ADA satu hal yang selalu saya syukuri ketika diminta berbagi pengalaman menulis kepada orang lain. Saya mendapat kesempatan melihat manusia bukan dari apa yang tampak di permukaan, melainkan dari keberanian yang mereka simpan di dalam diri. Keberanian yang kadang mereka tidak sadari, kadang mereka sembunyikan, kadang mereka pendam karena takut dianggap berlebihan. Namun keberanian itu selalu muncul, tepat pada saat yang tidak diduga.
Pada awal November 2025, Bumi Setara mengajak saya mengisi pelatihan menulis opini di sebuah kafe kecil di Renon, Denpasar. Kafe itu bernama White Channy, tempat yang tidak terlalu ramai, tetapi cukup tenang untuk menulis. Meja kayunya panjang dan bersih, baristanya bekerja dengan cekatan, lampu kuning temaramnya memberi suasana yang membuat orang ingin membuka buku catatan dan menuliskan sesuatu. Saya datang dengan perasaan campur aduk. Antara percaya diri dan ragu. Antara ingin berbagi dan takut berlebihan. Antara merasa siap dan merasa perlu menata napas lebih dulu.
Pesertanya sepuluh anak muda disabilitas dari berbagai latar belakang. Ada yang memakai tongkat, ada yang membawa catatan kecil penuh tulisan tangan, ada yang datang ditemani sahabat, ada yang datang sendirian dan duduk dengan tenang. Mereka menatap saya tidak dengan keragu-raguan, tetapi dengan rasa ingin tahu yang tulus.



Saya membuka sesi dengan cerita tentang perjalanan pemulihan saya sebagai penyandang skizofrenia. Saya tidak pernah menceritakan hal itu untuk mencari simpati, tetapi karena saya percaya bahwa suara paling kuat lahir dari kejujuran. Saya bilang kepada mereka bahwa menulis telah menyelamatkan saya. Ketika dunia terasa sempit dan semua orang menjauh, menulis adalah ruang yang menerima saya apa adanya. Kata-kata tidak pernah menghakimi saya. Kertas tidak pernah menolak saya. Tulisan adalah rumah yang selalu terbuka.
Saya melihat mata mereka menatap tanpa berkedip. Di antara tatapan itu, saya melihat harapan. Saya melihat rasa ingin tahu. Saya melihat keinginan untuk percaya bahwa kata-kata mampu membawa mereka ke tempat yang lebih lapang daripada tempat yang selama ini mereka tempati.
Pelatihan itu sederhana. Saya menjelaskan apa itu opini, apa bedanya dengan berita, bagaimana menyusun argumen, bagaimana memilih satu ide besar yang menjadi pusat tulisan. Saya memberi contoh, memberi latihan, dan mengajak mereka menulis paragraf pembuka tentang isu yang mereka hadapi setiap hari. Latihan sederhana itu justru membuka banyak hal.
Ada yang menulis tentang trotoar yang tidak ramah kursi roda. Ada yang menulis tentang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena stigmatisasi. Ada yang menulis tentang pendidikan inklusif yang hanya sebatas nama. Ada pula yang menulis tentang pengalaman didiamkan oleh keluarga karena dianggap menyusahkan.
Ketika mereka membaca tulisan itu keras-keras, ruangan terasa lebih hidup. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa malu. Yang ada hanyalah keinginan untuk didengar.
Dari semua paragraf yang dibacakan hari itu, saya tahu satu hal. Anak-anak muda ini tidak kekurangan kemampuan. Yang kurang hanya ruang untuk melatih diri dan ruang untuk membuat suara mereka sampai ke publik. Ketika ruang itu dibuka, mereka langsung melangkah masuk, membawa cerita yang selama ini menunggu dituliskan.


