KEESOKAN hari, rombongan berangkat menuju Mekkah. Kami mengambil miqat di Masjid Bir Ali; mandi, salat sunah ihram, melafalkan niat, dan membulatkan hati. Setelah itu perjalanan dilanjutkan melewati lembah-lembah berbatu dan gurun panjang selama kurang lebih lima jam.
Sesekali mutawwif menunjukkan titik-titik yang menjadi lokasi ritual haji seperti; Mina, Muzdalifah, dan Arafah. Perjalanan terasa tidak hanya fisik, tetapi juga perjalanan memaknai jejak-kejejak sejarah ibadah yang telah dilaksanakan sejak masa Nabi Ibrahim.

Sesampainya di hotel Mekkah, kami beristirahat sejenak, makan malam, minum kopi, dan menunggu waktu pelaksanaan umrah. Menjelang pukul 23.00 waktu Saudi, rombongan turun menuju Masjidil Haram.
Menatap Ka’bah Kembali Setelah Bertahun-tahun
Sungguh, ini bukan hanya perjalanan fisik, ini perjalanan rasa. Pertama kali saya menatap Ka’bah adalah tahun 2006. Kini, setelah hampir dua dekade berlalu, hati saya kembali bergetar. Ada rindu yang lama terpendam, ada doa yang selama ini disimpan hanya oleh Allah dan jiwa saya sendiri.
Air mata menetes, tanpa bisa ditahan. Di hadapan Ka’bah yang agung, manusia benar-benar menjadi kecil dan lemah, sementara Allah tampak begitu dekat.
Tawaf dan Sa’i: Perjalanan yang Tidak Sekadar Langkah
Tawaf dimulai, tujuh putaran mengelilingi Ka’bah. Namun kaki tidak lagi sekuat dulu. Usia yang telah memasuki 60 tahun membawa rasa kaku dan pegal, tetapi semangat jauh lebih besar daripada rasa letih. Setiap langkah terasa menghapus sesuatu beban, rasa bersalah, penat, dan kesedihan.

Dilanjutkan Sa’i, bolak-balik antara Bukit Safa dan Marwah. Kami mendaki dengan langkah pelan namun mantap. Badan terasa lelah, napas sedikit tertahan, namun hati justru semakin ringan. Di sana kami teringat perjuangan Siti Hajar, seorang ibu yang berlari mencari air demi anaknya. Perasaan kami seperti ditarik kembali pada sejarah yang hidup di hadapan mata.
Ibadah umrah kami selesaikan dengan tahallul, saling memotong rambut. Ada rasa lega yang mengalir, rasa syukur yang besar, dan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Beberapa hari kemudian, sebelum meninggalkan Mekkah, kami kembali melaksanakan umrah kedua. Setiap ibadah terasa menambah kedalaman batin, seolah Allah memberi waktu untuk masuk lebih jauh ke dalam diri sendiri.

Pada hari terakhir, kami melaksanakan Tawaf Wada sebagai tawaf perpisahan. Pemandangan Ka’bah kami tatap perlahan, mencoba mengabadikannya dalam hati, entah kapan Allah izinkan datang kembali. Tidak terasa air mata mengalir deras, dalam hati ”izinkan hamba kembali, ya Allah”.
Kepulangan Melalui Jejak Kota Haikou
Rombongan kembali menuju Jeddah dan terbang ke Haikou untuk transit. Tiba pagi hari, setelah makan siang kami mengikuti city tour singkat: berjalan di tepi pantai, mengunjungi kota tua, dan menyerap suasana tenang kota Haikou yang bersih dan tertata. Ibarat jembatan antara dua ruang, yaitu Haikou menjadi tempat kami merenungkan perjalanan spiritual yang baru saja selesai.

Malam hari kami melanjutkan penerbangan menuju Jakarta. Pesawat mendarat di Tanah Air tanggal 19 November 2025 pada dini hari. Setelah proses imigrasi dan bagasi, azan Subuh berkumandang. Kami singgah di Masjid Al-A’zhom kota Tangerang untuk melaksanakan salat Subuh, sebuah momen hangat kembali menjejak tanah air dengan sujud pertama setelah perjalanan panjang.
Dari Tangerang, kami melanjutkan perjalanan, menuju Kota Serang setelah sarapan di Tangerang. Rumah kembali menyambut, namun hati masih tinggal di pelataran Ka’bah dan halaman Masjid Nabawi.
Alhamdulillah kami bersyukur telah diberi kesempatan beribadah, menambah pengalaman, dan memperluas rasa syukur. Perjalanan ini bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi sebuah ziarah batin yang akan terus hidup dalam ingatan. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:
![Menemui Ka’bah, Perjalanan Haru Menembus Malam: Catatan Umrah [2]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/11/sihabudin.-umrah21-750x375.png)


























