AKU lahir dan besar di Sumatera, di tanah yang hijau dan ramai oleh hiruk-pikuk kota. Namun pada tahun 2015, langkah kakiku justru diarahkan jauh ke ujung timur Indonesia — ke Iwur, sebuah distrik kecil di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Sebelumnya aku sudah pernah mengabdi di Provinsi ini di Puskesmas Okaba, Kabupaten Merauke tahun 2011-2012, namun entah angin apa membuat kakiku tetap melangkah kembali untuk mengabdi ke Bumi Cendrawasih ini.
Bersama puluhan tenaga kesehatan lainnya kami diseleksi dari seluruh Nusantara untuk dapat bergabung dalam Program Nusantara Sehat Tim-Based Kementerian Kesehatan tahun 2015 tersebut, dibekali dengan Ilmu managemen dan kepemimpinan serta bela negara.
Kami satu tim terdiri dari 7 orang dr. Firman Budi Setiawan (saya sendiri), Intan Br. Sinaga (perawat), Sri Rachmayanti (Tenaga Kesmas), Fitria Anggraini (Tenaga Kesling), Ade Tri Hastuti (analis lab), Nurasma Hamra Yati (Bidan), dan Aisyah Nurkumalasari (gizi). Pada Angkatan Batch 1 itu kami ditempatkan khusus perbatasan RI ada 20 titik. Dan pada saat pengumuman lokasi penugasan kami ditempatkan di Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, perbatasan RI dan PNG. Untuk sampai ke tempat tugas, kami harus menempuh perjalanan darat tiga hingga empat jam dari oksibil yaitu ibukota kabupaten Pegunungan Bintang, lalu berjalan kaki delapan hingga dua belas jam menembus hutan, lembah, dan sungai.
Iwur bukanlah tempat yang mudah dijangkau, tapi di sanalah aku menemukan arti lain dari kata pelayanan.

Tanpa Listrik, Tanpa Sinyal, Tapi Penuh Kehidupan
Puskesmas Iwur berdiri sederhana. Tidak ada listrik, tidak ada air bersih, dan tak ada sinyal seluler.
Namun setiap hari, selalu ada wajah-wajah penuh semangat yang datang untuk berobat atau sekadar meminta nasihat kesehatan.
Pernah suatu kali kami harus berjalan kaki dua belas jam menuju kampung paling jauh untuk melaksanakan posyandu.
Ibu-ibu datang dengan anak di gendongan, menempuh jalan setapak berjam-jam demi imunisasi. Di tengah lelah yang mendera, aku melihat ketulusan yang jarang kutemui di tempat lain — semangat hidup yang sederhana, tapi menggetarkan hati.
Kami hidup dalam keterbatasan, tapi juga dalam kehangatan. Dan mungkin, justru di tempat yang jauh dari gemerlap dunia, aku menemukan kembali makna kemanusiaan.





Dari Pelosok Papua ke Ruang Pendidikan
Dua tahun di Papua bukan hanya tentang mengobati penyakit, tapi juga menyembuhkan keangkuhan diri.
Aku belajar rendah hati, belajar mendengar, dan belajar melayani. Namun di balik rasa syukur itu, aku tahu perjalanan belum selesai.

Sebagai dokter umum, aku menyimpan mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis.
Banyak proses harus dijalani — seleksi, ujian, dan doa yang tak pernah putus. Hingga akhirnya, pada tahun 2022, aku diterima sebagai Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Penyakit Dalam di Universitas Airlangga.
Kini aku berada di semester tujuh dari sembilan, menempuh hari-hari penuh dinamika di rumah sakit pendidikan.
Setiap pasien, setiap kasus, setiap malam jaga — semuanya mengingatkanku pada alasan awal aku memilih jalan ini: untuk melayani.


Menatap Kembali ke Arah Timur
Kadang, dalam lelahnya jaga malam, pikiranku melayang kembali ke Iwur — ke kabut yang turun cepat, ke suara jangkrik di malam sunyi, ke anak-anak yang berlari di jalan tanah merah.
Mereka adalah alasan aku terus belajar. Mereka yang pernah kami obati dengan sarana dan prasarana yang terbatas, kini menjadi sumber semangat untuk menimba ilmu lebih dalam.
Aku percaya, pengabdian bukan soal di mana kita berdiri, tapi dari mana hati kita melangkah.
Dan langkahku, yang dulu berawal dari barat, akan selalu membawa doa ke arah timur — tempat aku belajar mencintai negeri ini dengan cara yang paling sederhana: melayani. [T]
Penulis dan Foto-foto: Firman Budi Setiawan
Editor: Adnyana Ole



























