

***

Suara gamelan bertalu-talu. Suasana semakin mencekam. Dalang mengeluarkan tokoh wayang Batara Kala. Terdengar suara dalang menggeram, Batara Kala menari-nari di tangan dalang. Suasana mistis begitu terasa. Gerakan Batara Kala seolah begitu liar mencari mangsa. Banyak penonton yang merinding dan ketakutan.

Ketika dalang mengibas-ibaskan wayang Betara Kala, tiba-tiba seorang mahasiswa menjerit histeris. Rektor yang turut menyaksikan acara ruwatan terkejut. Mahasiswa itu meraung dan kehilangan kesadaran, kesurupan. Tubuhnya kaku. Kaki dan tangannya menendang-nendang.

“Aku di mana…???!!!” teriak mahasiswa yang kesurupan.

Melihat ada mahasiswa yang kesurupan, paranormal Suryo Baskoro segera menghampiri. Ia mencoba berkomunikasi dengan makhluk gaib yang merasuk ke dalam tubuh manusia.

“Nyuwun pangapunten, meniko sinten ingkang rawuh nggih?” tanya Suryo Baskoro dalam bahasa Jawa, yang artinya “Mohon maaf, ini siapa yang datang merasuk?”.

“Ingsun sing manggon nang loji..!,” jawab mahasiswa dengan bahasa Jawa. Artinya, “Saya yang bertempat tinggal di bangunan”.

Loji di masyarakat Jawa merupakan kompleks bangunan, pada umumnya merupakan peninggalan kolonial yang difungsikan sebagai kantor, gudang, atau ruang administrasi. Di kampus memang banyak bangunan tua yang mirip dengan loji, yang dipercaya dihuni oleh makhluk halus. Suryo Baskoro menanyakan apa permintaan penghuni loji itu.

“Aku minta sumur gantung..,” kata mahasiswa yang kesurupan itu.

Paranormal Suryo Baskoro cepat tanggap. “Sumur gantung “ dalam bahasa transendental berarti air kelapa muda. Cepat-cepat Suryo Baskoro memberikan kelapa muda hijau kepada mahasiswa itu. Diminumnya air kelapa muda dalam beberapa tegukan. Setelah itu Suryo Baskoro meminta roh yang merasuk ke tubuh mahasiswa untuk kembali ke alamnya. Mahasiswa itu pun kembali tersadar.

Pertunjukan wayang masih berlanjut. Musik gamelan masih mengalun di malam yang kian dingin. Wayang Batara Kala masih menari-nari dengan gerakan lebih ekspresif dari sang dalang. Getar suaranya menyeramkan, mencari manusia untuk disantapnya.

 Di tengah alunan musik yang terasa magis, tiba-tiba seorang pegawai jatuh terjungkal dari tempat duduknya. Dia kesurupan. Matanya melotot menatap ke langit. Tangan dan kakinya kaku, namun kepalanya bergerak mengikuti irama alunan gamelan. Suryo Baskoro mendekati pegawai itu. Dipegangnya tangan dan kaki pegawai yang kesurupan agar lemas kembali.

“Siapa ini yang datang merasuk?” tanya Suryo Baskoro dengan bahasa Jawa halus.

“Saya yang berumah di pohon mahoni..!!!” jawab pegawai dengan sedikit membentak.

Dengan tenang Suryo Baskoro menyapa dan mengajak komunikasi makhluk halus yang merasuk dalam tubuh pegawai. Para penonton wayang ruwatan mulai merasakan ketegangan. Suara sinden membawakan lagu Ladrang Sekar Tanjung menambah suasana mistis malam ruwatan. Suryo Baskoro menanyakan, apakah ada permintaan atau pesan yang ingin disampaikan.

“Aku mung pengin kabeh urip rukun, aja padha congkrah, marai bubrah,” kata pegawai yang kesurupan. Artinya “Saya hanya ingin semua hidup rukun, jangan bertengkar, menyebabkan berantakan”.

