24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan dan Etik Hidup Bali yang Hilang

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
November 16, 2025
in Esai
Galungan dan Etik Hidup Bali yang Hilang

Foto oleh Canva

”Alam bukan sumber daya yang harus dikuasai, melainkan ibu yang harus dijaga,” begitu pesan Vandana Shiva, aktivis lingkungan plus ilmuwan.

Meskipun dibungkus narasi mitologis, pandangan ini seolah memiliki relevansi dengan cerita dalam pustaka Sri Aji Jaya Kesunu yang menjadi sumber literasi perayaan Galungan oleh umat Hindu Bali.

Dalam pustaka ini diceritakan betapa pentingnya pawisik Dewi Gori (sebutan lain dari Durgadewi) kepada Sri Aji Jaya Kesunu ketika Bali dilanda musibah: Raja berumur pendek, penyakit merebak, dan bencana alam mengoyak kehidupan. Lalu Sri Aji Jaya Kesunu diminta menyelenggarakan upacara ritual yang salah satunya adalah Galungan.

Tak pelak, Galungan juga dikaitkan dengan “kultus” Durga—pemujaan pada Tuhan feminim yang menggunakan sarana-sarana alam. Sebelum muncul pemaknaan heroik kemenangan dharma melawan adharma, Galungan bisa jadi sebuah “pesta agraris”, perayaan kesuburan.

Ketika alam—ibu bumi—memberikan berkah melimpah pada manusia, maka manusia merayakannya. Berbagai sarana seperti palabungkah dan palagantung yang menjadi bahan penjor bukan sekadar simbolik bernuansa religius, melainkan wujud komitmen menjaga tanah.

Oleh sebab itu, Galungan adalah momentum—tidak hanya untuk memuja Ibu, melainkan juga menjaganya. Di sini kita bisa melihat paralelnya pandangan Vandana Shiva dan ritus Galungan di Bali. Setidaknya memiliki pandangan dunia yang sama: merawat dan memuja Ibu! Lalu ia perkenalkan ekofeminisme.

Sistem keyakinan yang berangkat dari wawasan ekologis menghasilkan perilaku dan etik Bali: memperlakukan alam seperti memperlakukan ibu. Perihal ini tercermin dalam ritus-ritus Subak. Bahkan leluhur Bali punya sebutan cukup puitis untuk menggambarkan relasi manusia dan alam Bali: kadi manik ring cecupu. Sebelum jargon “Tri Hita Karana” menyeruak latah keluar dari bibir orang Bali seiring dengan “benyah latignya” alam Bali.

Lalu untuk apa Galungan hari ini di tengah hilangnya kesadaran ekologis yang membentuk etika hidup Bali?

Yang terjadi hanyalah paradoks: Durga dipuja, namun alam Bali tak terjaga. Lalu terjadi bencana yang sepertinya tak bisa dinegosiasikan hanya sekadar dengan ritual, namun mesti dengan aksi nyata merawat dan menjaga ibu.

Sebenarnya berbagai kompleksitas dan bencana alam yang dialami Bali saat ini adalah “pawisik ibu” yang konkret bagi pemimpin Bali. Tak perlu melakukan tapa brata dan merenung, pawisik itu sudah datang secara nyata.

Istilah kasep tangkis sudah sangat sering terjadi di Bali. Ketika masalah ekologis, tata ruang, dan bencana semakin nyata, baru muncul wacana-wacana penggembira sesaat: entah itu dalam wujud moratorium, pengendalian alih fungsi lahan dan pengendalian pembangunan akomodasi pariwisata, dan wacana-wacana penggembira yang sifatnya temporer.

Toh, etika hidup Bali yang bersumber dari wawasan ekologi telah hilang kini. Tanah telah terjual, menjelma menjadi berbagai bisnis turisme. Lalu kita rayakan alam yang terkoyak dengan ritual-ritual megah.

Jika dulu ritual adalah ekspresi kesuburan yang dibungkus kultur agraris, saat ini ritual adalah sinyal “kecemasan” akan masa depan.

Kembali ke Epistemologi Tradisional

Pertanyaannya, mungkinkah orang Bali kembali lagi pada epistemologi tradisional mereka di tengah masuknya kebudayaan modern yang memandang alam secara mekanis?

Epistemologi tradisional Bali memandang relasi antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan organis. Alam adalah jaringan kehidupan yang saling bergantung. Manusia tentu bukan subyek tunggal yang punya kuasa terhadap alam. Penguasa alam adalah Durga itu sendiri. Ketika umat Hindu Bali memuja Durga, itu artinya sebuah penegasan bahwa mereka bukan penguasa alam.

Epistemologi tradisional Bali ini sesungguhnya hidup dalam etik hidup orang Bali yang berwawasan ekologis. Epistemologi tradisional tersebut juga tersimpan dalam memori tradisi, ritual, pengetahuan tradisional dan tubuh orang Bali.

Sistem Subak telah menunjukkan—meminjam istilah Vandana Shiva—kedaulatan petani akan benih. Meskipun sekarang orang Bali belum benar-benar berdaulat atas tanah, air, bahkan pangan mereka. Oleh sebab itu, upaya yang perlu dilakukan tidak sekadar wacana penggembira sesaat, melainkan upaya yang terus menerus untuk menjaga alam Bali dan merawat epistemologi tradisional Bali.

Di tengah gempuran kebudayaan modern, relasi puitis manusia dan alam di Bali kian terputus. Kolonialisme baru hadir di Bali melalui investasi yang tak terbendung. Para konglomerat dan investor menjadi “Dewa Pencipta” di Bali. Mereka bisa mengubah wajah Bali kapan saja. Apakah kita adalah pemujanya? Entahlah.

Semoga Galungan saat ini menjadi momentum, tidak hanya sekadar perayaan ritual enam bulanan, namun juga membangun kesadaran baru bahwa memuja Durga mesti dengan aksi nyata merawat dan menjaga Ibu Bumi. Sebelum nantinya Durga memberi pawisik dalam bentuk lain: BENCANA!

Mengutip Vandana Shiva, yang diperlukan di tengah kerusakan alam saat ini bukan lebih banyak mesin, melainkan kebijaksanaan. [T]

Penulis: I Gusti Agung Paramita
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganHindu Baliorang baliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Next Post

Menyoal Sampah Plastik, Eka Saja Tak Cukup —Butuh Marni dan Van Book untuk di Kupang

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Menyoal Sampah Plastik, Eka Saja Tak Cukup —Butuh Marni dan Van Book untuk di Kupang

Menyoal Sampah Plastik, Eka Saja Tak Cukup —Butuh Marni dan Van Book untuk di Kupang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co