Beberapa hari setelah pelatihan selesai, dua tulisan dikirimkan kepada saya. Dua tulisan yang membuat saya berhenti cukup lama setelah membacanya, bukan karena ada yang salah, tetapi karena ada sesuatu yang baru saya rasakan. Sesuatu yang membuat saya tersenyum sambil menutup laptop. Sesuatu yang membuat saya berpikir bahwa ilmu yang saya berikan hari itu ternyata tidak berhenti di meja kafe.
Tulisan pertama datang dari seorang gadis bernama Cok Istri Dian Rini Primadewi, yang sehari-hari dipanggil Cok Ima. Judulnya Tertahan Bertemu Tuhan.
Sejak paragraf pertama saya tahu tulisannya bukan tulisan yang lahir tergesa-gesa. Ada ketenangan, ada pengamatan yang tajam, ada kepedihan yang tidak meledak-ledak, tetapi merayap perlahan. Ia bercerita tentang ibunya yang semakin menua, tentang anak tangga merajan yang tinggi, tentang sulitnya melangkah ke tempat sembahyang di hari Galungan. Dari situ ia membawa pembaca ke pertanyaan yang lebih besar, mengapa pura-pura di Bali begitu tidak ramah terhadap penyandang disabilitas.
Cerita itu sederhana tetapi penuh daya. Tidak ada kalimat yang berlebihan. Tidak ada nada menggurui. Hanya suara seorang anak yang melihat ibunya kesulitan memasuki ruang suci. Hanya suara seorang perempuan muda yang bertanya mengapa jalan menuju Tuhan terasa begitu menanjak bagi sebagian umat.
Saya terdiam lama pada satu bagian tulisannya. Ketika ia menuliskan bahwa hambatan dalam beribadah bukan hanya soal anak tangga, tetapi juga cara pandang masyarakat. Anak tangga mungkin bisa diperbaiki, tetapi stigma tidak bisa dihaluskan dengan semen. Stigma hanya bisa diselesaikan dengan pengetahuan, empati, dan perubahan pola pikir.
Di akhir tulisannya, Cok Ima menegaskan bahwa Galungan sebagai perayaan kemenangan dharma tidak akan sempurna jika sebagian umat tertahan di luar pura. Kalimat itu menampar sekaligus menyadarkan. Anak muda seusianya mampu menempatkan isu disabilitas pada ruang spiritual yang lebih luas, bahwa hak beribadah adalah hak dasar manusia.
Saya bangga membaca tulisannya. Bukan sebagai fasilitator yang pernah mengajarinya menulis opini, tetapi sebagai pembaca yang mendapatkan sesuatu dari tulisan itu. Ia membuat saya percaya bahwa menulis bukan sekadar soal bakat, tetapi soal kepekaan dan keberanian. Dan Cok Ima memiliki keduanya.
Tulisan kedua datang dari seorang gadis bernama Dinda Mahadewi. Judulnya Saat Kerentanan Harus Terlihat untuk Diakui. Tulisan ini membuat saya berhenti sejenak. Ada sesuatu dalam tulisan Dinda yang terasa dekat dengan pengalaman saya sendiri sebagai penyintas disabilitas mental.
Dinda menuliskan tentang dunia yang sering hanya percaya pada kerentanan yang bisa dilihat. Jika seseorang tidak terlihat sakit, orang menganggap ia baik-baik saja. Jika seseorang datang dengan riasan rapi, orang mengira ia tidak mungkin mengalami gangguan mental. Tulisan Dinda membongkar cara berpikir itu dengan tenang tetapi tegas.
Ia menulis tentang pengalaman ditanya kemampuan kerjanya hanya karena ia pernah membuka cerita tentang kondisi mentalnya. Ia menulis tentang komentar yang seolah ingin menenangkan tetapi sesungguhnya merendahkan. Ia menulis tentang anggapan bahwa disabilitas harus hadir dalam bentuk tubuh yang tak biasa agar dapat dipercaya.
Kalimat yang paling saya ingat berbunyi begini. Tidak semua luka berdarah, tidak semua perjuangan tampak di mata. Kalimat itu sederhana tetapi tepat sasaran. Kalimat itu adalah suara yang selama bertahun-tahun saya simpan di dalam diri. Jika saya mendengarnya sepuluh tahun lalu, mungkin saya merasa sedikit lebih ringan menjalani pemulihan.