Suryo Baskoro mengangguk. Para penonton yang hadir mendengarkan serius apa yang disampaikan pegawai yang kesurupan. Setelah Suryo Baskoro berkomunikasi dan berjanji untuk menyampaikan pesan itu, makhluk halus yang merasuk ke tubuh pegawai kembali ke alamnya. Pegawai itu pun sadar kembali.

Meski demikian bukan berarti situasi menegangkan telah berakhir. Saat terdengar gending Ayak-ayak, seorang dosen kesurupan. Gending Ayak-ayak memang terdengar mistis. Gending ini biasanya ditabuh untuk pembacaan mantra dalam tradisi ruwatan.

“Siapa yang datang ini ya?” tanya Suryo Baskoro kepada dosen yang meraung.

“Aku yang tinggal di sendang kampus..!!!” kata dosen itu dengan suara besar dan nada yang tinggi.

Suryo Baskoro segera mengambil bunga setaman yang telah ia siapkan. Dari suara dan nada bicaranya, Suryo Baskoro sudah bisa menebak. Makhluk yang merasuk dalam tubuh dosen adalah sosok genderuwo. Bunga setaman itu didekatkan pada hidung dosen untuk dibaui.

“Apakah ada permintaan atau pesan?” tanya Suryo Baskoro.

“Ojo podho pongah, kabeh urip nang alame dhewe-dhewe. Openi sing kudu diopeni, ojo dirusak,” jawab genderuwo yang ada di dalam tubuh dosen. Artinya: “Jangan sombong, semua hidup di alam masing-masing. Peliharalah yang harus dipelihara, jangan dirusak”.

Pesan itu disampaikan kepada para penonton lewat dalang wayang ruwatan. Manusia harus hidup rendah hati, memahami bahwa ada alam kenyataan dan alam gaib. Manusia juga diminta untuk menjaga dan memelihara semua yang dimiliki, jangan merusak. Pesan itu tampaknya menggambarkan hubungan antara manusia dengan manusia serta manusia dengan alam semesta.

Malam kian larut. Dosen  yang kesurupan telah sadar kembali. Namun suasana mistis masih saja dirasakan para penonton ruwatan. Wayang Betara Kala telah dimasukkan dalang ke dalam kotak. Gending Sprepegan mengalun untuk mengakhiri prosesi ritual ruwatan di kampus. Satu per satu penonton meninggalkan tempat penyelenggaraan ruwatan.

Semua berharap, setelah acara ruwatan keadaan di kampus menjadi lebih tenang dan lebih baik lagi. Tak ada lagi kejadian misterius dan menyeramkan di kampus. Semua berharap kampus menjadi bersih secara duniawi maupun alam gaib. Kampus yang sejuk bagi mahasiswa, dosen, dan pegawai. Tidak lagi menyandang predikat sebagai kampus sarang hantu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

Next Post

Menemukan Harmoni di Antara Sains, Teologi, dan Filsafat

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

by Pitrus Puspito
March 1, 2026
0
Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

JARAK MENCURI KAU DARIKU Ketika cinta mulai terjelaskanjarak telah mencuri kau dariku. Sementara pagi tak menjanjikanbahwa kau akan datang,setiap detik...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

by Aura Syfa Muliasari
February 28, 2026
0
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

MAMPIR DI NAKAREMPE angin berlalu liarmenelisik dan menjelma lalim yang jemawamembawa perkarabersoal tentang pendapa di ujung desa tapi atap ijuknya...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

by Vito Prasetyo
February 27, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Hidup Bagai Galeri Ponsel Tatapanmu seperti sinar yang tersasardi antara bantal-bantal bau peluhkita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengantapi hening...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

by Ida Ayu Made Dwi Antari
February 22, 2026
0
Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

LENTERA DI AMBANG PINTU Penghujung tahun ini dinginTangis seperti membendung waktuMenyesakkan batin Ada seseorang pernah jadi muara harapKini pupusKecewa mendekapkuHarapan...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails
Next Post
Menemukan Harmoni di Antara Sains, Teologi, dan Filsafat

Menemukan Harmoni di Antara Sains, Teologi, dan Filsafat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co