WAYANG Bali pada era kini memasuki fase perkembangan yang tidak lagi hanya diukur melalui standar pelestarian tradisi, tetapi juga oleh legitimasi artistik yang lahir dari keberanian menghadirkan produksi wayang baru. Munculnya bentuk-bentuk wayang kontemporer yang digerakkan oleh riset dramaturgi, eksplorasi material, hingga inovasi visual dan mekanika panggung telah menempatkan wayang Bali sebagai praktik teater boneka (puppet theatre) yang kian diperhitungkan dalam percakapan seni pertunjukan global.
Wayang tidak lagi berdiri semata sebagai penanda budaya, melainkan sebagai teks pertunjukan yang hidup yang kompetitif, adaptif, dan transnasional. Di titik ini, wayang Bali dibaca sebagai karya teater yang memiliki masa depan, bukan sekadar artefak masa lampau yang dikonservasi dalam ruang nostalgia.
Dalam lanskap transformasi ini, Wayang Ental yang merupakan bagian dari Sanggar Seni Kuta Kumara Agung (Badung, Bali), tampil sebagai salah satu model penciptaan wayang yang konsisten menautkan tradisi lontar dengan arsitektur teater boneka kontemporer. Dipimpin oleh Dr. I Gusti Darma Putra, atau yang lebih dikenal sebagai Gung Ade Dalang, Wayang Ental membawa pendekatan yang unik, ia tidak hanya bergerak keliling panggung, tetapi juga keliling proses produksi.
“Material ental tidak ditempatkan sebagai kulit luar pertunjukan, melainkan sebagai jantung metodologi penciptaan, sebagai sumber estetika, basis pembangunan karakter, serta ruang di mana dramaturgi visual dan musikalnya berakar,” kata Gung Ade Dalang.

Gung Ade Dalang menyebutkan Wayang Ental telah menapaki panggung-panggung penting, jauh sebelum perjalanannya menuju Singapura pada tahun 2025 ini. Pada tahun 2023, Wayang Ental melakukan tour internasional ke Quanzhou, China, sebuah kota bersejarah yang menjadi episentrum seni boneka dunia.
“Di Quanzhou, Wayang Ental tidak dibaca semata sebagai wayang berbahan lontar, tetapi sebagai teater boneka musikal-spiritual yang memiliki kekuatan visual, komposisi ritme, dan dramaturgi panggung yang matang. Tour ini menjadi titik penanda bahwa wayang ental dari Badung telah menemukan legitimasi estetiknya di panggung Asia,” kata Gung Ade Dalang dengan mantap.

Tidak hanya di arena internasional, Wayang Ental juga menorehkan mobilitas estetik di dalam negeri, Jakarta, Salatiga, Yogyakarta, dan berbagai kota seni lain yang menjadi ruang pertemuan antara Wayang Ental dan publik teater modern. Di setiap titik singgah, Wayang Ental membuktikan daya tahannya sebagai pertunjukan yang mobile, ajek, dan konseptual. Ia hidup sebagai proyek seni yang nomaden, bukan untuk meninggalkan rumah tradisinya, tetapi justru untuk membuktikan bahwa rumah itu dapat dihadirkan kembali di mana pun melalui proses produksi dan kolaborasi yang sah.
Tahun 2025, Wayang Ental menapaki gelanggang Singapura, lebih tepatnya di LaSalle College of the Arts, institusi pendidikan seni pertunjukan yang dikenal futuristik, disiplin, dan terbuka pada kolaborasi lintas budaya. Di sinilah Wayang Ental tidak hadir sebagai “tamu”, tetapi sebagai mitra kreatif dalam dialog teater boneka.
Selama dua pekan menjelang pementasan, Gung Ade Dalang dan tim, di antaranya Githa, Wahde, dan Georgian, membuka ruang transfer pengetahuan melalui workshop bersama mahasiswa teater yang mengambil disiplin theatre & puppetry. Mereka tiba di Singapura pada tanggal 23 November 2025, membawa misi yang presisi menggelar bengkel kreatif, menyiapkan pementasan kolaboratif, dan mengajak mahasiswa menyentuh material, teknik dalam satu rangkaian proses yang setara nilai dengan hasil pertunjukan itu sendiri.

Dalam kolaborasi ini, Wayang Ental membawa tiga wayang ke ruang studio LaSalle diantranya boneka berukuran kecil, sedang, dan besar. Ketiganya bukan hanya soal skala fisik, tetapi skala dramaturgi hingga bentuk visual puncak yang mengisi spektrum panggung secara epik.
Keputusan paling konseptual dan sekaligus sikap estetik paling progresif adalah ketika tim tidak menyelesaikan wayang ental ukuran besar di Bali, melainkan memilih menuntaskan pembuatannya di Singapura, bersama mahasiswa teater LaSalle.
“Wayang besar ini dibangun dari rontan dan ental, dibentuk lalu penyesuaian teknikal, ini bukan karena kebutuhan teknis semata, tetapi sebagai pernyataan seni bahwa proses penciptaan adalah panggung pertama. Mahasiswa tidak hanya belajar menggerakkan boneka, tetapi merasakan bagaimana boneka itu dilahirkan, dirancang, dan dijiwai,” ujar Gung Ade Dalang.

Keterlibatan mereka menegaskan bahwa dalam teater boneka, individu tidak belajar menjadi operator mereka belajar menjadi pencipta. Mereka menyadari bahwa lakon tidak dimulai ketika lampu panggung menyala, tetapi ketika material disentuh oleh niat kreatif, ketika bentuk digarap oleh konsep, dan ketika kepemimpinan dalang memberi roh bagi struktur pertunjukan.
Gung Ade Dalangmenyampaikan sebuah kutipan: “Dalam teater boneka, workshop bukan ruang pendahuluan pementasan. Workshop adalah pementasan pertama, dimana wayang belum bernama, tetapi sudah berlakon.”
Kutipan ini bukan sekadar refleksi, tetapi penanda epistemik tentang cara wayang Bali diproduksi ulang hari ini, bagaimana menempatkan riset, proses, dan kolaborasi sebagai struktur utama pertunjukan.

Karenanya, dua pekan di LaSalle, Singapura bukan hanya pementasan, melainkan ritus kreatif transnasional yang menandai eksistensi Wayang Ental sebagai praktik teater boneka yang setara dan sejajar dengan panggung global. Wayang Ental menunjukkan bahwa tradisi tidak mengecil ketika berjumpa internasional, ia justru membesar karena diproduksi ulang, dibagi, dan dirayakan bersama. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























