12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Spiritualisme, Humanisme, dan Dunia yang Terfragmentasi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 26, 2025
in Esai
Spiritualisme, Humanisme, dan Dunia yang Terfragmentasi

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Kembali pada Kesadaran Kesatuan

Kita hidup di zaman serba cepat, penuh koneksi digital, namun justru miskin keintiman batin. Dunia yang tampak saling terhubung ini sebenarnya terfragmentasi: manusia terpisah dari alam, agama terpisah dari kemanusiaan, dan akal terpisah dari hati. Dalam pusaran modernitas, manusia kerap kehilangan arah, kehilangan makna, bahkan kehilangan jati dirinya. Di sinilah pentingnya merefleksikan kembali dua arus besar pemikiran—humanisme dan spiritualisme—yang sesungguhnya dapat menyembuhkan luka peradaban kita.

Humanisme Tanpa Jiwa, Spiritualitas Tanpa Arah

Humanisme di Barat lahir dari semangat pembebasan terhadap dogma abad pertengahan. Ia menempatkan manusia sebagai pusat nilai, sebagai makhluk bebas yang berpikir dan menentukan nasibnya sendiri. Namun dalam perkembangannya, humanisme yang semula membebaskan justru sering kehilangan ruh. Ketika rasio dijadikan satu-satunya ukuran, manusia menjadi “dewa kecil” yang merasa mampu mengendalikan segalanya, tapi di dalam dirinya sendiri muncul kehampaan.

Sementara itu, spiritualisme dalam banyak bentuknya cenderung melarikan diri dari realitas. Ia menekankan dimensi roh, tetapi sering memisahkan manusia dari dunia nyata—dari penderitaan, tanggung jawab sosial, dan panggilan kemanusiaan. Akibatnya, spiritualitas kehilangan makna sosialnya, sementara humanisme kehilangan kedalaman jiwanya.

Pandangan Guruji Anand Krishna: Humanisme Spiritual sebagai Jalan Tengah

Dalam pandangan Guruji Anand Krishna, kedua arus besar itu tidak perlu dipertentangkan. Beliau memadukannya dalam satu kesadaran baru yang disebut humanisme spiritual—sebuah pandangan bahwa manusia adalah cerminan ilahi yang harus mewujudkan kasih dan kesadaran di bumi. “Spiritualitas bukan tentang meninggalkan dunia,” kata Guruji, “tetapi tentang hidup sepenuhnya di dalamnya dengan kesadaran yang lebih tinggi.”

Humanisme spiritual melihat manusia sebagai jembatan antara langit dan bumi, antara roh dan materi. Ia menolak keterpisahan, menolak dikotomi antara Tuhan dan ciptaan, antara agama dan sains. Semua adalah satu tarikan napas kesadaran. Dari kesadaran inilah lahir rasa tanggung jawab untuk mencintai, melindungi, dan menghormati kehidupan dalam segala wujudnya.

Agama dan Fragmentasi Kesadaran

Ironisnya, dalam praktik keagamaan modern, manusia sering justru menjauh dari esensi ini. Agama, yang sejatinya adalah jembatan menuju kesadaran universal, kerap menjadi tembok pemisah antar manusia. Banyak yang sibuk menegaskan kebenaran sendiri sambil menafikan yang lain. Ritual dijalankan dengan disiplin, tetapi cinta dan welas asih—inti dari semua agama—hilang dari praktik hidup sehari-hari.

Guruji melihat fenomena ini sebagai bentuk fragmentasi kehidupan: manusia beribadah kepada Tuhan tetapi memusuhi ciptaan-Nya. Ia memuliakan teks, namun mengabaikan konteks kehidupan. Spiritualitas yang sejati, kata beliau, tidak memenjarakan Tuhan dalam kitab atau dogma, tetapi menemukan-Nya dalam setiap makhluk—dalam manusia, hewan, tumbuhan, gunung, sungai, dan samudra.

Alam sebagai Tubuh Kehidupan

Dalam visi humanisme spiritual, alam bukan objek eksploitasi, tetapi bagian dari kesadaran yang sama. Gunung, hutan, laut, dan udara bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari tubuh kehidupan yang harus dijaga. Menyakiti alam berarti menyakiti diri sendiri, sebab manusia bukan penguasa bumi, melainkan penjaganya, menjaga kelestariannya.

Guruji sering menekankan bahwa spiritualitas sejati adalah ekospiritualitas—kesadaran ekologis yang bersumber dari cinta universal. Ketika kita menanam pohon, menjaga sungai, atau menyayangi hewan tanpa menyembelihkan untuk disantap di meja makan, kita sebenarnya sedang berdoa dengan tindakan. Di sinilah spiritualitas tidak lagi terbatas pada ruang ibadah, melainkan hadir dalam setiap langkah dan napas kehidupan.

Dari Fragmentasi Menuju Kesatuan

Dunia modern membutuhkan kebangkitan kesadaran ini. Fragmentasi hanya dapat disembuhkan dengan kesatuan batin yang melihat semua kehidupan sebagai ekspresi tunggal dari satu sumber. Dalam pandangan Guruji Anand Krishna, inilah inti dari semua ajaran suci: oneness, kesatuan dalam keberagaman. Ketika kesadaran ini tumbuh, tidak ada lagi “aku” dan “engkau”, tidak ada “umatku” dan “umatmu”—yang ada hanyalah kita, bagian dari satu kehidupan yang sama.

Spiritualisme dan humanisme tidak lagi bertentangan, melainkan berpadu dalam satu kesadaran cinta universal. Di sinilah agama kembali menemukan maknanya, bukan sebagai sistem kepercayaan yang memisahkan, tetapi sebagai jalan untuk menyadari kesucian seluruh kehidupan.

Penutup: Menjadi Manusia Seutuhnya

Kita dipanggil untuk menjadi manusia seutuhnya—yang berpikir dengan jernih, merasa dengan kasih, dan bertindak dengan kesadaran. Spiritualitas yang sejati bukan pelarian dari dunia, tetapi kehadiran penuh di dalam dunia. Ia bukan tentang mencari Tuhan di langit, tetapi menemukan Tuhan dalam kehidupan itu sendiri.

Jika setiap manusia hidup dengan kesadaran ini, fragmentasi dunia akan pulih dengan sendirinya. Alam akan kembali seimbang, manusia akan kembali saling menghormati, dan peradaban akan tumbuh dalam harmoni. Inilah dunia yang dibayangkan oleh Guruji: dunia yang berlandaskan pada humanisme spiritual—di mana cinta, kesadaran, dan kemanusiaan menyatu dalam satu denyut kehidupan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: humanismeSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semangat Literasi dan Etika Digital di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2025

Next Post

Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co