Dinda tidak hanya menulis tentang dirinya. Ia mengajak pembaca melihat persoalan lebih luas. Tentang bagaimana standar sosial membuat banyak orang merasa tidak cukup. Tentang bagaimana stigma membuat banyak orang memilih diam. Tentang bagaimana pemaknaan disabilitas yang sempit membuat banyak orang terpinggirkan tanpa disadari.
Tulisan Dinda rapi dan jernih. Ia menulis seperti seseorang yang sudah lama menemani dirinya sendiri dalam kesunyian. Ada kedewasaan yang tumbuh diam-diam di antara kalimat-kalimatnya. Ada keberanian yang muncul dari luka yang tidak diceritakan secara berlebihan.
Saya memberi komentar pada tulisannya, bukan sebagai orang yang lebih tahu, tetapi sebagai seseorang yang merasa berbicara pada adik sendiri. Saya bilang padanya agar terus menulis. Suaranya baik, tajam, dan penuh empati. Ia hanya perlu terus menyalakannya.
Membaca dua tulisan itu membuat saya berpikir kembali tentang hari pelatihan. Tentang ruangan kecil di Renon yang mungkin tampak biasa bagi orang lain, tetapi bagi saya terasa seperti tempat di mana sesuatu sedang tumbuh dalam diam. Saya datang hari itu hanya ingin berbagi pengalaman. Hari itu saya tidak menyangka bahwa saya akan membawa pulang sesuatu yang membuat saya merevisi cara saya melihat banyak hal.
Saya menyadari bahwa disabilitas muda sering dipandang sebagai kelompok yang harus diberi belas kasihan. Masyarakat lupa bahwa mereka punya pikiran, pengamatan, analisis, dan pengalaman yang bisa dibagikan melalui tulisan. Pelatihan itu membuka sedikit ruang bagi mereka untuk menunjukkan bahwa anggapan itu keliru. Ketika mereka diberi ruang, mereka mampu bersuara dengan cara yang bahkan lebih jernih daripada suara orang dewasa yang sering merasa paling tahu.

Saya bangga pada mereka. Bangga pada Cok Ima dengan kepekaan budaya dan spiritualnya. Bangga pada Dinda dengan ketajaman pikirannya. Bangga pada semua peserta yang berani menulis meski mungkin tangan mereka sempat bergetar saat memulai. Rasa bangga itu bukan rasa bangga guru kepada murid, tetapi rasa bangga seseorang yang melihat cahaya kecil mulai menyala.
Saya pulang dari pelatihan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Jalanan Renon malam itu lengang, lampu-lampu toko menyala terang, dan angin membawa sisa hujan yang turun sore tadi. Saya naik motor dengan pelan sambil memikirkan kembali apa yang terjadi hari itu. Rasanya seperti baru saja mengikuti upacara kecil yang tidak diumumkan, tetapi hanya dirayakan di dalam dada.
Mungkin begini rasanya ketika kata-kata yang kita simpan selama bertahun-tahun akhirnya menemukan rumahnya sendiri. Bukan lagi untuk diri kita, tetapi untuk orang lain. Kata-kata yang dulu saya tulis untuk bertahan hidup sekarang ikut menyalakan keberanian orang lain untuk bersuara. Itu adalah salah satu hal terindah dalam hidup saya.
Ketika saya ingin menuliskan refleksi ini untuk Tatkala.co, saya teringat kembali pada pelajaran paling sederhana dari dunia tulis menulis. Bahwa tulisan yang baik bukan tulisan yang berusaha pintar. Tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur. Dan dua gadis muda itu menulis dengan kejujuran yang tidak dibuat-buat.
Pelatihan itu hanya berlangsung beberapa jam. Namun dampaknya terus bekerja hingga hari ini. Dua opini lahir dari sana, tetapi saya percaya tulisan-tulisan lain sedang menunggu giliran. Mereka hanya perlu waktu. Mereka hanya perlu membiasakan diri duduk di depan layar dan percaya bahwa pengalaman mereka pantas dituliskan.
Jika ada yang saya pelajari dari hari itu, maka pelajarannya sederhana. Suara penyandang disabilitas tidak hanya perlu didengar, tetapi layak didengar. Bahkan lebih dari itu, suara mereka adalah bagian dari percakapan besar tentang kemanusiaan. Suara mereka tidak boleh berhenti di ruang-ruang kecil. Suara mereka harus punya panggung, dan salah satu panggung itu adalah tulisan.

Saya menutup tulisan ini sambil mengingat kembali wajah Cok Ima dan Dinda. Dua wajah muda yang datang ke pelatihan hanya ingin belajar menulis, lalu pulang membawa sesuatu yang lebih besar dari itu, keberanian untuk mengubah pengalaman menjadi gagasan, lalu menjadi opini yang dibaca banyak orang. Saya tersenyum ketika mengingat momen itu, lalu membatin satu hal yang sangat sederhana. Kata-kata tidak pernah sia-sia. Selama kita menuliskannya dengan hati yang jernih, kata-kata akan menemukan jalannya sendiri. Dan hari itu, saya menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole



























