14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Spiritualisme, Humanisme, dan Dunia yang Terfragmentasi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 26, 2025
in Esai
Spiritualisme, Humanisme, dan Dunia yang Terfragmentasi

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Kembali pada Kesadaran Kesatuan

Kita hidup di zaman serba cepat, penuh koneksi digital, namun justru miskin keintiman batin. Dunia yang tampak saling terhubung ini sebenarnya terfragmentasi: manusia terpisah dari alam, agama terpisah dari kemanusiaan, dan akal terpisah dari hati. Dalam pusaran modernitas, manusia kerap kehilangan arah, kehilangan makna, bahkan kehilangan jati dirinya. Di sinilah pentingnya merefleksikan kembali dua arus besar pemikiran—humanisme dan spiritualisme—yang sesungguhnya dapat menyembuhkan luka peradaban kita.

Humanisme Tanpa Jiwa, Spiritualitas Tanpa Arah

Humanisme di Barat lahir dari semangat pembebasan terhadap dogma abad pertengahan. Ia menempatkan manusia sebagai pusat nilai, sebagai makhluk bebas yang berpikir dan menentukan nasibnya sendiri. Namun dalam perkembangannya, humanisme yang semula membebaskan justru sering kehilangan ruh. Ketika rasio dijadikan satu-satunya ukuran, manusia menjadi “dewa kecil” yang merasa mampu mengendalikan segalanya, tapi di dalam dirinya sendiri muncul kehampaan.

Sementara itu, spiritualisme dalam banyak bentuknya cenderung melarikan diri dari realitas. Ia menekankan dimensi roh, tetapi sering memisahkan manusia dari dunia nyata—dari penderitaan, tanggung jawab sosial, dan panggilan kemanusiaan. Akibatnya, spiritualitas kehilangan makna sosialnya, sementara humanisme kehilangan kedalaman jiwanya.

Pandangan Guruji Anand Krishna: Humanisme Spiritual sebagai Jalan Tengah

Dalam pandangan Guruji Anand Krishna, kedua arus besar itu tidak perlu dipertentangkan. Beliau memadukannya dalam satu kesadaran baru yang disebut humanisme spiritual—sebuah pandangan bahwa manusia adalah cerminan ilahi yang harus mewujudkan kasih dan kesadaran di bumi. “Spiritualitas bukan tentang meninggalkan dunia,” kata Guruji, “tetapi tentang hidup sepenuhnya di dalamnya dengan kesadaran yang lebih tinggi.”

Humanisme spiritual melihat manusia sebagai jembatan antara langit dan bumi, antara roh dan materi. Ia menolak keterpisahan, menolak dikotomi antara Tuhan dan ciptaan, antara agama dan sains. Semua adalah satu tarikan napas kesadaran. Dari kesadaran inilah lahir rasa tanggung jawab untuk mencintai, melindungi, dan menghormati kehidupan dalam segala wujudnya.

Agama dan Fragmentasi Kesadaran

Ironisnya, dalam praktik keagamaan modern, manusia sering justru menjauh dari esensi ini. Agama, yang sejatinya adalah jembatan menuju kesadaran universal, kerap menjadi tembok pemisah antar manusia. Banyak yang sibuk menegaskan kebenaran sendiri sambil menafikan yang lain. Ritual dijalankan dengan disiplin, tetapi cinta dan welas asih—inti dari semua agama—hilang dari praktik hidup sehari-hari.

Guruji melihat fenomena ini sebagai bentuk fragmentasi kehidupan: manusia beribadah kepada Tuhan tetapi memusuhi ciptaan-Nya. Ia memuliakan teks, namun mengabaikan konteks kehidupan. Spiritualitas yang sejati, kata beliau, tidak memenjarakan Tuhan dalam kitab atau dogma, tetapi menemukan-Nya dalam setiap makhluk—dalam manusia, hewan, tumbuhan, gunung, sungai, dan samudra.

Alam sebagai Tubuh Kehidupan

Dalam visi humanisme spiritual, alam bukan objek eksploitasi, tetapi bagian dari kesadaran yang sama. Gunung, hutan, laut, dan udara bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari tubuh kehidupan yang harus dijaga. Menyakiti alam berarti menyakiti diri sendiri, sebab manusia bukan penguasa bumi, melainkan penjaganya, menjaga kelestariannya.

Guruji sering menekankan bahwa spiritualitas sejati adalah ekospiritualitas—kesadaran ekologis yang bersumber dari cinta universal. Ketika kita menanam pohon, menjaga sungai, atau menyayangi hewan tanpa menyembelihkan untuk disantap di meja makan, kita sebenarnya sedang berdoa dengan tindakan. Di sinilah spiritualitas tidak lagi terbatas pada ruang ibadah, melainkan hadir dalam setiap langkah dan napas kehidupan.

Dari Fragmentasi Menuju Kesatuan

Dunia modern membutuhkan kebangkitan kesadaran ini. Fragmentasi hanya dapat disembuhkan dengan kesatuan batin yang melihat semua kehidupan sebagai ekspresi tunggal dari satu sumber. Dalam pandangan Guruji Anand Krishna, inilah inti dari semua ajaran suci: oneness, kesatuan dalam keberagaman. Ketika kesadaran ini tumbuh, tidak ada lagi “aku” dan “engkau”, tidak ada “umatku” dan “umatmu”—yang ada hanyalah kita, bagian dari satu kehidupan yang sama.

Spiritualisme dan humanisme tidak lagi bertentangan, melainkan berpadu dalam satu kesadaran cinta universal. Di sinilah agama kembali menemukan maknanya, bukan sebagai sistem kepercayaan yang memisahkan, tetapi sebagai jalan untuk menyadari kesucian seluruh kehidupan.

Penutup: Menjadi Manusia Seutuhnya

Kita dipanggil untuk menjadi manusia seutuhnya—yang berpikir dengan jernih, merasa dengan kasih, dan bertindak dengan kesadaran. Spiritualitas yang sejati bukan pelarian dari dunia, tetapi kehadiran penuh di dalam dunia. Ia bukan tentang mencari Tuhan di langit, tetapi menemukan Tuhan dalam kehidupan itu sendiri.

Jika setiap manusia hidup dengan kesadaran ini, fragmentasi dunia akan pulih dengan sendirinya. Alam akan kembali seimbang, manusia akan kembali saling menghormati, dan peradaban akan tumbuh dalam harmoni. Inilah dunia yang dibayangkan oleh Guruji: dunia yang berlandaskan pada humanisme spiritual—di mana cinta, kesadaran, dan kemanusiaan menyatu dalam satu denyut kehidupan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: humanismeSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semangat Literasi dan Etika Digital di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2025

Next Post

Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Pandora Paradise: Renungan untuk Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co