2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis sebagai Sebuah Meditasi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 5, 2025
in Esai
Menulis sebagai Sebuah Meditasi

Ilustrasi tatkala.co

“Penulis sejati tidak berpihak kepada siapa pun kecuali kepada kebenaran.”
— Albert Camus, sastrawan dan filsuf eksistensialis.

APA yang menjadi motivasi seseorang untuk menulis? Ada yang menulis karena ingin terkenal, ada yang ingin menyampaikan gagasan, ada pula yang menulis karena tak tahan lagi menyimpan kebenaran di dalam dada. Namun, bagi sebagian kecil orang, menulis adalah laku batin, bentuk kontemplasi — bahkan sebuah meditasi.

Albert Camus, dalam semangat eksistensialisme, memandang tulisan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap absurditas dunia. Menulis bukan hanya merangkai kata, tapi juga membongkar kebohongan dan mengabarkan kebenaran — meski hanya kepada satu jiwa.

Saya sendiri mulai menulis sejak masa SMA. Cerpen-cerpen saya kala itu bahkan sempat dimuat di Bali Post dan mendapat honor — jumlahnya setara lima bulan uang SPP. Kegembiraan menulis saat itu terasa seperti berbicara langsung dengan jiwa sendiri. Namun, begitu memasuki dunia kerja profesional di sebuah BUMN, kebiasaan itu perlahan terlupakan.

Rutinitas kerja yang padat — rapat, target, dan pelatihan ke luar kota — menjauhkan saya dari dunia sunyi kata-kata. Walaupun saya tetap berlangganan majalah Horison dan sesekali menulis dalam sebuah event tertentu. Bahkan sempat meraih juara pertama dalam Lomba Tulis yang diselenggarakan Radio Memora saat bertugas di Manado. Setahun di Makasar, masih sempat mengirim puisi ke sebuah majalah remaja nasional dengan judul Lelaki Muda dengan Pedang di Tangan, sebuah wujud pemberontakan dan kritik terhadap tradisi dari daerah saya sendiri.

Ketika pelatihan di Bandung, alih-alih mencari buku teknik telekomunikasi — bidang pekerjaan utama saya — saya justru memilih menyaksikan pentas Opera Kecoa karya N. Riantiarno yang diselenggarakan oleh Depot Kreasi Seni Bandung. Bahkan saat mengikuti training di negeri Sakura Jepang, sempat terbersit ide untuk menuliskan sebuah cerpen: Di Bawah Langit Meguro, sayangnya sampai saat ini masih tetap menjadi sebatas judul. Mungkin suatu saat akan menjadi sebuah cerpen

Hingga akhirnya, di usia 41 tahun, saya mengambil keputusan besar: pensiun dini. Keputusan ini bukan semata soal karier, tapi tentang kembali ke panggilan batin yang lama terabaikan. Dua puluh tahun kenyamanan di BUMN, di balik segala fasilitas yang menggiurkan, saya menemukan kekosongan jiwa. Jenuh tingkat Dewa, kata anak muda zaman now. Seorang kerabat merespons keputusan saya dengan bertanya, “Mau makan apa?” Saya menjawab enteng, “Yang jelas saya masih makan nasi, bukan batu.”Sejak saat itu, saya mulai menulis kembali — bukan sekadar cerpen, tapi catatan reflektif spiritual, yang menyatu dengan perjalanan jiwa, tapi sebatas untuk koleksi pribadi.

Tiga hari menjelang pensiun dini, untuk pertama kalinya saya bisa bertemu tokoh idola saya Guruji Anand Krishna— yang sebelumnya hanya bisa saya ajak berdialog lewat buku-buku beliau. Itulah pertemuan pertama yang mengubah jalan hidup saya untuk menekuni perjalanan sunyi ke dalam diri.

Hobi menulis saya mulai terbangun kembali. Namun, setiap kali membaca ulang tulisan yang baru saya buat, saya harus jujur berkata: itu bukan kata-kata saya, hampir semuanya kata-kata beliau. Maka, saya mengambil langkah aman: menjadi penulis reportase kegiatan beliau di Anand Ashram dan saat beliau memberikan sharing ke masyarakat dalam bentuk wacana dan latihan meditasi.

Kebetulan pula, dalam sebuah kesempatan saya bertemu dengan seorang awak media Indonesia Expose, saya memanggilnya Mbak Putri. Awalnya Mbak Putri tertarik dengan kegiatan Anand Ashram dan ingin meliput. Bukan itu saja — ia juga menawarkan saya untuk bergabung dengan Indonesia Expose. Pucuk dicinta ulam tiba. Selanjutnya Mbak Putri berjasa menampung reportase yang saya buat. Entah itu reportase murni atau sebuah opini yang saya kemas dalam reportase mengambil sudut pandang Shri Sarvananda Dharma (nama diksha saya dari seorang Nabe Shri Bhraja Ganachakra di Ashram Ganachakra Lombok)

Dua puluh tahun lebih mengikuti kegiatan di Anand Ashram, saya baru benar-benar memahami makna menulis sebagai sebuah meditasi. Menulis bukan lagi aktivitas luar, melainkan proses meniti ke dalam diri. Setiap kalimat adalah napas, setiap paragraf adalah doa.

Guruji Anand Krishna pernah mengatakan: “Saya menulis bukan untuk mengajar, tapi untuk berbagi pengalaman. Satu orang saja merasakan manfaat dari tulisan itu, saya merasa sangat terberkati.”

Bagi Guruji, tulisan adalah sarana berbagi kesadaran. Bimbingan langsung Guruji lewat tulisan, wacana dan aksi nyata kegiatan pelayanan untuk masyarakat yang dilakukan oleh komunitas Anand Ashram, bagi saya adalah isyarat bagi saya untuk berkarma yoga melalui tulisan.

Albert Camus, Jean Paul Sartre, Friedrich Nietzsche,dan beberapa tokoh lainnya, adalah idola saya. Namun lebih dari mereka,  Guruji Anand Krishna sosok teladan yang mampu menyihir saya dan membuka mata batin saya yang sekian lama tertutup rapat. Membaca buku-buku beliau membuat saya menangis dan tertawa dalam waktu yang sama — seperti disentuh oleh kebenaran yang tak bisa lagi ditunda.

Menulis menyentuh aspek terdalam dari proses kesunyian. Di dunia yang kian riuh dan bising oleh opini dangkal, penulis sejati justru muncul sebagai penjaga kesunyian yang jernih. Tulisan mereka tidak selalu viral, tetapi menyentuh dan menyala — karena lahir dari kedalaman kesadaran, bukan sekadar keinginan untuk dikenal.

Bagi saya, menulis kembali setelah pensiun dini bukanlah nostalgia, tetapi ziarah. Kembali ke ruang sunyi tempat jiwa berbicara, bukan hanya kepada dunia, tetapi juga kepada diri sendiri. Saat inipun, saya tengah merampungkan sebuah tulisan sebagai bentuk pengejawantahan sebuah obsesi kecil yang masih tersisa, berupa disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth One Sky One Humankind. Dan jika satu tulisan mampu menyembuhkan satu luka, menyulut satu cahaya — maka penulisannya tidak pernah sia-sia. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: meditasimenulis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebih dari Sekadar Barisan: Budaya di Balik Cara Mengantre

Next Post

Paradoks BPHTB dalam PPJB: Ketika Keadilan Fiskal Mengabaikan Kepastian Hukum

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Paradoks BPHTB dalam PPJB: Ketika Keadilan Fiskal Mengabaikan Kepastian Hukum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co