RUANG Paseban Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, Jumat (24/10), dipenuhi dengan antusiasme, keceriaan, dan ketegangan. Suasana tersebut mewarnai gelaran puncak Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2025, kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik. Ajang ini menjadi wadah bagi siswa SMA/SMK se-Bali untuk menampilkan ide-ide kreatif terbaik di bidang jurnalistik.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Pekan Jurnalistik kali ini mengusung tema “LITERA: Literasi dan Etika Jurnalistik dalam Era Digital” serta menghadirkan tiga kategori lomba, mulai dari majalah dinding (mading), berita kisah (feature), dan video reels. Setiap kategori menuntut peserta tidak hanya mahir menulis atau piawai menyajikan ide, tetapi juga berpikir kritis, peka terhadap isu, serta mampu menyampaikan pesan secara kreatif dan inovatif.
Lima finalis terbaik yang telah melalui babak penyisihan secara daring dari masing-masing kategori, berkesempatan mempresentasikan karya mereka langsung di hadapan dewan juri dan peserta lainnya. Suasana kompetisi berlangsung sportif dan penuh semangat. Beragam ide segar bermunculan, mulai dari desain mading interaktif, kisah feature yang menyentuh, hingga video reels yang memadukan visual dinamis dengan pesan edukatif.
“Pekan jurnalistik membawa misi bagaimana tetap menumbuhkan semangat jurnalisme di kalangan pelajar. Berbagi informasi bukan hanya lewat tulisan, tetapi juga melalui gambar, video, dan karya kreatif lainnya,” ujar Dr. I Made Adnyana, S.H., M.H., selaku Pembina UKM Jurnalistik UPMI Bali.
Dalam sambutan puncak acara, Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum., mengapresiasi semangat para peserta yang tak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar berpikir kritis dan beretika dalam bermedia. Ia juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung program “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” yang digagas Pemerintah Provinsi Bali, serta kebijakan “Satu Keluarga Satu Sarjana” untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
“Saya sangat mengapresiasi usaha dan kegigihan para peserta. Jangan pernah berhenti belajar. Melalui kegiatan ini, kita turut berperan dalam membangun sumber daya manusia yang cerdas dan beretika,” ujar Prof. Suarta.

Setelah rangkaian kegiatan lomba terlewati, momen paling ditunggu pun tiba, yakni pengumuman para juara. Riuh tepuk tangan dan sorak sorai mengiringi setiap nama yang disebutkan. Dalam kategori majalah dinding, SMA Negeri 1 Kuta Utara meraih Juara I, disusul SMA Negeri 2 Denpasar sebagai Juara II, dan SMK Negeri 1 Gianyar di posisi Juara III. Sementara itu, SMK TI Global Badung dan SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar masing-masing menempati posisi Juara Harapan I dan II.
Pada kategori berita kisah (feature), Putu Bela Inggrid Cahyanti dari SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar berhasil menjadi Juara I. Posisi Juara II diraih Ni Komang Ayu Widi Cipta Ningsih dari SMK Negeri 1 Gianyar, dan Juara III ditempati Ni Made Cahaya Kumara Lalita dari SMA Negeri 1 Petang. Adapun Yvaine Carissa Nadyanalle (SMK TI Global Badung) dan Syafina Nabilah Putrie (SMA Negeri 3 Negara) masing-masing menempati posisi Harapan I dan II.
Untuk kategori video reels, Ni Ketut Aulia Asti Rahayu dari SMA Negeri 8 Denpasar dinobatkan sebagai Juara I, diikuti Azimah Salsabila (SMK Negeri 1 Gianyar) sebagai Juara II, dan Ni Putu Nia Mahaswari (SMA Negeri 1 Petang) sebagai Juara III. Sementara Ni Putu Chintya Lestari (SMA Negeri 3 Negara) dan Errin Anomia Santoso (SMA Negeri 2 Denpasar) meraih posisi Harapan I dan II.

Usai pengumuman lomba, Bela Inggrid mengungkapkan rasa syukurnya bisa membawa pulang gelar juara. Dalam karyanya, ia menulis tentang sosok guru Bahasa Indonesia di sekolahnya yang digambarkan sebagai “penjaga literasi” di tengah generasi yang kian akrab dengan digitalisasi.
“Saya menulis tentang guru saya sendiri, Hasbi Romadhoni. Beliau selalu mengingatkan bahwa menulis bukan soal bagus atau tidak, tapi tentang keberanian menyuarakan pikiran dengan jujur. Dari beliau saya belajar, bahwa berliterasi juga erat kaitannya dengan beretika di era digital,” ungkap gadis berambut pendek itu.
Para juara I, II, dan III mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan, sedangkan juara Harapan I dan II menerima piagam penghargaan serta uang pembinaan. Hadiah diserahkan langsung oleh Rektor UPMI Bali, didampingi Pembina UKM Jurnalistik, dan Ketua Panitia Pekan Jurnalistik 2025. Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta yang hadir, menandai berakhirnya rangkaian kegiatan tersebut.

Ni Nyoman Ari Diantari, Ketua Panitia Pekan Jurnalistik 2025, menuturkan bahwa pengalaman memimpin kegiatan kali ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi seluruh panitia.
“Pekan tahun ini sangat berkesan karena saya mendapat kesempatan menjadi ketua panitia. Melaksanakan tiga lomba baru berarti banyak hal baru yang harus disiapkan. Dari awal kegiatan sampai Grand Final, perjalanannya cukup panjang untuk seluruh anggota. Walaupun banyak kendala dan miskomunikasi, semuanya justru jadi pembelajaran untuk kegiatan berikutnya,” ujar Ari.
Ia menambahkan, pelaksanaan Pekan Jurnalistik 2025 menjadi pengalaman pertama bagi angkatannya tanpa pendampingan kakak tingkat yang tengah mengikuti KKL.
“Karena ini pelaksanaan Pekan Jurnalistik pertama untuk angkatan kami, kami harus lebih ekstra dalam meng-handle kegiatan. Untungnya, anggota panitia cepat dalam mengerjakan tugas masing-masing. Jadi walaupun ada kendala, kerja sama tim dan kepekaan antaranggota menjadi kunci agar kegiatan tetap berjalan lancar,” tambahnya.

“Di era disrupsi informasi seperti sekarang, kemampuan literasi sangat penting untuk ditumbuhkan sejak dini. Salah satunya melalui kegiatan seperti Pekan Jurnalistik ini,” tutur Made Adnyana, Pembina UKM Jurnalistik UPMI Bali.
“Memang tidak mudah untuk menjaga minat dan kemampuan jurnalistik siswa. Namun dengan kemajuan teknologi, semoga minat terhadap jurnalisme justru makin kuat dan berkembang, bukan malah terdesak oleh banyaknya bentuk karya kreatif lainnya,” tambah podcaster Oke Made itu.
Melalui ajang seperti Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2025, semangat literasi dan etika bermedia terus digelorakan di kalangan generasi muda. Bukan sekadar lomba, kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama tentang berpikir kritis, menyampaikan gagasan dengan santun, dan memahami tanggung jawab moral dalam menyebarkan informasi. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























