23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan dan Etik Hidup Bali yang Hilang

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
November 16, 2025
in Esai
Galungan dan Etik Hidup Bali yang Hilang

Foto oleh Canva

”Alam bukan sumber daya yang harus dikuasai, melainkan ibu yang harus dijaga,” begitu pesan Vandana Shiva, aktivis lingkungan plus ilmuwan.

Meskipun dibungkus narasi mitologis, pandangan ini seolah memiliki relevansi dengan cerita dalam pustaka Sri Aji Jaya Kesunu yang menjadi sumber literasi perayaan Galungan oleh umat Hindu Bali.

Dalam pustaka ini diceritakan betapa pentingnya pawisik Dewi Gori (sebutan lain dari Durgadewi) kepada Sri Aji Jaya Kesunu ketika Bali dilanda musibah: Raja berumur pendek, penyakit merebak, dan bencana alam mengoyak kehidupan. Lalu Sri Aji Jaya Kesunu diminta menyelenggarakan upacara ritual yang salah satunya adalah Galungan.

Tak pelak, Galungan juga dikaitkan dengan “kultus” Durga—pemujaan pada Tuhan feminim yang menggunakan sarana-sarana alam. Sebelum muncul pemaknaan heroik kemenangan dharma melawan adharma, Galungan bisa jadi sebuah “pesta agraris”, perayaan kesuburan.

Ketika alam—ibu bumi—memberikan berkah melimpah pada manusia, maka manusia merayakannya. Berbagai sarana seperti palabungkah dan palagantung yang menjadi bahan penjor bukan sekadar simbolik bernuansa religius, melainkan wujud komitmen menjaga tanah.

Oleh sebab itu, Galungan adalah momentum—tidak hanya untuk memuja Ibu, melainkan juga menjaganya. Di sini kita bisa melihat paralelnya pandangan Vandana Shiva dan ritus Galungan di Bali. Setidaknya memiliki pandangan dunia yang sama: merawat dan memuja Ibu! Lalu ia perkenalkan ekofeminisme.

Sistem keyakinan yang berangkat dari wawasan ekologis menghasilkan perilaku dan etik Bali: memperlakukan alam seperti memperlakukan ibu. Perihal ini tercermin dalam ritus-ritus Subak. Bahkan leluhur Bali punya sebutan cukup puitis untuk menggambarkan relasi manusia dan alam Bali: kadi manik ring cecupu. Sebelum jargon “Tri Hita Karana” menyeruak latah keluar dari bibir orang Bali seiring dengan “benyah latignya” alam Bali.

Lalu untuk apa Galungan hari ini di tengah hilangnya kesadaran ekologis yang membentuk etika hidup Bali?

Yang terjadi hanyalah paradoks: Durga dipuja, namun alam Bali tak terjaga. Lalu terjadi bencana yang sepertinya tak bisa dinegosiasikan hanya sekadar dengan ritual, namun mesti dengan aksi nyata merawat dan menjaga ibu.

Sebenarnya berbagai kompleksitas dan bencana alam yang dialami Bali saat ini adalah “pawisik ibu” yang konkret bagi pemimpin Bali. Tak perlu melakukan tapa brata dan merenung, pawisik itu sudah datang secara nyata.

Istilah kasep tangkis sudah sangat sering terjadi di Bali. Ketika masalah ekologis, tata ruang, dan bencana semakin nyata, baru muncul wacana-wacana penggembira sesaat: entah itu dalam wujud moratorium, pengendalian alih fungsi lahan dan pengendalian pembangunan akomodasi pariwisata, dan wacana-wacana penggembira yang sifatnya temporer.

Toh, etika hidup Bali yang bersumber dari wawasan ekologi telah hilang kini. Tanah telah terjual, menjelma menjadi berbagai bisnis turisme. Lalu kita rayakan alam yang terkoyak dengan ritual-ritual megah.

Jika dulu ritual adalah ekspresi kesuburan yang dibungkus kultur agraris, saat ini ritual adalah sinyal “kecemasan” akan masa depan.

Kembali ke Epistemologi Tradisional

Pertanyaannya, mungkinkah orang Bali kembali lagi pada epistemologi tradisional mereka di tengah masuknya kebudayaan modern yang memandang alam secara mekanis?

Epistemologi tradisional Bali memandang relasi antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan organis. Alam adalah jaringan kehidupan yang saling bergantung. Manusia tentu bukan subyek tunggal yang punya kuasa terhadap alam. Penguasa alam adalah Durga itu sendiri. Ketika umat Hindu Bali memuja Durga, itu artinya sebuah penegasan bahwa mereka bukan penguasa alam.

Epistemologi tradisional Bali ini sesungguhnya hidup dalam etik hidup orang Bali yang berwawasan ekologis. Epistemologi tradisional tersebut juga tersimpan dalam memori tradisi, ritual, pengetahuan tradisional dan tubuh orang Bali.

Sistem Subak telah menunjukkan—meminjam istilah Vandana Shiva—kedaulatan petani akan benih. Meskipun sekarang orang Bali belum benar-benar berdaulat atas tanah, air, bahkan pangan mereka. Oleh sebab itu, upaya yang perlu dilakukan tidak sekadar wacana penggembira sesaat, melainkan upaya yang terus menerus untuk menjaga alam Bali dan merawat epistemologi tradisional Bali.

Di tengah gempuran kebudayaan modern, relasi puitis manusia dan alam di Bali kian terputus. Kolonialisme baru hadir di Bali melalui investasi yang tak terbendung. Para konglomerat dan investor menjadi “Dewa Pencipta” di Bali. Mereka bisa mengubah wajah Bali kapan saja. Apakah kita adalah pemujanya? Entahlah.

Semoga Galungan saat ini menjadi momentum, tidak hanya sekadar perayaan ritual enam bulanan, namun juga membangun kesadaran baru bahwa memuja Durga mesti dengan aksi nyata merawat dan menjaga Ibu Bumi. Sebelum nantinya Durga memberi pawisik dalam bentuk lain: BENCANA!

Mengutip Vandana Shiva, yang diperlukan di tengah kerusakan alam saat ini bukan lebih banyak mesin, melainkan kebijaksanaan. [T]

Penulis: I Gusti Agung Paramita
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganHindu Baliorang baliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Next Post

Menyoal Sampah Plastik, Eka Saja Tak Cukup —Butuh Marni dan Van Book untuk di Kupang

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Menyoal Sampah Plastik, Eka Saja Tak Cukup —Butuh Marni dan Van Book untuk di Kupang

Menyoal Sampah Plastik, Eka Saja Tak Cukup —Butuh Marni dan Van Book untuk di Kupang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co