6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

Jaswanto by Jaswanto
December 18, 2025
in Ulas Film
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

Ekspresi tegang Kim Do-gi dalam drama Taxi Driver (Season 2) | Foto: HanCinema

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya di Indonesia ada tokoh-tokoh seperti dalam serial Taxi Driver yang siap mengadili para penjahat yang tak tersentuh oleh hukum.” Duh, setelah membaca komentar itu, saya jadi ngeri membayangkannya. Ya, saya menonton drama itu dari seri 1 sampai 3, dan tema yang diambil mirip-mirip dengan film India kisaran tahun ‘70-an hingga pertengahan ‘90-an―yang dijejali dengan film bergenre  Angry Young Man.

Dari beberapa komentar serupa di media sosial mengenai drama ini, tampaknya ada satu kebohongan yang diam-diam disepakati penonton Taxi Driver sejak episode pertama bahwa keadilan bisa diselesaikan oleh orang yang tepat, dengan kekerasan yang terukur, dan niat yang bersih. Serial ini meminta kita memercayai itu—dan kita mengangguk, karena kita sudah sangat kelelahan. Lelah menunggu pengadilan. Lelah membaca berita korupsi yang tak pernah benar-benar tamat. Lelah melihat pelaku kejahatan struktural tersenyum di depan kamera, lalu pulang ke rumah mewahnya.

Maka muncullah sosok Kim Do-gi (diperankan Lee Je-hoon) dengan wajah dingin dan tubuh yang disiplin. Mantan pasukan khusus, korban sistem, dan kini algojo berlisensi moral versi drama Korea. Ia bukan pembunuh sembarangan. Ia “beretika”. Ia hanya memukul orang-orang jahat—orang-orang yang, kebetulan, juga tak tersentuh hukum. Di sinilah Taxi Driver mulai terasa bukan sebagai kritik, melainkan sebagai obat bius. Serial ini tidak bertanya apakah kekerasan itu sah atau dibenarkan. Ia langsung mengeksekusinya.

Secara produksi, semuanya rapi. Sutradara Park Joon-woo, Kang Bo-seung, dan timnya paham betul cara menjual kemarahan publik: potongan cepat, musik tegang, twist moral di akhir episode. Para aktor pendukung—Kim Eui-sung sebagai otak operasi, Pyo Ye-jin sebagai teknisi digital yang bisa membobol apa pun—hadir seperti kementerian bayangan. Rainbow Taxi, lembaga yang menangui mereka, bagaikan negara mini. Versi efisien dari negara yang di dunia nyata terlalu lamban, terlalu bertele-tele, terlalu penuh kompromi. Dan justru di situ letak masalahnya. Karena Taxi Driver tidak sedang menawarkan kritik terhadap sistem hukum. Ia sedang menawarkan pengganti.

Setiap kali jaksa gagal, Kim Do-gi berhasil. Setiap kali polisi ragu, Rainbow Taxi bergerak. Setiap kali hukum terlihat tumpul, kepalan tangan berbicara fasih. Ini bukan sekadar narasi hiburan; ini propaganda emosional yang berbahaya. Ia menanamkan gagasan sederhana: “hukum itu tidak penting, yang penting adalah hasil.” Dan hasil hanya bisa dicapai oleh mereka yang cukup marah, cukup kuat, dan cukup yakin bahwa mereka benar.

Sekarang, mari kita bawa fantasi ini ke Indonesia—tanpa filter, tanpa musik latar.

Bayangkan Kim Do-gi lahir di republik ini. Bukan di Seoul yang rapi dan penuh CCTV, tapi di negeri di mana kamera pengawas sering mati ketika kekuasaan lewat. Ia menyamar sebagai sopir taksi online, mungkin. Atau pengemudi travel antarkota. Ia menghukum pejabat yang menggerogoti dana bansos. Ia menyeret politisi yang menandatangani izin tambang ilegal. Ia mempermalukan mafia sawit yang membakar hutan dan menyebutnya “kesalahan teknis”.

Tentu saja penonton bakal bersorak. Kolom komentar akan penuh doa dan emoji api-api. Bakal banyak potongan adegan viral di TikTok dengan caption: “Kalau hukum tumpul, biar rakyat yang tajam.” Tetapi, lalu apa? Siapa yang menentukan siapa “orang jahat” dan “tidak jahat” di Indonesia?

Di drama, jawabannya mudah. Tapi di Indonesia, jawabannya selalu berlapis: partai, keluarga, investor, aparat, sponsor kampanye, relasi lama. Setiap kejahatan struktural punya puluhan pelindung. Setiap dosa besar punya arsip yang bisa ditukar. Dalam kondisi seperti itu, vigilante bukan pahlawan—ia hanya pion baru dalam permainan lama. Di sinilah Taxi Driver menutup mata dari satu hal penting bahwa kekuasaan tidak pernah kosong. Jika negara absen, yang masuk bukan lagi keadilan, tapi kekuatan lain—yang lebih jahat dari sesuatu yang paling jahat di dunia.

