22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan dan Etik Hidup Bali yang Hilang

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
November 16, 2025
in Esai
Galungan dan Etik Hidup Bali yang Hilang

Foto oleh Canva

”Alam bukan sumber daya yang harus dikuasai, melainkan ibu yang harus dijaga,” begitu pesan Vandana Shiva, aktivis lingkungan plus ilmuwan.

Meskipun dibungkus narasi mitologis, pandangan ini seolah memiliki relevansi dengan cerita dalam pustaka Sri Aji Jaya Kesunu yang menjadi sumber literasi perayaan Galungan oleh umat Hindu Bali.

Dalam pustaka ini diceritakan betapa pentingnya pawisik Dewi Gori (sebutan lain dari Durgadewi) kepada Sri Aji Jaya Kesunu ketika Bali dilanda musibah: Raja berumur pendek, penyakit merebak, dan bencana alam mengoyak kehidupan. Lalu Sri Aji Jaya Kesunu diminta menyelenggarakan upacara ritual yang salah satunya adalah Galungan.

Tak pelak, Galungan juga dikaitkan dengan “kultus” Durga—pemujaan pada Tuhan feminim yang menggunakan sarana-sarana alam. Sebelum muncul pemaknaan heroik kemenangan dharma melawan adharma, Galungan bisa jadi sebuah “pesta agraris”, perayaan kesuburan.

Ketika alam—ibu bumi—memberikan berkah melimpah pada manusia, maka manusia merayakannya. Berbagai sarana seperti palabungkah dan palagantung yang menjadi bahan penjor bukan sekadar simbolik bernuansa religius, melainkan wujud komitmen menjaga tanah.

Oleh sebab itu, Galungan adalah momentum—tidak hanya untuk memuja Ibu, melainkan juga menjaganya. Di sini kita bisa melihat paralelnya pandangan Vandana Shiva dan ritus Galungan di Bali. Setidaknya memiliki pandangan dunia yang sama: merawat dan memuja Ibu! Lalu ia perkenalkan ekofeminisme.

Sistem keyakinan yang berangkat dari wawasan ekologis menghasilkan perilaku dan etik Bali: memperlakukan alam seperti memperlakukan ibu. Perihal ini tercermin dalam ritus-ritus Subak. Bahkan leluhur Bali punya sebutan cukup puitis untuk menggambarkan relasi manusia dan alam Bali: kadi manik ring cecupu. Sebelum jargon “Tri Hita Karana” menyeruak latah keluar dari bibir orang Bali seiring dengan “benyah latignya” alam Bali.

Lalu untuk apa Galungan hari ini di tengah hilangnya kesadaran ekologis yang membentuk etika hidup Bali?

Yang terjadi hanyalah paradoks: Durga dipuja, namun alam Bali tak terjaga. Lalu terjadi bencana yang sepertinya tak bisa dinegosiasikan hanya sekadar dengan ritual, namun mesti dengan aksi nyata merawat dan menjaga ibu.

Sebenarnya berbagai kompleksitas dan bencana alam yang dialami Bali saat ini adalah “pawisik ibu” yang konkret bagi pemimpin Bali. Tak perlu melakukan tapa brata dan merenung, pawisik itu sudah datang secara nyata.

Istilah kasep tangkis sudah sangat sering terjadi di Bali. Ketika masalah ekologis, tata ruang, dan bencana semakin nyata, baru muncul wacana-wacana penggembira sesaat: entah itu dalam wujud moratorium, pengendalian alih fungsi lahan dan pengendalian pembangunan akomodasi pariwisata, dan wacana-wacana penggembira yang sifatnya temporer.

Toh, etika hidup Bali yang bersumber dari wawasan ekologi telah hilang kini. Tanah telah terjual, menjelma menjadi berbagai bisnis turisme. Lalu kita rayakan alam yang terkoyak dengan ritual-ritual megah.

Jika dulu ritual adalah ekspresi kesuburan yang dibungkus kultur agraris, saat ini ritual adalah sinyal “kecemasan” akan masa depan.

Kembali ke Epistemologi Tradisional

Pertanyaannya, mungkinkah orang Bali kembali lagi pada epistemologi tradisional mereka di tengah masuknya kebudayaan modern yang memandang alam secara mekanis?

Epistemologi tradisional Bali memandang relasi antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan organis. Alam adalah jaringan kehidupan yang saling bergantung. Manusia tentu bukan subyek tunggal yang punya kuasa terhadap alam. Penguasa alam adalah Durga itu sendiri. Ketika umat Hindu Bali memuja Durga, itu artinya sebuah penegasan bahwa mereka bukan penguasa alam.

Epistemologi tradisional Bali ini sesungguhnya hidup dalam etik hidup orang Bali yang berwawasan ekologis. Epistemologi tradisional tersebut juga tersimpan dalam memori tradisi, ritual, pengetahuan tradisional dan tubuh orang Bali.

Sistem Subak telah menunjukkan—meminjam istilah Vandana Shiva—kedaulatan petani akan benih. Meskipun sekarang orang Bali belum benar-benar berdaulat atas tanah, air, bahkan pangan mereka. Oleh sebab itu, upaya yang perlu dilakukan tidak sekadar wacana penggembira sesaat, melainkan upaya yang terus menerus untuk menjaga alam Bali dan merawat epistemologi tradisional Bali.

Di tengah gempuran kebudayaan modern, relasi puitis manusia dan alam di Bali kian terputus. Kolonialisme baru hadir di Bali melalui investasi yang tak terbendung. Para konglomerat dan investor menjadi “Dewa Pencipta” di Bali. Mereka bisa mengubah wajah Bali kapan saja. Apakah kita adalah pemujanya? Entahlah.

Semoga Galungan saat ini menjadi momentum, tidak hanya sekadar perayaan ritual enam bulanan, namun juga membangun kesadaran baru bahwa memuja Durga mesti dengan aksi nyata merawat dan menjaga Ibu Bumi. Sebelum nantinya Durga memberi pawisik dalam bentuk lain: BENCANA!

Mengutip Vandana Shiva, yang diperlukan di tengah kerusakan alam saat ini bukan lebih banyak mesin, melainkan kebijaksanaan. [T]

Penulis: I Gusti Agung Paramita
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganHindu Baliorang baliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Next Post

Menyoal Sampah Plastik, Eka Saja Tak Cukup —Butuh Marni dan Van Book untuk di Kupang

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Menyoal Sampah Plastik, Eka Saja Tak Cukup —Butuh Marni dan Van Book untuk di Kupang

Menyoal Sampah Plastik, Eka Saja Tak Cukup —Butuh Marni dan Van Book untuk di Kupang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co