Serial ini terlalu percaya pada mitos individu suci. Kim Do-gi hampir tak pernah salah sasaran. Hampir tak pernah keliru membaca data. Hampir tak pernah menghukum orang yang ternyata tidak bersalah. Ini fantasi yang nyaman—seperti percaya bahwa algojo selalu lebih bermoral daripada hakim. Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya. Semakin seseorang yakin bahwa ia “berpihak pada korban”, semakin mudah ia membenarkan kekejaman.

Di Indonesia, logika ini sudah sering dipraktikkan—tanpa kostum drama Korea. Kita punya sejarah panjang main hakim sendiri: orang dipukuli massa, dibakar hidup-hidup, diseret karena tuduhan yang belakangan keliru. Bedanya, Taxi Driver memberi itu pencahayaan sinematik dan musik yang bagus. Kekerasan jadi terlihat elegan. Dan di sinilah harusnya penonton tahu bahwa Taxi Driver bukan cermin penderitaan rakyat. Ia hanya hiburan bagi mereka yang sudah menyerah pada proses.

Serial ini laku bukan karena ia radikal dan heroik, tapi karena ia kompatibel dengan keputusasaan kelas menengah. Ia memungkinkan kita marah tanpa harus terlibat. Kita bisa mengutuk korupsi sambil rebahan. Kita bisa membenci mafia tambang tanpa harus membaca laporan lingkungan. Kita bisa merasa “berpihak” tanpa risiko.

Di Indonesia, tontonan semacam ini berbahaya justru karena ia terasa relevan. Kita hidup di negeri di mana koruptor sering mendapat remisi, sementara pencuri kecil dipenjara bertahun-tahun. Maka vigilante tampak menggoda. Tapi godaan itu adalah jalan pintas menuju otoritarianisme emosional. Karena setelah kita menerima bahwa hukum bisa dilewati demi “keadilan”, kita membuka pintu untuk pertanyaan yang lebih mengerikan: keadilan versi siapa? Sialnya, Taxi Driver tidak pernah menjawab itu. Ia terlalu sibuk memastikan penonton puas.

Musim demi musim, musuh Kim Do-gi makin besar, makin kaya, makin licik. Tapi solusi tetap sama: penyamaran, jebakan, pukulan. Tidak ada upaya membayangkan perubahan struktural. Tidak ada dunia setelah balas dendam. Tidak ada masyarakat yang benar-benar sembuh. Korban merasa lega, ya. Tapi sistem tetap utuh. Besok akan ada korban baru. Ini bukan kritik sosial. Ini siklus hiburan.

Jika Indonesia benar-benar memiliki Kim Do-gi, ia mungkin tidak akan bertahan lama. Bukan karena ia kalah berkelahi, tapi karena ia akan segera dipeluk, dipakai, lalu dibuang oleh kekuasaan yang lebih besar. Atau lebih buruk: ia dijadikan simbol. Maskot. Alat legitimasi. “Lihat,” kata penguasa, “rakyat sudah puas. Masalah selesai.” Padahal tidak ada yang selesai.

Taxi Driver menghibur kita dengan ide bahwa kekerasan bisa bersih. Tetapi, di Indonesia, kekerasan selalu kotor. Ia berbau kepentingan. Ia bercampur dengan uang, dendam pribadi, dan propaganda. Tidak ada Rainbow Taxi di sini. Yang ada adalah truk-truk tambang, mobil dinas, dan sirene yang hanya menyala untuk yang berkuasa.

Maka menonton Taxi Driver di negeri ini seharusnya tidak membuat kita bertepuk tangan, tapi justru gelisah. Karena jika kita benar-benar menginginkan tokoh seperti Kim Do-gi hadir di dunia nyata, itu berarti kita sudah terlalu lama putus asa pada hukum. Dan putus asa adalah bahan bakar paling murah bagi segala bentuk kekuasaan yang paling kejam.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: drama koreafilmIndonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi ‘Meprani’ di Desa Blahkiuh, Abiansemal: Membersihkan Diri, Membersihkan Jagat

Next Post

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails

Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

by Petrus Imam Prawoto Jati
November 7, 2025
0
Film ‘Abadi Nan Jaya’,  Saat Jamu Eksperimen Menyulap Jadi Zombie

JAGAT persilatan film Netflix Indonesia sedang agak heboh.  Film “Abadi Nan Jaya” nongol dan langsung melesat ke posisi nomor satu....

Read moreDetails
Next Post
Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah 'Sukawati, Ya Seni' Dibicarakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co